Media Berwawasan dan Berbudaya

Wednesday, 20 November 2019

Komunitas Film NTT Akan Menjadi ‘liar’

| Wednesday, 20 November 2019


Kupang, Wartaloha.com- Lembaga Swadaya Perfilman Teater Plus Nusa Tenggara Timur, bekerja sama dengan Pusat Pengembangan Perfilman Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (PusbangFilm Kemendikbud) menyelenggarakan Festival Film Pendek dan  Dokumenter (FFPD) NTT di Bioskop Film SMA Negeri 3 Kupang, Jl. W.J Lalamentik, Kel. Oebufu, Kec. Oebobo, Kota Kupang, NTT, Tgl 16 November 2019.

Festival Film yang dihadiri 2 Filmaker terkenal Indonesia Hadi Artomo, M. Sn, dan IGP Wiranegara sebagai juri menjadi warna tersendiri FFPD NTT ini. Pasalnya kedua filmmaker terkenal ini memiliki motivasi khusus untuk menjamah kekayaan budaya, pariwisata, kultur dan kehidupan masyarakat NTT pada umumnya, untuk diperkenalkan ke pada masyarakat Indonesia dan Internasional melalui film Pendek dan Dokumenter.

Festival yang diselenggarakan dengan mengusung tema “Mari Berkarya untuk NTT Sejahtera, Indonesia Raya Lewat Karya Film Kita Dukung Pembangunan Bangsa dan Negara” ini di satu sisi, merupakan ajang bagi para generasi untuk meneruskan bakat dan di sisi yang lain menjadi corong untuk mempublikasikan kekayaan budaya dan pariwisata serta aspek lainnya di NTT.

Dalam Jumpa Pers, kepada media ini, Petrus Kembo, Ketua Lembaga Swadaya Perfilman Teater Plus NTT, di sela-sela Workshop pada hari Sabtu, 16 November 2019, pagi mengatakan, Festival ini dibiayai oleh Pusbang Kemendikbud 40.000.000 rupiah, bukan semata-mata dari Pusbang tetapi dari Teater juga 45.000.000 rupiah. Biaya keseluruhan sejak pemutaran film, diskusi dan nanti di sesi terakhir malam nanti adalah 85.000.000 rupiah teman-teman. Sumber yang kedua, usaha Teater Plus Kupang dan bantuan dari Pusbang Kemendikbud.

Lanjut Petrus, terus pasti teman-teman timbul pertanyaan di sini, bagaimana sikap Pemda? Iya kan? Sedang diperjuangkan. Pemda sedang memperjuangkan ini ke depan pasti. Dari 21 komunitas yang ada itu, hanya 1 yang sudah pernah ikut festival, yakni Kaki Kereta, yang mana sudah 3 kali mengikuti festival.

Teman-teman sebagai penyelenggara, 1 atau 2 tahun ini ada 43 komunitas yang mengikuti festival, yang masuk nominasi itu tahun lalu 6 dan tahun ini 6. Bisa dibayangkan begitu banyak komunitas yang belum terjamah oleh pemerintah. Pesan saya sebagai seorang seniman kepada pemerintah bahwa, tanpa keterlibatan pemerintah diragukan perkembangan film di NTT itu akan menjadi ‘liar’. Bahwa tidak membawa dampak pendidikan, tidak akan membawa dampak pariwisata, tidak akan membawa dampak wisata yang  didengungkan oleh pemda NTT. Saya tidak mengkritisi Bapak Gubernur tetapi sebagai seorang seniman, saya mau jujur bahwa, andalan program kita adalah wisata dan budaya sekarang ini. Tetapi tanpa keterlibatan pemerintah maka  dalam 40-an komunitas ini akan menjadi ‘liar’dan mereka akan tumbuh membuat film dengan budaya lain, tegas Petrus.

Jadi teman-teman pesan saya kepada Pemda Propinsi NTT, Pemimpin DPRD Propinsi NTT, jadilah anggota dewan yang memikirkan nasib para seniman di NTT. 33 Tahun saya berkarya di NTT, saya mendapat Maestro Kebudayaan, Anugerah Kebudayaan Propinsi NTT, tetapi nasib saya seperti seorang pemulung di jalan, yang mencari dana untuk sebuah kegiatan. Saya tidak bisa disuruh meminta ade-ade ,saya seniman saya seorang pemalu, pungkas Petrus.

Wiranegara, filmaker sekaligus juri dalam Festival ini mengatakan, begitu saya mendapat kesempatan 5 tahun lalu datang ke sini, saya pake kesempatan ini untuk mmeracuni teman-teman di sini untuk film pendek dan dokumenter. Budaya kita kaya sekali. Nah dengan bahasa budaya ini, kalau semua orang berbeda-beda budaya di Indonesia, masing-masing bercerita tentang dirinya sendiri, kita makin dikenal oleh saudara-saudara di seluruh Indonesia.

Pada kesempatan yang sama Hadi Artomo mengatakan, itu tuntutan saya mengapa saya ke sini? Saya ingin menghidupkan akar-akar (potensi budaya generasi NTT yang dikemas dalam film pendek dan dokumenter) itu. Saya akan menyiram akar-akar itu, tutupnya.  (WL/Tim)

Related Posts

No comments:

Post a Comment