HANYA PIKIRAN YANG TIDAK PERNAH TUA (Mencerna Tagline “Ayo Berubah” Pemerintah Kota Kupang)


Oleh : Gusty Rikarno, S.Fil
Jurnalis Media Pendidikan Cakrawala NTT

Di awal tahun begini, hidup hanyalah segumpal pergumulan. Di saat hujan datang, adakah kata yang lebih tepat untuk sekadar “mengumpat” dalam pasrah? “Akh ... hujan lagi”. Begitulah saya di musim begini. Ada semacam kerinduan agar hujan itu datang di saat yang tepat. Semisal hadir dan menemani tidurku. Di saat terbangun, harapanku hanya satu. Hujan itu segera berhenti. Kalaupun terpaksa harus datang, mungkin tidak harus berlama-lama hingga mencapai jumlah ratusan menit. Cukuplah hadir sebentar saja dan atau sekadar menemaniku menghabiskan segelas kopi hitam. Berhenti segera di saat saya menyeduh kopi ku untuk terakhir kalinya. Rinduku begitu. Hmmm... yang namanya rindu memang selalu begitu. Berat. Sudahlah. Saya menulis saja. Berharap hujan itu menyerah. Baca saja ya? Siapa tahu, tulisan ini mampu membunuh rasa jenuhmu di saat hujan datang tanpa maksud atau alasan.

Sudah hampir sepuluh tahun saya di sini. Di Kota Karang-Kupang. Benar kawan. Awal hadirku di sini, kota ini dijuluki Kota Karang. Kamu tahu karang kan? Karang itu adalah batu yang melampaui batu. Keras (garang) berduri. Batu sejenis ini sangat diandalkan jika kamu hendak membangun fundasi rumah. Selain keras (kuat) tapi ada duri-durinya yang dapat direkatkan besi dan semen. Di tahun-tahun itu, Kota Kupang dijuluki demikian. Kota Karang. Namun tidak demikian di beberapa tahun kemudian. Kupang lebih dikenal sebagai kota kasih. Akh ... sebutan ini terasa sejuk dan damai. Lalu, satu-dua tahun terakhir, julukannya bukan hanya sejuk dan damai tetapi juga elegan. “Smart City” atau kota cerdas-pintar. Pertanyaan tersisa, adakah Smart City mengandung maksud kotanya para orang cerdas-pintar?

Waktu terus berubah dan kita diminta (dituntut) untuk ikut berubah didalamnya. Walikota Kupang, Dr. Jefirstson R. Riwu Kore, M.M, M.H, memulai dengan sebuah tagline ajakan penuh akrab dan hangat. Ayo berubah. Apa yang harus dirubah? Pertanyaan ini dibiarkan menggantung dan pastikan saja sang hujan bakal memurnikannya. Ijinkan saya meinterprestasi narasi dan aksi seorang mantan DPR RI ini. Masyarakat Kota Kupang berubah dari cara ia merasa, berpikir dan berimajinasi. Hemat saya, ini penting. Caranya?

Pertama, mulailah dengan perasaan memiliki kota ini. Saat ini kamu di sini. Berdiri di atas tanah ini dan tidak peduli kamu (kita) datang dari mana dan mau ke mana. Tentang bagaimana “wajah kota ini” bakal berawal dari saat kita mempunyai rasa itu. Benar. Rasa memiliki. Kota ini jangan dilihat sebagai tempat persinggahan yang sifatnya hanya sementara. Jika itu yang terjadi maka kamu tidak bakal betah berada di sini. Kota ini bakal terasing (meng-asingkan kamu).

Kedua, pikiranmu harus berubah. Kamu tahu? Hanya pikiran yang tidak pernah tua. Filsuf Jerman, Hannah Arendt berujar, “There are no dangerous thoughts thinking itself is dangerous (tidak ada yang lebih berbahaya dari pemikiran selain pikiran itu sendirilah yang berbahaya). Merubah pikiran tentunya tidak semudah merubah perasaan. Rintikan hujan dan angin sepoi-sepoi basah mungkin bisa merubah perasaanmu. Tetapi tidak untuk pikiranmu. Pikiran adalah perangkat lunak, satu-satunya yang kamu (kita) miliki. Hal pertama agar merubah pikiranmu hanyalah dengan berpikir. Berpikir tentang bagaimana seharusnya berpikir. Memang sulit tetapi bakalan mudah jika kamu memulainya. Salah satu cara untuk kamu mampu berpikir tentang bagaimana seharusnya berpikir adalah dengan menekuni kegiatan literasi dasar. Membaca, menulis dan berhitung.

Ketiga, imajinasimu tentang diri dan kota ini harus berubah. Nah, yang ini lebih sulit lagi. Imajinasi tercipta hanya ketika kamu berpikir. Imajinasi tanpa aktivitas berpikir namanya menghayal. Begini contohnya. Seorang mahasiswa berambisi (berobsepsi) mendapat gelar sarjana dengan predikat “cum laude” tetapi malas berpikir. Banyak waktu dihabiskan untuk tidur-tiduran. (Ingat, tidur-tiduran dan tidur, ada bedanya). Malas membaca dan jarang masuk kelas untuk ikut kuliah. Padahal julukan Smart City adalah tentang kita dan kota ini. Sekali lagi, imajinasi adalah konsekuensi logis dari kreatifitas berpikir.

Walikota Kupang, tentunya sudah, sedang dan akan terus berpikir dan bekerja. Ia menata kota ini. Mulai dengan meletakkan seorang pejabat pada tempat (posisi) yang tepat hingga mengatur taman, pot bunga, lampu jalan dan menciptakan ruang-ruang kreasi bagi generasi muda di ini kota. Tujuannya satu. Masyarakat kota Kupang memiliki rasa bangga dan rasa memiliki kota ini. “Ini kotaku. Saya bangga menjadi warga kota Kupang. Kota kasih sekaligus kota cerdas”. Efek lanjut dari perasaan bangga dan rasa memiliki kota ini akan terasa. Kecil dan sederhana tetapi menakjubkan. Ia (kita) akan meletakkan sampah pada tempatnya. Lampu jalan dan aneka tanaman di dalamnya dijaga dan dirawat. Menjelang tiga tahun masa kepemimpinan Walikota Kupang, adakah rasa banggga dan memiliki itu sudah ada? Jika belum, sebaiknya kamu (kita), berubah.

...................................

Hujan perlahan mundur dan pamit bersama berlalunya awan gelap kehitaman di sekian banyak menit lalu. Putri kecilku terbangun. Ia duduk di pangkuanku dalam posisi masih mengantuk. “Bapa, buat apa? tanyanya spontan saat melihat banyaknya huruf di layar laptopku. “Bapa sedang berpikir”, jawabku sekenanya. “Berpikir? Pikir apa”, tanyanya lagi. Ingin kujawab, berpikir tentang bagaimana berpikir. Namun adakah ia mengerti? Padahal berpikir tentang bagaimana seharusnya berpikir harus berdampak ganda. Selain kita mengerti tetapi juga orang lain ikut mengerti. Berpikir yang hanya membingungkan diri dan orang lain maka itu bukan aktivitas berpikir. Yah ... semacam kedunguan terberi.

Lalu bagaimana caraku agar putri kecilku tidak berada dalam posisi bingung dan penasaran? Saya mulai menjelaskan. “Di saat kamu tidur, saya menulis. Jika kamu bertanya, apa yang saya tulis? Yang saya tulis adalah yang saya pikirkan dan itu namanya konsep (gagasan). Di esok hari, konsep ini saya mulai jalankan dalam bentuk aksi /kegiatan (program kerja) yang terukur, teruji dan efektif. Apa yang saya kerjakan adalah yang sudah saya pikirkan. Dengan demikian, saya tidak sedang mengerjakan apa yang dipikirkan orang lain. Saya adalah tuan atau pemimpin atas diri saya sendiri”. Putri kecilku segera turun dari pangkuanku dan mencari mamanya. Seolah ingin meminta, tolong jelaskan padaku apa yang barusan bapa bicarakan. Anak kecil memang begitu. Dia tidak banyak berpikir tetapi lebih banyak melihat dan mendengar. Ia lebih percaya apa yang dilihat atau didengarnya ketimbang menyibukkan diri untuk berpikir dan bekerja. Ia lebih mempercayakan pikiran orang lain ketimbang pikirannya sendiri. Namanya juga anak kecil.

Oh, kita sudah sampai di mana. Maaf, belepotan. Pikiranku terkadang banyak terganggu di saat hujan begini. Hmmm ... masih tentang tagline, ayo berubah. Benar. Yang berubah itu, adalah cara kita berpikir tentang diri dan kota ini. Mari kita ambil sudut terjauh dan lihatlah kota Kupang dari sana. Itulah yang dinamakan perspektif. Sudut pandang kita tentang dan untuk kota ini harus berubah. Terkadang, tiba pada satu titik kita pesimis dengan diri kita sendiri. Tahu kenapa? Karena penghuni kota banyak yang bersikap seperti putri kecilku. Mempercayakan pikirannya pada orang lain. Bukan pada dirinya sendiri. Kota ini bakal disebut smart hanya kalau masyarakat ikut menyumbangkan pikirannya. Menemukan solusi terhadap banyak persoalan, ikut peduli dan mengambil peran untuk membangun kota ini.

Di tahun ini, pemerintah kota Kupang bakal mendirikan perpustakaan berkat kerjasama dengan perpustakaan nasional. Berharap rencana ini terealisasi di ini tahun. Perpustakaan ini bakal menjadi sinyal dan simbol kebangkitan berpikir masyarakat. Selain itu beragam program yang mampu membangkitkan kreatifitas berpikir seperti pendampingan menulis untuk para guru dan generasi muda kota ini. Akh … mimpiku satu. Para guru dan generasi muda kota ini mampu menulis dan menerbitkan buku. Itu bukan hanya keren tetapi juga elegan. Smart city menuju smart people.

Pointnya, berhentilah menjadi hamba atas pikiran orang lain. Seperti rindu, itu berat dan menyiksa. Berpikirlah tentang bagaimana seharusnya berpikir. Kamu tahu? Hanya pikiran yang tidak pernah tua. Potongan wajah dan ayunan langkahmu sangat ditentukan (dipengaruhi) dari aktifitas atau cara kamu berpikir. Contohnya begini. Jika kamu (saya) berpikiran positif maka wajahmu tampak bersih dan berseri. Kamu menjadi pribadi yang bersemangat penuh inspirasi. Sebaliknya, jika yang ada dalam pikiranmu penuh sampah, maka wajahmu tampak kusut, seperti bunga yang hidup enggan mati tak mau. Kamu tampak kemomos dan memuakkan. Ayo berubah. Mulailah berpikir positif.

Seperti Cakrawala, awan dan hujan, hidup itu perlu dan harus memiliki imajinasi. Ada sebuah titik api yang selalu ada, menyala dan menghangatkan semua yang ada di sekitarnya. Itulah imajinasi. Seorang yang tidak mampu berpikir dan memiliki imajinasi adalah dia yang sudah mati secara roh. Menunggu saatnya untuk segera kuburkan badannya. Perhatikan burung beo itu. Apakah dia memiliki imajinasi? Tidak. Beda ceritanya jika kamu melihat elang. Ia tahu, kapan harus terbang menembus cakrawala dan kapan harus bertengger untuk menikmati hidup. Kota Kupang itu adalah kota kita. Kotanya orang-orang c


erdas yang penuh imajinasi. Sekali lagi, imajinasimu ditentukan oleh cara kamu berpikir dan merasa. Ayo berubah, mulai dari diri kita sendiri. Kamu (saya) bakal disebut smart jika kamu lebih mempercayakan pikiranmu untuk menganalisa (menyaring) apa yang kamu lihat dan kamu dengar. Ayo ... berubahlah sebelum perubahan itu memaksamu untuk berubah.

......................................

Dari celah awan tipis nan putih, seberkas cahaya datang dan menerobos jiwaku. Ada rasa yang tidak biasa. Seperti api yang selalu ada, menyala dan menghangatkan. Putri kecilku, terlelap lagi. Dari caranya meletakkan kepada di ujung bantal, sebenarnya ia sedang berpikir. Berpikir untuk bagaimana berpikir atau berpikir untuk tidak berpikir, saya tidak tahu. Sebagai ayah (pemimpin) tugasku hanya satu. Membuatnya tetap nyaman, damai dan sedapat mungkin (harus) cerdas. Hidup ini bukan lagi tentang burung audan di tepi jurang yang hanya hadir untuk menimbun rindu. Hidup itu adalah tentang bagaimana kita berpikir melampaui diri dan generasi.

Salam Cakrawala, Salam Literasi

Berlangganan update artikel terbaru via email:

0 Response to "HANYA PIKIRAN YANG TIDAK PERNAH TUA (Mencerna Tagline “Ayo Berubah” Pemerintah Kota Kupang)"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan dibawah artikel 3

loading...