Media Berwawasan dan Berbudaya

Thursday, 24 October 2019

Medi Doko, Inspirasi "Belajar dari Pengabdian di Pedalaman Papua, Karena hidup harus memberi arti.."

| Thursday, 24 October 2019

Penulis: Medi Yourge Expresso Doko, S.Si
(Guru Penggerak Daerah Terpencil Kampung Abau-Distrik Citak Mitak Kabupaten Mappi-Papua Angkatan II 2018)

Ini adalah (salah satu) pengalaman berharga lagi yang saya dapatkan dalam menjalani masa tugas sebagai pejuang kecerdasan di pedalaman Papua.
Sesuatu yang tak pernah saya bayangkan terjadi ketika saya ada di tempat yang baru dengan nuansa yang sangat berbeda dengan kehidupan saya sewaktu di Kupang.
Saya berusaha menenangkan hati dan hanya bisa bersyukur dengan apa yang telah dianugerahkan Tuhan untuk saya di tempat ini.

Ya, karena saya tahu kalau bukan Tuhan yang menguatkan saya dan juga keluarga yang mendukung saya, saya tidak mungkin sampai bertahan hingga saya menulis kisah saya ini.
Terpilih menjadi salah satu Pengajar Muda bagian dari Guru Penggerak Daerah terpencil kabupaten Mappi, Propinsi Papua adalah jejak awal saya harus meyakinkan hati dan kemauan diri untuk mengabdi di pedalaman Papua.
Kebersihan Lingkungan di SD inpres Abau Distrik Cita Mitak, Kab. Mappi-Papua
Foto: Akun Facebook Medi Doko

Foto: Akun Facebook Medi Doko


Mengajar
Foto: Akun Facebook Medi Doko


Sedang Sekolah Minggu Pertama GPKAI Getsemani, Mappi-Papua, Minggu 22 Setember 2019
Foto: Akun Facebook Medi Doko


Belajar merelakan kehidupan kerja yang sementara di jalani dengan berbagai kesibukan dan padatnya jadwal mengajar di Kupang, bukanlah hal yang mudah, karena kurang lebih 5 tahun berkarir sebagai pengajar di 4 sekolah ( 3 SMP, 1 SMA dengan Jam kerja 60-70 Jam kerja/Minggu)  dan Memberi Bimbingan Belajar/ Guru Privat yang terjadwal setiap sore-malam hari membuat saya belajar mengabdikan diri dengan sangat maksimal. Dan sekarang harus berjuang dengan beban kerja yang berbeda di Pedalaman Papua yang mungkin tak seberat dulu namun akan menjadi cukup berat ketika harus berjuang menuntaskan buta aksara di sini.

Jika dulu saya berjuang untuk memaksimalkan kemampuan Matematika saya di tingkat SMP dan SMA, sekarang saya harus berjuang untuk menjadi pejuang aksara bagi anak-anak tingkat Sekolah Dasar di Papua. Jujur  awalnya saya sangat tidak menerima pekerjaan ini, sesuatu yang sangat bertolak belakang dengan pengadilan saya selama ini yang sudah saya jalani. Saya pernah bertanya pada Tuhan apakah memang inikah salib yang harus pikul di tempat ini? Menjadi bagian dari masyarakat Pedalaman Papua dan juga menjadi pendidik bagi anak-anak sekolah dasar yang buta aksara ? Apakah ini sesuai dengan talenta dan kemampuan yang Tuhan berikan bagi saya ? Atau inikah Ujian bagi saya untuk menjadikan saya pribadi yang berbeda yang Tuhan rencanakan bagi saya ? Apakah ini ladang yang disediakan Tuhan bagi saya ?

Sangat sulit dimengerti bagaimana menerima kenyataan saya telah berada di tempat ini ?
Saya dibawa dalam situasi sulit yang membuat saya akhirnya harus berpikir keras untuk sepenuh hati mendedikasikan pengadilan saya di tempat ini. Ketika hati ini bergejolak seakan tak mau menerima, justru keluarga memberi saya kekuatan bahwa "BUKAN TANPA TUJUAN, TUHAN MENEMPATKANMU DI PAPUA, MEREKA LEBIH MEMBUTUHKANMU" .
Mereka ( anak-anak Papua) lebih membutuhkan saya, semangat inilah yang kemudian mengantarkan saya menghadirkan ide-ide kreatif dan menciptakan nuansa yang menyenangkan dan membuat saya tetap bertahan. Sungguh, Tuhan membuat saya mampu untuk mengubah ketakutan dan penolakan menjadi rasa syukur yang tak terbalaskan.

KETERBATASAN KEHIDUPAN DI KAMPUNG MENJADIKAN SAYA PRIBADI YANG BERBEDA

Kini saya menjadi bagian dari masyarakat kampung Abau, Distrik Citak Mitak Kabupaten Mappi-Papua. Hidup bersama dengan mereka. Jika dahulu di Kupang, saya bisa menikmati apa saja yang saya suka karena semuanya tersedia, sekarang saya harus menerima segala sesuatu yang disediakan masyarakat dengan penuh nikmat dan syukur. Makan Sagu bakar,Papeda,  ulat sagu, ulat kayu, sayur Paku, pucuk sagu, tebu ikan, ikan betik, ikan gastor, udang bukanlah sesuatu yang tidak mungkin bagi saya dan saya menikmatinya. Jika semua telah  tersedia, maka itu bukan pilihan tapi suatu kenikmatan.

Jika dulu saya bisa menikmati air bersih dengan sepuasnya, sekarang saya harus berjuang hidup tanpa sumber air bersih selain air hujan. Air hujan adalah anugerah paling luar biasa yang diberikan Tuhan bagi kami di kampung ini. Kami selalu terjaga walau itu di waktu tengah malam jika turun hujan, karena harus berusaha untuk menampung air dan dipakai untuk memasak,dll.
Untuk keperluan mandi, ini juga adalah pekerjaan yang tidak mudah, mencari sumber mata air di bawah pohon sagu dekat hutan rawa sagu, ya itulah sumber air terbaik.

Jika dulu, saya tak bisa hidup tanpa Handphone dan laptop ( karena semua pekerjaan dan komunikasi lebih banyak bergantung pada kedua benda itu), kini saya justru harus berusaha hidup tanpa keduanya jika berada di kampung.
Bukan hal baru, kampung kami memang tanpa listrik, tanpa Signal telepon. Jadi kedua alat ini pasti tidak berfungsi.

Sedih rasanya karena harus membatasi diri dengan kedua alat itu, tapi ini adalah bagian dari mendedikasikan diri untuk pelayanan di pedalaman Papua. Tapi saya tetap bersyukur menerimanya. Kenapa ? Karena ini akan menjadi solusi terbaik bagi saya untuk menciptakan suasana tanpa ketergantungan terhadap gadget. Saya belajar ...
Saya sekarang harus bisa membangun komunikasi dengan semua orang, ini mewajibkan saya untuk selalu bersosialisasi dengan siapapun di kampung. Dimulai dari Bapak-bapak, Ibu-Ibu, sampai anak-anak dan para lansia telah menjadi teman cerita yang bahan ceritanya tiada habis-habisnya. Saya akhirnya memiliki banyak kesempatan menceritakan banyak hal pada mereka. Saya bercerita tentang pengalaman saya di Kupang, pengalaman bekerja dan melayani, menceritakan orangtua dan keluarga di Kupang, memberikan informasi baru tentang perkembangan saat ini, dan tak lupa menceritakan pada mereka tentang berita pekabaran Injil Tuhan. Dan mereka pun dengan senang hati menceritakan kehidupan mereka dan banyak pengalaman lainnya.  Sekarang saya lebih banyak memiliki waktu juga untuk mendoakan mereka. Puji Tuhan ..

Dan lagi, saya sekarang juga memiliki banyak waktu untuk menulis dan menulis. Dimulai dari Perangkat Pembelajaran yang ditulis tangan, banyak khotbah dan renungan harian yang ditulis, puisi dan cerita pendek yang saya tulis setiap harinya.
Kesempatan ini adalah anugerah dari Tuhan, dan saya syukuri itu semua.

Jika dulu, saya hanya bercita-cita menjadi seorang pendeta yang dapat melayani jemaat Tuhan, dna ternyata sekarang profesi saya adalah seseorang Guru, Tuhan tidak melupakan harapan saya itu, karena sekarang Ia memberikan kesempatan itu. Saya dipercayakan sebagai salah satu Majelis Gereja Persekutuan Kristen Alkitab Indonesia (GPKAI) Jemaat Wilayah Kampung Abau, dan telah beberapa kali memimpin kebaktian Utama dan sebagai pengajar sekolah Minggu.

Jika dulu, saya selalu dibuat khawatir dengan masalah keuangan dan bagaimana bisa mendapatkan banyak barang-barang bagus sesuai keinginan saya, sekarang saya belajar bahwa hidup sederhana dan apa adanya. Belajar dari kesederhanaan hidup yang ditampilkan oleh masyarakat pedalaman Papua membuat saya paham kesederhanaan bukan hinaan, tapi tentang menikmati hidup dengan penuh rasa syukur. Kami senantiasa  bersyukur atas nikmat yang Tuhan berikan. Sekarang bahkan saya dibuat tercengang melihat berkat yang Tuhan sediakan bagi saya.

Saya hanya bisa berkata dalam hati " Nikmat Tuhan mana lagi yang harus saya pungkiri...tidak ada .. Tuhan sangat baik". Saya mulai mengerti kenapa yang ditempatkan di tempat ini.

Jika dulu, saya selalu menyibukkan diri dengan padatnya jadwal kerja dan pelayanan yang bahkan membuat saya hanya memiliki waktu sedikit untuk berkomunikasi dengan Tuhan, sekarang di tempat ini, saya diberikan waktu yang sangat banyak untuk berdiam dalam hadirat Tuhan dan belajar fokus pada kebersamaan dengan Tuhan. Mempunyai jadwal doa dan Bible reading (Saat teduh)yang teratur setiap hari dan terus merasakan banyak berkat penyertaan Tuhan.

Jika dulu, saya adalah orang yang selalu sibuk dengan pekerjaan dan akhirnya jarang untuk berkomunikasi dengan orangtua dan keluarga walaupun kita dekat, sekarang dengan jarak yang memisahkan kami ( saya dan keluarga ) dan dengan kondisi di pedalaman yang tanpa Signal telepon membuat saya makin merindukan suara mereka dan semua cerita tentang mereka.

Jika memiliki kesempatan pergi mengunjungi pusat distrik ( tempat adanya Signal telepon) saya sangat senang, karena akan memanfaatkan waktu itu untuk mendengar semua cerita mereka. Betapa rasa rindu akan mereka membuat saya serasa ingin selalu dekat dengan mereka. Walaupun sekarang saya harus hidup bersama dengan banyak masyarakat di kampung ini, namun kebersamaan dengan keluarga di Kupang adalah segalanya. Saya tahu bahwa ada rasa khawatir di antara kami. Mereka mengkhawatirkan saya, dan sebaliknya. Jika kembali ke kampung lagi, maka komunikasi kami akan terputus lagi. Sulit memberi kabar dan banyak cerita yang harus terhenti sejenak. Bersyukur sampai saat ini, kami tetap dapat saling menguatkan dalam doa. Saya yakin Tuhan akan membuatkan kami dekat dan saling menjaga dalam doa kami masing-masing.

Dua tahun masa pengabdian sebagai Guru Penggerak Daerah Terpencil di Kampung ini, akan segera berakhir. Serasa seperti baru kemarin,saya datang dan memberi diri untuk belajar menjadi bagian dari masyarakat pedalaman Papua, namun tinggal beberapa bulan akan kembali ke daerah asal (Kupang). Semua pengalaman ini akan menjadi cerita indah dan sangat berharga.
Perjuangan dua tahun mengabdi di sini, seakan tidak cukup untuk menyelamatkan generasi ini untuk menuju keberhasilan dalam masa depan mereka. Selalu muncul tanya dalam hati ini " Mungkinkah mereka akan memiliki masa depan pendidikan yang baik ? Atau semua akan hilang seperti hilangnya jejak saya dari tanah ini ?" . Tapi saya yakin bahwa pasti Tuhan akan menyediakan orang-orang hebat yang memiliki hati yang tulus untuk melayani dan mendedikasikan kemampuannya untuk kemajuan pendidikan di pedalaman Papua.
Ketika mengingat firman Tuhan :
Pengkhotbah 3 : 1
Untuk segala sesuatu ada masanya, untuk apapun di bawah langit ada waktunya.

Saya percaya waktu ini telah ditentukan Tuhan untuk saya, dan Tuhan tahu kapan waktu itu akan berakhir.
Selagi masih ada waktu, saya harus terus menjadi berkat dimanapun Tuhan menempatkan saya.

Salam dari Pejuang Kecerdasan di Pedalaman Papua 🤗
Medi Yourge Expresso Doko,S.Si
( GPDT 2018 Kampung Abau, Distrik Citak Mitak Kabupaten Mappi-Papua)

Editor: fian Jeadun

Related Posts

No comments:

Post a Comment