Media Berwawasan dan Berbudaya


Friday, 17 May 2019

Mbukut Pendidikan kearifan Lokal Manggarai

| Friday, 17 May 2019
Acara Mbukut Anak Rona Loha dengan Woe Pitak Kolang
Tahun 2018


Apa itu Mbukut Budaya Lokal Manggarai?

Mari kita bahas, tulisan ini berdasarkan pengalaman penullis dan sumber-sumber lainnya yang sesuai dengan topik tersebut diatas.

Dalam tradisi Manggarai, Mbukut berarti meminang atau melamar. Penjelasan tentang makna Mbukut dapat digali dari ilustrasi dari kisah tentang upacara Mbukut Molas Rentung. Acara lamaran Molas Rentung tinggal satu minggu lagi. Jehadut, pemuda asal ranggu, kolang yang menjadi pasangan gadis manggarai tengah ini mempersiapkan segala sesuatu diperlukan pada acara Mbukut tersebut 

Pada sore hari itu, Pak dabur tampak sibuk, kesana kemari. Ia membawa sokal untuk mengumpulkan beras dari keluarga rentung. Selain itu juga mengumpulkan kopi, gula, tuak dan tikar.  Setiap keluarga di minta menyetorkan beras masing-masing Cemampang atau 1 1/2 kg, gula tiga malang dan tipung kopi 1 mok (sejenis dari kaleng) dan juga tuak. Tongka atau juru bicara telah di persiapkan. Orang tua molas rentung telah menyiapkan seekor babi untuk menerima tamu dari ranggu. Pada acara ini keluarga bersepakat untuk berbicara berbagai hal seputar pernikahan.

Pembahasaan mulai dari jumlah belis yang di tanggung kepada pihak laki-laki seperti penentuan jumlah kerbau, kuda dan uang. Jika keluarga rentung dan Jehaut sudah sepakat maka akan diadakan acara mbukut (pengikat kesepakatan). Biasanya pihak keluarga rentung menyembelih seekor babi, dan pihak keluarga ranggu menyerahkan seekor kambing. Pada awal pihak keluarga laki-laki melalui tongka dengan di awali kata-kata "Yo...Ite..Behe Latung Pene seru mawo suing, api toe saing, uma toe duat!. yo......iti tara mai dami kamping ite, mai tegi kala. Rantang tombo bon, ratang bajar kanang ho'o tuak gammi!, sembari menyerahkan satu botol tuak atau berupa uang se cukup nya ( ya bapak yang terhormat, kami memang memiliki anak gadis, tapi sudah di pinang orang).

Biasanya sambil memegang sejumlah uang. Tongka pihak laki-laki berbicara lagi: 'yo....ite hoo tuak dami latang rongkas reko hitu (ya...bapak yang terhormat, kami sungguh meminang anak gadisMU, ini tuak pertanda keseriusan kami). Usai dialog diatas biasanya kedua calon pasangan membahas sejumlah belis dan rencana pernikahan.

Acara ini setelah mbukut dilakukan. Pihak keluarga laki-laki (woe) biasanya memberikan cular koes nolak (uang ucapan terimakasih) berupa uang kepada pihak keluarga perempuan (narasi:Hila Bane).

Kesimpulan ketika keluarga laki-laki ingin melamar gadis, pembicara di awali tutur kata yang sopan dengan penuh simbol. Seni bertutur kata  menjadi tema penting dalam setiap upacara di manggarai. Makin indah kita menyampaikan dan makin idah pula di jawab, acara tersebut akan bermutu.

Dalam tradisi acara pernikahan seperti ini, wajib hukumnya membayar uang cular untuk membayar semua yang di nikmati pada acara berlangsung. Ini bukan warung namun adat yang mewariskanya dan orang manggarai menerima ini apa adanya.

Kondisi  ekonomi biasanya menjadikan orang manggarai menghindari acara seperti ini, karena terlalu banyak biaya yang di keluarkan oleh pihak laki-laki, sehingga banyak orang manggarai memilih jalan pintas Roko Wina/Wendo bahasa kolang pacar (Membawa lari gadis tanpa prosedur yang standar), sah menurut adat manggarai.

Demikian ulasan tersebut diatas membahas seperti acara mbukut di manggarai, semoga tulisan ini menjadi referensi anda dalam memahami adat istiadat yang berlaku di manggarai

Sumber: Ensiklopedia Manggarai (cetakan pertama 2018/2019). 

Related Posts

No comments:

Post a Comment