Media Berwawasan dan Berbudaya

Saturday, 13 July 2019

SMART CITY HARUS MULAI DARI KAMAR MANDI (Catatan Pinggir Untuk Pemerintah Kota Kupang)

| Saturday, 13 July 2019


Oleh : Gusty Rikarno, S.Fil
Jurnalis Media Pendidikan Cakrawala NTT

 Saya selalu ingin ada dan menikmati kesendirian di kamar mandi. Seperti dulu, saat masih kecil. Ingin “bermain-main” dengan air dan menikmati sensasinya. Dingin, hangat dan segar. Di saat begini saya ingat kampung bersama kisah masa kecil yang menggetarkan itu. Air dalam nama kali, kolam, mancur, bendungan dan sebagainya adalah sahabat yang selalu dijumpai. Memotong bambu dan membelahnya membentuk selokan. Membiarkan air itu mengalir. Ada kenyamanan dalam pikiran saat mendengarkan suara alirannya yang teduh dan romantis. Tak ada suara yang terdengar dalam kata melarang. “Jangan buang-buang air. Di sini kita kesulitan air. Mateus, sopir tangki air itu tidak mengangkat telphon. Kalau pagi ini ia tidak antar air, artinya sebentar sore kita tidak minum dan mandi”.  Syukurlah. Di pondok kecilku ada sumur. Kuberi nama “Sumur Andreas”. Bukan sumur Yakob. Tahu kenapa? Akan saya ceritakan nanti. Ketika mesin pemompa air (sanyo) dihidupku, air mengalir dan terus mengalir. Yah … asalkan saja pulsa listrik tetap stabil.

 Di kamar mandi saya berimajinasi banyak. Tentang tubuh saya yang dibentuk oleh air dan bergantung pada air. Delapan puluh persen, tubuh manusia sesungguhnya berisi air.  Tidak heran hanya ada dua kata kunci yang selalu ada dan wajib dikerjakan yakni minum air dan buang air. Sebuah rutinitas abadi yang berakhir saat seseorang enggan bernafas. Untuk saat ini, berlama-lama di kamar mandi adalah caraku bersyukur. Saya selalu memulai tanda salib sebelum mandi atau membasuh muka. Teringat kembali sebuah iklan yang lazim terdengar. “Sumber air sudah dekat”. Rumah semegah apapun kalau kekurangan air maka tidak lebih dari sebuah kapal pesiar yang dalam waktu sepuluh menit indah dan mengangumkan. Tetapi dalam waktu belasan menit kemudian akan terasa jenuh, jijik sekaligus menimbulkan trauma untuk datang bertamu lagi. Telingaku sangat dimanjakan saat mendengar air itu mengalir dari sumbernya.

 Dalam kamar mandi itu, saya menikmati dalam hening. Berpikir dan merasa seadanya. Pernah saya bertanya tentang arti nama nama tempat (wilayah) yang dimulai dari kata yang berarti air. Di ini tempat, kata Oe berarti air. Ada nama yang mulai dari kata ini. Oeba, Oesapa, Oepura, Oetete, Oelamasi dan sebagainya. Atau di kampungku kata Wae berarti air. Semisal, waemeleng, waemedu, waemokel, waerana, waemauk dan sebagainya. Apakah artinya tempat itu kelimpahan air atau sumber mata air? Ini pertanyaan sekaligus gugatan. Jika kemudian disadari nama adalah tanda seharus demikian. Oepura sebagai salah satu kecamatan di Kota Kupang, seharusnya berkelimpahan air atau sumber mata air. Seperti halnya Oeba, Oepoi dan Oesapa. Jika kemudian ada yang mengeluh kekurangan air di tempat (wilayah) ini itu berarti ada yang salah pada orang-orang yang dulunya memberi nama pada tempat ini. Bukan salahnya pemerintah, pegawai PAM atau generasi di zaman ini. Kesalahan itu ada pada orang-orang yang memberi nama atas tempat atau wilayah ini.

 Akh … sabar dulu. Jangan-jangan Oe ini bukan artinya yang sesungguhnya. Bisa saja kata Oe ini berarti simbolis atau semacam sebuah kerinduan bawah sadar. Air itu adalah kita yang berdiam di tempat atau wilayah ini. Belajar dari kebijaksanaan air yang selalu datang memberi rasa yang tidak biasa. Masyarakat dalam wilayah yang dimulai kata oe dan wae seharusnya hadir sebagai pribadi yang membawa kesejukan, kesegaran dan kehidupan bagi orang lain. Atau jika tidak mampu memberi kenyamanan, kesejukan dan kedamaian bagi yang lain seharusnya hidup di tempat yang mulai dari kata yang berarti batu. Seperti kata Fatu/watu seperti fatule’u, Fatuka, Fatukoa, Watu Timbang Raung dan sebagainya. Apakah orang-orang yang hidup di tempat/wilayah fatule’u, Fatukoa, Fatuka atau Watu Timbang Raung adalah mereka tidak mampu memberi kenyamanan dan kesejukan? Tidak benar. Tahu kenapa Watu/Fatu bisa saja berarti mandiri, pendirian yang kuat, kerja keras, iman yang teguh, pantang menyerah dan sebagainya. Pointnya adalah nama itu adalah tanda. Tanda itu berarti yang ada. Tidak ada sesuatu tanpa nama. Jika sesuatu itu tanpa nama itu artinya tidak ada, hilang dan musnah.

 Mari kita kembali pada kamar mandi dan air. Kamar mandi yang ideal seharusnya begini. Hanya berisi air dan perlengkapan mandi seperti sabun, sikat gigi, odol, shampoo dan sebagainya. Agar imajinasimu fokus, cerdas dan tidak liar, jangan jadikan kamar mandi sebagai tempat jemuran apalagi tempat sampah. Dirimu adalah kamar mandi itu sendiri. Orang cerdas, sistematis, bersih dan rapi, pasti datang dari sebuah rumah yang memiliki kamar mandi yang bersih dan tertata baik. Selain itu, ukuran kamar mandi  tidak boleh lebih dari luas dari kamar tidur keluarga. Mengapa? Karena kamar mandi itu untuk mandi. Bukan untuk ngopi atau tidur-tiduran. Namanya kamar mandi. Pasti dan harus ada air. Kamar mandi yang tidak ada air maka itu bukan kamar mandi. Sebut saja, kamar tanda nama. Mari kita lihat cara berpikir dan penampilan dari seorang yang datang dari kamar tanpa nama. Pasti jorok, tidak sistimatis dan sudah pasti kemomos.

Kota Kupang bakal sudah ditunjuk sebagai salah satu kota cerdas dari seratus lebih kota cerdas lainnya di Indonesia. Gerakan menuju 100 Smart City merupakan program bersama Kementerian Komunikasi dan Informatika, Kementerian Dalam Negeri, Kementerian PUPR, Bappenas dan Kantor Staf Kepresidenan. Gerakan tersebut bertujuan membimbing Kabupaten/Kota dalam menyusun Masterplan Smart City agar bisa lebih memaksimalkan pemanfaatan teknologi baik dalam meningkatkan pelayanan masyarakat maupun mengakselerasikan potensi yang ada di masing-masing daerah. Sebuah kota dapat dikatakan Smart City jika di dalamnya lengkap dengan infrastruktur dasar, juga memiliki sistem transportasi yang lebih efisien dan terintergrasi. Tujuan kota pintar juga bagai mana dapat mendatangkan wisatawan sebayak mungkin, menarik investor agar berinvestasi di kota ini, kemudian menarik penghuni baru, bagi mana penghuni baru dari kalangan baik profesional, akademisi, dan usahawan bertempat tinggal di kota kita. Kesemuanya itu tolak kukur nya adalah kota tersebut memiliki daya tarik yang kuat.

  Apresiasi tulus kepada Walikota Kupang bersama Wakilnya yang telah berpikir dan bekerja. Prestasi awal yang patut dibanggakan. Mereka telah menyambut program nasional ini. Artinya, pemerintah Kota Kupang sudah berpikiran maju dan cerdas. Jika kemudian Smart City dikaitkan dengan pengunakan alat teknologi dan informasi maka tidak salah jika kemudian pemerintah kota kupang membuka jaringan internet di beberapa tempat umum untuk semua masyarakat bisa mengunakannya secara gratis. Segala infomasi bisa diakses. Selain itu masyarakat bisa mengirimkan informasi apa saja ke pemerintah dan atau kepada semua masyarakat dunia. Habat kan? Smart City adalah jalan untuk men-dusun-kan dunia. Beragama bidang kehidupan yang menyentuh kepentingan masyarakat luas kiranya ikut “terdongkrak” peningkatan mutu pendidikan, ekonomi, layanan publik dan sebagainya. Masyarakat Kota Kupang bakal ada dalam satu kawasan pintar yang canggih, cepat dan tepat.

Saya masih berada dalam kamar mandi. Seperti dulu saya ingin menghabiskan waktu sendiri bermain air. Di waktu itu, mama selalu berteriak marah jika lebih dari setengah jam saya bermain air. Katanya, itu tidak baik untuk kesehatan dan kemampuan ber-sosialku nanti. Sebagai wanita desa yang minus informasi, mama selalu menakutiku dengan sesuatu yang tidak masuk akal. Katanya kalau terlalu lama bermain air nanti kerbau kejar, perut buncit, telinga lebar dan sebagainya. Mama marah, bukan karena takut kehabisan air tetapi takut saya menciptakan duniaku sendiri. Smart City adalah jalan untukku menciptakan duniaku sendiri. Dengan gawai ditanganku, saya ingin menghabiskan banyak waktu sendiri, mungkin tidak hanya di kamar mandi. Bisa saja saya bakal nyaman di kamar tanpa nama itu.

Pertanyaan tersisa dalam tetes air terakhir, bagaimana orang bisa menjadi diri (masyarakat) pintar dan cerdas jika ia tidak mandi atau menjadi dehidrasi karena kurang minum air. Bayangkan, untuk mandi dan minum saja sulit apalagi  untuk bermain dan membuang-buang air. Sekali lagi, Kota Kupang kekurangan (kesulitan) mendapatkan air. Itu fakta. Sekali lagi, jangan salahkan pemerintah sekarang jika nama tempat yang dimulai dari kata berarti air itu justru kekeringan dan kekurangan air. Perhatikan cara orang berpikir, merasa dan berpenampilan. Bisa dibedakan dengan jelas apakah ia datang dari rumah/kos yang memilki kamar mandi yang berkelimpahan air atau yang kamar mandinya kekurangan bahkan tidak ada air. Sekali lagi. Kamar mandi yang tidak ada air, itu bukan kamar mandi. Namanya, kamar tanpa nama.

Mari jujur. Bagaimana masyarakat dunia maya di Kota Kupang bermedia sosial. Banyak group (facebook dan WA) terlihat “kemomos”. Pikiran kritis selalu berakhir buntu berhadapan dengan orang yang lelah dan lemah berpikir. Diskusi berakhir debat dan menyerang pribadi. Saya tersenyum sendiri dan berusaha bertahan semampunya di group “kemomos” itu sebelum saya meninggalkannya. Saya tidak sedang mengatakan bahwa saya orangnya kritis dan yang lain sebaliknya. Tidak. Saya berpikir tentang bagaimana seharusnya berpikir. Program pemerintah pusat seharusnya dijalankan dalam konteks situasi dan kearifan lokal (daerah).

Untuk konteks Kota Kupang Kota Cerdas itu ada dan mulai dari kamar mandi. Selain membangun jaringan internet gratis, pemerintah Kota Kupang harus menyiapkan anggaran untuk mengalirkan air ke kamar mandi warga masyarakat. Saya sudah mulai dengan “Sumur Andreas”. Semisal begini. Dana kelurahan diperintahkan agar sebagiannya digunakan untuk menggali sumur umum. Warga masyarakat dalam radius tertentu bisa mengunakan air sumur itu. Beri nama untuk sumur itu sebagai tanda. Misalnya sumur Herman, Sumur Jefri, Sumur Frans, Sumur Viktor dan sebagainya. Masyarakat tidak perlu membeli air lagi. Jika sumur itu cukup jauh dan dalam mereka (masyarakat) hanya fokus mencari uang untuk beli pulsa listrik. Pengalaman saya, jauh lebih hemat ketimbang membeli air yang kebersihannya masih bisa diragukan. Kamu tahu, kenapa saya suka menulis. Itu karena saya suka bermain air dan lama-lama di kamar mandi.

Salam Cakrawala, Salam Literasi

Related Posts