Media Berwawasan dan Berbudaya


Wednesday, 17 July 2019

RUMAH SEBAGAI SEBUAH BUKU” (Seratus Menit Menyelami Pemikiran P. Dr. Philipus Tule, SVD Tentang Literasi)

| Wednesday, 17 July 2019

Oleh : Gusty Rikarno, S.Fil
Jurnalis Media Pendidikan Cakrawala NTT

Hari makin siang. Kota Kupang adalah rumah untuk segala nama dan agama. Berbagai suku dan asal ada di sini. Tentramnya menembus batas perbedaan hingga kemudian kota ini dinamai (dijuluki) kota kasih. Ada rasa hangat dan damai untuk semua yang memilih untuk bernyawa di kota provinsi ini. Saya adalah salah satu dari ribuan yang ada. Untuk sekarang, Kota Kupang bukan hanya berarti rumah tetapi juga rahim. Saya menuju bilik barat rahim kota ini. Menara ilmu, Universitas Katolik Widya Mandira (Unwira) Kupang. Seratus menit berada di sini, menyadarkan saya jika segala yang ada memang berawal dari kata.

Adalah P. Dr. Philipus Tule, SVD, Rektor Unwira Kupang. Disapa Pater (Bapa) semenjak diurapi menjadi imam dan misionaris puluhan tahun silam. Ia selalu bernafas dalam kata “Pada mulanya adalah Firman. Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah. Ia pada mulanya bersama-sam dengan Allah. Segala sesuatu dijadikan oleh Dia dan tanpa Dia tidak ada sesuatupun yang telah jadi dari segala yang telah dijadikan. Dalam Dia ada hidup dan hidup itu adalah terang manusia. Terang itu bercahaya dalam kegelapan dan keegepalan itu tidak mengusasinya. … “. (Bdk. Yoh. 1: 1-5).

Pater Philipus adalah seorang SVD. Sebuah serikat misoner dalam tubuh Gereja katolik yang selalu bertumpu pada Sabda Allah. Kitab Suci dan ekaristi adalah jantung kehidupannya. Berada di dekatnya, kita hampir kehabisan kata dan suara. Ia menatap tajam, cerdas dan teduh. Kata-kata yang terucap dari bibirnya adalah kata-kata logis, praktis dan inspiratif. Nyaman untuk dimengerti. Ada kata yang menggantung dan butuh kemampuan lebih untuk diberi makna. “Rumah itu adalah buku”.
Mari kita lirik kembali dua kalimat awal prolog Injil Yohanes ini. “Pada mulanya adalah Firman. Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah”. Firman itu adalah Sabda dalam kata yang terucap (lisan) dan tertulis (abadi). Dalam lembaran Kitab Suci (Injil), ada suara yang terdengar lantang. Diucapkan dengan penuh wibawa. “Dengarlah hai Israel, Tuhan Allah kita, Tuhan itu Esa”, (Bdk. Mrk 12:29). Yesus, Sang sabda yang menjadi manusia itu melakukan hal ini. “IA (Yesus) membungkuk lalu menulis dengan jarinya di tanah”, (Bdk. Yoh,8:6). Kata-kata itu adalah Sabda (Firman). Dalam kata ada kehidupan, relasi, cinta dan pengorbanan. Hari ini di ruangan Rektorat Unwira berukuran 6 x 7 meter, Pater Philipus berkata-kata dalam lisan dan tulisan.

“Saya sudah menulis puluhan judul buku yang banyak dipakai orang sebagai refrensi ilmiah. Antropologi (budaya), agama, toleransi dan literasi adalah beberapa topik yang selalu digarap. Saya padukan kegiatan seminar (konfrensi) yang berkekuatan bahasa lisan dengan aktifitas menulis  yang tetap (abadi). Saya selalu mengamini dan menghidupi adagium latin ini. Verba Volant, Scripta Manent (yang terucap kan lenyap tak berjejak, yang tertulis mengabadi). Oh ya? Dalam rangka festival literasi di Mbay-Nagekeo tahun ini, saya menulis dan akan me-lounching sebuah buku berjudul : Mengenal Kebudayaan Keo, Dongeng, Ritual dan Organisasi Sosial. Saya berharap kamu hadir. Bersama Pemerintah Kabupaten Nagekeo, kita mengakarkan budaya literasi (baca-tulis) di sana”, ujar Pater Philip penuh semangat.

Mendengar dan mencatat adalah caraku menyimak dan meresapi setiap kata. Mantan Rektor Seminari Tinggi Ledalero ini adalah bapa rumah sekaligus dosenku delapan tahun silam. Ia masih memiliki api semangat yang tetap ada dan bernyala sebagai pemimpin dan peneliti. Ia senang berdiskusi, berinovasi dan menyepi dalam sunyi untuk berdoa. Banggaku kali ini, hanya satu. Ia merelakan waktu hampir seratus menit untuk saya ada dan menimba banyak ilmu darinya khususnya dalam hal menulis.

Perhatikan sebuah rumah. Filosofi, pemikiran, kebijaksanaan, persaudaraan, kerjasama dan saling menghargai terlihat jelas dari tata letak, penempatan tiang (utama/penyangga), tata ruang dan sebagainya. Sebelum bahasa tulis dikenal luas rumah adalah “buku kehidupan”. Sebuah simbol yang lazim dipakai orangtua untuk mengajarkan banyak hal kepada anak-anaknya atau warga masyarakat. Rumah adalah dunia pertama seorang anak manusia untuk merngerti banyak hal. Selain itu, rumah adalah sebuah panggung teater tempat semua penghuni rumah berelasi dan beraksi.

Kehadiran buku yang berjudul, Mengenal Kebudayaan Keo, Dongeng, Ritual dan Organisasi Sosial adalah kata tertulis dari folosofi, pemikiran dan etos hidup orang Nagekeo. Menurut Pater Philip, Keo yang disebut ‘rumah’ (sa’o), masing-masingnya memiliki tingkatan atau kelasnya sesuai nama leluhur yang direpresentasinya. Misalnya  tingkatan pertama adalah rumah asal (sa'o pu'u) dan rumah besar (sa'o mére), yang lasim merepresentasi leluhur utama atau embu. Rumah asal ini juga disebut rumah tempat orang berkumpul (sa'o tiwo liwu). Rumah itu berlokasi di kampung sesuai dengan tingkatan sosial para pemiliknya. Rumah itu pun bisa memiliki satu, dua bahkan tiga dapur (dapu) tergantung dari berapa banyaknya anak lelaki yang dimiliki leluhur dalam rumah itu. Bila ada 3 (tiga) dapur berarti dapur sebelah kanan (dapu réta) menjadi haknya putera tertua dan dapur sebelah kiri (dapu dau) menjadi haknya putera yang termuda. Sedangkan dapur yang di tengah untuk putera yang di tengah, yang berlokasi di tenda wawo di sebelah kanan. Sa'o pu'u dan sa'o mére pada umumnya berfungsi juga sebagai rumah tinggal. Namun, sebuah sa'o mére dalam perkembangan mutakhir, bisa dianggap oleh para anggotanya sebagai sebuah sa'o pu'u juga karena telah terjadi multiplikasi atau penggandaan para penghuninya. (Bdk. Philpus Tule, 2019:100).

Bagaimana jika kemudian, tubuh (pikiran kita) disimbolkan sebagai sebuah rumah? Dalam konteks budaya literasi (baca-tulis) sebuah rumah yang dibangun tanpa ventilasi atau jendela bakal menganggu sirkulasi udara. Diperlukan jendela agar udara pengap di dalam ruangan tergantikan udara segar dari luar. Begitu pun, jika jendela itu dibuka, maka sinar cahaya akan masuk untuk menerangi kegelapan. Rumah tanpa jendela akan pengap demikian halnya dengan aktifitas membaca. Dengan buku (baca: pengetahuan), pikiran kita terbarukan dan membaca adalah cara kita untuk membuka “jendela” pengetahuan. Buku-buku yang kita baca, adalah juga asupan bergizi bagi otak dan jiwa kita. Pointnya dapat. Buku baru berjudul, “Mengenal Kebudayaan Keo, Dongeng, Ritual dan Organisasi Sosial” sengaja ditulis dan diterbitkan untuk meningkatkan pemahaman sekaligus kecintaan generasi muda Nagekeo pada budaya dan aktifitas membaca dan menulis. Hal ini senada yang disampaikan Bupati Nagekeo, dr. Johanes Don Bosco Do. Menurutnya, generasi muda Nagekeo ke depan membutuhkan bahan bacaan sejarah dan budaya tertulis (literasi) yang perlahan-lahan tapi pasti terus menggeser budaya lisan (oral).

Kota Kupang, Nagekeo, NTT dan Indonesia adalah rumah (rahim) bersama. Pancasila adalah “ibu” yang selalu dan merangkul anak-anaknya dari segala suku, agama, asal dan budaya. Pada sudut dinding ruangan berukuran 6x7 meter itu, Pater Philipus berpikir, berbicara dan menulis. Sebagai penjaga menara ilmu bernama Unwira Kupang, ia telah, sedang dan ikut mengambil peduli. Sumber Daya Manusia  (SDM) harus ditingkatkan dalam satu cara. Literasi adalah jalannya. Ia (Pater Philipus) bercerita banyak. Ada beberapa terobosan terbaru. Para wisudawan Unwira kedepannya bakal diberi hadiah buku. Simbol sekaligus bukti bahwa ia (wisudawan) telah kembali dari puncak menara ilmu itu. Kini saatnya ia turun ke dunia kerja. Sebuah fakta (realitas) kehidupan yang harus dijalani sekaligus saat tepat ia mengimplementasikan ilmu yang telah diperolehnya.

Terima kasih Pater, untuk waktu seratus menit ini. Engkau adlaha “bapa rumah” untuk NTT tercinta. Pemimpin (penjaga) menara ilmu yang tidak pernah letih untuk “bertengkar” dengan kenyataanm dalam banyak produk karya tulis. Tetaplah berkarya pada nafas yang sama. “Pada mulanya adalah Firman. Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah”.

Salam Cakrawala, Salam Literasi …

Related Posts

No comments:

Post a Comment