Media Berwawasan dan Berbudaya

Thursday, 14 March 2019

DINAMIKA PERKEMBANGAN KURIKULUM NASIONAL

| Thursday, 14 March 2019

DINAMIKA PERKEMBANGAN KURIKULUM NASIONAL

Kurang lebih enam tahun silam, persinya pada tahun pelajaran baru 2007, suasana sekolah terasa tak seperti biasanya. Maklum, masih banyak guru bingung menerapkan kurikulum tingkat satuan pendidikan (KTSP) dan kurikulum 2013, yang hampir setiap sekolah diseluruh pelosok tanah air sudah menerapkan kurikulum tersebut. Perpaduan dua kurikulum tersebut membawa nuansa baru untuk perkembangan dan sistem pendidikan nasional.
Kurikulum 2013 yang berlaku sekarang sudah beberapa kali di revisi, khususnya pada model pembelajaran, dimana sebelum direvisi kurikulum 2013 terpaku pada model pembelajaran Cientifik dan mengalami perubahan bahwa model pembelajaran jangan hanya terpaku pada salah satu model, tetapi model pembelajaran sesuai dengan karakteristik materi pembelajaran  dan kondisi perkembangan peserta didik di sekolah. Oleh karena itu sosialisasi kurikulum 2013 terus dilakukan oleh segenap komponen,sehingga penerapan kurikulum dapat dilakukan secara merata diseluruh tanah air.
Pemberlakuan Kurikulum 2013 bertujuan meningkatkan kompetensi siswa, terutama menghadapi tantangan di masa depan, yang meliputi globalisasi, permasalahan lingkungan, kemajuan teknologi informasi, serta konvergensi ilmu dan teknologi. Kurikulum 2013 lebih fokus pada peningkatan kompetensi siswa
Kemudian bagaimana perkembangan kurikulum nasional ?, berikut ini akan dipaparkan secara ringkas dari kurikulum 1947-kurikulum 2013.

RENCANA PELAJARAN 1947

Kurikulum pertama yang lahir pada masa kemerdekaan memakai istilah leer plan. Dalam bahasa belanda, artinya rencana pelajaran, lebih populer ketimbang curriculum (bahasa inggris). Perubahan kisi-kisi  pendidikan lebih bersifat politis: dari orientasi pendidikan Belanda ke kepentingan nasional. Asas pendidikan ditetapkan Pancasila
Rencana pelajaran 1947 baru dilaksanakan di sekolah-sekolah pada tahun 1950. Bentuk memuat hal pokok yaitu daftar mata pelajaran dan jam pengajarannya,plus garis-garis besar pengajaran. Rencana pelajaran 1947 mengurangi pendidikan pikiran. Yang diutamakan watak, kesadaran bernegara dan bermasyarakat, materi pelajaran dihubungkan dengan kejadian sehari-hari, perhatian terhadap kesenian dan pendidikan jasmani.

RENCANA PELAJARAN TERUARAI 1952

Kurikulum ini lebih merinci setiap mata pelajaran yang disebut Rencana Pelajaran Terurai 1952. Silabus mata pelajarannya jelas sekali. Seorang guru mengajar satu mata pelajaran kata Djauzak Ahmad. Direktur Pendidikan Dasar Depdiknas periode 1991-1995. Ketika itu, di usia 16 tahun, Djauzak adalah guru SD Tambelan dan Tanjung Pinang,Riau ( Buku Sekolah Dasar Pergulatan Mengejar Ketertinggalan,2006).

Di penghujung era Presiden Soekarno, muncul Rencana Pendidikan 1964 atau Kurikulum 1964. Fokusnya pada pengembangan daya cipta, ras, karsa,karya dan moral (Panca wardhana). Mata pelajaran diklasifikasikan dalam lima kelompok bidang studi : moral,kecerdasan,emosional/artistik,keprigelan ( keterampilan ),dan jasmaniah. Pendidikan dasar lebih menekankan pada pengetahuan dan kegiatan fungsional praktis. Kurikulum 1864 tak berumur panjang ketika pecah peristiwa 30 september 1965. Segala yang berbau orde lama pun dihapus

KURIKULUM 1968

Kurikulum 1968 bersifat politis yaitu mengganti Rencana Pendidikan 1964 yang di citrakan produk orde lama. Tujuan membentuk manusia Pancasila sejati. Kurikulum 1968 menekankan pendekatan organisasi materi pelajaran: kelompok pembinaan Pacasila, pengetahuan dasar, dan kecakapan khusus. Jumlah jam pelajaran hanya 9. Djauzak menyebutkan kurikulum 1968 sebagai kurikulum bulat. “hanya memuat mata pelajaran pokok-pokok saja.”katanya.  Muatan materi pelajaran bersifat teroritis, tidak mengaitkan dengan permasalahan faktual di lapangan. Titik beratnya pada materi apa saja tepat diberikan kepada siswa di setiap jenjang pendidikan

KURIKULUM 1975

Kurikulum 1975 menekankan pada tujuan, agar pendidikan lebih efesien dan efektif.  Yang melatarbelakangi adalah pengaruh konsep dibidang manajemen yaitu MBO (manajemen by objective) yang terkenal saat itu.
Metode, materi, dan tujuan pelajaran dirinci dalam prosedur pengembangan sistem instruksional (PPSI). Zaman ini dikenal istilah “satuan pelajaran”, yaitu rencana pelajaran setiap satuan bahasaan. Setiap satuan pelajaran dirinci lagi, petunjuk umum, tujuan isntruksional khusus (TIK), materi pelajaran, alat pelajaran, kegiatan belajar mengajar, dan evaluasi. Kurikulum 1975 banyak dikritik. Guru di bikin sibuk menulis rincian apa yang akan dicapai dari setiap kegiatan pembelajaran.

KURIKULUM 1984

Kurikulum 1984 mengusung proses skill approach. Mesti mengutamakan pendekatan proses, tapi faktor tujuan tetap penting. Kurikulum ini juga sering disebut “ kurikulum 1975 yang disempurnakan”. Posisi siswa ditempatkan sebagai subjek belajar. Dari mengamati sesuatu, mengelompokkan, mendiskusikan, hingga melaporkan. Model ini disebut cara belajar siswa aktif (CBSA) atau student active learning (SAL).
Tokoh penting dibalik lahirnya kurikulum 1984 adalah Profesor Dr. Conny R. Semiawan, Kepala Pusat Kurikulum Depdiknas periode 1980-1986 yang juga rektor IKIP Jakarta,sekarang Universitas Negeri Jakarta periode 1984-1992. Konsep CBSA yang elok secara teori dan bagus hasilnya di sekolah-sekolah yang diuji coba, mengalami banyak deviasi dan reduksi saat diterapkan secara nasional. Sayangnya, banyak sekolah kurang mampu menafsirkan CBSA. Yang terlihat adalah gaduh diruang kelas lantaran siswa berdiskusi disana-sini ada tempelan gambar, dan yang menyolok guru tidak lagi mengajar model berceramah. Penolakan bermunculan.

KURIKULUM 1994 DAN SUPLEMEN KURIKULUM 1999

Kurikulum 1994 bergulir lebih pada upaya memadukan kurikulum – kurikulum sebelumnya. Jiwanya ingin mengkobinasikan antara kurikulum 1975 dan Kurikulum 1984, antara pendekatan tujuan dan pendekatan proses.
Sayang, perpaduan tujuan dan proses belum berhasil. Kritik bertebaran, lantaran beban belajar siswa terlalu berat. Dari muatan nasional hingga lokal. Materi muatan lokal disesuaikan dengan daerah masing – masing, misalnya bahasa daerah, kesenian, keterampilan daerah dan lain – lain. Berbagai kepentingan kelompok – kelompok masyarakat mendesakkan agar isu – isu tertentu masuk dalam kurikulum. Kurikulum 1994 menjelma menjadi kurikulum super padat.kejatuhan rezim Soeharto pada 1998 diikuti kehadiran Suplemen Kurikulum 1999. Tetapi perubahannya lebih pada menambal sejumlah materi.

KURIKULUM 2004
Kurikulum Berbasis Kompetensi ( KBK ). Setiap pelajaran di urai berdasar kompetensi apakah mesti dicapai siswa. Kerancuannya, alat ukur kompetensi siswa yakni ujian, baik ujian akhir sekolah dan ujian nasional masih berupa soal pilihan ganda. Bila targetnya kompetensi, mestinya evaluasi lebih banyak pada praktik atau soal uraian yang mampu mengukur seberapa besar pemahaman dan kompetensi siswa. Meski banyak sekolah yang menerapkan KKB, hasilnya tak memuaskan. Banyak guru yang tak paham betul apa sebenarnya kompetensi yang di inginkan oleh pembuat kurikulum.

KURIKULUM 2006 ATAU KTSP

Awal tahun 2006 uji coba KBK dihentikan digantikan KTSP. Sesuai namanya, kurikulum ini memberikan kebebasan kepada guru dan satuan pendidikan menyusun silabus dan RPP. Persoalannya, banyak guru kelimpungan menyusun silabus dan RPP yang terjadi berikutnya banyak guru yang mencontoh silabus dan RPP dari guru yang sudah melaksanakan KTSP. Bahkan tak jarang Musyawarah Guru Mata Pelajaran ( MGMP ) dan Kelompok Kerja Guru ( KKG ) sengaja menyeragamkan silabus pembelajaran.
Tujuan elok untuk memberikan kebebasan sekolah menyusun kurikulum sesuai kekhasan daerah masing – masing pun belum berhasil. Belakangan muncul banyak keluhan pembelajaran di sekolah terlampau banyak karena sekolah memasukkan banyak muatan lokal. siswa pun tak ubahnya di jejali banyak hafalan.

KURIKULUM 2013

Pengembangan Kurikulum 2013 merupakan langkah lanjutan Pengembangan Kurikulum Berbasis Kompetensi yang telah dirintis pada tahun 2004 dan KTSP 2006 yang mencakup kompetensi sikap, pengetahuan, dan keterampilan secara terpadu.
Penyempurnaan pola pikir kurikulum 2013
  •           Standar Kompetensi Lulusan diturunkan dari kebutuhan
  •       Standar Isi diturunkan dari Standar Kompetensi Lulusan melalui Kompetensi Inti yang bebas  mata pelajaran
  •           Semua mata pelajaran harus berkontribusi terhadap pembentukan sikap, keterampilan, dan pengetahuan,
  •           Mata pelajaran diturunkan dari kompetensi yang ingin dicapai
  •           Semua mata pelajaran diikat oleh kompetensi inti (tiap kelas)
  •       Struktur Kurikulum (Mata pelajaran dan alokasi waktu) (ISI)
SD:
     Holistik berbasis sains (alam, sosial, dan budaya)
     Jumlah mata pelajaran dari 10 menjadi 6
     Jumlah jam bertambah 4 JP/minggu akibat perubahan pendekatan pembelajaran

SMP:
     TIK menjadi media semua mata pelajaran
     Pengembangan diri terintegrasi pada setiap mata pelajaran dan ekstrakurikuler
     Jumlah mata pelajaran dari 12 menjadi 10
     Jumlah jam bertambah 6 JP/minggu akibat perubahan pendekatan pembelajaran

SMA:
     Perubahan sistem: ada mata pelajaran wajib dan ada mata pelajaran pilihan
     Terjadi pengurangan mata pelajaran yang harus diikuti siswa
     Jumlah jam bertambah 1 JP/minggu akibat perubahan pendekatan pembelajaran

SMK:
     Penambahan jenis keahlian  berdasarkan spektrum kebutuhan  (6 program keahlian, 40 bidang             keahlian, 121 kompetensi keahlian)
     Pengurangan adaptif dan normatif, penambahan produktif
     produktif disesuaikan dengan trend perkembangan di Industri

Sumber: 2013, BPSDMPK-PMP, Kementerian Pendidikan dan kebudayaan RI.
               2014, Materi Diklat Guru, Kurikulum 2013.

Catatan: - Tulisan ini merupakan hasil rangkuman dari beberapa sumber yang bisa digunakan         sebagai referensi anda dalam dunia pendidikan, khususnya berkaitan dengan perubahan kurikulum nasional.
-   Bukan hasil penelitian dan semoga menambah wawasan anda tentang kurikulum

                             Ilustrasi Perkembangan Kurikulum Nasional









Related Posts

No comments:

Post a Comment