Advertisement

Mungkin ini, Pentingnya Sosialisasi Bullying Di Sekolah



Oleh
Nikolaus Taman, S.Pd
(Guru SMA St. Klaus Kuwu)

 Kata builling mungkin sudah terdengar akrab di telinga kita seiring meningkatnya angka  kasus bullying di sejumlah lembaga pendidikan  di tanah air akhir-akhir ini.  Belum lama ini kembali ramai diberitakan tentang sebuah video yang berisi aksi kekerasan yang dilakukan beberapa siswa terhadap salah seorang teman mereka di sebuah sekolah. Tampak dalam video yang berdurasi sekitar satu menit tersebut korban yang duduk tak berdaya di kursi dipukul oleh pelaku dengan cara ditendang, dipukul dengan menggunakan tangan dan sapu.  Dikutip dari sebuah surat kabar online Tribun Jateng.com edisi Selasa, 18 Februari 2020 bahwa kasus tersebut terjadi di sebuah SMP Muhammadiyah di Purworejo Jawa Tengah pada hari Selasa(11/02/2020) sekitar pukul 08.00 di salah satu ruang kelas di sekolah tersebut. Dikutip dari sumber yang sama bahwa kekerasan bermula ketika korban menolak memberi sejumlah uang kepada pelaku. Mendapat penolakan, pelaku menganiaya korban dan mengancam korban agar tidak memberitahu siapapun kekerasan yang dialaminya. Viralnya video Bullying tersebut menuai kecaman pedas dari publik terhadap pelaku.



Gambar: smkn1bjm.sch.id


Bullying memang bukan lagi masalah biasa melainkan masalah luar biasa yang harus mendapat perhatian dan penanganan serius dari berbagai pihak terkait mulai dari orang tua sekolah, masyarakat dan pemerintah.  Viralnya video buling yang kini lagi  ramai diperbincangkan mungkin hanya gambaran sekilas dari sekian banyak kasus Bullying di lembaga pendidikan yang tidak sempat tertangkap kamera. Bullying tentu saja tidak hanya terjadi di lembaga pendidikan tetapi juga di berbagai area kehidupan, ekonomi, politik, sosial budaya. Akan tetapi mengingat peran sentral lembaga pendidikan sebagai wahana pemanusiaan manusia, tentu dipandang sangat krusial untuk mengusahakan sedini mungkin berbagai upaya preventif terhadap potensi perilaku Bullying, sehingga lembaga pendidikan selalu hadir sebagai tempat ideal bagi  peserta didik dalam mengembangkan berbagai potensi dirinya tanpa  tekanan rasa takut akan ancaman fisik dan psikis. Dapat dibayangkan betapa menyeramkan wajah lembaga pendidikan kita jika gagal menghadirkan atmosfer lingkungan sosial yang memberi kenyamanan fisik dan psikis bagi peserta didik. Kondisi ini tidak hanya merugikan kredibilitas public terhadap lembaga pendidikan tetapi juga membuktikan kegagalan misi lembaga pendidikan sebagai wadah transmisi nilai-nilai moral bagi pendewasaan perilaku peserta didik. Peserta didik yang mencintai kekerasan adalah salah satu bukti gagalnya fungsi lembaga pendidikan sebagai wadah pembinaan akhlak.

Apa itu Bullying? Mungkin penting untuk kita memahami pengertian Bullying karena tidak sedikit dari kita memiliki pengertian samar-samar tentang Bullying.  Hal ini terjadi terjadi karena kekerasan fisik kerap kali menjadi sorotan media massa sehingga terbentuklah kekeliruan persepsi publik tentang pengertian Bullying yang sebenarnya. Bullying seringkali diartikan sebagai aksi kekerasan fisik yang dilakukan secara sadar oleh seorang atau sekelompok orang dengan tujuan menyakiti korban secara fisik. Ini memang bagian dari pengertian Bullying namun perlu digaris bawahi bahwa Bullying tidak selamanya diekspresikan dalam bentuk kekerasan fisik saja tetapi juga kekerasan verbal yang berdampak buruk terhadap kesehatan psikis korban. Bullying berasal dari kata bully, yang dalam kamus Oxford diartikan sebagai ‘seseorang yang terbiasa berusaha untuk menyakiti atau mengintimidasi mereka yang mereka anggap lemah secara emosional dan fisik. Lebih lanjut, Sejiwa (2008) mendefinisikan Bullying sebagai tindakan penggunaan kekuasaan untuk menyakiti seseorang atau sekelompok orang baik secara verbal, fisik, maupun psikologis sehingga korban merasa tertekan, trauma, dan tak berdaya.
 Dari definisi di atas dapat disimpulkan bahwa bulling  merupakan perilaku intimidasi yang dapat dilakukan secara berulang untuk melukai individu baik emosional maupun fisik dan melibatkan ketidak seimbangan kekuatan di mana pelaku mendominasi dan korban menjadi pihak yang lemah. Dengan kata lain, bullying adalah aksi kekerasan yang dilakukan secara berulang kali oleh seseorang  atau kelompok orang untuk mengintimidasi dan melukai korban secara verbal, fisik dan psikis dengan melibatkan kekuatan  yang tidak seimbang secara fisik dan emosional antara pelaku dan korban.
Bullying di lembaga pendidikan telah terbukti menelan banyak korban namun upaya preventif terhadap potensi aksi Bullying belum menjadi perhatian semua lembaga pendidikan. Fakta menunjukan bahwa pihak sekolah atau perguruan tinggi  cenderung menggunakan gaya pemadam kebakaran terhadap kasus BullyingBullying baru ditangani secara serius pasca munculnya kasus Bullying. Pola penanganan ini tidak akan mampu memutuskan mata rantai kejahatan bulling jika tidak disiapkan suatu sistem penanganan yang tidak saja berfungsi pada saat munculnya kasus tetapi juga mampu merespon dan mencegah potensi kejahatan Bullying di sekolah.  Mencegah Bullying berkaitan dengan sistem yang perlu dibangun untuk meminimalisir potensi kejahatan Bullying di sekolah.

Salah satu langkah sederhana menekan potensi Bullying di sekolah adalah mensosialisasi Bullying kepada semua pihak terkait baik pihak sekolah, peserta didik maupun orang tua/wali murid. Sosialisasi dimaksudkan untuk membekali pihak-pihak terkait dengan pengetahuan cukup tentang apa itu Bullying dan apa saja bentuk tindakan atau perilaku yang tergolong Bullying. Pengetahuan cukup tentang Bullying memampukan berbagai pihak terkait mengambil tindakan preventif sebelum Bullying yang dialami seorang anak mencapai level terburuk. Pengetahuan ini dianggap krusial karena tidak sedikit peserta didik pernah atau bahkan seringkali menjadi korban namun cenderung mendiamkannya karena kurangnya pemahaman berkaitan dengan Bullying. Seorang anak didik dengan kekurangan fisik tertentu tampil tidak percaya diri di sekolah sehingga berpengaruh pada prestasi akademiknya mungkin sedang mengalami aksi Bullying secara verbal teman-temanya. Siswa bersangkutan mengalami dampak buruk perilaku Bullying teman-temannya namun berkesulitan menceritakan masalah tersebut kepada pihak sekolah atau orang tua karena tidak memahami itu sebagai sebuah kejahatan Bullying. Demikian juga orang tua cenderung tidak mempedulikan ceritera pengalaman anaknya tentang kekerasan verbal oleh teman-temannya di sekolah karena tidak memahami itu sebagai sebuah kejahatan Bullying. Guru mungkin secara tidak sengaja menjadi aktor Bullying di sekolah namun tidak menyadari itu sebagai Bullying karena minimnya pengetahuan tentang Bullying. Semua kemungkinan di atas dapat menjadi kenyataan jika semua pihak terkait belum memiliki persepsi benar tentang Bullying.

Berkaitan dengan pentingnya pengetahuan tentang Bullying, beberapa hal tentang bulling yang perlu disosialisasikan di setiap lembaga pendidikan antara lain:
Ø Jenis-Jenis Bullying
1. Bullying fisik
Physical bullying adalah tindakan penindasan yang berkaitan dengan fisik. Tindakan ini dapat memberikan efek jangka pendek dan panjang. Perbuatan yang termasuk tindakan bully fisik seperti:
  • Memukul
  • Menendang
  • Mendorong
  • Mencubit
  • Menyandung
  • Merusak properti
2. Bullying verbal
Verbal bullying adalah perilaku bully yang dilakukan melalui verbal. Umumnya jenis ini tidak berbahaya pada awalnya, tapi jika terus berlanjut dapat memengaruhi korban. Beberapa contohnya seperti:
  • Memanggil nama
  • Menghina
  • Mengejek
  • Ucapan homophobia atau rasis
  • Pelecehan verbal
3. Bullying sosial
Social bullying adalah jenis yang sering kali terselubung. Tindakan ini bisa dilakukan pelaku tanpa harus terlihat oleh korban. Contoh tindakannya seperti:
  • Menyebarkan gosip atau rumor yang tidak benar
  • Melempar lelucon jahat yang melakukan
  • Mengajak orang lain untuk mengucilkan seseorang
  • Memberikan ekspresi atau gestur tubuh yang mengancam atau menghina
  • Meniru dengan tujuan untuk menghina atau meremehkan
4. Cyberbullying
Cyberbullying adalah segala jenis penindasan yang terjadi di dunia maya dan perilakunya seperti:
  • Mengiring email atau pesan tertulis, gambar,dan video yang menyakitkan
  • Mengucilkan seseorang secara online
  • Menyebarkan gosip dan rumor buruk di dunia maya
  • Meniru orang lain atau menggunakan akun orang lain tanpa izin.
Ø       Prosedur penanganan Bullying di sekolah

Bagaimana korban Bullying di sekolah melaporkan kejahatan Bullying yang dialaminya kepada pihak berwenang adalah salah satu hal terpenting dalam materi sosialisasi Bullying di sekolah. Siswa yang sedang menjadi korban Bullying mungkin tidak sengaja memendamkan apa yang sedang dialaminya tetapi kurangnya informasi tentang prosedur penyelesaian kasus Bullying di sekolah menyebabkannya terus membiarkan diri menjadi budak kejahatan Bullying teman-temannya.

            Pengaduan anonym mungkin menjadi salah satu alternatif penyelesaian kasus Bullying di sekolah. Dalam hal ini, kerahasiaan identitas siswa pelapor baik yang menjadi korban atau teman korban yang berinisiatif melaporkan peristiwa Bullying yang dialami seorang siswa dijamin oleh pihak sekolah. Ini tentu sangat membantu korban yang cenderung pendiam dan suka menutup diri ketika sedang mengalami masalah.

Mengetahui berbagai bentuk dan media Bullying memudahkan semua pihak terkait melakukan tindakan antisipatif terhadap kejahatan Bullying di sekolah. Prosedur penangan kasus Bullying juga harus menjadi standar operasional yang dirumuskan secara baku di setiap lembaga pendidikan untuk memudahkan korban memperoleh bantuan penyelesaian dan pemulihan dari pihak kompeten atas kondisi fisik dan psikologis yang dialami korban. Kedua hal ini harus menjadi perhatian serius di setiap lembaga pendidikan agar tercipta atmosfer lingkungan sekolah yang nyaman, aman, dan menyenangkan, dan pada gilirannya memungkinkan semua peserta didik berkembang secara utuh tanpa tekanan  fisik dan psikologis. Apabila situasi lingkungan sosial ini bisa dihadirkan, lembaga pendidikan akan tetap pada fitrahnya sebagai wahana pemanusiaan diri manusia dengan menjadi rahim lahirnya manusia berakhlak mulia.  

Berlangganan update artikel terbaru via email:

0 Response to "Mungkin ini, Pentingnya Sosialisasi Bullying Di Sekolah"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan dibawah artikel 3