Media Berwawasan dan Berbudaya


Saturday, 20 July 2019

JANGAN MUNAFIK (Mencerna Narasi Jerry Manafe Tentang HIV/AIDS)

| Saturday, 20 July 2019

Penulis: Gusty Rikarno, S.Fil
Jurnalis Media Cakrawala NTT

Suatu saat jika harus memilih apakah tinggal di kotanya orang kudus atau kotanya orang sehat, saya tidak ragu untuk memilih tinggal di kotanya orang sehat. Mau tahu kenapa? Jawabannya sederhana saja. Saya manusia, penuh dosa dan kekhilafan. Saya butuh lingkungan hidup yang baik dan sehat. Saya butuh bonus waktu untuk bertobat dan kembali ke jalan yang benar. Kuyakini saja, di dalam diri orang yang sehat, ada unsur kekudusan. Ia mampu menjaga kesehatanya dengan baik dan tentunya ia tetap produktif untuk berpikir dan bekerja. Di sisi yang lain, orang kudus (apalagi merasa kudus) dalam dirinya sendiri sudah pasti tidak sehat. Bagaimana mungkin ia mau disebut orang kudus (merasa kudus) sementara ia masih berpredikat manusia. Ia tidak sehat. Minimal dari cara ia bersikap, merasa dan berpikir.

Dalam suatu kesempatan tepatnya tanggal 25 Mei 2019, saya mendapat undangan via group WA dari bagian humas Pemerintah Kabupaten Kupang untuk datang dan meliput kegiatan Trainning of Trainers (TOT) untuk Warga Peduli ADS dalam lingkup wilayah Kabupaten Kupang. Kegiatan rupanya dinilai sangat penting dan mendesak. Hal ini terlihat bagaimana Wakil Bupati Kupang, Jerry Manafe berbicara keras dalam nada kesal ketika melihat banyak Kepala Desa, Lurah dan Camat tampak tidak peka dan tidak mau ikut peduli terhadap persoalan yang dialami masyarakat dalam wilayahnya. Grafik data kasus penularan HIV/AIDS cenderung meningkat. Data per-April 2019, terdapat 276 kasus HIV/AIS dengan rincian 145 teridentifikasi menderita HIV, 45 orang lainnya menderita AIDS dan 25 orang dinyatakan sudah meninggal dunia. Penularan HIV/AIDS dan dampak iktannya ternyata jauh lebih lebih ganas dan mengerikan dari Narkoba. Narkoba butuh waktu dan biaya yang tinggi untuk mendapatkannya. Sementara untuk berhubungan seks (ilegal), sangat mudah. Tahu kenapa? Karena mudah dan murah. Mudah mendapatkan jasa PSK (terselubung) dan biaya jasanya murah.

“Saya kok heran ya. Ada camat, lurah dan kepala desa yang “mati rasa” dengan persoalan ini. Saya cemas, mereka menjadi tidak peka karena mungkin saja mereka adalah bagian dari penderita HIV/AIDS. Dana Desa, harus digunakan juga untuk mengatasi persoalan penting semacam ini. Bayangkan, dari tiga belas kecamatan yang ada, masih banyak peserta yang tidak hadir. Padahal kita sudah berupaya, dalam kondisi anggaran yang terbatas kita selenggarakan kegiatan ini karena kegiatan ini sangat penting dan mendesak”, tegas Jerry.

Sebagai informasi tambahan, di kota Kupang pernah ada lokalisasi untuk para Pekerja Seks Komersial (PSK). Mereka (PSK) dilokalisasi dalam satu maksud. Identitas dan  kesehatannnya mudah dikontrol.  Secara berkala (saat itu), pihak kesehatan dan kelompok masyarakat/LSM peduli HIV/AIDS, secara berkala mengontrol kesehatan mereka. Ada kalanya mereka mengikuti seminar untuk mendapatkan kata-kata awasan sekaligus ajakan agar mereka meninggalkan lokasi Karang Dempel (KD) dan menekuni pekerjaan yang lain. Tapi itu cerita sekian banyak waktu yang lalu. Kini lokasi prostitusi itu “dibersihkan” terhitung dari tanggal 1 Januari 2019 yang lalu. Ada semacam pemulihan wajah kota ini dari bawah bopeng penuh dosa menuju wajah lugu penuh kekudusan. Efek postifnya, justru ada pada titik ini. Kota Kupang bukan hanya kota kasih tetapi juga kotanya kudus. Kotanya orang-orang kudus. Dampak negatif dari penutupan KD luput dari perhitungan dan kalkulasi banyak orang termasuk  gereja sebagai sebuah intitusi keagamaan mayoritas.

Kamu tahu? Persoalan baru perlahan mulai muncul. Tidak perlu munafik. Jujur saja. Banyak tempat pitrat dan karoeke berubah fungsi sebagai tempat protistusi terselubung. Belum lagi, ada mantan penghuni KD yang memutuskan kembali ke kampung sebagai warga biasa tetapi tetap membawa cara hidup yang lama. Ia (mantan PSK), bisa saja melacur dekat rumah adat, tak jauh dari rumah ibadah atau di kebun saat memilih kemiri. Bisa saja. Tidak heran jika grafik data penularan kasus HIV/AIDS terus meningkat. HIV/AIDS akhirnya tidak hanya soal kesehatan tetapi telah menyentuh persoalan ekonomi, budaya, agama dan sebagainya. Diyakini saja, seorang dewasa akan disebut “tolol” kalau bertanya, mengapa harus ada PSK?

Jerry Manafe hadir menawarkan solusi. Bukan mengalihkan isu dan mulai melempar tanggungjawab dengan cara mencari “kambing hitam”. Jerry tidak sedang berwacana agar KD diaktifkan kembali. Ia juga tidak mau bertanya apakah eks warga (penghuni) KD, semuanya telah diberi modal diberi modal dan didampingi untuk berusaha secara berkelanjutan? Lokasi “KD” ada dalam wilayah administrasi kota Kupang. Walau demikian efeknya menyentuh aspek hidup manusia yang paling rahasia dan berharga. Ia menjalar menembus ruang waktu dan menjarah jiwa semua wilayah. Warga Kabupaten Kupang sebagai radius terdekat, pasti menerima dampak yang lebih besar. Mengajak masyarakat sekaligus meneguhkan keputusan sebagai kecil warga untuk ikut peduli dan setia pada “panggilan” untuk menyelamatkan sekian banyak orang dari penularan HIV/AIDS adalah tugasnya dan tanggungjawabnya sebagai pemerintah.

“Saya yakin, kasus pemerkosaan, perselingkuhan, hamil di luar nikah dan penularan kasus HIV/AIDS untuk beberapa waktu ke depan akan dan terus meningkat. Jika itu  terjadi ke mana masyarakat dan daerah ini dibawa. Saya bersyukur ada sekelompok masyarakat yang hadir dan mau peduli. Ke depan, kita akan terus berupaya agar semakin banyak komunitas yang sama terbentuk di setiap desa. Kita harus bergerak lebih cepat. Oleh karena itu, pentingnya membangun sinergisitas lintas sektor untuk menekan laju pertumbuhan kasus ini dengan target Three zero yaitu tidak adanya infeksi baru, tidak adanya kematian dan tidak adanya stigma bagi pederita HIV/AIDS. Anggaran kita memang terbatas. Pendapat Asli Daerah (PAD) Kabupaten Kupang sangat kecil, tetapi kita harus berusaha semaksimal mungkin. Apapun caranya. Saya siap bertemu orang pusat untuk membicarakan persoalan ini”, demikian Jerry Manafe.

Katakan saja, tidak perlu munafik. Mau hidup di negeri (kota) orang kudus (merasa kudus) atau  di negeri (kota) di tempat berdiamnya orang-orang sehat. Hidup ini adalah tentang bagaimana kita memilih dan memutuskan. Dosa itu adalah soal pilihan bukan soal kesempatan. Jika dosa itu adalah kesempatan maka kita meragukan peran logika dan hati nurani. Boleh dengan sebuah contoh. KD masih ada dan anggap saja jalan menuju ke sana adalah perjalanan menuju neraka. Semua orang tahu tentang itu. Tinggal ia memilih, apakah mau ke neraka atau ke surga. Persoalannya, kalau jalan ke neraka tidak jelas, maka orang yang memang mau ke neraka bingung. Maka ia akan mempersulit orang yang sedang memilih jalan ke surga. Minimal ia meminta bantuan untuk bersama mencari jalan ke neraka dan akhirnya ke duanya tersesat. Begitulah seterusnya. Logika ini mungkin tidak tepat. Pointnya, jika KD ditutup maka harus ada sekian banyak strategi dan solusi untuk masyarakat bisa mempunyai lapangan kerja. Hadirkan sekian banyak investor dan buka sekian banyak pabrik di daerah ini. Maaf, tugas yang begini tanggungjawab pemerintah.

Saya teringat, dua kata “gaib” seorang Viktor Bungtilu Laikodat , Gubernur NTT saat ini. Pemerintah mempunyai dua tugas utama dan pertama yakni sebagai regulator dan fasilitator. Ia menetapkan aturan yang mengikat, jelas dan transparan. Selain itu, ia (pemerintah) adalah fasilitator, pihak berwenang yang mampu berimajinasi dan sigap menentukan sikap ke mana daerah ini di bawa. Logikanya jelas. Jika KD ditutup maka solusi diberi. Pemerintah harus lebih pro-aktif untuk membuka akses bagi masyarakat untuk berwirausaha khususnya untuk kaum minorotas di bumi patriarkat ini yakni manusia bernama perempuan.

Yah ... di benak saya, kira-kira begitu jika serius mencerna narasi seorang Jerry Manafe. Seperti seorang sniper, ia tahu ke mana arah tuju peluru dilesatkan, ia sudah memperhitungkan jarak sasaran, arah angin bertiup dan sudah pasti ia seorang yang sangat profesional dalam hal menembak. Kota Kupang dan Kabupaten Kupang adalah kakak-beradik yang selalu mengadaikan dalam banyaka hal termasuk masalah sosial, ekonomi dan budaya. Jerry seorang yang sangat taat asas. Ia berbicara apa yang menjadi kapasitasnya. Ia tidak akan menyerempet ke tema (pihak) lain kalau bukan menjadi kapasitas dan wewenangnya.  Hmmm ... begitu kira-kira. Dalam konteks mengatasi penularan HIV/AIDS agar tidak semakin kronis maka target kerja Three Zero harus dijalankan. Itu saja.

Salam cakrawala, salam Literasi

Related Posts

No comments:

Post a Comment