Media Berwawasan dan Berbudaya


Monday, 18 March 2019

Hubungan Manusia, Nilai, Moral dan Hukum

| Monday, 18 March 2019
Hubungan manusia, Nilai dan Moral (Makalah)

Oleh: Mahasiswa Program Studi PKN Undangan Kupang

BAB I
PENDAHULUAN

A.Latar Belakang

Pendidikan pada hakikatnya adalah upaya untuk menjadikan manusia berbudaya.Budaya dalam pengertian yang sangat luas mencakup segala aspek kehidupan manusia, yang dimulai dari cara berpikir,bertingkah laku sampai produk-produk berpikir manusia yang berwujud dalam bentuk benda (materil) maupun dalam bentuk sistem nilai  (in- materil).

Pergaulan antar umat di dunia yang semakin intensif akan melahirkan budaya-budaya baru, baik berupa pencampuran budaya, penerimaan budaya oleh salah satu pihak atau keduanya, dominasi budaya, atau munculnya budaya baru.Keseluruhan proses ini tentu saja dipengaruhi oleh proses pendidikan di masyarakat.
Pemunculan kebudayaan baru tidak sepenuhnya memberikan efek positif terhadap perkembangan suatu bangsa, tetapi  ada juga yang berdampak negative. Untuk menghindari hal-hal negatif dari suatu kebudayaan baru, diperlukan berbagai upaya untuk mengadakan saringan kebudayaan yang dianggap paling tepat untuk diterapkan . Oleh karena , pemahaman terhadap kebudayaan menjadi penting bagi seorang pendidik agar pendidik memahami secara persis kebudayaan dan pengaruhnya terhadap perkembangan masyarakat.
Nilai adalah sesuatu yg berharga, bermutu, menunjukkan kualitas dan berguna bagi manusia dan berkaitan dengan cita-cita, harapan, keyakinan dan hal-hal lain yg bersifat batiniah sebagai pedoman manusia bertingkah laku. Moral berarti akhlak atau kesusilaan yang mengandung makna tata tertib batin atau tata tertib hati nurani yang menjadi pembimbing tingkah laku batin dalam hidup. Sedangkan hukum adalah kaidah yang mengatur kehidupan manusia.

Manusia, nilai, moral, dan hukum merupakan sesuatu yang tidak dapat dipisahkan. Dewasa ini masalah-masalah serius yang dihadapi bangsa Indonesia berkaitan dengan nilai, moral, dan hukum antara lain mengenai kejujuran, keadilan, menjilat, dan perbuatan negatif lainnya, sehingga perlu dikedepankan pendidikan agama dan moral karena dengan adanya panutan, nilai, bimbingan, dan moral dalam diri manusia akan sangat menentukan kepribadian individu atau jati diri manusia, lingkungan sosial dan kehidupan setiap insan. Pendidikan nilai yang mengarah kepada pembentukan moral yang sesuai dengan norma kebenaran menjadi sesuatu yang esensial bagi pengembangan manusia yang utuh dalam konteks sosial.

B. Rumusan Masalah

Permasalahan yang akan dibahas pada penulisan ini adalah :
1.   Apa pengertian manusia, nilai, moral, dan hukum ?
2.   Bagaimana hubungan antara manusia dan nilai ?
3.   Bagaimana hubungan antara manusia dan moral ?
4.   Bagaimana hubungan antara manusia dan hukum ?
5.   Bagaimana hubungan antara nilai, moral dan hukum dalam kehidupan manusia ?

C.Tujuan Penulisan

1.      Memaparkan pengertian manusia, nilai, moral dan hukum
2.      Menjelaskan hubungan antara manusia dan nilai
3.      Menjelaskan hubungan manusia dan moral
4.      Menjelaskan hubungan manusia dan hokum
5.      Menjelaskan hubungan antara nilai, moral, dan hukum dalam kehidupan manusia.

D. Manfaat Penulisan

Berdasarkan tujuan penulisan, diharapkan penulisan ini dapat memberikan manfaat sebagai berikut :
1.      Dapat menambah pengetahuan mengenai manusia, nilai, moral, dan hokum
2.      Mengetahui keterkaitan antara nilai, moral, dan hukum dalam kehidupan manusia atau masyarakat.


     BAB II
          PEMBAHASAN

A.    Pengertian Manusia, Nilai, Moral, Dan Hukum.

1.      Pengertian Manusia

Secara bahasa manusia berasal dari kata “manu” (Sansekerta), “mens” (Latin), yang berarti berpikir, berakal budi atau makhluk yang berakal budi (mampu menguasai makhluk lain). Secara istilah manusia dapat diartikan sebuah konsep atau sebuah fakta, sebuah gagasan atau realitas, sebuah kelompok (genus) atau seorang individu. Dalam hubungannya dengan lingkungan, manusia merupakan suatu organisme hidup (living organism).
Terbentuknya pribadi seseorang dipengaruhi oleh lingkungan bahkan secara ekstrim dapat dikatakan, setiap orang berasal dari satu lingkungan, baik lingkungan vertikal (genetika, tradisi), horizontal (geografik, fisik, sosial), maupun kesejarahan. Tatkala seorang bayi lahir, ia merasakan perbedaan suhu dan kehilangan energi, dan oleh karena itu ia menangis, menuntut agar perbedaan itu berkurang dan kehilangan itu tergantikan. Dari sana timbul anggapan dasar bahwa setiap manusia dianugerahi kepekaan (sense) untuk membedakan (sense of discrimination) dan keinginan untuk hidup. Untuk dapat hidup, ia membutuhkan sesuatu. Alat untuk memenuhi kebutuhan itu bersumber dari lingkungan
Manusia adalah makhluk yang tidak dapat dengan segera menyesuaikan diri dengan lingkungannya. Pada masa bayi sepenuhnya manusia tergantung kepada individu lain. Ia belajar berjalan,belajar makan,belajar berpakaian,belajar membaca,belajar membuat sesuatu dan sebagainya,memerlukan bantuan orang lain yang lebih dewasa.
2.      Pengertian Nilai
Nilai adalah sesuatu yg berharga, bermutu, menunjukkan kualitas dan berguna bagi manusia dan berkaitan dengan cita-cita, harapan, keyakinan dan hal-hal lain yg bersifat batiniah sebagai pedoman manusia bertingkah laku. Moral berarti akhlak atau kesusilaan yang mengandung makna tata tertib batin atau tata tertib hati nurani yang menjadi pembimbing tingkah laku batin dalam hidup. Sedangkan hukum adalah kaidah yang mengatur kehidupan manusia.

Sifat-sifat nilai adalah Sebagai berikut :
v   Nilai itu suatu realitas abstrak  dan ada dalam  kehidupan  manusia. Nilai yang bersifat abstrak tidak dapat diindra. Hal yang dapat  diamati  hanyalah objek yang bernilai itu. Misalnya orang yang memiliki kejujuran. Kejujuran adalah nilai, tetapi  kita tidak  bisa mengindra kejujuran itu.

v    Nilai memiliki sifat  normative, artinya  nilai mengandung harapan, cita-cita dan suatu keharusan sehingga nilai memiliki sifat ideal das sollen. Nilai diwujudkan dalam bentuk norma  sebagai  landasan manusia dalam bertindak. Misalnya nilai  keadilan. Semua orang  berharap manusia dan  mendapatkan dan berperilaku yang mencerminkan  nilai keadilan.
v     Nilai  berfungsi  sebagai  daya  dorong  dan  manusia  adalah  pendukung  nilai. Manusia bertindak berdasar dan didorong oleh nilai yang diyakininya. Misalnya nilai ketakwaan.

3.      Pengertian Moral

Moral berasal dari kata bahasa Latin mores yang berarti adat kebiasaan.Kata mores ini mempunyai sinonim mos, moris,manner mores atau manners,morals. Dalam  bahasa Indonesia,kata  moral  berarti  akhlak  (bahasa  Arab)atau  kesusilaan  yang mengandung makna  tata  tertib  batin  atau  tata  tertib  hati  nurani  yang  menjadi pembimbing tingkah laku batin dalam hidup.Kata moral ini dalam bahasa Yunani sama dengan  ethos  yang  menjadi etika.  Secara  etimologis  ,etika  adalah  ajaran  tentang  baik buruk,  yang  diterima masyarakat  umum  tentang  sikap,perbuatan,kewajiban,dan sebagainya
.
 Moral  secara  eksplisit  adalah  hal-hal  yang  berhubungan  dengan  proses  sosialisasi individu  tanpa  moral  manusia  tidak  bisa  melakukan  proses  sosialisasi.  Moral  dalam zaman sekarang mempunyai nilai implisit karena banyak orang yang mempunyai moral atau sikap  amoral  itu  dari  sudut  pandang  yang  sempit.

Moral  adalah  perbuatan/tingkah  laku/ucapan  seseorang  dalam  berinteraksi dengan manusia. apabila yang dilakukan seseorang itu sesuai dengan nilai rasa yang berlaku di masyarakat  tersebut  dan  dapat  diterima  serta  menyenangkan  lingkungan masyarakatnya, maka  orang  itu  dinilai  mempunyai  moral  yang  baik,  begitu  juga sebaliknya.

4.      Pengertian Hukum

Disamping  adat  istiadat  tadi  ,ada  kaidah  yang  mengatur  kehidupan  manusia  yaitu hukum, yang biasanya dibuat dengan sengaja dan mempunyai sanksi yang jelas.Hukum dibuat dengan  tujuan  untuk  mengatur  kehidupan  masyarakat  agar  terjadi  keserasian diantara warga  masyarakat  dan  system  social  yang  dibangun  oleh  suatu masyarakat.

Pada  masyarakat  modern  hukum  dibuat  oleh  lembaga  –  lembaga  yang diberikan wewenang oleh rakyat. Keseluruhan kaidah dalam masyarakat pada intinya adalah mengatur masyarakat agar mengikuti pola perilaku yang disepakati oleh system social dan   budaya yang  berlaku pada  masyarakat  tersebut.  Pola-pola  perilaku  merupakan  cara-cara masyarakat bertindak  atau  berkelakuan  yang  sama  dan  harus  diikuti  oleh  semua anggota masyarakat tersebut.

Setiap tindakan manusia dalam masyarakat selalu mengikuti pola-pola  perilaku masyarakat  tadi.Pola  perilaku  berbeda  dengan  kebiasaan.  Kebiasaan merupakan  cara bertindak  seseorang  yang  kemudian  diakui  dan  mungkin  diikuti  oleh orang  lain.  Pola perilaku  dan  norma-norma  yang  dilakukan  dan  dilaksanakan  pada khususnya  apabila seseorang  berhubungan  dengan  orang  lain,  dinamakan  social organization.

B.   Hubungan Antara Manusia Dan Nilai
Meskipun banyak  pakar  yang  mengemukakan  pengertian  nilai,  namun  ada  yang telah disepakati  dari  semua  pengertian  itu  bahwa  nilai  berhubungan  dengan  manusia, dan selanjutnya nilai itu penting. Pengertian nilai yang telah dikemukakan oleh setiap pakar pada  dasarnya  adalah  upaya  dalam  memberikan  pengertian  secara  holistik  terhadap nilai,  akan  tetapi  setiap  orang  tertarik  pada  bagian  bagian  yang  “relatif  belum tersentuh” oleh pemikir lain.
Nilai  dapat  diartikan  sebagai  sifat  atau  kualitas  dari  sesuatu  yang  bermanfaat bagi kehidupan  manusia  baik  lahir  maupun  batin.  Bagi  manusia  nilai  dijadikan  sebagai landasan,  alasan  atau  motivasi  dalam  bersikap  dan  bertingkah  laku,  baik  disadari maupun tidak.
Nilai itu  penting  bagi  manusia.  Apakah  nilai  itu dipandang  dapat  mendorong manusia karena dianggap berada dalam diri manusia atau nilai itu menarik manusia karena ada di  luar  manusia  yaitu  terdapat  pada  objek,  sehingga  nilai  lebih  dipandang  sebagai kegiatan  menilai.  Nilai  itu  harus  jelas,  harus  semakin  diyakini  oleh  individu  dan  harus diaplikasikan  dalam  perbuatan.

C.  Hubungan Manusia Dengan Moral

Moral  memiliki  arti  yang  hampir  sama  dengan  etika.  Etika  berasal  dari bahasa kuno yang  berarti  ethos  dalam  bentuk  tunggal  ethos  memiliki  banyak  arti yaitu  tempat tinggal  biasa,  padang  rumput,  kebiasaan,  adat,  watak  sikap   dan  cara berfikir.  Dalam bentuk jamak ethos (ta etha) yang artinya adat kebiasaan. Moral berasal dari bahasa latin yaitu mos  (jamaknya  mores)  yang  berarti  adat,  cara,  dan tempat  tinggal.  Dengan demikian secara  etis mologi  kedua  kata  tersebut  bermakna sama  hannya  asal  usul bahasanya yang berbeda dimana etika dari bahasa yunani sementara moral dari bahasa latin.

Moral  yang  pengertiannya  sama  dengan  etika  dalam  makna  nilai-nilai dan  norma-norma yang menjadi pegangan bagi seseorang atau kelompok dalam mengatur tingkah lakunya.  Dalam  ilmu  filsafat  moral  banyak  unsur  yang  dikaji secara  kritis, dilandasi rasionalitas manusia seperti  sifat hakiki manusia, prinsip kebaikan, pertimbangan  etis dalam  pengambilan  keputusan  terhadap  sesuatu  dan sebagainya.  Moral  lebih  kepada sifat aplikatif yaitu berupa nasehat tentang hal-hal yang baik.

D.       Hubungan Manusia dengan Hukum

Hukum dalam masyarakat merupakan tuntutan, mengingat bahwa kita tidak mungkin menggambarkan  hidup  manusia  tanpa  atau  di  luar  masyarakat.  Maka  manusia, masyarakat,  dan  hukum  merupakan  pengertian  yang  tidak  bisa  dipisahkan.  Untuk mencapai ketertiban dalam masyarakat, diperlukan adanya kepastian dalam pergaulan antar-manusia dalam masyarakat. Kepastian ini bukan saja agar kehidupan masyarakat menjadi  teratur  akan   tetapi  akan   mempertegas  lembaga-lembaga  hukum  mana yang melaksanakannya. Hukum yang baik adalah hukum yang sesuai dengan hukum yang hidup (the living law) dalam masyarakat, yang tentunya sesuai pula atau merupakan cerminan dari nilai-nilai yang berlaku dalam masyarakat tersebut.

Manusia dan hukum adalah dua entitas yang tidak bisa dipisahkan. Bahkan dalam ilmu hukum, terdapat adagium yang terkenal yang berbunyi: “Ubi societas ibi jus” (di mana ada masyarakat  di  situ  ada  hukumnya). Artinya  bahwa  dalam  setiap  pembentukan suatu bangunan  struktur  sosial  yang  bernama  masyarakat,  maka  selalu  akan dibutuhkan bahan yang bersifat sebagai “semen perekat” atas berbagai komponen pembentuk dari masyarakat itu, dan yang berfungsi sebagai “semen perekat” tersebut adalah hukum.

E.       Hubungan Antara Nilai, Moral Dan Hukum Dalam Kehidupan Manusia.

Dalam kehidupan manusia antara nilai, moral dan hukum adalah satu keterkaitan yang tidak bisa dipisahkan. Hubungan antara nilai, moral, dan hukum akan dipaparkan dibawah ini: Seperti  telah dijelaskan di atas Nilai  dan  norma  selanjutnya akan  berkaitan   dengan moral. Moral  berasal  dari  bahasa  latin yakni  mores   kata  jamak  dari  mos  yang berarti adat kebiasaan. Sedangkan dalam bahasa  Indonesia  moral  diartikan  dengan  susila. Sedangkan  moral  adalah  sesuai dengan  ide-ide  yang  umum  diterima  tentang  tindakan manusia,  mana  yang  baik  dan mana yang wajar. Istilah moral mengandung integritas dan martabat pribadi manusia. Derajat  kepribadian  seseorang  sangat  ditentukan  oleh  moralitas yang  dimilikinya. Makna  moral  yang  terkandung  dalam  kepribadian  seseorang  itu tercermin  dari  sikap dan tingkah lakunya. Bisa dikatakan manusia yang bermoral adalah manusia yang sikap dan  tingkah  lakunya sesuai  dengan  nilai-nilai  dan  norma-norma  yang berlaku  dalam masyarakat.

Nilai  dan  moral  akan  muncul  ketika  berada  pada  orang  lain  dan  ia  akan bergabung dengan  nilai  lain  seperti  agama,  hukum,  dan  budaya.  Nilai  moral terkait dalam tanggung jawab seseorang.

Selanjutnya Antara hukum dan moral terdapat hubungan yang erat sekali. Ada pepatah roma yang mengatakan “quid leges sine moribus?” (apa artinya undang-undang jika tidak disertai moralitas?). Dengan demikian hukum tidak akan berarti tanpa disertai moralitas. Oleh karena  itu kualitas hukum harus selaludiukur dengan norma moral, perundang-undangan yang  inmoral  harus diganti. Disisi lain moral juga membutuhkan hukum, sebab  moral  tanpa hukum hanya angan-angan  saja  kalau tidak diundangkan  atau di lembagakan dalam masyarakat.

Meskipun  hubungan  hukum  dan  moral  begitu  erat,  namun  hukum  dan  moral tetap berbeda, sebab dalam kenyataannya ‘mungkin’ ada hukum yang bertentangan dengan moral  atau  ada  undang-undang  yang  immoral,  yang  berarti  terdapat  ketidakcocokan antara  hukum  dan  moral.  Untuk  itu  dalam  konteks  ketatanegaraan  indonesia  dewasa ini. Apalagi dalam konteks membutuhkan hukum. Kualitas hukum terletak pada bobot moral yang menjiwainya. Tanpa moralitas hukum tampak  kosong  dan  hampa  (Dahlan  Thaib,h.6).Namun  demikian  perbedaan  antara hukum dan moral sangat jelas. Perbedaan antara hukum dan moral menurut K. Berten Hukum lebih di kondifikasikan  dari pada  moralitas,  artinya dibukukan  secara sistematis dalam  kitab  perundang-undangan.  Oleh  karena  itu  norma hukum lebih memiliki kepastian dan objektif dibanding dengan norma moral. Sedangkan norma moral lebih subjektif dan akibatnya lebih banyak ‘diganggu’ oleh diskusi yang yang mencari kejelasan tentang yang harus dianggap etis dan tidak etis. Meski  moral  dan  hukum  mengatur  tingkah  laku  manusia,  namun  hukum membatasi diri sebatas lahiriah saja, sedangkan moral menyangkut juga sikap batin seseorang. Sanksi  yang  berkaitan  dengan  hukum  berbeda  dengan  sanksi  yang  berkaitan dengan moralitas.  

Hukum  untuk  sebagian besar dapat  dipaksakan, pelanggar  akan terkena hukuman.  Tapi  norma  etis  tidak  bisa  dipaksakan, sebab  paksaan  hanya menyentuh bagian  luar, sedangkan  perbuatan etis  justru berasal  dari  dalam. Satu-satunya  sanksi dibidang moralitas hanya hati yang tidak tenang. Hukum  didasarkan  atas  kehendak  masyarakat  dan  akhirnya  atas  kehendak negara. Meskipun hukum tidak langsung berasal dari  negara seperti  hukum adat, namun hukum itu harus diakui oleh  negara supaya berlaku sebagai hokum moralitas berdasarkan  atas  norma-norma  moral  yang  melebihi  pada  individu  dan  masyarakat. Dengan  cara  demokratis  atau dengan cara lain  masyarakat  dapat  mengubah hukum, tapi masyarakat tidak dapat mengubah atau membatalkan suatu norma moral. Moral menilai hukum dan tidak sebaliknya. Sedangkan Gunawan Setiardja membedakan hukum dan moral Dilihat  dari  dasarnya, hukum memiliki dasar  yuridis, konsensus dan hukum  alam sedangkan moral berdasarkan hukum alam Dilihat  dari  otonominya  hukum  bersifat  heteronom  (datang  dari  luar  diri manusia), sedangkan moral bersifat otonom (datang dari diri sendiri). Dilihat dari pelaksanaanya hukum secara lahiriah dapat dipaksakan, Dilihat dari sanksinya hukum bersifat yuridis. moral berbentuk sanksi  kodrati,batiniah, menyesal, malu terhadap diri sendiri. Dili hat dari tujuannya, hukum mengatur  kehidupan  manusia  dalam  kehidupan bernegara, sedangkan moral mengatur kehidupan manusia sebagai manusia. Dilihat dari waktu dan tempat, hukum tergantung pada waktu dan tempat, sedangkan moral secara objektif tidak tergantung pada tempat dan waktu (1990,119).


                           BAB III
                         PENUTUP
A . Kesimpulan
            Manusia, nilai, moral dan hukum adalah suatu hal yang saling berkaitan dan saling menunjang. Sebagai warga negara kita perlu mempelajari, menghayati dan melaksanakan dengan ikhlas mengenai nilai, moral dan hukum agar terjadi keselarasan dan harmoni kehidupan manusia atau masyarakat.
Manusia, nilai, moral, dan hukum merupakan sesuatu yang tidak dapat dipisahkan. Dewasa ini masalah-masalah serius yang dihadapi bangsa Indonesia berkaitan dengan nilai, moral, dan hukum antara lain mengenai kejujuran, keadilan, menjilat, dan perbuatan negatif lainnya, sehingga perlu dikedepankan pendidikan agama dan moral karena dengan adanya panutan, nilai, bimbingan, dan moral dalam diri manusia akan sangat menentukan kepribadian individu atau jati diri manusia, lingkungan sosial dan kehidupan setiap insan. Pendidikan nilai yang mengarah kepada pembentukan moral yang sesuai dengan norma kebenaran menjadi sesuatu yang esensial bagi pengembangan manusia yang utuh dalam konteks sosial.

Pendidikan pada hakikatnya adalah upaya untuk menjadikan manusia berbudaya.Budaya dalam pengertian yang sangat luas mencakup segala aspek kehidupan manusia, yang dimulai dari cara berpikir,bertingkah laku sampai produk-produk berpikir manusia yang berwujud dalam bentuk benda (materil) maupun dalam bentuk sistem nilai  (in- materil).

Pergaulan antar umat di dunia yang semakin intensif akan melahirkan budaya-budaya baru, baik berupa pencampuran budaya, penerimaan budaya oleh salah satu pihak atau keduanya, dominasi budaya, atau munculnya budaya baru.Keseluruhan proses ini tentu saja dipengaruhi oleh proses pendidikan di masyarakat.

B .Saran
            Penegakan hukum harus memperhatikan keselarasan antara keadilan dan kepastian hukum. Karena, tujuan hukum antara lain adalah untuk menjamin terciptanya keadilan (justice), kepastian hukum (certainty of law), dan kesebandingan hukum (equality before the law).
Penegakan hukum-pun harus dilakukan dalam proporsi yang baik dengan penegakan hak asasi manusia. Dalam arti, jangan lagi ada penegakan hukum yang bersifat diskriminatif, menyuguhkan kekerasan dan tidak sensitif jender. Penegakan hukum jangan dipertentangkan dengan penegakan HAM. Karena, sesungguhnya keduanya dapat berjalan seiring ketika para penegak hukum memahami betul hak-hak warga negara dalam konteks hubungan antara negara hukum dengan masyarakat.

                   DAFTAR PUSTAKA

Anonim.2012.Modul ISBD Manusia, Nilai, Moral, dan Hukum. Diakses pada 11 Desember 2012 pukul 19.30.http://berbagi-tugas.blogspot.com/2012/04/makalah-isbd-manusia-nilai-moral-dan.html
Anonim.2012. Manusia, Nilai, Moral dan Hukum. Diakses pada 11 Desember 2012 pukul 19.35.http://kelompokduaisbd.blogspot.com/2012/04/bab-5-manusia-nilai-moral-dan-hukum.html
Anonim.2012. Modul ISBD. Diakses pada 11 Desember 2012 pukul 19.40.http://ideku.info/makalahku/makalah-isbd-manusia-nilai-moral-dan-hukum




Related Posts

No comments:

Post a Comment