Media Berwawasan dan Berbudaya

Thursday, 31 October 2019

Mewujudkan Pertobatan Ekologis

| Thursday, 31 October 2019

Oleh: Albertus Muda Atun, S.Ag
Guru SMA Negeri 2 Nubatukan Lewoleba-Kabupaten Lembata

Tema bulan kitab suci nasional (BKSN) tahun 2019 yang dikeluarkan lembaga biblika Indonesia (LBI) adalah ‘Mewartakan Kabar Gembira di Tengah Krisis Lingkungan Hidup’. Tema ini mengajak umat Katolik (secara internal) dan masyarakat Indonesia (secara eksternal) untuk bersikap adil terhadap alam yang telah menyediakan segala sesuatu dengan cuma-cuma.

Sebagai umat dan warga negara kita semestinya merasa berhutang budi kepada alam yang telah menyediakan diri bagi kita untuk kesejahteraan semua orang. Kita mesti menyadari sungguh bahwa hidup kita tergantung pada udara yang kita hirup, air yang kita minum, tumbuh-tumbuhan, marga satwa dan seluruh alam yang telah memberikan dirinya menjadi makanan dan penyegar untuk hidup kita.

Pertanyaannya, apakah kita sungguh menggunakan dan memanfaatkan alam semesta ini secara hemat, bijaksana, efisien dan penuh kasih?. Paus Fransiskus dalam Ensiklik Laudato Si, “Terpujilah Engkau” (24 Mei 2015) menegaskan, bumi (alam semesta) sebagai saudari dan ibu kita sedang menjerit kesakitan karena kerusakan yang ditimpakan kepadanya oleh manusia yang dengan rakus menjarah bumi (LS 1-2).

Penegasan di atas diperkuat oleh tindakan manipulatif manusia terhadap alam yang semakin tidak manusiawi. Contohnya, penebangan hutan secara liar dan pembuangan sampah tidak pada tempatnya. Pembabatan hutan mangrove, pembakaran lahan gambut yang memicu asap, rusaknya terumbu karang dan penangkapan berbagai jenis ikan dengan pemboman.
Eksploitasi alam oleh manusia yang semakin tak terhindarkan. Gus Dur dalam Maman I. Faqieh (2010:82-85) pernah mengingatkan bahwa planet bumi yang sedang kita diami, saat ini berada dalam situasi krisis yang sangat serius, dalam konteks multidimensi. Kerusakan serius bumi menurutnya, didera oleh polusi dan kerusakan lingkungan hayati yang telah mencapai titik rawan yang sangat meresahkan.

Menurut Gus Dur, perusakan dan pengotoran lingkungan terus terjadi tanpa ada kepedulian yang serius dari seluruh elemen masyarakat. Predikat manusia sebagai citra, wakil Allah yang seharusnya menjalankan amanah yang diberikan Sang Pencipta sering disalahpahami sebagai suatu pembenaran bagi manusia untuk menguasai alam demi kepentingan diri sendiri yang cenderung egoistik.

Aktualisasi Pertobatan Ekologis
Perilaku merusak bumi merupakan habitus lama. Sebaliknya, menata alam yang telah rusak agar layak dihuni kembali adalah habitus baru. Oleh karena itu, perlu ada pergeseran konsep dari manusia penguasa dunia menuju manusia pemelihara alam ciptaan. Kelalaian manusia saat ini lebih memberi penekanan pada tugas menguasai alam semesta secara eksploitatif .
Menguasai bumi mesti dipahami kembali secara kritis agar manusia tidak terjebak dalam penafsiran yang egoistik-individualistik. Menguasai bumi mesti dipahami dalam konteks yang lebih positif yakni menjaga,memperbaiki, merawat, melindungi dan memulihkannya. Melalui tugas ini, manusia sedang melaksanakan salah satu perwujudan dari imannya yakni pertobatan ekologis.

Sebagai warga negara dan kaum beriman, sikap kita terhadap alam adalah menegakkan nilai dan prinsip keadilan, kesejahteraan umat manusia dan keselamatan alam semesta. Umat beriman mesti memanfaatkan alam sesuai dengan aspek kebermanfaatan sekaligus mengecam setiap tindakan manusia yang mengeksploitasi dan merusak alam.

Dengan demikian, pemahaman tentang pastoral ekologi di tengah krisis pandangan manusia yang keliru terhadap alam sangat dibutuhkan. Pastoral ekologi bukan sekedar konsep melainkan sebuah pastoral tindakan melalui pertobatan ekologis. Dalam bukunya The Chatolic Way(2009:186), Ignatius Suharyo mengatakan, untuk menjaga keutuhan ciptaan diperlukan pertobatan ekologis dari paradigma antroposentris ke paradigma biosentris/ekosentris.

Paradigma antroposentris menempatkan manusia sebagai satu-satunya pusat dunia. Sementara dalam paradigma biosentris semua yang hidup mempunyai tempat yang penting, kendati diakui perbedaannya. Oleh karena itu, seluruh masyarakat dan semua umat beriman perlu membatinkan paradigma biosentris (ekosentris) demi menumbuhkan kesadaran akan lingkungan hidup.
Berbagai kegiatan yang mengarah pada paradigma ekosentris telah dilakukan baik secara perorangan maupun kelompok. Kita tentu berharap agar semua aksi yang dilakukan dapat berdampak luas dan tidak hanya sebatas aksi momental. Aksi nyata mesti menjadi gerakan bersama yang berkelanjutan bukan hanya itikad baik perorangan. Menata kembali keutuhan ciptaan adalah merupakan panggilan sekaligus tuntutan bagi kaum beriman dan masyarakat secara luas.

Semua pihak tanpa terkecuali mesti merasa sebagai bagian dari satu umat dan warga bangsa. Dengan pemahaman demikian maka upaya membangun keutuhan ciptaan akan cepat ditanggapi/respon. Memperjuangkan keutuhan ciptaan mau menegaskan bahwa dengan adanya penambangan, perkebunan dalam skala besar, industri kehutanan, pencemaran tanah, pencemaran air, pencemaran udara, sampah dan perubahan iklim, keutuhan ciptaan terganggu dan hubungan menjadi tidak harmonis lagi.

Sebagai umat beriman sekaligus warga negara, kepedulian kita dituntut. Tanggung jawab mesti ditopang oleh komitmen kita. Kita wajib memuliakan relasi yang telah rusak menuju keadaban dan habitus baru. Kita mesti merubah pola berpikir lama dengan pola baru agar hubungan dengan sesama, alam dan dengan Tuhan tidak mengalami disharmoni.

Memulihkan kembali keutuhan ciptaan berarti memulihkan hubungan dengan segala yang ada, antara yang tercipta (secara horizontal) dengan yang mencipta (secara vertikal). Memulihkan kembali alam sebagai investasi kehidupan bagi generasi yang akan datang merupakan sebuah tuntutan dan kemendesakan. Wujudnya, meningkatkan kepekaan kita terhadap sampah.

Selain itu, setiap warga dan umat mesti menyadari pentingnya membuat dan menjaga agar udara tetap bersih. Masyarakat mesti menjaga dan merawat hutan-hutan secara berkelanjutan dengan tidak membakar serampangan. Warga mesti menumbuhkan mentalitas ugahari, tahu diri dan mengambil secukupnya saja dari alam untuk kebutuhan sehari-hari. Lebih dari itu, melestarikan alam untuk anak cucu di masa mendatang mesti dilakukan.

Satwa-satwa langkah yang hampir punah agar dilestarikan. Kita mesti meningkatkan kepedulian dan sikap hemat pada penggunaan energi yang tak terbarukan. Kita mesti menyadari bahwa kitalah pelaku utama perusakan alam. Karena kejahatan kita, maka alam menjadi tidak bersahabat dan terjadi disharmoni. Olehnya, kita mesti bertekad menyelamatkan bumi dan berjanji menjadi manusia baru sembari mewujudkan ketaatan kita kepada Sang Pencipta melalui pertobatan ekologis. (*)

Related Posts

No comments:

Post a Comment