Media Pendidikan BERWAWASAN Cerdas dan Berbudaya

Selamat datang di wartaloha**Semoga Bermanfaat** Terimakasih Atas Kunjungan Anda** Dengan Membaca Anda Dapat Menguasai Dunia** Senang Berkerjasama dengan Anda**Kontak Redaksi Wartaloha, HP:085239228098, flafianusjeadun188@gmail.com

Monday, 4 March 2019

Penggunaan Metode Diskusi, Dalam Pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan Untuk Meningkatkan Hasil Belajar siswa Kelas IX di SMP Negeri 13 Kupang

| Monday, 4 March 2019

 BAB I
                                                       PENDAHULUAN         
A.    Latar Belakang
Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang sangat pesat dapat membentuk masyarakat dunia yang saling ketergantungan. Tatanan dunia mulai mengalami perubahan secara struktural menuju era globalisasi dalam berbagai bidang kehidupan. Untuk mutu pendidikan tidak dapat diabaikan, karena peningkatan kualitas sumber daya manusia yang siap menghadapi era globalisasi tersebut harus memiliki pendidikan yang bermutu.
Pendidikan merupakan salah satu faktor penting dalam perkembangan dan pembangunan suatu negara. Negara di katakan maju dalam segala bidang baik dalam bidang ekonomi, teknologi, pertanian ataupun yang lainnya tidak terlepas dari peran pendidikan. Melalui pendidikan akan terbentuk manusia yang cerdas, berahlak mulia, dan melalui pendidikan ini pula dapat di pelajari perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang sangat berguna untuk mengubah keadaan suatu bangsa menjadi lebih baik.
Upaya peningkatan mutu pendidikan menjadi prioritas utama dari program pendidikan nasional pada saat ini. Undang – Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, pasal 3 menyebutkan bahwa pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa
yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa. Pendidikan bertujuan untuk mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berahlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggungjawab. Pendidikan pada hakekatnya merupakan upaya untuk meningkatkan kualitas manusia. Oleh karena itu setiap proses pendidikan akan berusaha mengembangkan seluas- luasnya potensi individu sebagai sebuah elemen penting untuk mengembangkan dan mengubah masyarakat. Dalam upaya itu setiap proses pendidikan membutuhkan seperangkat metode tertentu sehingga transformasi pengetahuan, ketrampilan dan perilaku yang diberikan dapat berjalan sebagaimana yang di inginkan.
Penyelenggaraan pendidikan pada hakikatnya memiliki tujuan utama yaitu untuk menghasilkan dan mengusai ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni. Di samping itu pula menghasilkan suatu lulusan dan siswa yang mengikuti perkembangan zaman. Untuk melakukan hal itu, sekolah tidak akan bisa menghindari diri dari berbagai tantangan masa depan yang sulit sekali untuk di ramalkan, serta mengalami perubahan. Reformasi pendidikan yang di terapkan di lembaga- lembaga sekolah merupakan respon terhadap perkembangan tuntutan global sebagai upaya untuk mengadaptasikan sistem pendidikan yang mampu mengembangkan sumber daya manusia untuk memenuhi tuntutan zaman yang sedang berkembang saat ini. Melalui reformasi pendidikan, pendidikan harus berwawasan masa depan yang bisa menjamin bagi perwujudan hak- hak asasi manusia untuk mengembangkan seluruh potensi siswa secara optimal (Dalyono,2005 : 109).

Sekolah sebagai salah satu lembaga formal pendidikan dikatakan berhasil apabila prestasi belajar anak didik menunjukkan peningkatan. Keberhasilan ini sangat di tentukan oleh berbagai faktor yang dapat dibedakan secara garis besar menjadi dua yakni faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal adalah segalah hal yang berkaitan dengan diri siswa antara lain tingkat kecerdasan, minat, bakat, motivasi, dan aspek kejiwaan peserta didik. Faktor eksternal faktor di luar kondisi pribadi anak didik seperti kondisi dan sistem sekolah, kenyamanan sekolah, peranan orang tua serta kepedulian masyarakat (Umiarso, 2010 : 18).


Dalam upaya untuk meningkatkan mutu pendidikan khususnya mata pelajaran PKn, para pendidik atau guru di tuntut untuk selalu meningkatkan diri baik dalam pengetahuan PKn maupun pengelolaan proses belajar mengajar. Hal ini dimaksudkan agar para siswa dapat mempelajari PKn dengan baik dan benar sehingga mereka mampu mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, serta di harapkan dapat menerapkannya dalam kehidupan sehari- hari. Sebagi fasilitator guru berperan dalam memberikan pelayanan untuk memudahkan siswa dalam kegiatan proses pembelajaran.
Upaya meningkatkan keberhasilan pembelajaran, merupakan tantangan yang selalu dihadapi oleh setiap orang yang berkecimpung dalam profesi keguruan dan pendidikan. Menganalisis upaya peningkatan keberhasilan proses pembelajaran, pada intinya tertumpu pada suatu persoalan sebagaimana guru memberikan penjelasan yang memungkinkan bagi siswa terjadi proses belajar yang efektif atau dapat mencapai hasil sesuai dengan tujuan. Upaya untuk meningkatkan keberhasilan belajar siswa diantaranya dapat dilakukan melalui upaya memperbaiki proses pembelajaran. Dalam perbaikan proses pembelajaran peranan guru sangat penting, yaitu menetapkan metode pembelajaran yang tepat,salah satunya adalah penggunaan metode diskusi. Oleh karena sasaran proses pembelajaran adalah siswa belajar, maka dalam menetapkan metode pembelajaran, fokus perhatian guru adalah upaya membelajarkan siswa. Sesungguhnya mengajar hendaknya di lakukan dengan metode pembelajaran atau cara yang efektif agar di peroleh hasil yang lebik baik (Asra,dalam Mudjiono,Dymiati, 2009 : 10).

Guru seharusnya mampu menentukan metode pembelajaran yang di pandang dapat membelajarkan siswa melalui proses pembelajaran yang dilaksanakan, agar tujuan pembelajaran dapat tercapai secara efektif, dan hasil belajar pun dapat di tingkatkan. Metode pembelajaran dapat di tentukan guru dengan memperhatikan tujuan dan materi pembelajaran. Pertimbangan pokok dalam menentukan metode pembelajaran terletak pada keefektifan proses pembelajaran.

Tentu saja orientasi guru adalah kepada siswa belajar, jadi metode pembelajaran yang di gunakan pada dasarnya berfungsi sebagai siswa agar siswa belajar.
Dalam pelaksanaan pembelajaran guru perlu menggunakan metode pembelajaran yang dapat mengaktifkan siswa, memberikan kesempatan siswa berpikir, menyelesaikan masalah, dan mengembangkan kerja sama antara siswa. Dengan metode pembelajaran yang tepat maka timbul proses pembelajaran yang bermakna. Menyampaikan bahan pelajaran berarti melaksanakan beberapa kegiatan, tetapi kegiatan itu tidak akan ada gunanya jika tidak mengarah pada tujuan tertentu. Artinya seorang pengajar harus mempunyai tujuan dalam kegiatan pengajarannya, karena itu setiap pengajar menginginkan pengajarannya dapat diterima sejelas- jelasnya oleh para peserta didiknya.
Untuk mengerti suatu hal dalam diri seseorang, terjadi suatu proses yang disebut sebagai proses pembelajaran melalui model pengajaran yang sesuai dengan kebutuhan proses belajar itu. Model dan proses pembelajaran menjelaskan makna kegiatan yang di lakukan oleh pendidik selama pembelajaran berlangsung (Sagala, 2014 : 173).
Cara untuk mencapai tujuan pembelajaran adalah dengan menggunakan berbagai model- model pembelajaran yang seirama dengan kondisi siswa, tujuan dan kondisi pembelajaran yang akan dilangsungkan. Masalah yang dihadapi oleh peserta didik cukup banyak diantaranya kurangnya motivasi belajar siswa, kurangnya keberanian mengemukakan pendapat, dan bertanya apabila tidak mengerti dan kurang paham tentang materi yang diajarkan pada waktu belajar mengajar berlangsung. Tidak ada inisiatif dari siswa itu sendiri atau tidak bisa dikatakan siswa kurang berperan aktif dalam proses pembelajaran. Kurangnya keaktifan siswa ini bisa mengakibatkan siswa hanya menghafal informasi yang di sampaikan oleh guru atau pengajar tanpa memahami informasi itu (Sagala,2014 : 174).


Kurangnya motivasi belajar siswa menjadi suatu permasalahan para guru atau pengajar. Pada pembelajaran PKn banyak  siswa yang menampakan sikap kurang bersemangat, dan kurang siap dalam menerima pelajaran. Ketidaksiapan siswa tersebut berpengaruh dalam proses belajar mengajar, karena mengakibatkan suasana kelas menjadi kurang aktif dan interaksi timbal balik antara guru dan siswa. Siswa cenderung pasif, hanya menerima apa saja yang diberikan oleh guru. Kemungkinan penyebab rendahnya motivasi belajar siswa ini banyak sekali, diantaranya adalah strategi pembelajaran guru yang cenderung menggunakan metode ceramah, dan siswa hanya menghafal materi pelajaran dari buku (Zahroh, 2015 : 238).

Berdasarkan uraian tersebut, maka peneliti tertarik untuk melakukan penelitian dengan judul “Penggunaan Metode Diskusi Dalam Pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan Untuk Meningkatkan Hasil Belajar siswa Kelas IX di SMP Negeri 13 Kupang”.
B.     Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian latar belakang permasalahan di atas, maka yang menjadi rumusan masalah dalam penelitian ini adalah:
1.        Mengapa penggunaan metode diskusi pada pembelajaran PKn dapat  meningkatkan hasil belajar siswa kelas IX di SMP Negeri 13 Kupang?
2.        Bagaimana penggunaan metode diskusi dalam pembelajaran PKn pada siswa kelas IX di  SMP Negeri 13 Kupang?
C.    Tujuan Penelitian
Berdasarkan rumusan masalah di atas, maka yang menjadi tujuan penelitian adalah:
1.        Untuk mengetahui pentingnya penggunaan metode diskusi dalam meningkatkan hasil belajar siswa kelas IX di SMP Negeri 13 Kupang
2.        Untuk mengetahui langkah-langkah penggunaan metode diskusi dalam pembelajaran PKn pada siswa kelas IX di SMP Negeri 13 Kupang.
D.    Manfaat Penelitian
Manfaat penelitian ini adalah :
1.        Sebagai penyumbang pemikiran dengan meningkatkan pengetahuan terhadap penggunaan metode diskusi belajar siswa.
2.        Untuk menambah wawasan tentang motivasi belajar dalam meningkatkan prestasi belajar siswa- siswi.
3.        Bagi penulis sebagai bahan untuk menulis skripsi yang merupakan   salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana pendidikan Jurusan PPKn FKIP UNDANA. 

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA, KONSEP, DAN KERANGKA BERPIKIR
A.    Tinjauan Pustaka
Rahman (2008) “Penerapan Metode Diskusi Dalam Meningkatkan Motivasi Belajar Siswa Pada Pembelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI) Di SMPN 1 Prambon Sidoarjo”. Berdasarkan hasil penelitiannya, metode diskusi dapat meningkatkan motivasi belajar siswa dalam pembelajaran mata pelajaran PAI. Hal ini terbukti dengan tingginya antusiasme dan semangat siswa selama proses pembelajaran PAI berlangsung. Dan mereka merasa bahwa dengan metode diskusi dapat mempermudah mereka dalam memahami materi PAI serta proses pembelajaran dapat lebih efektif dan efisien. Penerapan metode diskusi sangat mendukung akan terciptanya efektifitas pembelajaran yang kondusif dan interaktif.
Penggunaan metode diskusi dalam pembelajaran Pendidikan Agama Islam di SMPN 1 Prambon ternyata sangat meningkatkan motivasi belajar siswa khususnya siswa kelas VIIA, hal ini bisa dilihat dari meningkatnya semangat belajar siswa yang sebelum dan sesudah melaksanakan pembelajaran dengan menggunakan metode diskusi. Respon yang diberikan siswa selama proses pembelajaran pendidikan agama Islam sangat semangat dan antusias. Hal ini terbukti dengan meningkatnya antusiasme siswa selama proses pembelajaran berlangsung
Meningkatnya semangat dan antusiasme siswa tersebut mulai dari menunjukkan bahwa respon siswa terhadap penggunaan metode diskusi sangat maksimal.
Perbedaan peneliti terdahulu dan peneliti sekarang adalah peneliti terdahulu memfokuskan pada penerapan metode diskusi dalam meningkatkan motivasi belajar siswa pada pembelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI) di SMPN 1 Prambon Sidoarjo, sedangkan peneliti sekarang lebih memfokuskan pada penggunaan metode diskusi dalam pembelajaran pendidikan kewarganegaraan untuk meningkatkan hasil belajar siswa kelas IX di  SMPN 13 Kupang.
Ajah (2012) “Penerapan Metode Diskusi Untuk Meningkatkan Motivasi Dan Hasil Belajar IPS Pada Siswa Kelas IV Mi Pangkalan Kota Sukabumi”. Dalam penelitiannya menunjukkan bahwa sebelum penerapan metode diskusi, situasi kelas pada pembelajaran IPS kurang kondusif, hanya beberapa siswa saja yang berperan aktif dalam pembelajaran. Hal ini dikarenakan pembelajaran cenderung berpusat pada guru yang di anggap bahwa mata pelajaran IPS hanyalah mata pelajaran hafalan saja yang tidak diikutsertakan kedalam Ujian Nasional (UN).

Interaksi antara guru dan siswa kurang efektif pada saat guru menyampaikan materi,siswa banyak yang tidak fokus memperhatikan penjelasan dari guru. Hal ini dapat terlihat dari adanya siswa yang asyik mengobrol dengan teman sebangkunya, melamun, mengantuk dan mencoret-coret kertas untuk menghilangkan rasa jenuh dan bosan. Dan pada saat guru mempersilahkan siswa untuk bertanya tidak ada yang merespon karena mereka kurang konsentrasi dan mengerti benar terhadap materi yang telah disampaikan guru.
Perbedaan peneliti terdahulu dan peneliti sekarang adalah peneliti terdahulu memfokuskan pada penerapan metode diskusi untuk meningkatkan motivasi dan hasil belajar IPS pada siswa kelas IV Mi Pangkalan Kota Sukabumi, sedangkan peneliti
sekarang lebih memfokuskan pada penggunaan metode diskusi dalam pembelajaran pendidikan kewarganegaraan untuk meningkatkan hasil belajar siswa kelas IX di SMP Negeri 13 Kupang.
Ismail (2010) “Penerapan Metode Diskusi Dalam Meningkatkan Motivasi Dan Hasil Belajar IPS Pokok Bahasan Masalah Sosial Pada Kelas IVA SDN Kepatihan 03 Jember Tahun Ajaran 2010/2011”. Dari hasil penelitiannya menunjukkan bahwa penerapan metode diskusi dapat meningkatkan motivasi dan hasil belajar siswa kelas IV A SDN Kepatihan 03 Jember tahun ajaran 2010/2011. Hal ini terlihat dari  presentase motivasi siswa dapat meningkat serta perilaku siswa bersemangat selama pembelajaran berlangsung.

Perbedaan peneliti terdahulu dan peneliti sekarang adalah peneliti terdahulu memfokuskan pada penerapan metode diskusi dalam meningkatkan motivasi dan hasil belajar IPS pokok bahasan masalah soail pada kelas IV A SDN Kepatihan 03 Jember tahun ajaran 2010/2011, sedangkan peneliti sekarang lebih memfokuskan pada penggunaan metode diskusi dalam pembelajaran pendidikan kewarganegaraan untuk meningkatkan hasil belajar siswa kelas IX di SMP Negeri 13 Kupang.
Yona (2016) “Upaya Peningkatan Hasil Belajar Pkn Melalui Metode Pembelajaran Diskusi Kelompok Siswa Kelas IV SDN 1 Beringin Raya Kecamatan Kemiling Bandar Lampung”. Dalam penelitiannya menunjukkan bahwa dalam mata pelajara PKn siswa kelas IV SDN 1 Beringin Raya Kecamatan Kemiling Kota Bandar Lampung, siswa cenderung kurang aktif dalam mengikuti proses belajar mengajar. Hal ini dikarenakan pendekatan pembelajaran yang di pergunakan guru kurang sesuai dengan materi yang di sampaikan kepada siswa. Untuk mencapai hasil pembelajaran yang lebih baik memerlukan dukungan dari semua komponen yang ada. Karena metode pembelajaran yang digunakan guru masih sangat bersifat tradisional yaitu ceramah dan tanya jawab, mengingat taraf pengetahuan siswa dalam memahami materi pokok belum maksimal maka digulirkan metode pembelajaran diskusi kelompok. Melalui pembelajaran metode diskusi kelompok siswa kelas IV SDN 1 Beringin Raya Kecamatan Kemiling Kota Bandar Lampung dapat meningkatkan hasil belajar siswa
Perbedaan dan persamaan penelitian terdahulu dengan peneliti sekarang adalah sama- sama meneliti tentang metode diskusi untuk meningkatkan hasil belajar siswa akan tetapi, peneliti sekarang lebih memfokuskan pada penggunaan metode diskusi dalam pembelajaran pendidikan kewarganegaraan untuk meningkatkan hasil belajar siswa kelas IX di SMP Negeri 13 Kupang. Sedangkan peneliti terdahulu meneliti tentang upaya peningkatan hasil belajar PKn melalui metode pembelajaran diskusi kelompok siswa kelas IV SDN 1 Beringin Raya Kecamatan Kemiling Bandar Lampung.
Perbedaan dan persamaan peneliti sebelum dan peneliti yang akan dilakukan dapat dilihat pada tabel 2.1 di bawah ini.
Tabel 2.1. perbedaan dan persamaan peneliti sebelumnya.
No
Nama Peneliti / Judul Penelitian
Perbedaan
Keterangan
Sebelumnya
Sekarang
1
Rahman 2008 / Penerapan Metode Diskusi Dalam Meningkatkan Motivasi Belajar Siswa Pada Pembelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI) Di SMPN 1 Prambon Sidoarjo
Berdasarkan hasil penelitiannya, metode diskusi dapat meningkatkan motivasi belajar siswa dalam pembelajaran mata pelajaran PAI. Hal ini terbukti dengan tingginya antusiasme dan semangat siswa selama proses pembelajaran PAI berlangsung. Dan mereka merasa bahwa dengan metode diskusi dapat mempermudah mereka dalam memahami materi PAI serta proses pembelajaran dapat lebih efektif dan efisien.


Penerapan metode diskusi sangat mendukung akan terciptanya efektifitas pembelajaran yang kondusif dan interaktif
Sedangkan peneliti sekarang menunjukkan bahwa penggunaan metode diskusi itu dapat meningkatkan  hasil belajar siswa. Hal ini dilihat dari  keterlibatan siswa pada saat kegiatan diskusi berlangsung.
Skripsi
2
Ajah 2012 / Penerapan Metode Diskusi Untuk Meningkatkan Motivasi Dan Hasil Belajar IPS Pada Siswa Kelas IV Mi Pangkalan Kota Sukabumi
Dalam penelitiannya menunjukkan bahwa sebelum penerapan metode diskusi, situasi kelas pada pembelajaran IPS kurang kondusif, hanya beberapa siswa saja yang berperan aktif dalam pembelajaran. Hal ini dikarenakan pembelajaran cenderung berpusat pada guru yang di anggap bahwa mata pelajaran IPS hanyalah mata pelajaran hafalan saja yang tidak diikutsertakan kedalam Ujian Nasional (UN)
 Sama- sama meneliti tentang metode diskusi akan tetapi, peneliti sekarang lebih memfokuskan pada penggunaan metode diskusi dalam pembelajaran pendidikan kewarganegaraan untuk meningkatkan  hasil belajar siswa kelas IX di
SMP Negeri 13 Kupang

Skripsi
3
Ismail 2010 / Penerapan Metode Diskusi Dalam Meningkatkan Motivasi Dan Hasil Belajar IPS Pokok Bahasan Masalah Sosial Pada Kelas IVA SDN Kepatihan 03 Jember Tahun Ajaran 2010/2011
Dari hasil penelitiannya menunjukkan bahwa penerapan metode diskusi dapat meningkatkan motivasi dan hasil belajar siswa kelas IV A SDN Kepatihan 03 Jember tahun ajaran 2010/2011. Hal ini terlihat dari  presentase motivasi siswa dapat meningkat serta perilaku siswa bersemangat selama pembelajaran berlangsung







sedangkan peneliti sekarang lebih memfokuskan pada penggunaan metode diskusi dalam pembelajaran pendidikan kewarganegaraan untuk meningkatkan hasil belajar siswa kelas IX di SMP Negeri 13 Kupang

Skripsi

4
Yona 2016 / Upaya Peningkatan Hasil Belajar Pkn Melalui Metode Pembelajaran Diskusi Kelompok Siswa Kelas IV SDN 1 Beringin Raya Kecamatan Kemiling Bandar Lampung
Dalam penelitiannya menunjukkan bahwa dalam mata pelajara PKn siswa kelas IV SDN 1 Beringin Raya Kecamatan Kemiling Kota Bandar Lampung, siswa cenderung kurang aktif dalam mengikuti proses belajar mengajar. Hal ini dikarenakan pendekatan pembelajaran yang di pergunakan guru kurang sesuai dengan materi yang di sampaikan kepada siswa. Untuk mencapai hasil pembelajaran yang lebih baik memerlukan dukungan dari semua komponen yang ada. Karena metode pembelajaran yang digunakan guru masih sangat bersifat tradisional yaitu ceramah dan tanya jawab, mengingat taraf pengetahuan siswa dalam memahami materi pokok belum maksimal maka digulirkan metode pembelajaran diskusi kelompok. Melalui pembelajaran metode diskusi kelompok siswa kelas IV SDN 1 Beringin Raya Kecamatan Kemiling Kota Bandar Lampung dapat meningkatkan hasil belajar siswa.






Sama- sama meneliti tentang metode diskusi untuk meningkatkan hasil belajar siswa akan tetapi, peneliti sekarang lebih memfokuskan pada penggunaan metode diskusi dalam pembelajaran pendidikan kewarganegaraan untuk meningkatkan hasil belajar siswa kelas IX di SMP Negeri 13 Kupang. Sedangkan peneliti terdahulu meneliti tentang upaya peningkatan hasil belajar PKn melalui metode pembelajaran diskusi kelompok siswa kelas IV SDN 1 Beringin Raya Kecamatan Kemiling Bandar Lampung.

Skripsi
5
Tamonob 2017 / Penggunaan Metode Diskusi Dalam Pembelajaran pendidikan kewarganegaran Untuk Meningkatkan Motivasi Dan Hasil Belajar Siswa Kelas IX di SMP Negeri 13 Kupang



Dalam hasil  penelitian meninjukkan bahwa penggunaan metode diskusi dapat meningkatkan hasil belajar siswa. Hal ini dapat dilihat dari keterlibatan dan keaktivan siswa pada saat diskusi berlangsung. Semua siswa terlibat dalam diskusi walaupun ada siswa yang malu-malu dapat menyampaikan pendapatnya
Skipsi
Sumber: hasil penelitian sebelumnya
B.       Konsep
1.        Metode
            Metode secara harafiah berarti ‘cara’. Dalam pemakaian yang umum, metode diartikan sebagai suatu cara atau prosedur yang di pakai untuk mencapai tujuan tertetu, jadi metode merupakan suatu cara yang dipergunakan untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Dalam kegiatan belajar mengajar, metode sangat diperlukan oleh guru, dengan penggunaan yang bervariasi sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai. Menguasai metode mengajar merupakan keniscayaan, sebab seorang guru tidak akan dapat mengajar dengan baik apabila ia tidak menguasai metode secara tepat.
            Dengan demikian, salah satu keterampilan guru yang memegang peranan penting dalam pengajaran adalah keterampilan memilih metode. Pemelihan metode berkaitan langsung dengan usaha- usaha guru dalam menampilkan pengajaran yang sesuai dengan situasi dan kondisi sehingga pencapaian tujuan pengajaran diperoleh secara optilmal. Oleh karena itu, salah satu hal yang sangat mendasar untuk di pahami guru adalah bagaimana memahami kedudukan metode sebagai salah satu komponen bagi keberhasilan kegiatan belajar mengajar yang sama pentingnya dengan komponen- komponen lain dalam keseluruhan komponen pendidikan (Fathurrohman, 2011: 15,55).

            Pembelajaran yang baik yang menerapakan variasi metode. Bukan hanya mengajar dengan satu metode secara terus- menerus, tetapi bervariasi. Penggunaan metode yang bervariasi bukan saja dapat mengatasi kebosanan siswa, tetapi juga di sesuaikan dengan perbedaan sifat bahan dan kemampuan siswa. Metode- metode mengajar atau metode pembelajaran tersebut secara garis besar dapat di bedakan dalam dua kelompok, yaitu pembelajaran teori dan pembelajaran praktik.


Pembelajaran teori di bedakan pula antara pembelajaran ekspositori, seperti: ceramah, tanya jawab, dan demonstrasi; pembelajaran kegiatan kelompok, seperti: diskusi, diskusi panel, kerja kelompok, simulasi, bermain peran, dan seminar; dan pembelajaran berbuat, seperti: eksperimen, pengamatan, penelitian sederhana, dan pemecahan masalah (Sukmadinata, 2012: 168).

2.    Diskusi

Diskusi merupakan suatu percakapan atau pembahasan terarah tentang sesuatu topik, masalah atau pun isu yang menarik perhatian semua peserta. Pembahasan dapat diarahkan pada klarifikasi (penjelasan) suatu isu atau masalah, menghimpun ide dan pendapat merancang kegiatan, atau memecahkan masalah. Kegiatan diskusi dapat dilaksanakan dalam kelompok kecil (3-7 peserta), kelompok sedang (8-12 peserta), kelompok besar (13-20 peserta) atau pun diskusi kelas. Diskusi pada kelompok kecil lebih efektif di bandingkan dengan kelompok besar dan kelas.

Kegiatan diskusi dipimpin oleh salah seorang siswa sebagai ketua atau moderator untuk mengatur pembicaraan dan cara mencapai target. Siswa lain bertugas sebagai pencatat dan penyusun laporan diskusi. Guru sendiri atau bersama siswa memilih dan menentukan topik- topik yang akan didiskusikan oleh masing- masing kelompok. Topik- topik diskusi terkait dengan pokok bahasan yang harus dibahas saat itu. Kegiatan diskusi dapat di arahkan pada pendalaman materi dalam pokok bahasan, penjelasan konsep, pemahaman isu- isu, pemecahan masalah dan lain- lain (Sukmadinata, 2012: 171).
Diskusi yang baik bukan berbentuk tanya jawab diantara dua peserta, tetapi satu isu, pertanyaan atau masalah di tanggapi oleh semua peserta. Kalau belum ada kesepakatan tiadakan tanggapan kedua, tetapi kalau sudah ada kesesuaian di tulis sebagai pendapat, kesepakatan atau hasil pemikiran kelompok. Selesai diskusi kelompok dapat dilanjutkan dengan diskusi kelas. Tiap kelompok menyampaikan hasil- hasil diskusi kelompok, kemudian di lanjutkan dengan diskusi kelas antar wakil kelompok. Pada akhir diskusi guru memberikan masukan- masukan perbaikan dan penyempurnaan.Selama proses diskusi, guru mengamati, mencatat hal-hal yang membutuhkan penyempurnaan atau penjelasan lebih lanjut. Proses pengamatan juga digunakan oleh guru untuk mengadakan penilaian. Kalau mungkin semua siswa mendapatkan nilai, apabila tidak cukup waktu bisa sebagian siswa saja, tetapi pada diskusi lain siswa yang belum dinilai perlu didahulukan penilaiannya. Penilaian dapat berkenaan dengan isi pendapat, konsep dalam pertanyaan, dan jawaban, bisa juga berkenaan dengan, sistematika dan susunan bahasa (Sukmadinata, 2012: 171). 




3.    Hasil Belajar
a.    Pengertian hasil belajar
Hasil belajar adalah kemampuan yang di miliki siswa setelah ia menerima pengalaman belajarnya. (Kingsley,dalam Mudjiono,Dymyati,2009:59) membagi tiga macam hasil belajar, yakni:
a)       Keterampilan dan kebiasaan
b)      Pengetahuan dan pengertian
c)       Sikap dan cita- cita
Masing- masing jenis hasil belajar dapat diisi dengan bahan yang telah ditetapkan dalam kurikulum. Sedangkan Gagne membagi lima kategori hasil belajar, yakni:
a)      Informasi verbal
b)      Keterampilan intelektual
c)      Strategi kognitif
d)     Sikap
e)      Keterampilan motoris
Dalam sistem pendidikan nasional rumusan tujuan pendidikan, baik tujuan kurikuler maupun tujuan instruksional, menggunakan klasifikasi hasil belajar dari Benyamin Bloom yang secara garis besar membaginya menjadi tiga ranah, yakni ranah kognitif, ranah afektif, dan ranah psikomotoris.

Ranah kognitif  berkenaan dengan hasil belajar intelektual yang terdiri dari enem aspek, yakni pengetahuan atau ingatan, pemahaman, aplikasi, analisis, sintesis, dan evaluasi. Kedua aspek pertama disebut kognitif tingkat rendah dan keempat aspek berikutnya termasuk kognitif tingkat tinggi.
Ranah afektif  berkenaan dengan sikap yang terdiri dari lima aspek, yakni penerimaan, jawaban atau reaksi, penilaian, organisasi, dan internalisasi.
Ranah psikomotoris berkenaan dengan hasil belajar keterampilan dan kemampuan bertindak. Ada enam aspek ranah psikomotoris, yakni :
a)    Gerakan refleks
b)   Keterampilan gerakan dasar
c)    Kemampuan perseptual
d)   Keharmonisan atau ketepatan
e)    Gerakan keterampilan kompleks
f)    Gerakan ekspresif dan interpretatif  (Sudjana, 2013: 22-23).
1.    Bentuk-bentuk hasil belajar/tipe-tipe hasil belajar
Tujuan pendidikan yang ingin di capai, dapat dikategori kedalam tiga bidang yakni: bidang kognitif, bidang afektif, dan bidang psikomotor. Ketiga- tiganya bukan berdiri sendiri melainkan merupakan suatu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan bahkan membentuk hubungan yang hirarkis. Sebagai tujuan yang hendak dicapai, ketiga- tiganya harus nampak sebagai tujuan yang hendak dicapai. Ketiga- tiganya  harus nampak sebagai hasil belajar siswa di sekolah.

Oleh sebab itu ketiga aspek tersebut harus di pandang sebagai hasil belajar siswa dari proses pengajaran. Adapun tipe-tipe hasil belajar tersebut seperti dikemukakan oleh AF. Tangyong meliputi: “Tipe hasil belajar itu mencakup tiga bidang, yaitu tipe hasil  belajar kognitif, tipe hasil belajar afektif, dan tipe hasil belajar psikomotor”.
1.1. Tipe hasil belajar kognitif
a). Tipe hasil belajar pengetahuan hafalan
Cakupan pengetahuan hafalan termasuk pula pengetahuan yang sifatnya faktual, disamping pengetahuan yang mengenai hal-hal yang perlu diingat kembali, seperti: batasan, peristilahan, pasal, hukum, bab, ayat, rumus dan sebagainya. Dari sudut respon belajar siswa pengetahuan itu dihafal, diingat agar dapat dikuasai dengan baik.
Ada beberapa cara untuk mengusai atau menghafal misalnya bicara berulang- ulang, menggunakan teknik mengingat. Hal ini dapat dilakukan dengan pembuatan ringkasan dan sebagainya (Sudjana, 2013: 23).
b). Tipe hasil belajar pemahaman
Tipe hasil belajar pemahaman lebih tinggi satu tingkat dari hasil belajar pengetahuan hafalan. Pemahaman memerlukan kemampuan menangkap makna atau arti dari sesuatu konsep, untuk itu maka diperlukan adanya hubungan atau pertautan antara konsep dengan makna yang ada dalam konsep yang dipelajari. Ada tiga macam pemahaman yang berlaku umum:

Pertama;  pemahaman terjemahan, yakni kesanggupan memahami sesuatu makna yang terkandung di dalamnya. Misalnya memahami kalimat dari bahasa yang satu ke bahasa yang lain, mengartikan lambang negara dan sebagainya.
Kedua; Pemahaman penafsiran, misalnya menghubungkan bagian- bagian terdahulu dengan yang di ketahui berikutnya, atau menghubungkan beberapa bagian dari grafik dengan kejadian, membedakan yang pokok dan yang bukan pokok.
Ketiga; Pemahaman ekstrapolasi yakni kesanggupan melihat di balik yang tertulis, tersirat, dan tersurat, meramalkan sesuatu atau memperluas wawasan.
c). Tipe hasil belajar penerapan (aplikasi)
Aplikasi adalah kesanggupan menerapkan dan mengabstraksi sesuatu konsep, ide, rumus hukum dalam situasi yang baru. Misalnya memecahkan persoalan dengan menggunakan rumus tertentu, menerapkan suatu dalil atau hukum dalam suatu persoalan dan sebagainya.
d). Tipe hasil belajar analisis
Analisis adalah kesanggupan memecah, menguraikan sesuatu integritas (kesatuan yang utuh), menjadi unsur-unsur atau bagian-bagian yang mempunyai arti. Analisis merupakan tipe prestasi belajar sebelumnya, yakni pengetahuan dan pemahaman aplikasi. Kemampuan menalar pada hakikatnya merupakan unsur analisis, yang dapat memberikan kemampuan pada siswa untuk mengkreasi sesuatu yang baru, seperti: memecahkan, menguraikan, membuat diagram, memisahkan, membuat garis dan sebagainya. 

e). Tipe hasil belajar sintesis
Sintesis adalah tipe hasil belajar yang menekankan pada unsur kesanggupan menguraikan sesuatu integritas menjadi bagian yang bermakna, pada sintesis adalah kesanggupan menyatukan unsur atau bagian menjadi satu integritas. Beberapa bentuk tingkah laku yang operasional biasanya tercermin dalam kata-kata: mengkategorikan, menggabungkan, menghimpun, menyusun, mencipta, merancang, mengkonstruksi, mengorganisasi kembali, merevisi, menyimpulkan, menghubungkan, mensistematisasi, dan lain-lain.
f). Tipe hasil belajar evaluasi
Evaluasi adalah kesanggupan memberikan keputusan tentang nilai sesuatu berdasarkan judment yang dimilikinya. Tipe hasil belajar ini dikategorikan paling tinggi dan terkandung semua tipe hasil belajar yang telah dijelaskan sebelumnya. Dalam tipe hasil belajar evaluasi, tekanannya pada pertimbangan mengenai nilai, mengenai baik tidaknya, tepat tidaknya menggunakan kriteria tertentu. Dalam proses ini diperlukan kemampuan yang mendahuluinya, yakni pengetahuan, pemahaman aplikasi, analisis dan sintesis. Tingkah laku yang operasional dilukiskan pada kata-kata menilai, membandingkan, mengkritik, menyimpulkan, mendukung, memberikan pendapat dan lain-lain (Sudjana, 2013:24-28).
2.    Tipe hasil belajar afektif
Bidang afektif berkenaan dengan sikap dan nilai. Sikap seseorang dapat diramalkan perubahannya, bila orang yang bersangkutan telah menguasai bidang kognitif tingkat tinggi. Hasil belajar afektif, kurang mendapat perhatian dari guru, dan biasanya dititik beratkan pada bidang kognitif semata-mata. Tipe hasil belajar yang afektif tampak pada siswa dalam berbagai tingkah laku, seperti : atensi, perhatian terhadap pelajaran, disiplin, motivasi belajar, menghargai guru dan teman sekelas, kebiasaan belajar, hubungan sosial dan lain-lain.
Sekalipun bahan berisi ranah kognitif, ranah afektif harus menjadi bagian integral dari bahan tersebut. Dan harus tampak dalam proses belajar dan hasil belajar yang di capai oleh siswa.  Oleh sebab itu, penting dinilai hasil- hasilnya.
3.      Tipe hasil belajar psikomotoris
Hasil belajar psikomotor tampak dalam bentuk keterampilan (skill), kemampuan bertindak individu (seseorang). Ada enam tingkatan keterampilan yakni:
a)      Gerakan refleks (keterampilan pada gerakan yang tidak sadar).
b)      Keterampilan pada gerakan-gerakan dasar.
c)      Kemampuan konseptual, termasuk di dalamnya membedakan visual, membedakan auditif motorik dan lain-lain.
d)     Kemampuan di bidang fisik, misalnya kekuatan, keharmonisan dan   ketepatan.
e)      Gerakan-gerakan skill, hal ini mulai dari keterampilan sederhana sampai pada keterampilan yang sangat kompleks.
f)       Kemampuan yang berkenaan dengan non decursive komunikasi, seperti gerakan interpretatif dan sebagainya (Sudjana, 2013: 29-31).
4.    Pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan
a.    Pengertian Pendidikan Kewarganegaraan.
Pendidikan Kewarganegaraan secara luas mencakup proses penyiapan generasi muda untuk mengambil peran dan tanggung jawabnya sebagai warga negara. Sedangkan secara khusus, peran pendidikan termasuk didalamnya persekolahan, pengajaran dan belajar,  dalam  proses  penyiapan  warga  negara  tersebut.
Sementara itu, PKn di Indonesia diharapkan dapat mempersiapkan peserta didik menjadi warga negara yang memiliki komitmen yang kuat dan konsisten untuk mempertahankan Negara Kesatuan Republik Indonesia  (NKRI). Hakikat Negara Kesatuan Republik Indonesia adalah negara kebangsaan modern. Negara kebangsaan modern adalah negara yang  pembentukannya didasarkan pada semangat kebangsaan yaitu pada tekad suatu masyarakat untuk membangun masa depan  bersama  dibawah  satu  negara  yang sama, walaupun warga masyarakat tersebut berbeda- beda agama, ras, etnik, atau golongannya. (Risalah sidang Badan Penyelidik Usaha- usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia/BPUPKI) dan Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia/PPKI).
Berkaitan dengan pengertian Pendidikan Kewarganegaraan ini Depdiknas (2006:49) memberikan penjelasan bahwa: Pendidikan Kewarganegaraan adalah mata pelajaran yang memfokuskan pada pembentukan warga negara yang memahami dan mampu melaksanakan hak-hak dan kewajibannya untuk  menjadi warga negara Indonesia yang cerdas, terampil, berkarakter yang  diamanatkan oleh Pancasila dan UUD 1945.
Sedangkan mengenai pengertian PKn itu sendiri dapat kita peroleh dalam Penjelasan Undang-Undang RI No. 2 Tahun 1989 tentang Sistem Pendidikan Nasional pasal 39 ayat (2) dikemukakan bahwa “Pendidikan kewarganegaraan merupakan usaha untuk membekali peserta didik dengan pengetahuan dan kemampuan dasar berkenaan dengan hubungan antara warga negara dengan negara serta pendidikan pendidikan pendahuluan bela negara agar menjadi warga negara yang dapat diandalkan oleh bangsa dan negara”
Dengan demikian cukup jelas, bahwa dengan pola pengembangan yang komprehensif dan integral, maka pelajaran PKn senantiasa dapat membina sosok warga negara yang memiliki kesadaran nilai moral yang tinggi dalam konteks kenegaraan. Dari kesadaran nilai moral itulah akan melahirkan sikap perilaku warga negara yang mampu memahami dan menunjukkan sikap perilakunya yang baik dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.
b.    Tujuan Pendidikan Kewarganegaraan.
Tujuan mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan adalah untuk mengembangkan kemampuan-kemampuan sebagai berikut.
1.      Berpikir kritis, rasional, dan kreatif dalam menanggapi isu kewarganegaraan
2.      Berpartisipasi secara aktif dan bertanggung jawab, serta bertindak secara cerdas dalam kegiatan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara
3.      Berkembang secara positif, dinamis, dan demokratis untuk membentuk diri berdasarkan pada karakter-karakter masyarakat Indonesia, agar hidup bersama dengan bangsa-bangsa lain.
https://bagawanabiyasa.wordpress.com/2013/05/16/pembelajaran-pkn-di-sd/jumat 21/07/17, jam 02:40
c.         Fungsi Pendidikan Kewarganegaraan.
Pendidikan Kewarganegaraan mempunyai fungsi yang sempurna terhadap perkembangan anak didik. Hal ini diungkapkan dalam Buku Panduan Pengajaran Pendidikan Kewarganegaraan kuikulum 1994 adalah sebagai berikut.
1.    Mengembangkan dan melestarikan nilai moral Pancasila secara dinamis dan terbuka, yaitu nilai moral Pancasila yang dikembangkan itu mampu menjawab tantangan yang terjadi didalam masayarakat, tanpa kehilangan jati diri sebagai Bangsa Indonesia yang merdeka bersatu dan berdaulat.
2.    Mengembangkan dan membina siswa menuju terwujudnya manusia seutuhnya yang sadar politik, hukum dan konstitusi Negara Kesatuan Republik Indonesia, berlandaskan Pancasila.
3.    Membina pemahaman dan kesadaran siswa terhadap hubungan antara sesame warga negara dan pendidikan pendahuluan bela negara agar mengetahui dan mampu melaksanakan dengan baik hak dan kewajibannya sebagai warga negara.
d.        Ruang Lingkup Pendidikan Kewarganegaraan
Ruang lingkup mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan menurut Winarno (2006: 29-30) terdapat dalam Standar Isi Pendidikan Kewarganegaraan Persekolahan yang meliputi aspek-aspek sebagai berikut:
a.    Persatuan dan Kesatuan Bangsa, meliputi: hidup rukun dalam perbedaan, cinta lingkungan, kebanggaan sebagai bangsa Indonesia, Sumpah Pemuda, keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia, partisipasi dalam pembelaan  negara, sikap positif terhadap Negara Kesatuan Republik Indonesia, keterbukaan dan jaminan keadilan.
b.    Norma, Hukum dan Peraturan, meliputi: tertib dalam kehidupan keluarga, tata tertib di satuan pendidikan nonformal penyelenggara pendidikan kesetaraan, norma yang berlaku di masyarakat, peraturan-peraturan daerah, norma-norma dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, sistem hukum dan peradilan nasional, hukum dan peradilan internasional.
c.    Hak Asasi Manusia, meliputi: hak dan kewajiban anak, hak dan kewajiban anggota masyarakat, instrumen nasional dan internasional HAM, pemajuan, penghormatan dan perlindungan HAM.
d.   Kebutuhan Warga Negara, meliputi: hidup gotong-royong, harga diri sebagai warga masyarakat, kebebasan berorganisasi, kemerdekaan mengeluarkan pendapat, menghargai keputusan bersama, prestasi diri, persamaan kedudukan warga negara.
e.    Konstitusi Negara, meliputi: proklamasi kemerdekaan dan konstitusi yang pertama, konstitusi-konstitusi yang pernah digunakan di Indonesia, hubungan dasar negara dengan konstitusi.
f.     Kekuasan dan Politik, meliputi: pemerintahan desa dan kecamatan, pemerintahan daerah dan otonomi, pemerintah pusat, demokrasi dan sistem  politik, budaya politik, budaya demokrasi menuju masyarakat madani, sistem pemerintahan, pers dalam masyarakat demokrasi. 
g.    Pancasila, meliputi: kedudukan Pancasila sebagai dasar negara dan ideologi  negara, proses perumusan Pancasila sebagai dasar negara, pengamalan  nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari, Pancasila sebagai ideologi terbuka.
h.    Globalisasi, meliputi: globalisasi di lingkungannya, politik luar negeri Indonesia di era globalisasi, dampak globalisasi, hubungan internasional dan organisasi internasional, dan mengevaluasi.
Dengan demikian dapat dikatakan bahwa ruang lingkup pendidikan kewarganegaraan ini merupakan suatu pembahasan secara formil dan matrial  untuk mencapai sasaran berkaitan dengan warganegara yang baik, meliputi wawasan, sikap, dan prilaku warganegara dalam kesatuan bangsa dannegara.http://www.ariesilmiah.com/2012/08/pembelajaran-pendidikan-kewarganegaraan.html.
C.  Kerangka Berpikir
Penggunaan Metode Diskusi Pada Siswa Kelas IX di  SMP Negeri 13 Kupang

Hasil belajar siswa kelas IX di SMP Negeri 13 Kupang

 Pembelajaran PKn
1.      Pengertian PKn
2.      Tujuan PKn
3.      Fungsi PKn
4.      Ruang Lingkup PKn





                                                                       

Dalam proses belajar mengajar interaksi antara guru dan siswa sangat mempengaruhi motivasi belajar. Siswa yang bosan saat belajar, tidak tertarik pada pelajaran menyebabkan motivasi belajar menjadi rendah. Oleh karena itu, siswa membutuhkan motivasi belajar yang baik dari guru yang dapat mendorong siswa terlibat aktif dan terdorong daya kreatifnya dalam pelajaran PKn ini.
Dengan adanya penggunaan metode diskusi dalam pembelajaran pendidikan kewarganegaraan untuk meningkatkan hasil belajar siswa akan tercipta suasana menyenangkan dan membentuk sikap siswa dalam pembelajaran PKn yaitu saling menolong, saling bekerja sama, dan memberi kesempatan siswa lain untuk mengemukakan pendapatnaya.
Prestasi belajar adalah suatu hasil usaha yang telah di capai oleh siswa yang mengadakan suatu kegiatan belajar di sekolah dan usaha yang dapat menghasilkan perubahan pengetahuan, sikap dan tingkah laku. Motivasi belajar sangat erat kaitannya dengan prestasi belajar, dengan motivasi belajar yang tinggi maka akan terwujud prestasi belajar yang tinggi juga. Prestasi belajar yang gemilang adalah keinginan hampir seluruh siswa. Namun untuk mendapatkannya bukanlah hal yang mudah.
BAB III
METODE PENELITIAN
A.      Lokasi Penelitian
Pemilihan lokasi penelitian sangat penting dalam rangka mempertanggung jawabkan data yang diambil. Lokasi dalam penelitian ini yaitu di SMP Negeri 13 Kupang. Alasan pemilihan lokasi penelitian adalah:
1.        Peneliti pernah melakukan program pengalaman lapangan (PPL) di lokasi  penelitian tersebut.
2.      Rendahnya hasil belajar siswa dalam menuntut ilmu di sekolah.
B.       Subjek Penelitian
Yang menjadi subjek dalam penelitian ini adalah siswa- siswi SMP Negeri 13 kupang. Dan yang menjadi narasumber adalah Guru- guru SMP Negeri 13 Kupang terutama guru mata pelajaran Pendidikan Pancasila Kewarganegaraan (PPKn) dan bimbingan konseling (BK) (Sugiyono, 2016 : 400).
C.       Sumber Data
1.      Sumber Data Primer adalah sumber data yang di peroleh secara langsung dari informan penelitian (Sugiyono,2007: 308). Artinya bahwa peneliti mendapatkan informasi langsung dari responden melalui observasi dan wawancara tentang pemahaman siswa- siswi terhadap penggunaan metode diskusi dan hasil belajar siswa pada mata pelajaran PKn di sekolah.
2.      Sumber data sekunder merupakan sumber data yang di peroleh dari kepustakaan, buku- buku, dan dokumen-dokumen (Sugiyono,2007:308). Artinya bahwa peneliti melakukan studi kepustakaan untuk mengumpulkan data- data dan dokumen tentang bagaimana penggunaan metode diskusi dalam pembelajaran pendidikan kewarganegaraan  untuk meningkatkan dan hasil belajar siswa kelas IX  di SMP Negeri 13 Kupang.
D.      Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data merupakan langkah yang paling utama dalam penelitian, karena tujuan utama dari penelitian adalah mendapatkan data. Pengumpulan data dalam peneliti ini dengan melakukan wawancara dan teknik dokumentasi. (Sugiyono, 2015: 308).
1.      Observasi (pengamatan)
Dalam observasi ini, peneliti terlibat dengan kegiatan sehari- hari siswa- siswi yang sedang diamati atau yang digunakan sebagai sumber data penelitian. Dilakukan dengan mengamati perilaku siswa- siswi dalam kegiatan sehari- hari di lingkungan  sekolah.
2.      Wawancara (interview)
Wawancara adalah teknik pengumpulan data yang dilakukan dengan cara menanyakan sesuatu kepada informan dalam bentuk tanya jawab. Wawancara yang digunakan peneliti dalam penelitian ini adalah wawancara terstruktur dimana peneliti mewawancarai para informan berupa pertanyaan- pertanyaan yang telah disiapkan, (Sugiyono, 2015: 319).
3.      Teknik Dokumentasi.
Teknik dokumentasi yang digunakan peneliti adalah dengan mengumpulkan dokumen yang berkaitan dengan judul permasalahan peneliti yaitu foto dan alat dokumentasi lainnya.
E.       Teknik Analisis Data
Teknik analisis data adalah proses mencari dan menyusun secara sistematis data yang diperoleh dari hasil wawancara, catatan lapangan, dan dokumentasi, dengan cara mengorganisasikan data kedalam kategori, menjabarkan kedalam unit-unit, melakukan sintesa, menyusun kedalam pola, memilih mana yang penting dan yang akan dipelajari, dan membuat kesimpulan sehingga mudah dipahami oleh diri sendiri maupun orang lain, (Sugiyono, 2015: 335).
Setelah kegiatan pengumpulan data, dilanjutkan dengan kegiatan pengelolaan dan analisis data yang diakukan dengan membuat tabulasi dan klasifikasi jenis data melalui prosedur pengumpulan data, reduksi data, penyajian data, dengan menggunakan metode deskriptif kualitatif yakni penulis menggambarkan keadaan hal-hal yang ditemukan di lokasi penelitian untuk mengambil kesimpulan sebagai hasil penelitian.
1.      Reduksi Data.
            Reduksi data merupakan proses pemilihan, pemusatan perhatian penyederhanaan, pengabstrakan, transformasi data kasar yang muncul dari catatan-catatan tertulis dilapangan (Silalahi, 2010: 339).
Data yang direduksi akan memberikan gambaran yang lebih spesifik dan mempermudah peneliti melakukan pengumpulan data selanjutnya serta mencari data tambahan jika diperlukan.
2.      Penyajian Data
            Setelah data direduksi, langkah selanjutnya adalah penyajian data.Penyajian data yaitu sekumpulan informasi tersusun yang memberikan kemungkinan adanya penarikan kesimpulan dan penganbilan tindakan. Melalui data yang disajikan, kita melihat dan akan dapat memahami apa yang sedang terjadi dan apa yang harus dilakukan (Silalahi, 2010: 340).
            Penyajian data diarahkan agar data hasil reduksi terorganisasikan, tersusun dalam pola hubungan agar semakin mudah untuk dipahami.Pada langkah ini peneliti berusaha menyusun data yang relevan sehingga informasi yang dapat disimpulkan dan memiliki makna tertentu untuk menjawab masalah penelitian.
3.      Verifikasi/Penarikan Kesimpulan
             Kesimpulan dalam penelitian kualitatif mungkin dapat menjawab rumusan masalah yang dirumuskan sejak awal, tetapi mungkin juga tidak, karena seperti telah dikemukakan bahwa masalah dan rumusan masalah dalam penelitian kualitatif masih bersifat sementara dan akan berkembang setelah peneliti berada dilapangan. Kesimpulan dalam penelitian kualitatif yang diharapkan adalah merupakan temuan baru yang sebelumnya belum perna ada.Temuan dapat berupa deskripsi atau gambaran suatu objek (Sugiyono, 2012: 345). Data yang telah diperoleh akan disimpulkan untuk menjawab tujuan dari penelitian ini.
Dalam hal ini, hasil data yang telah dianalisaakan disimpulkan untuk penelitian tentang Penggunaan Metode Diskusi Dalam Pembelajaran pendidikan kewarganegaraan Untuk Meningkatkan Motivasi Dan Hasil Belajar Siswa Kelas IX di SMP Negeri 13 Kupang.
BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A.  Gambaran Umum Lokasi Penelitian
1.    Letak Sekolah
Letak sekolah Penelitian ini dilakukan di SMP Negeri 13 Kota Kupang. Sekolah ini berdiri pada tahun 1997, terletak di Jln. Frans Da Romes Kelurahan Maulafa – Kupang
2.    Denah Atau Gedung Sekolah
SMP Negeri 13 terletak di kelurahan Maulafa Kecamatan Maulafa Kota Kupang dengan batas-batas sebagai berikut :
 Utara     : Berbatasan dengan perumahan warga
Selatan   : Berbatasan dengan rumah warga dan kantor kelurahan Maulafa
 Timur    : Berbatasan dengan jalan umum Maulafa, BTN Kolhua
 Barat   : Berbatasan dengan rumah warga dan berdekatan dengan SD Negeri Maulafa
(Sumber SMP N 13 Kota Kupang)

3.    Profil Sekolah   
a.    Identitas Sekolah
Nama Sekolah                         : SMPN 13 Kupang
Alamat Sekolah                       : Jln.FransDa Romes Kel. Maulafa  Kupang


NPSN                                      : 50304979
Status                                      : Negeri
Status Kepemilikan                 : Pemerintah Daerah
Bentuk Pendidikan                 : SMP
Nama Bank                             : Bank NTT
Cabang KCP/ Unit :
Rekening atas nama              :Rekening Dana BOS SMP Negeri 13 Kupang
Luas Tanah Milik                  : 11470
Status BOS                           : Bersedia Menerima
Waku Penyelenggaraan        : Kombinasi
Sertifikasi ISO                      : Belum Bersertifikat
Sumber Listrik                      : PLN
Daya Listrik                          : 2200
RT / RW                               : 19 / 8
Desa / Kelurahan                  : Maulafa
Kecamatan                           : Kec. Maulafa
Kabupaten                            : Kota Kupang
Provinsi                                : Prop. Nusa Tenggara Timur
Kode Pos                              : 85141
Lintang                                 : -10.1872130
Bujur                                    : 123.6095000                 


Telepon                                : 085239361242
Email                                    : smpn13kupang@gmail.com
            Sumber : tata usaha SMP N 13Kupang tahun ajaran 2017/2018
Identitas Kepala Sekolah
Nama Kepala Sekolah             : Abdullah, S.Pd
Nip                                          : 19580205 198301 1 003
Nomor Telp/Hp                       : 085237732472
b.    Visi dan Misi Sekolah
1.   Visi :
 Terwujudnya lulusan yang berimtaq, bermutu, berkarakter untuk menyongsong generasi emas 2045.
2.      Misi :
a)   Mewujudkan budaya sekolah yang berimtaq,gemar membaca dan menulis, disiplin, berkarakter dan memiliki ketrampilan.
b)   Mewujudkan kegiatan pembelajaran yang kontekstual, menyenangkan dan menantang.
c)   Mengembangkan kemampuan guru melalui pengembangan diri berkelanjutan.
d)  Mengembangkan bakat minat siswa melalui kegiatan ekstrakurikuler.
e)   Mengembangkan lingkungan sekolah yang sehat, bersih, rindang, asri, dan harmonis.


c.       Tujuan Sekolah
1)   Menghasilkan siswa yang mampu bersaing dalam mengikuti kegiatan kompetisi baik dalam bidang akademik maupun dalam bidang non-akademik.
2)   Meningkatkan prestasi lulusan dalam ujian nasional maupun ujian sekolah.
3)   Meningkatkan jumlah lulusan yang diterima pada sekolah lanjutan yang menjadi tujuan siswa (favorite).
4)   Meningkatkan prestasi siswa dalam bidang kegiatan ekstrakurikuler.
5)   Meningkatkan prestasi siswa dibidang olah raga
6)   Meningkatkan profesionalisme pendidik dan tenaga kependidikan.
7)   Menghasilkan lulusan yang memiliki kecakapan hidup serta mampu beradaptsi dalam lingkungan masyarakat.
8)   Menghasilkan lulusan yang tahu hak dan kewajiban serta bertanggung jawab yang ditunjukan dengan perilaku yang luhur berdasarkan norma-norma yang berlaku.
9)   Menciptakan lingkungan sekolah yang aman, nyaman, dan menyenangkan serta dibanggakan masyarakat.
10)    Mampu menampilkan kebiasaan sopan santun dan berbudi pekerti sebagai cermin akhlak mulia dan iman serta taqwa.
11)    Meyakini, memahami, dan menjalankan ajaran agama yang di yakini dalam kehidupan.

4.    Tata Tertib Sekolah
a.    Kegiatan belajar
1)   Mengawali dan mengakhiri KBM dengan Doa Bersama.
2)   Apel Pagi Jam 06.55-07.5 WITA
3)   Kegiatan belajar mengajar pagi hari jam 07.5-12.15 WITA
4)   Waktu Istirahat KBM Pagi jam 09.55-10.15 WITA
5)   Peserta didik dapat meninggalkan ruang kelas jika waktu istirahat dan pulang jika bel tanda berakhirnya KBM
6)   Mengakhiri masa studi minimal 3 tahun pelajaran.
7)   Kenaikan kelas akan mempertimbangkan aspek pengetahuan, sikap dan keterampilan dan tidak menerapkan “naik percobaan”
8)   Wajib mengumpulkan tugas-tugas yang diberikan oleh guru mata pelajaran
b.      Pakaian Sekolah
1)    Senin ,Selasa berseragam putih lengan pendek dan rok/celana biru.
2)    Rabu, Kamis berseragam batik lengan pendek dan rok/ celana biru
3)    Jumat, Sabtu berseragam pramuka
4)    Mengenakan seragam sekolah lengkap dengan lokasi sekolah, nama siswa, dan lambang osis.
5)    Peserta didik perempuan, rok dibawah lutut ± 5cm; sedangkan peserta didik laki-laki lebar celana ±15 cm (tidak kibol dan beresleting), sepatu bertali, tidak menngunakan perhiasan kecuali jam tangan, mengenakan pakaian olahraga pada saat berolahraga.

c.     Absensi
1)   Absensi bagi siswa dicatat setiap hari oleh guru mata pelajaran dan wali kelas.
2)   Siswa yang tidak mengikuti pelajaran dinyatakan absen (tidak hadir)
3)   Siswa digolongkan menjadi :
a.     Absen karena sakit (S)
b.    Absen/Ijin  karena tugas sekolah (I)
c.    Absen karena urusan pribadi (A)
d.   Absen tanpa keterangan/Alpa (A)
d.    Keterlambatan
1)   Siswa dinyatakan terlambat, jika tidak atau belum berada di tempat belajar pada saat kegiatan apel pagi.
2)   Siswa yang terlambat wajib segera lapor ke Guru Piket
3)   Siswa yang tidak mengikuti apel pagi sebanyak tiga (3) kali dalam seminggu diberi peringatan dan catatan khusus oleh wali kelas/BP pada buku siswa yang bersangkutan.
4)   Siswa dapat mengikuti kegiatan belajar selanjutnya setelah mendapat izin dari Guru Piket.
5)   Keterlambatan yang lebih dari 1 kali dalam satu minggu harus dijelaskan oleh orang tua/wali beserta siswa dengan cara menghadap Kepala Sekolah /Guru Piket/ Wali Kelas


5.    Keadaan Siswa
Jumlah murid SMP Negeri 13Kupang tahun ajaran 2017/2018 sebanyak 743 orang yang terdiri dari 349 orang laki-laki dan 394 orang perempuan. Sebaran jumlah siswa pada setiap kelas dapat dilihat pada tabel berikut :
Tabel 4.1.Jumlah siswa pada setiap kelas Tahun ajaran 2017/2018
Kelas
Jenis Kelamin
Jumlah

L
P
VII
112 orang
143orang
255 orang
VIII
108orang
132orang
240orang
IX
129orang
119orang
248 orang
Jumlah
349orang
394 orang
743 orang
Sumber : tata usaha SMP N 13Kupang tahun ajaran 2017/2018
6.        Jumlah guru dan pegawai di SMP Negeri 13 Kupang
Sesuai dengan hasil observasi diketahui pada tahun ajaran 2017/2018 jumlah guru di SMP Negeri 13 Kupang secara keseluruhan adalah 54 orang dengan rincian guru PNS berjumlah 36 orang, sedangkan guru honor berjumlah 18 0rang.
Adapun pegawai sekolah di SMP Negeri 13 Kupang secara keseluruhan adalah 9 orang dengan rincian sebagai berikut:
a.    Pegawai berjumlah 4 orang
b.    Penjaga sekolah berjumlah 1 orang
c.    Pegawai tidak tetap berjumlah 3 orang
d.   Security berjumlah 1 oarang

Dengan demikian jumlah guru dan pegawai di SMP Negeri 13 Kupang secara keseluruhan adalah 63 orang.
Sumber : tata usaha SMP N 13Kupang tahun ajaran 2017/2018
7.      Keadaan fisik sekolah
Untuk mewujudkan visi dan misi sekolah, SMP Negeri 13 Kupang mempunyai sarana dan prasarana  yang terdiri dari :20 ruangan kelas, 2 ruang Lab,2 ruang perpustakaan,1 ruang musholla, ruang kantor meliputi: 1 ruangan kepala sekolah, 1 ruangan guru, 1 ruang tata usaha, koperasi sekolah. Ruangan penunjang meliputi 1 ruang gudang, 4 kamar mandi atau toilet.
B.  HASIL PENELITIAN
1.      Penggunaan metode diskusi pada pembelajaran PKn dapat meningkatkan motivasi dan hasil belajar siswa kelas IX di SMP Negeri 13 Kupang.
Berdasarkan hasil observasi  yang dilaksanakan pada tanggal 1 Agustus 2017 pukul 07.15 di kelas IX B dalam satu minggu siswa diberikan 1 kali pertemuan mata pelajaran PKn dengan waktu tiga jam pelajaran atau sekitar 120 menit.
Pada awal masuk guru mengucapkan salam, dan salam tersebut dijawab oleh siswa dengan kompak dan santun.Sebelum memulai pembelajaran, guru memeriksa kerapihan siswa, kebersihan kelas, dan mengajak siswa untuk membuka jendela yang tertutup serta persiapan siswa-siswi dalam mengikuti pembelajaran dalam hal ini memeriksa perlengkapan alat tulis, buku mata pelajaran PKn.

Setelah melakukan pembersihan kelas, guru mengajak siswa berdoa untuk memulai pembelajaran, setelah selesai berdoa guru menuntun siswa untuk menyanyikan salah satu lagu kebangsaan. Hal ini terlihat sangat sederhana namun kadang terlupakan oleh guru mata pelajaran. Hal ini sesuai dengan yang dikatakan oleh Ibu Roslin sebagai berikut:
“Ya, sebelum dan sesudah pembelajaran PKn kami selalu berdoa yang dipimpin oleh salah satu siswa yang ditunjuk oleh guru, suasana saat berdoa kadang tenang kadang juga  ramai tapi lebih sering tenang”
Guru memberikan teladan dengan datang tepat waktu, berpakaian rapi, tidak menggunakan hand phone di depan kelas. Guru selalu menghargai dan memberikan perlakuan yang sama terhadap seluruh siswa tanpa membedakan suku, agama, ras, golongan, status sosial, status ekonomi, dan kemampuan khas.
Hal ini sesuai dengan yang dikatakan oleh Ibu Roslin  sebagai berikut:
“Untuk memotivasi  siswa guru harus terlebih dahulu menjadi contoh bagi siswa,yaitu dengan melakukan kebiasaan yang memberikan keteladanan kepada siswa misalnya, pemberian hadiah dapat dikatakan motivasi karena menarik perhatian belajar siswa untuk meraih suatu prestasi, sehingga siswa termotivasi untuk belajar karena  dengan adanya pemberian hariah siswa yang kurang berprestsi berusaha keras untuk mendapatkan prestasi juga seperti temannya yang berprestasi sehingga motivasi mereka dapat meningkat. Didalam kehidupan sehari-hari motivasi banyak dipelajari, termasuk motivasi dalam belajar misalnya pemberi pujian yang wajar kepada siswa yang telah menyelesaikan tugas dengan baik sehingga siswa merasa dihargai karena pujian menimbulkan rasa puas dan senang .
Untuk mengawali kegiatan belajar mengajar, guru mengajukan pertanyaan mengenai materi minggu lalu atau minggu sebelumnya. Guru memberikan siswa kesempatan untuk bebas mengemukakan pendapat. Siswa menjawab dengan mengangkat tangan terlebih dahulu, sesekali  guru menunjuk siswa secara acak.Dan siswa yang berani menjawab guru memberikan pujian positif untuk memotivasi siswa. Hal ini sesuai dengan yang dikatakan Ibu Roslin sebagai berikut:
“iya saya memberikan penghargaan pada siswa yang mampu mengingat kembali materi sebelumnya bentuk pujiannya  bermacam-macam misalnya memberikan pujian, menepuk pundak siswa, memberikan nilai yang baik, siswa  tersebut dijadikan contoh, dan kadang saya juga memberikan hadiah sederhana seperti permen, walau tak berharga nilainya , namun membangkitkan semangat siswa dalam belajar”.
Setelah pertanyaan terjawab, guru menjelaskan kompetensi dasar, indikator serta tujuan yang hendak dicapai dalam pertemuan itu dan memberikan motivasi tentang pentingnya keberanian mengemukakan pendapat dan berani bertanggung jawab. Guru menjelaskan materi pada pertemuan hari itu. Setelah menjelaskan, guru membentuk kelompok untuk berdiskusi, berdiskusi tentang materi yang dijelaskan oleh guru tadi. Guru menghimbau untuk bekerja sama dengan sesama anggota kelompok dan tidak boleh menyontek jawaban kelompok lain. Guru sesekali keliling kelompok diskusi untuk membantu siswa yang mengalami kesulitan dalam dalam menyelesaikan tugas kelompok tersebut.

Guru memberikan waktu 15 menit dalam penyelesaian tugas berdiskusi kelompok, setelah waktu diskusi selesai guru memberikan kesempatan kepada  kelompok yang telah selesai berdiskusi untuk melaporkan atau mempresentasikan hasil diskusi mereka didepan kelas dan kelompok yang lain menanggapi. Pada awalnya siswa tidak menanggapi karena malu dan tidak berani, akan tetapi setelah guru memberikan motivasi dan himbauan untuk berani mengemukakan pendapat maka siswa dengan semangat memberikan tanggapan. Setelah mempresentasikan guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk bertanya. Kemudian guru menyimpulkan materi tersebut. Sebagai persiapan untuk pertemuan berikutnya, guru memberikan tugas kepada siswa untuk mengerjakannya.
Berdasarkan hasil wawancara dengan guru mata pelajaran PKn(Ibu Roslin) dan para siswa-siswi kelas IX  pada tanggal 24 Agustus 2017 pukul 09.15 dengan pertanyaan, pengertian Metode Diskusi  Menurut Ibu Roslin, dan siswa-siswi kelas IX.
Menurut Ibu Roslin selaku guru mata pelajaran PKn, pengertian Metode Diskusi adalah: Cara penyajian pelajaran, dimana siswa dihadapkan kepada suatu masalah yang bisa berupa pernyataan atau pertanyaan yang bersifat problematik untuk dibahas dan dipecahkan bersama, sehingga terjadi interaksi antara dua atau lebih individu yang terlibat, saling tukar menukar pengalaman, informasi, memecahkan masalah.
Berdasarkan hasil wawancara dengan Ibu Roslin selaku guru mata pelajaran PKn, pada tanggal 24 Agustus 2017 pukul 09.20 dengan pertanyaan, apakah metode diskusi pada pembelajaran PKn dapat meningkatkan motivasi dan hasil belajar siswa?
Menurut Ibu Roslin selaku guru mata pelajaran PKn, mengatakan bahwa metode diskusi dapat meningkatkan motivasi dan hasil belajar siswa, hal ini dapat dilihat dari keaktifan siswa ketika berdiskusi, mereka lebih aktif menggunakan metode diskusi dibanding dengan metode yang lain misalnya metode ceramah, mengapa?


Karena metode ceramah membuat siswa jenuh, bosan dan malas mengikuti pembelajaran, sehingga dengan menggunakan metode diskusi semua siswa terlibat aktif dan mereka berusaha mencari informasi, bertukar pikiran dan saling melengkapi. Selain itu, metode diskusi sangat cocok untuk mata pelajaran yang memiliki konteks sosial seperti pendidikan kewarganegaraan.
Menurut para siswa kelas IX B, yaitu:
            Berdasarkan hasil wawancara dengan Maria Ketty Sasi siswa kelas IX B, pada tanggal 26 Agustus 2017 pukul 09.30 dengan pertanyaan, pengertian dari metode diskusi. Dikatakan bahwa Metode Diskusi adalah suatu cara untuk menukar pikiran atau berinteraksi antara satu sama lain misalnya, saling melengkapi dalam hal ini teman yang pintar membantu teman yang kurang pintar dan bebas berpendapat serta bertanggung jawab dalam penyelesaian tugas tersebut.Menurut Maria Ketty Sasi, apakah metode diskusi dapat meningkatkan motivasi dan hasil belajar siswa?Dikatakan bahwa metode diskusi dapat meningkatkan hasil belajar karena dengan menggunakan metode diskusi siswa tidak jenuh dan bosan akan tetapi siswa terlibat aktif di banding dengan metode yang lain, mengapa karena mata pelajaran PKn adalah mata pelajaran yang di anggap remeh oleh siswa sehingga penggunaan metode diskusi sangat penting bagi siswa karena dengan adanya metode diskusi siswa lebih cenderung aktif dan membangkitkan motivasi belajar siswa sehingga dapat meningkatkan hasil belajar siswa
            Berdasarkan hasil wawancara dengan Alvin Arnoldus Jansen siswa kelas IX B, pada tanggal 10 Agustus 2017 pukul 09.00 dengan pertanyaan pengertian   metode diskusi. Dikatakan bahwa metode diskusi itu adalah suatu cara yang membuat suatu kelompok bisa memahami jawaban dari apa yang kita pelajari,metode diskusi membuat aktif dalam kelas dan interaksi untuk mengetahui apa yang tidak diketahui, metode diskusi juga membuat kita saling melengkapi misalnya, membagi ilmu dengan teman-teman, saling menukar pikiran, dan bebas berpendapat. Menurut Alvin Arnoldus Jansen, apakah metode diskusi dapat meningkatkan motivasi dan hasil belajar siswa? Dikatakan bahwa metode diskusi dapat meningkatkan motvasi dan hasil beajar siswa karena metode diskusi sangat penting bagi siswa dalam kegiatan pembelajaran berlangsung, mengapa? Karena dengan menggunakan metode diskusi semua siswa terlibat aktif dan siswa berani mengemukakan pendapat dan mampu mencari informasi- informasi baru mengenai pembelajaran tersebut serta saling melengkapi antara satu sama lain sehingga hal baru yang belum di ketahui bisa di peroleh dari teman yang lain atau teman yang  tidak mampu di bantu oleh teman yang mampu.
            Menurut Maria Angelina Tafuli siswa kelas IX B, pada tanggal 10 Agustus 2017 pukul 09. 10.  Metode Diskusi adalah cara untuk bekerja sama dalam satu tujuan yakni memperoleh ilmu, metode diskusi itu saling menukar pikiran dan saling membantu antara individu dengan kelompok.
            Menurut Citra Sadanty Ludjisiswa kelas IX B, pada tanggal 10Agustus 2017 pukul 09. 20, metode Diskusi adalah kerja sama antara individu dan kelompok untuk saling menukar pikiran, berpendapat,membantu teman yang kurang bisa atau saling melengkapi satu sama lain dan juga dapat melibatkan semua siswa dalam kelompok diskusi tersebut.

            Menurut Mersiana M. Kana siswa kelas IX B, pada tanggal 24 Agustus 2017 pukul 09. 00. Metode Diskusi adalah cara bekerja sama untuk menyelesaikan tugas yang di dalamnya melibatkan semua siswa berperan aktif atau berpendapat bebas dalam penyelesaiantugas tersebut.
            Menurut Maria Irene Bonasiswa kelas IX B, pada tanggal 24 Agustus 2017 pukul 09.20. Metode Diskusi adalah cara menukar pikiran antara individu dan kelompok, saling berinteraksi antara individu dan kelompok, saling membantu satu sama lain untuk menyelesaikan suatu isu atau masalah.
            Menurut David J.P.L.Wayan siswa kelas IX B, pada tanggal 24 Agustus 2017 pukul 09.25. Metode Diskusi adalah berkumpul bersama untuk mengerjakan tugas dan berpendapat bebas untuk memperoleh ilmu.
            Menurut Claudio C.O. De FloresWayan siswa kelas IX B, pada tanggal 24 Agustus 2017 pukul 09.40. Metode Diskusi adalah kerja sama untuk mencari jawaban dari materi tersebut, cara untuk berpendapat dalam kelompok tersebut.
            Menurut Ferdinandus Kosat siswa kelas IX B, pada tanggal 24 Agustus 2017 pukul 09.45.  Metode Diskusi adalah kerja sama untuk dapat membagi ilmu dengan teman kelompok serta saling membatu satu sama lain dalam penyelesaian tugas tersebut.
            Menurut Gelbertus Sendi Nino siswa kelas IX B, pada tanggal 31 Agustus 2017 pukul 09.00.Metode Diskusi adalah bentuk kerja sama untuk saling membantu, berpendapat, berinteraksi antara individu dan kelompok dalam penyelesaian tugas untuk memperoleh ilmu dengan baik.
            Menurut Jevisten Kebkole siswa kelas IX B, pada tanggal 31 Agustus 2017 pukul 09.10. Metode Diskusi adalah cara untuk menukar pikiran dan saling melengkapai dalam berpendapat mengenai tugas yang ada, dan membantu satu sama lain dalam penyelesaian tugas tersebut.
            Menurut Agustinus Salu siswa kelas IX B, pada tanggal 31 Agustus 2017 pukul 09.15. Metode Diskusi adalah cara untuk bekerja sama dalam suatu kelompok diskusi guna memperoleh hasil atau jawaban atas tugas yang diberikan guru agar semua siswa terlibat didalamnya dan bebas berpendapat dalam menyelesaikan tugas tersebut.
            Menurut Gregorius Rudy Bantaika siswa kelas IX B, pada tanggal 31 Agustus 2017 pukul 09.20. Metode Diskusi adalah cara untuk bekerja sama sehingga lebih  membantu dan saling melengkapi dari yang tidak bisa menjadi bisa dan yang tidak di mengerti menjadi mengerti.
            Berdasarkan hasil wawancara diatas, maka dapat di simpulkan bahwa penggunaan metode diskusi dapat meningkatkan motivasi dan hasil belajar siswa sehingga siswa bisa mencari informasi sendiri lalu mengemukakan pendapat dalam penyelesaian suatu masalah tanpa di tuntun oleh orang lain.

 Dengan demikian metode diskusi penting digunakan dalam pembelajaran Pkn karena dengan adanya metode diskusi semua siswa terlibat dan tidak jenuh atau bosan tetapi mereka aktif dan semangat pada saat pembelajaran berlangsung serta mampu memberikan tanggapan dan usul saran kepada kelompok lain.
            Dari hasil wawancara dengan siswa kelas IX B atas nama Julfina Seran, pada tanggal 31 Agustus 2017 pukul 07. 15. Mengatakan bahwa motivasi adalah dorongan yang timbul pada diri seseorang baik secara sadar maupun tidak sadar untuk melakukan suatu tindakan dengan tujuan tertentu, sedangkan hasil belajar adalah kemampuan yang dimiliki oleh setiap orang setelah ia menerima pengalaman belajarnya.Pada saat pembelajaran berlangsung guru juga sisikan waktu untuk menasihati atau memotivasi siswa agar siswa tahu akan tujuan utama siswa memilih untuk sekolah, senggga siswa termotivasi agar dalam pembelajaran siswa tidak malas atau tidak mau peduli akan pendidikannya melainkan siswa harus rajin belajar untuk mencapai tujuan atau cita-citanya.
            Dari hasil wawancara dengan siswa kelas IX B atas nama Rival Robinson Do,o, pada tanggal 31 Agustus 2017 pukul 07.20. Dengan pertanyaan apakah motivasi dapat meningkatkan hasil belajar anda dalam pembelajaran PKn? Dikatakan bahwa : Iya motivasi dapat meningkatkan hasil belajar kami, karena kami selalu dimotivasi oleh guru- guru kami sehingga kami tidak lagi malas, melawan guru, suka bolos, cuek, acu, dan pada akhirnya hasil belajar kami rendah, namun kami sering di motivasi guru sehingga kami rajin belajar dan pada akhirnya hasil belajar kami meningkat.
            Guru mempunyai peran dan fungsi yang sangat penting dalam pengajaran, karena guru merupakan penentu kualitas pengajaran. Oleh karena itu guru harus selalu meningkatkan peranan dan kompetensinya dalam mengelola komponen komponen pengajaran. Guru yang memiliki kemampuan mendorong siswa untuk meraih prestasi yang baik. Oleh karena itu pembelajaran harus berorientasi pada siswa, karena siswa merupakan komponen pokok dan subyek didik. Sedang guru berfungsi sebagai pendorong, pembimbing, pengarah, pembina pertumbuhan dan perkembangan siswa.
            Berdasarkan hasil wawancara dengan guru mata pelajaran PKn(Ibu Roslin) pada tanggal 26 Agustus 2017 pukul 07. 15. Mengatakan bahwa: Peningkatan hasil belajar akan tercapai apabila terjadi pembelajaran yangbermakana, yakni pembelajaran yang mampu melibatkan secara aktif siswa-siswi baik fisik, mental intelektual dan emosional. Hal ini tergantung pada kemampuan guru didalam mengajar. Guru harus memiliki kompetensi mengajar,jika guru paling tidak memiliki pemahaman dan penerapan secra taktis berbagaimetode belajar mengajar serta hubungannya dengan belajar lain yang menunjang. Ada beberapa pertimbangan yangharus dilihat oleh guru dalam menentukan metode pengajaran yang akan dipakai,anatara lain adalah: (1) tujuan pengajaran, (2) karakteristik peseta didik, (3) besarkecilnya kelas, (4) bahan dan alat yang tersedia, (5) isi bahan pelajaran.
Dalam pembelajarannya juga harus menggunakan metode yang dapat menumbuhkan minat dan motivasi siswa untuk mengikuti pelajaran dengan baik dengan harapan prestasi belajar siswa dapat meningkat.

             Berdasarkan hasil wawancara diatas, maka  penulis menyimpulkan bahwa penggunaan metode diskusi itu dapat meningkatkan hasil belajar siswa karena di lihat dari kenyataan yang ada di lapangan terbukti bahwa siswa lebih cenderung menggunakan metode diskusi di banding dengan metode- metode yang lain misalnya metode ceramah yang ada siswa bermalas-malasan, bosa n, jenuh, dan lain-lain.
2.    Penggunaan metode diskusi dalam pembelajaran PKn pada siswa kelas IX di SMP Negeri 13 Kupang
a.       Pengertian metode diskusi
Pengertian Metode diskusi adalah cara penyajian pembelajaran, di mana siswa-siswa dihadapkan kepada suatu masalah, yang bisa berupa pernyataan atau pertanyaan yang bersifat problematis untuk dibahas dan dipecahkan bersama.
b.        Tujuan penggunaan metode diskusi dalam pembelajara Pkn
1)    Melatih siswa untuk mengemukakan pendapat di depan umum.
2)   Mengajak siswa untuk berpikir kritis dalam menyelesaikan sutu masalah bersama.
3)   Melibatkan siswa untuk menentukan alternatif jawaban yang tepat.
4)      Memberikan kesempatan kepada siswa untuk menyumbang ide atau ilmu dalam memecahkan suatu masalah.
5)      Melatih siswa untuk bekerja sama dalam membahas dan menyelesaikan suatu masalah.

c.       Manfaat penggunaan metode diskusi dalam pembelajran PKn
1)      Menumbuhkan dan membina sikap serta perbuatan siswa yang demokratis.
2)      Mengembangkan sikap dan cara  berpikir kritis siswa.
3)      Memupuk rasa kerjasama, sikap toleransi dan rasa sosial.
4)      Membina kemampuan siswa untuk berani mengemukakan pendapat.
d.      Materi Pembelajaran
1.      Penerapan Pancasila dari Masa ke Masa
a.       Masa Orde Lama
1)        Periode 1945-1950
2)        Periode 1950-1959
3)        Periode 1959-1965
b.      Masa Orde Baru
c.       Reformasi
2.      Nilai-nilai Pancasila sesuai dengan perkembangan zaman
a)         Hakekat ideologi terbuka
b)                  Kedudukan Pancasila sebagai ideologi terbuka
3.      Perwujudan nilai-nilai Pancasila dalam berbagai kehidupan
a)         Pancasila pada masa orde lama
b)        Tokoh-tokoh pemberontak pada masa orde lama
c)         Kasus-kasus pelanggaran HAM pada masa orde lama
e.       Langkah-langkah penggunaan metode diskusi dalam pembelajaran PKn
I.     Kegiatan Pendahuluan: 15 menit
a.    Peserta didik disiapkan secara fisik dan psikis untuk mengikuti pembelajaran dengan melakukan berdoa, menanyakan kehadiran peserta didik, kebersihan dan kerapian kelas, kesiapan buku tulis dan sumber belajar.
b.    Berdoa.
c.    Memotivasi peserta didik dengan menyanyikan lagu wajib nasional.
d.   Melakukan apersepsi dengan tanya jawab mengenai Pancasila yang sudah dipelajari di kelas VII dan VIII.
e.    Menyampaikan kompetensi dasar dan indikator pencapaian kompetensi yang akan dicapai.
f.     Guru menjelaskan teknik dan bentuk penilaian pembelajaran yang akan dilakukan
  II.     Kegiatan Inti: 90 menit
a.                          Stimulus
1)   Peserta didik dibentuk menjadi beberapa kelompok, tiap kelompok bertanggota 5-6 orang.
2. Peserta didik diminta untuk mengerjakan tugas yang diberikan oleh guru untuk mendiskusikan bersama anggota kelompok
b.                          Identifikasi Masalah
1)   Sebelum menyelesaikan tugas diskusi kelompok, guru membimbing peserta didik untuk menyusun pertanyaan sesuai dengan indikator pencapaian kompetensi dengan pembagian materi sebagai berikut:
Kelompok 1 dan 2: Mengkaji penerapan Pancasila pada periode 1945-1950.
Kelompok 3 dan 4: Mengkaji penerapan Pancasila pada periode 1950-1959.
Kelompok 5 dan 6: Mengkaji penerapan Pancasila pada periode 1959-1965.
2)        Guru mengamati keterampilan peserta didik baik secara perorangan maupun kelompok dalam menyusun pertanyaan.
3)        Guru memberikan motivasi dan penghargaan bagi kelompok yang menyusun pertanyaan terbanyak dan sesuai dengan indikator pencapaian kompetensi.
4)        Guru menyeleksi pertanyaan yang dibuat setiap kelompok, pertanyaan yang sesuai dengan indikator pencapaian kompetensi dipakai sebagai acuan untuk kegiatan belajar selanjutnya.
c.    Pengumpulan Data
1)   Untuk mencari informasi dan mendiskusikan jawaban atas pertanyaan yang sudah disusun, peserta didik diminta untuk membaca uraian materi di buku PPKn kelas IX Bab I bagian halam 2 – 9, juga mencari melalui sumber belajar lain seperti buku referensi lain dan internet tentang penerapan Pancasila pada masa orde lama.
2)   Peserta didik secara kelompok juga mencari informasi sesuai tugas kelompok 1.1 di halaman 6, melalui membaca buku, bertanya kepada guru, pengamatan, membuka internet tentang penerapan Pancasila pada masa orde lama.
d.   Pengolahan Data
1)   Guru membimbing peserta didik secara kelompok untuk mendiskusikan berbagai informasi yang sudah diperoleh sebelumnya tentang perbedaan dan persamaan penerapan Pancasila pada masa orde lama yaitu pada;  periode 1945 – 1950, periode 1950 – 1959, periode 1959 – 1965.
2)                           Guru melakukan pengamatan dan penilaian dalam kegiatan diskusi kelompok
e.    Pembuktian- pembuktian
Dengan bimbingan guru, pesrta didik menyusun laporan hasil telaah tentang persamaan dan perbedaan penerapan Pancasila pada masa orde lama dalam bentuk kertas lembaran.
a.    Guru menjelaskan tata cara penyajian kelompok dengan presentase, seperti:
1)   Kelompok mempresentasikan secara bergantian hasil kerjanya.
2)   Kelompok penyaji menyajikan materi paling lama 5 menit. Kelompok lain memperhatikan penyajian kelompok penyaji dan mencatat hal-hal yang penting serta mempersiapkan pertanyaan terhadap hal yang belum jelas.
3)   Kelompok penyaji bertanya jawab dan diskusi dengan peserta didik lain tentang materi yang disajikan paling lam 15 menit
b.    Guru menjelaskan pedoman penilaian selama penyajian materi, seperti aspek penilaian meliputi:
1)   Kemampuan bertanya
2)   Kebenaran gagasan/ materi
3)   Argumentasi yang benar dan logis
4)   Bahasa yang digunakan (bahasa baku)
5)   Sikap (sopan, toleransi, kerja sama)
c.    Guru memberikan konfirmasi terhadap jawaban peserta didik dalam diskusi, dengan meluruskan jawaban yang kurang tepat dan memberikan penghargaan bila jawaban benar dengan pujian atau tepuk tangan bersama.
III.     Kegiatan Penutup: 18 menit
a.    Bersama peserta didik menyimpulkan materi pembelajaran melalui tanya jawab secara kalsikal
b.    Melakukan refleksi atas manfaat proses pembelajaran yang telah dilakukan.
c.    Guru memberikan umpan balik atas proses pembelajaran dan hasil telaah kelompok.
d.   Guru memberikan tugas agar peserta didik membaca materi pertemuan berikutnya yaitu tentang penerapan Pancasila pada masa Orde Baru dan Reformasi.
e.    Guru mengakhiri dengan doa dan mengucapkan salam.
f.     Penilaiaan hasil pembelajaran
1.           Penilaian sikap
Tabel 4.1. Pedoman pengamatan sikap
No
Aspek Penilaian
Skor
4
3
2
1
A
Sikap Bersyukur




1
Berdoa sebelum  melakukan kegiatan belajar
ü   



2
Mengucapkan  salam  sebelum dan sesudah berbicara
ü   



B
Sikap Peduli




1
Menolong teman yang membutuhkan

ü   


2
Membuang sampah pada tempatnya
ü   



3
Mendahulukan  kepentingan masyarakat umum

ü   


C
Sikap menghargai




1
Menghormati pendapat teman

ü   


2
Memaafkan kesalahan orang lain


ü   

3
Bergaul tanpa membeda-bedakan
ü   



4
Tidak memaksakan kehendak orang lain

ü   



Kategori Penilaian Sikap.
4 = Sangat Baik
3 = Baik
2 = Cukup
1 = Kurang
2.    Penilaian Pengetahuan
Tes Awal
Tabel 4.2. Tes awal
No
Soal
Kunci jawaban
Skor
4
3
2
1
1
Jelaskan tujuan pemberontakan pada masa orde lama dan orde baru ?
a.     Tujuan pemberontakan pada masa orde lama
1.       Menggantikan Pancasila dengan Ideologi komunis
2.       Menggantikan Pancasila dengan syari’at Islam
b.     Tujuan pemberontakan pada masa orde baru
1.     Menggantikan Pancasila dengan ideologi komunis




2
Identifikasi bentuk- bentuk penyimpanan pada masa orde lama?
1.       Pemberontakan PKI Madiun tanggal 18 September 1948 yang di pimpin oleh Muso
2.       Pemberontakan Darul Islam / TII yang di pimpin oleh Kartosuwiryo.
3.       G30S/ PKI




3
Jelaskan perbedaan ideologi terbuka dan ideolgi tertutup?
Ideologi terbuka, Nilai- nilai dan cita- citanya tidak dipaksakan dari luar melaikan digali dari kekayaan rohani, moral, dan budaya bangsa itu sendiri, sedangkan ideologi tertutup cenderung memaksakan nilai dari luar dan dasar pembentukannya dari kelompok orang atau perorangan.




4
Jelaskan nilai- nilai dasar yang terkandung dalam ideologi Pancasila?
Nilai- nilai Dasar :
1.       Ketuhanan
2.       Kemanusiaan
3.       Persatuan
4.       Musyawarah mufakat
5.       Keadilan







5
Jelaskan ciri- ciri ideoloi Pancasila sebagai ideologi terbuka?
Ciri- ciri Pancasila sebagai ideologi terbuka.
1.       Tidak bersifat utopis (hanya merupakan ide-ide belaka jauh dari kenyataan)
2.       Bukan merupakan doktrin belaka yang bersifat tertutup melainkan suatu norma yang bersifat idealis, nyata dan reformatif
3.       Bukan merupakan ideologi yang pragmatis yang menekankan pada segi praktis-praktis belaka tanpa adanya aspek idelisme.





Kategori penilaian pengetahuan
4 = Sangat Baik
3 = Baik
2 = Cukup
1 = Kurang
Pedoman penskoran
Tabel 4. 3. Penskoran
No
Aspek
Penskoran
1
Kemampuan bertanya
Skor 4, apabila selalu bertanya
Skor 3, apabila sering bertanya
Skor 2, apabila kadang-kadang bertanya
Skor 1, apabila tidak pernah bertanya
2
Kemampuan menjawab / argumentasi
Skor 4, apabila materi/ jawaban benar, rasional, dan jelas
Skor 3, apabila materi/ jawaban benar, rasional, dan tidak jelas
Skor 2, apabila materi/ jawaban benar, tidak rasional, dan tidak jelas
Skor 1, apabila materi/ jawaban tidak benar, tidak rasional, dan tidak jelas

3
Kemampuan memberi masukan
Skor 4,apabila selalu memberi masukan
Skor 3, apabila sering memberi masukan
Skor 2, apabila kadang-kadang memberi masukan
Skor 1, apabila tidak pernah memberi masukan



Tes Akhir  
Tabel 4. 4. Tes akhir
No
Soal
Kunci jawaban
Skor
4
3
2
1
1
Sebutkan berapa periode pelaksanaan Pancasila pada masa orde lama?
1.       Periode 1945- 1950
2.       Periode 1950- 1959
3.       Periode 1959- 1965




2
Sebutkan bentuk- bentuk penyimpangan pada masa orde lama?
1.       Pemberontakan PKI Madiun
2.       Pemberontakan Darul Islam
3.       G30S/ PKI




3
Sebutkan bentuk-bentuk penyimpangan pada masa reformasi?
1.         Para elite politik cenderung memanfaatkan gelombang reformasi untuk meraih kekuasaan
2.         Adanya gerakan yang muncul berbasis SARA
3.         Menurunnya rasa persatuan dan kesatuan Bangsa yang ditandai dengan konflik












4
Jelaskan peristiwa apa yang terjadi pada masa orde lama pada periode 1959- 1965?
Periode 1959- 1965 terjadinya penyimpangan penafsiran terhadap Pancasila dan konstitusi
Akibat : Terjadi kultus individu terhadap Soekarno, adanya NASAKOM, tantangan yang dialami NKRI yakni, terjadinya pemberontakan PKI pada tanggal 30 September 1965.




5
Sebutkan tujuan dari   peristiwa yang terjadi pada periode 1959- 1965
Tujuanya adalah :
1.     Mendirikan kembali Negara Soviet di Indonesia
2.    Mengganti ideologi Pancasila dengan ideologi komunis.




Kategori penilaian pengetahuan
4 = Sangat Baik
3 = Baik
2 = Cukup
1 = Kurang

Berdasarkan Hasil Observasi yang di laksanakan pada tanggal 3 Agustus 2017 pukul 07.15 wita  di kelas IX B menunjukan bahwa penggunaan metode diskusi dalam pembelajaran PKn dapat meningkatkan hasil belajar siswa, hal ini dapat di lihat dari kenyataan yang ada di lapangan terbukti bahwa siswa lebih cenderung menggunakan metode diskusi dari pada metode- metode yang lain misalnya metode ceramah, yang ada siswa jenuh, bosan, mengantuk, dan bermalas- malasan. Karena siswa-siswi berpandangan bahwa mata pelajaran PKn adalah mata pelajaran yang bersifat hafalan saja dan  juga mereka berpikir bahwa mata pelajaran PKn bukan mata pelajaran UN, sehingga mereka tidak peduli pada saat pembelajaran berlangsung. Oleh karena itu, dengan adanya penggunaan metode diskusi siswa bersemangat dalam belajar walaupun ada siswa yang awal-awal terlihat malu, dan takut dalam berpendapat, akan tetapi ada semangat belajar sehingga mereka terlatih untuk berani mengemukakan pendapat.
Berdasarkan hasil wawancara dengan guru mata pelajaran PKn (Ibu Roslin) pada tanggal 26 Agustus 2017, pukul 09. 00, dengan pertanyaan bagaimana penggunaan metode diskusi pada mata pelajaran PKn dapat meningkatkan hasil belajar siswa, di katakan bahwa: Penggunaan metode diskusi dalam pembelajaran PKn itu baik, dan dapat meningkatkan hasil belajar siswa karena, melibatkan semua siswa-siswi secara aktif, melatih siswa-siawi untuk berpikir kritis dan terbuka, melatih kestabilan emosi dengan menghargai dan mnerima pendapat orang lain, oleh karena itu penggunaan. Metode ini cukup relevan untuk diteliti mengingat metode ini bisa di lakukan pada semua kalangan tanpa mempertimbangkan usia atau latar belakang. Metode ini di gunakan untuk mengetahui sejauh mana materi pelajaran telah di kuasai oleh siwa-siswi, untuk merangsang siswa aktif dan untuk lebih memantapkan penguasaan siswa terhadap bahan/materi yang telah di sampaikan sehingga dapat berpengaruh baik terhadp hasil belajar yang di capai siswa-siswi.
Berdasarkan  hasil wawancara dengan Ibu Roslin selaku guru mata pelajarn PKn, pada tanggal 26 Agustus 2017 pukul 08.30, dengan pertanyaan apa manfaat dari penggunaan metode diskusi dalam pembelajaran PKn, dikatakan bahwa: Manfaat penggunaan metode diskusi adalah untuk menambah serta mengembangkan pengetahuan tentang metode-metode pembelajaran khususnya yang berkaitan dengan penggunaan metode diskusi pada mata pelajaran PKn. Selain itu, metode diskusi juga sangat cocok untuk mata pelajaran yang memiliki konteks sosial seperti pendidikan kewarganegaraan.

Berdasarkan hasil diskusi kelompok diatas maka, peneliti dapat menyimpulkan bahwa seorang guru yang baik tidak hanya memberikan bahan informasi kemudian peserta didik dibiarkan mencari pemecahan sendiri, akan tetapi mereka bersama-sama melontarkan berbagai buah pikiran untuk kemudian disepakati bersama. Dilihat dari kenyataan yang ada dilapangan bahwa guru juga berperan sebagai sahabat atau teman bagi siswa-siswi untuk memotivasi siswa-siswi dan memberikan arahan-arahan yang  baik ketika siswa-siswi mengalami kesulitan dalam belajar guru memberikan solusi dan jalan keluar kepada siswa sehingga siswa tidak merasa bosan atau jenuh dalam kegiatan belajar mengajar.
Tabel 4.5. Data Analisis Penelitian 2017
No
Fokus
Data analisis penelitian 2017
Sumber
1
Penggunaan metode diskusi dalam pembelajaran PKn untuk meningkatkan hasil belajar siswa
Dalam pembelajaran PKn  terdapat perbedaan  keaktifan belajar siswa sebelum menggunakan metode diskusi dan sesudah  menggunakan metode diskusi, peningkatan ini menunjukan bahwa dalam  proses pembelajaran PKn siswa lebih cenderung menggunakan metode diskusi di banding dengan metode- metode yang  lain, mengapa? Karena :
1.     Siswa menganggap mata pelajaran PKn adalah mata pelajaran yang bersifat hafalan saja,  sehingga siswa tidak ada semangat belajar ketika guru menggunakan metode- metode yang lain misalnya metode ceramah atau pun metode tanya jawab, sebab  itu  membuat siswa bosan, mengantuk, bermalas- malasan, bahkan pula siswa bercerita dengan teman sebangkuh , dan tidak peduli terhadap pembelajaran tersebut.


2.     Siswa berpandangan bahwa mata pelajaran PKn bukanlah  mata  pelajaran Ujian Nasional (UN), dan mreka menganggap mata pelajaran PKn adalah mata pelajaran yang gampang  sehingga siswa cepat bosan, jenuh dan tidak ada semangat belajar  pada saat pembelajaran berlangsung.
Dengan demikian penggunaan metode diskusi sangat penting dalam pembelajaran PKn karena dengan metode diskusi semua siswa terlibat aktif  sehiingga hasil belajar mereka dapat meningkat.

Hasil penelitian
2
Langkah- langkah penggunaan metode diskusi dalam pembelajaran PKn
Langkah- langkah penggunaan metode diskusi dalam pembelajaran PKn adalah sebagai berikut:
1.     Peserta didik disiapkan secara fisik dan psikis untuk mengikuti pembelajaran dengan melakukan berdoa, menanyakan kehadiran peserta didik, kebersihan dan kerapian kelas,  kesiapan buku tulis dan sumber belajar.
2.     Berdoa
3.     Memotivasi peserta didik dengan menyanyikan lagu wajib nasional
4.     Melakukan apersepsi dengan tanya jawab mengenai Pancasila yang sudah dipelajari di kelas VII dan VIII
5.     Menyampaikan kompetensi dasar dan indikator pencapaian kompetensi yang akan dicapai
6.     Guru menjelaskan teknik dan bentuk penilaian pembelajaran yang akan dilakukan
7.     Peserta didik dibentuk menjadi beberapa kelompok, tiap kelompok beranggota 5- 6 orang
8.      Guru membimbing peserta didik secara berkelompok untuk mendiskusikan hubungan atas berbagai informasi yang sudah di peroleh sebelumnya tentang perbedaan dan persamaan penerapan Pancasila pada masa orde lama yaitu pada:



Periode 1945- 1950
Periode 1950- 2959
Periode 1959- 1965
9.     Guru melakukan pengamatan dan penilaian dalam kegiatan diskusi kelompok
10. Guru menjelaskan tata cara penyajian kelompok dengan presenrasi, seperti:
a.       Kelompok mempresentasi secara bergantian hasil kerjanya
b.       Kelompok penyaji menyajikan materi paling lama 5 manit. Kelompok lain memperhatikan penyajian kelompok penyaji dan mencacat hal-hal yang penting serta mempersiapkan pertanyaan terhadap hal yang belum jelas .
c.        Kelompok penyaji bertanya jawab dan diskusi dengan peserta didik lain tentang materi yang disajikan paling lama 15 manit.
11. Guru menjelaskan pedoman penilaian selama penyajian materi, seperti aspek penilaian meliputi:
a)       Kemampuan bertanya
b)       Kebenaran gagasan / materi
c)       Argumentasi yang benar dan logis
d)       Bahasa yang di gunakan (bahasa baku)
e)       Sikap (sopan, toleransi, kerja sama)
12. Guru memberikan konfirmasi terhadap jawaban peserta didik dalam diskusi, dengan meluruskan jawaban yang kurang tepat dan memberikan penghargaan bila jawaban benar dengan pujian atau tepuk tangan bersama.
13. Guru bersama peserta didik menyimpulkan materi pembelajaran melalui tanya jawab secara klasikal.




14. Guru memberikan umpan balik atas proses pembelajaran dan hasil telaah kelompok.
15. Guru memberikan tugas agar peserta didik membaca materi pertemuan berikutnya yaitu tentang penerapan Pancasila pada masa orde baru dan Reformasi
16. Guru mengakhiri dengan doa dan mengucapkan salam

Sumber : Hasil penelitian  
C.  PEMBAHASAN
1.    Penggunaan metode diskusi pada pembelajaran PKn dapat meningkatkan  motivasi dan hasil belajar siswa kelas IX di SMP Negeri 13 Kupang
Penggunaan metode pengajaran berkaitan erat dengan materi dan pokok bahasan yang di sampaikan. Pembelajaran sering di lakukan dengan menggunakan berbagai metode secara bervariasi, sehingga tidak terasa monoton dan menjemukan. Akan tetapi satu metode penggunaannya bisa berdiri sendiri, tergantung pada pertimbangan berdasar situasi pembelajaran yang relevan.
Metode sebagai salah satu komponen yang ikut ambil bagian bagi keberhasilan kegiatan belajar mengajar dan menjadi penting bagi guru untuk memilih metode yang lebih efektif untuk di gunakan.
Pada dasarnya metode yang di gunakan dalam mengajar adalah baik, namun dalam pelaksanaannya sangat bergantung pada guru. Jadi penggunaan metode diskusi itu sangat penting dalam proses belajar mengajar karena metode ini membangkitkan semangat belajar siswa secara aktif karena siswa memperoleh kesempatan berbicara atau berdialog untuk bertukar pikiran dan informasi tentang suatu topik atau masalah dan mencari fakta atau pembuktian yang dapat digunakan bagi pemecahan masalah.
Metode diskusi adalah suatu cara penyampaian bahan pengajaran dengan guru memberikan kesempatan kepada siswa atau  kelompok untuk berbicara atau berdialog untuk bertukar pikiran atau bermusyawarah mufakat untuk berpendapat sehingga tercapailah inti dari materi yang didiskusikan. Jadi dapat di simpulkan bahwa metode diskusi adalah cara penyajian pelajaran dimana siswa- siswi di hadapkan kepada suatu masalah yang bisa berupa pertanyaan yang bersifat problematis untuk di bahas dan di pecahkan bersama.
Metode Diskusi sangat cocok digunakan  dalam pembelajaran PKn, karena kegiatan besar materinya adalah bersifat hafalan. Oleh karena itu dengan diterapkanya metode ini diharapkan dapat menghilangkan rasa jenuh dan bosan pada diri peserta didik terhadap materi pelajaran, sehingga peserta didik akan lebih termotivasi secaraaktif dalam belajar demi terwujudnya  interaksi edukatif dalam pembelajaran PKn yang berpengaruh pula terhadap hasil belajar yang diraih siswa.
Berdasarkan hasil wawancara di atas, maka  peneliti menyimpulkan bahwa penggunaan metode diskusi itu dapat meningkatkan hasil belajar siswa karena di lihat dari kenyataan yang ada di lapangan terbukti bahwa siswa lebih cenderung menggunakan metode diskusi di banding dengan metode- metode yang lain misalnya metode ceramah yang ada siswa bermalas-malasan, bosan, jenuh, dan lain-lain.
2.    Penggunaan metode diskusi dalam pembelajaran PKn pada siswa kelas IX di SMP Negeri 13 Kupang
            Dalam proses pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan selain melibatkan guru dan siswa secara langsung juga diperlukan pendukung yang lain yaitu alat pelajaran yang memadai, penggunaan metode yang tepat serta situasi dan kondisi lingkungan yang menunjang.
            Proses belajar yang paling mendasar yang dituntut dalam proses pembelajaran adalah keaktifan siswa. Keaktifan siswa dalam proses pembelajaran akan menyebabkan interaksi yang tinggi antara guru dengan siswa atau pun siswa dengan siswa. Hal ini akan mengakibatkan suasana kelas menjadi segar dan kondusif, dimana masing-masing siswa dapat melibatkan kemampuannya semaksimal mungkin. Aktivitas belajar yang timbul dari siswa akan mengakibatkan terbentuknya pengetahuan dan keterampilan yang akan mengarah pada peningkatan hasil belajar.
2.1.                 Langkah –langkah pengguanan metode diskusi
a)    Guru mengemukakan masalah yang akan didiskusikan dan memeberikan pengarah seperluhnya mengenai cara-cara pemecahannya
b)   Para siswa membentuk kelompok- kelompok diskusi memilih pimpinan diskusi (ketua,sekretaris,pelapor) mengatur tempat duduk, ruangan, sarana, dan sebagainya dengan bimbingan guru.
c)    siswa berdiskusi dalam kelompoknya masing-masing, sedangkan guru berkeliling dari kelompok yang satu ke kelompok yang lain,menjaga ketertiban, serta memberikan dorongan dan bantuan agar anggota kelompok berpartisipasi aktif dan diskusi dapat berjalan lancar. Setiap siswa hendaknya mengetahui secara persis apa yang akan didiskusikan dan bagaimana caranya berdiskusi.
d)   Setiap kelompok harus melaporkan hasil diskusinya. Hasil diskusi dilaporkan ditanggapi oleh semua siswa, terutama dari kelompok lain. Kemudian guru memberikan penjelasan terhadap hasil laporan tersebut.
e)    Akhirnya siswa mencatat hasil diskusi, sedangkan guru menyimpulkan laporan hasil diskusi dari setiap kelompok.
Seorang siswa belajar karena didorong oleh kekuatan mentalnya, kekuatan mental itu berupa keinginan, perhatian, kemauan, atau cita-cita, dan kekuatan mental tersebut dapat tergolong rendah dan tinggi,sehingga motivasi dipandang sebagai dorongan mental yang menggerakkan dan mengarahkan perilaku manusia, termasuk perilaku belajar. Dengan demikian motivasi tergantung adanya keinginan yang mengaktifkan, menggerakkan, menyalurkan, dan mengarahkan sikap dan perilaku belajar.
Motivasi belajar penting bagi siswa dan guru. Bagi siswa pentingnya  motivasi belajar adalah sebagai berikut:
1.    Menyadarkan kedudukan pada awal belajar, proses, dan hasil akhir.
2.    Menginformasikan tentang kekuatan usaha belajar, yang dibandingkan dengan teman sebaya
3.    Mengarahkan kegiatan belajar
4.    Membesarkan semangat belajar
5.    Menyadarkan tentang adanya perjalanan belajar.
Motivasi belajar juga penting diketahui oleh seorang guru. Pengetahuan dan pemahaman tentang motivasi belajar pada siswa bermanfaat bagi guru,manfaat itu sebagai berikut:
1.    Membangkitkan, meningkatkan, dan memelihara semangat siswa untuk  belajar sampai berhasil; membangkitkan, bila siswa tak bersemangat; meningkatkan, bila semangat belajarnya timbul tenggelam; memelihara, bila semangatnya telah kuat untuk mencapai tujuan belajar. Dalam hal ini pujian,dorongan, atau pemicusemangat dapat digunakan untuk mengobarkan semangat belajar.
2.    Mengetahui dan memahami motivasi belajar siswa di kelas bermacam-ragam; ada yang acuh tak acuh, ada yang tak memusatkan perhatian, ada yang bermain, di samping yang bersemangat untuk belajar. Di antara yang bersemangat belajar, ada yang tidak berhasil dan berhasil. Dengan bermacam ragamnya motivasi belajar tersebut, maka guru dapat menggunakan bermacam-macam strategi belajar mengajar.
3.    Meningkatkan dan menyadarkan guru untuk memilih satu diantara bermacam-macam peran seperti sebagai penasihat, fasilitator, intsruktur, teman diskusi, penyemangat, pemberi hadiah, atau pendidik.
4.    Memberi peluang guru unjuk kerja
            Peningkatan hasil belajar dapat ditingkatkan melalui usaha sadar yang dilakukan secara sistematis mengarah kepada perubahan yang positif yang kemudian disebut dengan proses belajar. Dalam pembelajaran diperlukan metode yang sesuai dengan tingkat perkembangan siswa. Penggunaan metode diskusi dalam pembelajaran, dapat menyalurkan pesan dan maksud kepada siswa sehingga menurut peneliti hal itu dapat merangsang pikiran, perasaan, serta perhatian siswa sedemikian rupa sehingga proses pembelajaran terjadi, tidak terdapat kekeliruan. Hal-hal yang demikianlah membuat siswa menjadi senang sehingga mengikuti proses pembelajara dengan baik. Dengan menggunakan metode diskusi dalam pembelajaran khususnya pada mata pelajaran PKn dapat memberikan manfaat dan meningkatkan hasil belajar siswa.
3.     Pembelajaran pendidikan kewarganegaraan.
            Pendidikan Kewarganegaraan merupakan mata pelajaran yang memfokuskan pada pembentukan diri yang beragam dari segi agama, sosial, bahasa, usia dan suku bangsa untuk menjadi warga negara yang cerdas, terampil, dan berkarakter yang diamanatkan oleh Pancasila dan UUD 1945 (Kurikulum Berbasis Kompetensi, 2004). Pendidikan Kewarganegaraan mengalami perkembangan sejarah yang sangat panjang, yang dimulai dari Civic Education, Pendidikan Moral Pancasila, Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan, sampai yang terakhir pada Kurikulum 2004 berubah namanya menjadi mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan.
            Dalam pembelajaran pendidikan kewarganegaraan siswa- siswi masih terlihat ragu pada saat diskusi berlangsung karena ada siswa yang masih ragu dan malu dalam menjawab pertanyaan dari kelompok lain karena mereka takut salah atau ditertawakan
oleh teman lainnya.  Jadi pelaksanaan metode diskusi akan berjalan baik, lancar dan tidak membosankan apabila guru sebagai sumber belajar dapat bertindak kreatif. Karena suasana pembelajaran harus lebih menyenangkan dan menarik supaya siswa tidak cepat merasa bosan.  Metode diskusi sangat cocok untuk meningkatkan hasil belajar siswa. Selain itu metode diskusi juga memiliki banyak sekali manfaat, diantaranya yaitu dapat melatih siswa dapat menghargai pendapat orang lain, berani berbicara atau berpendapat, menanamkan sopan santun dalam menyampaikan pendapatnya kepada orang lain, dan menanamkan rasa tanggung jawab. Maka dari situlah penggunaan metode diskusi dalam pembelajaran PKn hendaknya mampu memberikan perubahan atau peningkatan pada diri siswa baik pengetahuan, sikap, maupun keterampilan. Jadi metode yang tepat dalam pembelajaran PKn adalah metode diskusi. Mengapa? Karena metode diskusi dapat melibatkan semua siswa dan juga memberikan perubahan kepada siswa.
            Dari hasil pembahasan diatas, peneliti menyimpulkan bahwa penggunaan metode diskusi sangat diperlukan dalam pembelajaran PKn, karena pengguanaan metode diskusi dapat melibatkan siswa secara aktif dalam kegiatan belajar mengajar sehingga hasil belajar siswa tersebut meningkat.

BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
A. Kesimpulan
Berdasarkan Hasil Penelitian Dan Pembahasan Dengan Judul Tentang Penggunaan Metode Diskusi Dalam Pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan Untuk Meningkatkan Hasil Belajar Siswa Kelas IX di SMP Negeri 13 Kupang dapat disimpulkan bahwa:
1.    Penggunaan metode diskusi pada pembelajaran PKn dapat meningkatkan hasil belajar siswa kelas IX di  SMP Negeri 13 Kupang.
Metode diskusi dapat meningkatkan hasil belajar siswa, hal ini dapat dilihat dari keaktifan siswa dalam proses pembelajaran berlangsung akan menyebabkan interaksi yang tinggi antara guru dengan siswa atau pun siswa dengan siswa. Hal ini akan mengakibatkan suasana kelas menjadi segar dan kondusif, dimana masing-masing siswa dapat melibatkan kemampuannya semaksimal mungkin. Keterlibatan siswa dan keaktifan siswa untuk membicarakan dan mengemukakan alternatif pemecahan suatu topik bahasan yang bersifat problematis. Jadi metode diskusi dapat merangsang siswa dalam belajar dan berfikir secara kritis dan mengeluarkan pendapatnya secara rasional dan objektif dalam pemecahan suatu masalah.
2.    Penggunaan metode diskusi  dalam pembelajaran PKn pada siswa kelas IX di SMP Negeri 13 Kupang
Pembelajaran PKn merupakan salah satu mata pelajaran pokok di sekolah yang bertujuan untuk mengembangkan kecerdasan warga negara dalam dimensi spiritual, rasional, emosional dan sosial, mengembangkan tanggung jawab sebagai warga negara, serta mengembangkan siswa-siswi berpartisipasi sebagai warga negara supaya menjadi warga negara yang baik.
Proses belajar yang paling mendasar yang dituntut dalam proses pembelajaran adalah keaktifan siswa. Keaktifan siswa dalam proses pembelajaran akan menyebabkan interaksi yang tinggi antara guru dengan siswa atau pun siswa dengan siswa. Hal ini akan mengakibatkan suasana kelas menjadi segar dan kondusif, dimana masing-masing siswa dapat melibatkan kemampuannya semaksimal mungkin. Aktivitas belajar yang timbul dari siswa akan mengakibatkan terbentuknya pengetahuan dan keterampilan yang akan mengarah pada peningkatan hasil belajar.
Dari hasil pembahasan diatas, penulis menyimpulkan bahwa penggunaan metode diskusi sangat diperlukan dalam pembelajaran PKn, karena pengguanaan metode diskusi dapat melibatkan siswa secara aktif dalam kegiatan belajar mengajar sehingga hasil belajar siswa tersebut meningkat.
B.     SARAN
Berdasarkan uraian-uraian diatas, dan pengalaman peneliti selama melakukan penelitian di lapangan maka peneliti  merumuskan saran sebagai berikut:
1.   Bagi Sekolah
Lingkungan sekolah memberikan nilai yang besar bagi siswa dalam memperoleh pengetahuan. Oleh sebab itu disarankan kepada pihak sekolah untuk
meningkatkan motivasi siswa belajar dan hendaknya meningkatkan kedisiplinan siswa. Selain itu, sekolah  juga menyiapkan media pembelajaran dalam hal ini buku sumber mata pelajaran PKn.
2.   Bagi guru mata pelajaran PKn.
Mengingatnya pentingnya penggunaan metode diskusi bagi setiap siswa, meningkatkan kompetensi diri terutama mengikuti kegiatan belajar mengajar di kelas  agar bisa menerapkan sesuai dengan kemampuan mereka tersebut. Selain itu guru harus mencari dan memperbanyak bahan ajar dengan melakukan searching di internet dan membaca buku pendamping modul lainnya dan juga guru harus lebih memaksimalkan kegiatan belajar mengajar yang lebih menekankan pada pemahaman siswa tentang materi yang diajarkan dan menghimbau siswa untuk menerapkan kemampuan mereka.
3.   Bagi siswa kelas IX
Siswa hendaknya dapat berpartisipasi aktif dalam kegiatan belajar mengajar sehingga apa yang disampaikan oleh guru tentang materi yang diberikan guru bisa di pahami dan di mengerti oleh siswa.
REFERENSI
Aunurrahman, 2014. Belajar dan Pembelajaran. Cv Alfabeta, Bandung
Ajah Nyi, (2012) “Penerapan Metode Diskusi Untuk Meningkatkan Motivasi Dan Hasil Belajar IPS Pada Siswa Kelas IV Mi Pangkalan Kota Sukabumi”. Skripsi yang dipublikasikan. http://www.repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/24333/1/Nyi%20Ajah.pdf
Dimyati, Mudjiono, 2009. Belajar dan pembelajaran. Jakarta: PT. Rineka Cipta
Dalyono, 2005. Psikologi Pendidikan. Jakarta : Rineka Cipta
Fathurrohman Pupuh, Sutikno Sobry M., 2011. Strategi Belajar Mengajar: Strategi Mewujudkan Pembelajaran Bermakna Melalui Penanaman Konsep Dan Konsep Islam. Bandung : PT.  Refika Aditama
https://bagawanabiyasa.wordpress.com/2013/05/16/pembelajaran-pkn-di-sd/jumat 21/07/17, jam 02:40
Ismail Rahmat Laode (2010) “Penerapan Metode Diskusi lam Meningkatkan Mitivasi Dan Hasil Belajar IPS Pokok Bahasan Masalah Sosial Pada Kelas IV A SDN Kepatihan 03 Jember Tahun Ajaran 2010/2011”. Skripsi yang di publikasikan.  Program Studi Pendidikan Guru Sekolah DasarJurusan Ilmu PendidikanFakultas Keguruan Dan Ilmu PendidikanUniversitas Jember   
Komariah Aan, Engkoswara, 2012. Administrasi Pendidikan. Cv Alfabeta, Bandung

Rahman Dewi Ratna,(2008) “Penerapan Metode Diskusi Dalam Meningkatkan Motivasi Belajar Siswa Pada Pembelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI) di SMPN 1 Prambon Sidoarjo”. Skripsi yang dipublikasikan. Https://Www.Academia.Edu/6558505/Penerapan_Metode_Diskusi_Dalam_Meningkatkan_Motivasi_Belajar_Siswa_Pada_Pembelajaran_Pendidikan_Agama_Islam_Pai_Di_Smpn_1_Prambon_Sidoarjo_Jurusan_Pendidikan_Agama_Islam

Sukmadinata Sy Nana, Syaodih Erliany, 2012. Kurikulum Dan Pembelajaran Kompetensi. Bandung : PT. Refika Aditama
Sugiyono, 2016. Metode Penelitian Pendidikan (Pendekatan Kuntitatif, Kualitatif, Dan R&D). PT.  Alfabeta, Bandung
Sumarna Dede, Nandang Kosasih, 2013. Pembelajaran Quantum dan Optimalisasi Kecerdasan. Cv Alfabeta, Bandung
Sagala Syaiful, 2014. Konsep Dan Makna Pembelajaran Untuk Membantu Memecahkan Problematika Belajar Dan Mengajar. Cv, Alfabeta
Suhana Cucu, Hanafiah, 2012. Konsep Strategi Pembelajaran. PT Refika Aditama
Sudjana Nana,2017. Penilaiaan Hasil Proses Belajar Mengajar. Cv, Alfabeta
Undang – Undang RI No. 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional
Umiarso, Gojali Imam, 2010. Manajemen Mutu Pendidikan. Jogjakarta IRCISoDS
Yona Evi (2016) “Upaya Peningkatan Hasil Belajar Pkn Melalui Metode Pembelajaran Diskusi Kelompok Siswa Kelas IV SDN 1 Beringin Raya Kecamatan Kemiling Bandar Lampung”. Skripsi yang di publikasikan. http://digilib.unila.ac.id/24039/14/SKRIPSI%20TANPA%20BAB%20PEMBAHASAN.pdf
Zahroh, Aminatul, 2015. Membangun Kualitas Pembelajaran Melalui Dimensi Profesionalisme Guru.  Cv Yrama Widya







Related Posts

No comments:

Post a Comment