Media Berwawasan dan Berbudaya


Friday, 5 July 2019

MEMAHAMI NILAI FILOSOFIS BUDAYA TARIAN CACI

| Friday, 5 July 2019


Penulis: Niko Taman, S.Pd


MEMAHAMI NILAI FILOSOFIS BUDAYA TARIAN CACI

Tulisan ini bertujuan merespon perdebatan panas warganet di media sosial khususnya di grup DEMOKRASI MABAR akhir-akhir ini pasca viralnya sebuah vidio yang menayangkan sepasang penari caci perempuan di sebuah sanggar tarian caci di Kampung Melo Manggarai Barat. Kegiatan ini ditayangkan oleh sebuah stasiun TV swasta. Beragam reaksi publik pun bermunculan mulai dari yang bermakna mengumpat hingga memuji.

Bahkan tidak sedikit yang mengutuk pihak sanggar selaku pihak yang bertanggung jawab atas kegiatan pementasan caci tersebut dengan basis argumentasi budaya bahwa caci secara tradisi tabu dipentaskan oleh kaum hawa. Namun pihak yang mendukung berargumen bahwa caci merupakan ekspresi nilai seni dan oleh karena itu tidak menjadi milik istimewa kaum adam.

Tulisan ini tidak bermaksud untuk membuat dikotomi tentang pihak mana yang benar dalam perdebatan seputar pantaskah kaum hawa menarikan tarian caci tetapi mau mencoba membahas tarian caci menurut perspektif nilai filosofis budaya yang terkandung dalam seni tarian caci itu sendiri. Melalui tulisan ini akan diketahui bahwa aturan teknis pementasan tarian caci berkaitan erat dengan nilai-nilai filosofis yang dimaksud. Dengan kata lain, tarian caci hanya dimainkan/dipentaskan oleh penari laki-laki bukan sekedar tradisi belaka tetapi merupakan refleksi simbolis makna filosofis yang ditanamkan sejak lahirnya seni tarian caci itu sendiri.

Tarian Caci Manggarai
Foto: facebook.com

Sebelum penulis mengulas secara singkat apa saja aspek nilai filosofis dalam seni tarian caci itu sendiri, tentu sangat penting untuk kita memahami aspek etimologis nya. Caci secara etimologis berasal dari Bahasa Manggarai yang terdiri dari dua kata yaitu ca dan ci. Secara leksikal dalam kamus Bahasa Manggarai karangan Jillis AJ Verheijen kata ca diartikan satu, tunggal sedangkan kata ci diartikan mencoba, menguji. Merujuk pada makna leksikal tersebut, caci dapat diartikan menguji satu satu. Yang diuji adalah kemampuan, ketangkasan dan kekuatan pemain dalam memukul dan menangkis pukulan lawan.

Apa saja nilai filosofis yang terkandung dalam seni pementasan tarian caci? Berbicara tentang nilai filosofis adalah berbicara tentang pengetahuan yang membahas hakikat dari segala sesuatu melalui penyelidikan dengan akal budi untuk menemukan jawaban secara kritis, logis, sistematis. Dalam kaitan dengan seni tarian caci, nilai filosofisnya yang diusung berkaitan dengan alasan hakiki mengapa caci itu ada, mengapa caci itu hanya dipentaskaskan oleh kaum pria dan untuk apa caci itu dibuat. Jawaban atas pertanyaan tersebut merupakan satu kesatuan yang menjadi landasan filosofis budaya orang Manggarai tentang seni tarian caci.

Berhubung Caci adalah sebuah seni tari yang kaya akan nilai baik yang bersifat estetik maupun etika, tulisan ini hanya fokus pada aspek nilai filosofis yang menjawab satu pertanyaan mendasar yakni mengapa caci hanya dimainkan oleh penari pria. Fokus tulisan ini diharapkan dapat membantu kita menemukan alasan mengapa tarian caci hanya boleh dimainkan oleh kaum adam.

Setiap jenis kesenian yang dimiliki oleh suatu kelompok etnis tertentu dipakai sebagai media mengekspresikan sejumlah nilai. Demikian pula tarian Caci sebagai salah satu wujud kebudayaan Manggarai dalam bidang kesenian diciptakan sebagai media mengekspresikan sejumlah nilai yang erat kaitannya dengan falsafah budaya masyarakat pemilik kesenian tersebut. Menurut Teobaldus Deki dkk dalam salah satu artikelnya yang berjudul "Caci Orang Manggarai", caci merupakan media ekspresi keperkasaan, keberanian dan ketangkasan kaum pria dalam bentuk seni tari. Nilai ini secara simbolis dinyatakan melalui gaya berbusana yang ditampilkan penari caci dan aturan teknis pementasan serta asesoris busana yang semuanya merepresentasi sifat maskulin penari caci.

Keperkasaan, keberanian dan ketangkasan adalah unsur karakter maskulin yang harus mampu ditunjukan penari caci secara etis dan estetik. Artinya sifat keperkasaan yang ditunjukan dengan penuh keberanian dan ketangkasan dalam menyerang dan menangkis pukulan lawan tetap dilandasi sikap santun, sportif terhadap lawan serta tidak mengurangi aspek estetik sebagai sebuah ekspresi seni tari bagi kaum pria dewasa. Bagi orang Manggarai, karakter maskulin yang diekspresikan lewat tarian caci merupakan bagian dari edukasi nilai moral bagi pendewasaan diri kaum pria dewasa. Karakter tersebut bersifat luhur dan sakral sehingga tidak boleh dinodai dengan mengubah aturan teknis pementasan seni tarian caci. Mengubah aturan tehnis pementasan tarian caci dengan menggantikan tradisi penari pria dengan penari wanita berarti menghilangkan sejumlah nilai luhur yang terkandung dalam seni tarian caci itu sendiri. Perlu dimengerti bahwa tarian caci harus dimainkan oleh kaum pria dewasa bukanlah sebuah tradisi belaka yang dikonstruksi sebagai bentuk dominasi budaya patrilineal dalam kebudayaan Manggarai melainkan sebuah upaya untuk merawat sejumlah nilai filosofis budaya yang ditampilkan melalui seni tari tersebut.Para leluhur yang menciptakan dan mewariskan seni tarian caci dengan sejumlah nilai filosofisnya pasti menginginkan generasi penerusnya tidak sekedar memandang caci sebagai sebuah kesenian tetapi menjadi sebuah media edukasi nilai moral.

Melihat caci sebagai media ekspresi nilai maskulinitas tentu menggugah kita untuk bertanya apakah hal ini menunjukan tendesi ketidakadilan gender atau dominasi budaya patrilineal dalam kebudayaan Manggarai? Sama sekali tidak mengandung ketidakadilan gender karena pilihan penari pria atau wanita dalam setiap seni tari bukan bersifat mana suka tetapi berdasarkan nilai moral atau nilai filosofis budaya yang dikemas melalui pementasan seni tari tersebut. Demikian pula seni tarian caci, dilihat dari nilai filosofis yang berhubungan dengan unsur karakter maskulin yang diekspresikan melalui seni tari tersebut, jelas tidak dibenarkan jika tarian caci dipentaskan oleh penari wanita. Unsur karakter maskulin seperti kejantanan, ketangkasan dan keberanian yang terkandung dalam seni tarian caci hendaknya tidak dilihat sebagai sebuah ketidakadilan gender melainkan sebuah media edukasi moral bagi kaum pria dewasa Manggarai. Caci tidak disamakan dengan olah raga sepak bola, tinju atau sejenisnya yang dapat dilakoni oleh pria dan wanita karena berhubungan dengan nilai filosofis budaya yang mau disampaikan melalui kesenian tersebut.

Caci kini menjadi salah satu daya tarik wisata budaya berkelas dunia. Tidak sedikit wisata manca negara memesan caci dalam paket perjalanan wisatanya. Tidak mengherankan jika saat ini menjamur sanggar tarian caci sebagai lahan bisnis menjanjikan. Ini patut diapresiasi karena menjadi wahana pelestarian kesenian lokal di tengah arus dominasi budaya global. Namun perlu diingat bahwa setiap sanggar budaya bertanggung jawab merawat orisinilitas dan keluhuran nilai yang terkandung dalam seni tari tersebut. Sejumlah nilai filosofis budaya yang tidak dapat diubah sesuai selera kebutuhan penontonnya. Karena hal ini akan mereduksi sakralitas dan martabat nilai budaya yang dikemas dalam seni tari tersebut. Saatnya kita sebagai orang Manggarai membuktikan sikap hormat terhadap keluhuran martabat budaya kita dengan tidak mengkomersialisasi demi mendulang dolar. Budaya adalh jati diri, mereduksi nilai budaya demi kepentingan bisnis adalah tindakan merendahkan harga diri. Karena itu tidaklah mengherankan jika kasus tarian caci yang dimainkan oleh penari perempuan di sebuah sanggar di Kampung Melo Manggarai Barat beberapa waktu lalu yang diduga terjadi atas permintaan wisatawan memantik reaksi keras dari publik terutama orang Manggarai yang memahami filosofi budaya tarian caci. Meskipun hingga kini belum ada klarifikasi resmi pemilik sanggar, penulis sungguh menyadari hal tersebut terjadi di luar konsep resmi pemilik sanggar. Karena saya yang berprofesi tambahan sebagai pemandu wisata pernah membawa wisatawan ke sanggar tersebut. Pemilik sanggar selalu melibatkan tokoh adat yang banyak tahu tentang caci. Akan tetapi karena hal ini sudah terjadi, semoga menjadi pelajaran penting bagi kita bahwa budaya memang bukan teks kitab suci yang tidak boleh diubah seturut tuntutan kebutuhan jaman namun tidak pantas jika diubah sekedar memenuhi desakan hasrat bisnis belaka. SALAM DEMOKRASI

Related Posts

No comments:

Post a Comment