Media Berwawasan dan Berbudaya

Wednesday, 10 July 2019

Ketika Mahasiswa NTT Mengalami "Dehidrasi" Literasi (Menyulam Kisah Bersama Penjasa Pembuat Skripsi)

| Wednesday, 10 July 2019

Oleh : Gusty Rikarno, S.Fil
Jurnalis Media Pendidikan Cakrawala NTT

Saya selalu begitu. Menghabis waktu senggang berselancar di dunia maya. Memantau realitas dan situasi terkini sekaligus merasakan “sensasi” dari cara orang berpikir dan merasa tentang realitas dan situasi tersebut. Facebook menjadi salah satu pilihan ketika aplikasi buatan Mark Zuckerberg ini digandrungi orang. Pada wajah laman facebook, kita bisa menikmati sekian banyak aroma, mulai dari yang berstandar tinggi hingga pada tingkat murahan. Kita bisa mengetahui kedalaman berpikir dan karakter orang dari cara ia menulis status di dinding facebook-nya. Terkadang kita resah dan bingung sendiri saat menakar kualitas tulisan seorang pejabat atau akademisi yang “sejajar” dengan cara seorang “masyarakat biasa” menulis status.  Saya membaca sambil menikmati. Ada yang hari kemarin dinding facebook-nya berisi sampah dengan kalimat caci maki dan sumpah serapah. Hari ini berisi kata-kata bijak penuh motivasi. Ada yang sangat konsisten. Dinding facebook-nya hanya berisi keresahan, rasa pesimis dan kritikan tanpa arah.

Saya berhenti di satu pemilik akun unik. Jasa Pembuatan Skripsi. Saya tahu ini bukan sebuah nama. Begitulah facebook. Mark Zuckerberg, Cs tidak butuh yang resmi dan asli. Sesungguhnya ia butuh uang. Sama halnya dengan sang pemilik akun ini. Ia butuh uang dari jasa membuat skripsi. “Bingung skripsi? Serahkan saja kepada kami. Jasa pembuatan skripsi terpercaya” begitulah cara ia/mereka (pembuat skripsi) menawarkan jasanya. Tidak lupa ia menyertakan nomor whatsapp (WA).

Saya penasaran. Mencatat nomor WA itu dan segera beralih dari aplikasi facebook ke aplikasi whatsapp.
Saya mengirim pesan. Mengambil peran sebagai seorang calon sarjana yang ingin membutuhkan jasanya. Dalam waktu singkat ia menjawab dan kelihatannya ia sangat bersemangat. Tanpa basa-basi saya langsung menawarkan jasanya sekaligus menanyakan total biaya yang harus saya siapkan. Menurutnya, saya bisa terima jadi. Bahkan ia akan memberikan “training” singkat tentang bagaimana menjawab pertanyaan dosen saat ujian nanti. Total biayanya sebesar Rp. 4.000.000,-. Saya selalu ingin begitu. Mengajak orang “istimewa” untuk ngopi bersama.  Dari dunia maya akhirnya kami bersua di dunia nyata. Saya berpenampilan biasa. Yah…seperti para mahasiswa pada umumnya yang sedang resah dan gelisah. Lugu, loya, gugup dan sedikit gagap.

Sambil meneguk kopi layaknya seorang juragan, ia mulai menjelaskan tentang bagaimana mendapatkan judul. Menurutnya, mendapatkan judul itu tidak sulit. Satu hal yang penting sekaligus sulit adalah bagaimana harus menemukan masalah. Itulah tema yang bakal kita garap. Ia menawarkan beberapa judul skripsi ketika saya menjelaskan bahwa saya adalah calon guru jurusan sosiologi. “Tidak sulit bro. Itu gampang. Tidak usah resah begitu. Saya sudah siapkan beberapa judul yang bisa langsung dipakai. Sudah banyak orang memakai judul ini. Bro cukup ganti tempat dan tahunnya saja. Dosen pasti langsung setuju. Apalagi dosen di kampus anu (ssstt…rahasia).  Kalau hanya untuk judul, bro bisa bayar Rp. 1.000.000,. Itu murah sudah.”, katanya sambil terkekeh.
Benar. Hari itu saya ingin tampil bodoh di hadapannya. Berjuang tampak bingung dan resah. Sesekali menggarukkan kepala dan kamu tahu? Ia semakin “bergairah”. Bercerita banyak hal tentang ketuntungannya dari jasa membuat skripsi. Menurutnya, di kota Kupang ini banyak yang sudah memakai jasanya. Skripsi mereka dipuji oleh dosen pembimbing dan penguji. Mereka lulus. Saat wisuda ada yang datang bersama orangtuanya dan mencium tangannya. Ia seperti dewa penyelamat. Keluarganya menyisipkan juga “uang sirih pinang” yang walaupun mereka tahu, ia (si pembuat skripsi) tidak makan sirih pinang.

Berjuang tampak ragu, saya bertanya bagaimana kalau nantinya ketahuan saya menggunakan jasanya. Ia menatapku sejenak. Seakan sedang berjuang mencari cara menghapus keresahan saya. “Tidak perlu takut. Sebelum maju untuk ujian kamu akan dibekali. Dosen sudah memiliki beberapa pertanyaan wajib yang saya tahu hanya sekadar basa-basi. Tapi, kamu juga harus mendekati dosen. Kalau di kampus anu, saya tahu maunya dosen itu. Hidup ini adalah tentang uang. Idealisme bahkan keyakinanmu bisa dibeli dengan uang. Bro tahu maksud saya to? Saya heran ada yang sharing kalau di kampusnya ada dosen “killer”. Tidak. Ia (dosen) sesungguhnya meminta pengertian dari kamu. Minta dihargai sekaligus minta uang jajanmu”, katanya sambil terbahak.

Ini fakta. Kisah nyata dunia pendidikan kita. Jika setiap tahunnya, semua kampus meng-wisudakan ratusan bahkan ribuan orang sarjana, saya malah ragu untuk ikut berbangga. Ada semacam paradoks. Semisal begini. Setiap tahun,  beberapa kampus di NTT menamatkan sekian banyak sarjana ekonomi. Coba pergi ke pasar. Pedagang di sana adalah “orangtua” bersahaja tanpa ijazah sarjana ekonomi. Dalam setiap harinya, mereka menghasilkan banyak uang dari kepiwaiannya berdagang. Sampai di detik ini saya harus berbisik keras. NTT butuh sarjana bukan ijasah sarjana. Sudah. Bakal saya ulas khusus topik yang satu ini. Mari kita kembali ke meja ngopi dengan si penjual jasa membuat skripsi tadi.

Saya segera pamit ketika dua orang gadis mendatanginya. Sepertinya mereka memiliki maksud yang sama. Ingin memakai jasanya membuat skripsi. Kepada saya si pembuat skripsi berpesan jika nanti datang menemuinya lagi jangan lupa bawa laptop. Beberapa judul skripsi bisa langsung di-copy paste-kan. Emailnya sudah tidak dipakai lagi. Saya kembali ke redaksi. Duduk diam tanpa kata dan suara. Di saat begitu, saya didatangi sekelompok mahasiswa ber-jas kuning emas. Tiba-tiba meminta Kartu Keluargaku. Katanya, mereka bertugas untuk mengecek dan mencatat bagaimana masyarakat berlaku hidup sehat. Tanpa ragu ia menyuruh saya mengisi formulir yang berisi pertanyaan yang menyentak dada seperti berapa penghasilan tiap bulan? Berapa jumlah fentilasi rumah anda? Lalu ke mana air kamar mandi dialirkan. Pertanyaan konyol dan membingungkan. Mungkin seharusnya begini. Kamu memberi salam, memperkenalkan diri dari kampus mana dan tujuan kedatanganmu apa. Mungkin kebodohan itu perlu dirayakan dengan satu cara seperti ini. Diam tanpa kata dan suara.

Wajah dan suara si penjual jasa membuat skripsi itu hadir kembali. Saya mempersilahkan para mahasiswa pengecek dan pencacat data itu duduk. Kepada mereka saya menjelaskan beberapa hal mulai dari soal etika, kecerdasan berkomunikasi hingga bagaimana mengumpulkan data di tengah masyarakat. Kamu bakal temukan masalah yang terjadi di tengah masyarakat, semisal masalah kebersihan dan kesehatan tergantung dari kemauan si narasumber memberi data secara benar dan valid.

Cara kamu berkomunikasi untuk mengyakinkan sang narasumber (pemberi data) sangat menentukan kualitas tulisanmu nanti. Tulisan skripsimu ditentukan dari cara kamu memberi salam  kepada para narasumber. Kalau kemudian tiba-tiba meminta kartu keluarga dan mengisi formulir kamu bakal mendapat kerugian ganda. Pertama, permintaanmu tidak dikabulkan dan yang kedua kamu bakal diusir dan dikatai sebagai mahasiswa bodoh.

Kisah penjual jasa membuat skripsi ini dan sekelompok mahasiswa pengecek dan pencacat data mengisyaratkan beberapa hal.

Pertama, lemahnya budaya baca-tulis di kalangan mahasiswa. Aktifitas menulis selalu mengadaikan adanya kebiasaan membaca. Penulis yang trampil adalah seorang pembaca yang tekun. Menulis skripsi adalah menuliskan pikiran. Pikiran-pikiran cerdas dan kristis adalah miliknya si “kutu buku”.

Kedua,  pentingnya kegiatan ekstra kurikuler jurnalistik dan Karya Ilmiah Remaja. Para kepala sekolah, guru dan komite di tingkat Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan Sekolah Menengah Atas (SMA) seharus memikirkan dan memprogramkan hal ini. Kegiatan ekstrakurikuler lain seperti Dramband, pramuka, kelompok peduli lingkungan hidup dan sebagainya, itu penting. Namun jauh lebih penting adalah bagaimana mempersiapkan para calon mahasiswa ini. Mereka harus didampingi secara khusus dalam hal menulis. Mari jujur, seberapa sering papan mading di sekolah itu diganti dengan tulisan baru. Akh … jangan sampai papan madingnya ditempel kertas pengumuman penggunaan dana BOS atau lembaran promosi dari berbagai kampus untuk penerimaan mahasiswa baru.

Ketiga, mungkin saatnya pemerintah dan DPR bertobat. Bicara mutu pendidikan jangan langsung tertuju pada sebuah kondisi gedung sekolah. Sekali lagi, mutu itu ada di kepala guru dan peserta didik. Oleh karena itu, kegiatan peningkatan mutu guru dan siswa harus diutamakan. Pendampingan penulisan karya ilmiah, misalnya.

Mari jujur. Para guru NTT mayoritas kandas di pangkat/golongan IV/A. Tahu kenapa? Karena ia tidak membaca dan menulis. Kalau guru tidak biasa membaca dan menulis jangan harap anak didik berbuat sebaliknya. Ingat, guru itu digugu dan ditiru.

Pengjasa pembuatan skripsi itu terkekeh. Ia terbahak untuk beberapa hal. Ia sedang menertawakan guru dan anak-anak NTT yang nampak bingung, resah, gagap dan gugup menulis karya ilmiah. Harga dirinya digadai atas nama profesionalisme dan ijasah sarjana. Selain itu, ia terkekeh menertawakan pemerintah, masyarakat dan leluhurnya orang NTT. Pemerintah yang selalu mencari posisi nyaman, anggota legislatif yang hanya berpikir untuk lima tahun, masyarakat yang tidak peduli pendidikan dan generasi yang akan datang serta leluhur yang meninggal tanpa memberi pesan dan teladan.

Akhirnya, mari kita terbahak bersama. Meramaikan dunia maya dan merayakan kebodohan sekaligus membangun niat untuk berubah. Ingat, kita sedang mengalami dehidrasi literasi. Kamu tahu apa itu dehidrasi literasi? Keadaan kita yang bisa baca (melek huruf) tetapi tidak biasa membaca.

Salam Cakrawala, Salam Literasi …

Related Posts