Subscribe Here!

KISAH; Guru Bermodalkan Lima Ribu Rupiah Perhari, Dari Timur Indonesia

By On February 16, 2019

GURU BERMODALKAN LIMA RUPIAH PERHARI

Cerita ini fakta adanya!

Kisah kedua orang guru salah satu sekolah Menengah Atas di kabupaten Kupang, Nusa Tenggara Timur.
Singkat cerita, kedua orang guru honorer sudah mengabdi atau mengajar terhitung dari tahun 2011, hingga saat ini masih aktif sebagai pengajar di salah satu sekolah di kabupaten Kupang. Kami berdua dari tahun 2011 sampai 2017, gaji dibayar oleh dana komite atau sumbangan orang tua murid untuk membantu semua guru honorer yang ada di sekolah kami mengajar.

Jumlah murid di sekolah kami memang sangat banyak hampir 800 siswa. Setiap hari kami berdua menempuh perjalanan ke sekolah dengan jarak 39 km dari rumah tinggal. Jarak yang sangat jauh ini tidak mematahkan semangat kami berdua untuk selalu aktif mengajar setiap harinya. Setiap hari kami mengeluarkan uang sebesar 20 ribu rupiah untuk beli bensin kendaraan roda dua. Terkadang di saat tidak ada uang kami berdua hanya bisa isi bensin dengan modal sepuluh ribu perhari (pulang pergi).

Kami berdua dari tahun 2011 dibayar sesuai dengan jumlah jam mengajar diperkirakan pendapatan per bulan 650 ribu per orang bersumber dari dana komite atau dana sumbangan orang tua.
Kalau dihitung secara ekonomis memang banyak ruginya. Dengan hitungan perhari kami mengeluarkan uang sebesar 10 ribu × 25 hari, maka uang yang kami keluarkan per bulan untuk transportasi saja sebesar 250 ribu, belum kebutuhan di rumah kami masing-masing .

Semangat juang kami untuk mencerdaskan anak bangsa tidak pernah luntur, walau dibayar dengan upah yang tidak layak. Kalau dihitung upah minimum provinsi Nusa Tenggara Timur sebesar 1.890.000/bulan, maka gaji yang kami terima tidak sesuai.

Satu harapan , kelak nanti pemerintah melalui kementerian pendidikan Republik Indonesia memperhatikan nasib kami, agar bisa diangkat menjadi Pegawai Negeri Sipil seperti guru yang lainnya.
Pada tahun 2018 puji tuhan, gaji kami berdua beralih dibayar oleh Dana Bosnas sesuai regulasi dan petunjuk teknis pengelolaan dana bos di sekolah yaitu 15% dari total keseluruhan dari dana tersebut bisa digunakan untuk membayar gaji guru honorer. Pendapatan kami berdua sekitar 1.200.000/bulan.

Bukan hanya kami berdua yang dibayar oleh dana Bosnas, masih ada teman guru honorer lainnya. Penyaluran dana bos dibagi per triwulan, hingga triwulan satu tahun 2019 belum juga cair ke rekening sekolah. Kami berdua mengalami kendala dalam membiayai transportasi setiap hari ke sekolah. Sekarang kami berdua pakai satu motor saja ke sekolah untuk menghemat uang. Lagi-lagi semangat juang kami tidak pernah pudar walaupun ada kendala secara keuangan.

Hingga kini revisi Undang-Undang Aparatur Sipil Negara belum juga rampung dibahas oleh pihak legislatif, maka peluang kami juga untuk diangkat menjadi Aparatur Sipil Negara semakin kecil, bahkan tidak ada. Dengan adanya peraturan pemerintah No. 49 Tahun 2018 tentang pegawai pemerintah dengan perjanjian kerja (PPPK) membuka peluang guru honorer umur diatas 35 tahun bisa mendapat upah setara dengan ASN. Jaminan masa depan juga ada, walaupun dana pensiun tidak ada untuk guru yang diangkat melalui jabatan PPPK.

Kesimpulan dari tulisan ini, bahwa upah guru di indonesia masih memprihatinkan dibandingkan dengan negara tetangga seperti malaysia dan singapura. Kondisi tersebut semua dialami oleh guru yang berstatus guru honorer. Harapan penulis guru honorer di dimanapun berada tetap semangat dalam Mencerdaskan Anak bangsa dan terus menjadi inspirasi untuk anak-anak didik kita untuk mencapai generasi emas yang gemilang. SALAM DARIKU UNTUK PROFESI GURU YANG MULIA.

Guru Honorer, Pembina Pramuka


Next
« Prev Post
Previous
Next Post »