Media Berwawasan dan Berbudaya

Monday, 21 January 2019

Ketahuilah!, Momen-Momen Penting, Sejarah Bangsa Indonesia

| Monday, 21 January 2019
Momen-Momen Penting Sejarah Bangsa Indonesia 

Masa Kemerdekaan

1. Oktober 1928
Kongres Pemuda II di Jakarta melahirkan sumpah pemuda yang mengikrarkan satu Bangsa, Tanah Air, dan Bahasa Indonesia, yang merupakan dasar dari pembentukan identitas Nasional

2. 17 Agustus 1945
Soekarno dan Mohammad Hatta memproklamasikan kemerdekaan indonesia pada hari jumat, 17 Agustus, pukul 10 pagi di pegangsaan Timur (sekarang Jalan Proklamasi, Jakarta. 
Kabinet Pertama RI di bentuk hanya dua hari setelah proklamasi kemerdekaan. Ahmad Soebardjo menjadi menteri luar negeri pertama RI, 19 Agustus menjadi hari berdirinya Kementerian Luar Negeri RI


3. 1945, September 
Lapangan Gambir (Kini Lapangan Monas) menjadi ajang ribuan rakyat indonesia mendengar pidato Presiden Soekarno menyambut Proklamasi Kemerdekaan RI

4. 1946, April
Indonesia mengirimkan misi diplomatik pertamanya ke Belanda untuk berunding dengan sepihak sekutu dan belanda

5. 1946, Agustus
Diplomasi bantuan beras indonesia untuk rakyat india yang sedang dilanda bencana kelaparan. Pemerintah India membalas dengan mengirim obat-obatan, pakaian dan mesin yang dibutuhkan Indonesia

6. 1947
"Indonesia Office" atau kantor urusan Indonesia didirikan di Singapura, Bangkok, dan New Delhi untuk menjadi perwakilan resmi Pemerintah RI, sekaligus menembus blokade ekonomi Belanda terhadap indonesia

7. 1947, Maret
Indonesia dan Belanda Menandatangani Perjanjian linggarjati, dimana pihak belanda mengakui Kedaulatan RI hanya sebatas Jawa, Sumatra dan Madura. Pemerintah mesir yang diwakili oleh abdul Mounem menyampaikan pengakuan resminya terhadap kemerdekaan Indonesia

8. 1947, Oktober
Kedatangan Komisi Tiga Negara (Kommittee of Good Offices) ke Indonesia, mengemban mandat Dewan Keamanan PBB untuk mengatasi sengketa Indonesia-Belanda. Para anggota Komisi adalah Hakim Richard C. Kirby (australia), Mantan perdana menteri Paul Van Zealand (Belgia), dan Rektor University Of North Carolina Dr. Frank B. Graham (As)

9. 1948
Murti Agung Haji Amin El Husni Berkunjung ke Indonesia untuk menyampaikan dukungan dan simpati rakyat Palestina atas perjuangan kemerdekaan Indonesia

10. 1948, Januari
Perjanjian Gencatan senjata Indonesia-belanda ditandatangani diatas kapal USS Reinville. Mewakili pihak indonesia adalah perdana Menteri Amir Sjarifuddin. Perjanjian Reinville meru pakan hasil kerja Komisi Tiga Negara ( KTN)

11. 1948, September
Wakil Presiden merangkap Perdana Menteri RI Mohammad Hatta menyampaikan prinsip-prinsip kebijakan luar Negeri RI yang bebas dan aktif dihadapan sidang Badan Pekerja Komite Nasional Indonesia Pusat ( KNIP)

12. 1948
Untuk menembus blokade ekonomi Belanda, Menteri  Kemakmuran RI Dr. A.K. Gani berangkat dalam sebuah misi diplomatik  ke kuba untuk mengembangkan hubungan peradangan dengan negara-negara Amerika Latin. Pada tahun yang sama, Indonesia menandatangani kontrak dagang dengan pengusaha AS dan membina hubungan dengan Bank Dunia

13. 1948, Desember 
Belanda mengelar agresi militer untuk kedua kalinya terhadap indonesia. Presiden Soekarno, Wapres Moh. Hatta dan Menteri Luar Negeri Agus Salim ditangkap Belanda di Ibukota Yogyakarta dan kemudian diasingkan Ke Pulau Bangka, Sumatra

Sidang Kabinet Darurat RI kemudian menunjuk Menteri Kemakmuran Syafrudin Prawiranegara agar membentuk pemerintah Darurat Republik Indonesia (PDRI). A.A. Maramis yang saat itu sedang berada di New Delhi Menjadi Menteri Luar Negeri PDRI

14. 1949, Januari
Dewan Keamanan PPB mengeluarkan resolusi agar Belanda dan Indonesia segera menghentikan aktifitas militer. Belanda diminta DK PBB untuk segera melepaskan semua tahanan politik yang ditahan sejak awal militer II, Untuk membantu yang sedang diserang Belanda India dengan dukungan Birma menyelengarakan Konferensi Asia mengenai Indonesia di New Delhi. Konferensi dipimpin lansung Oleh PM Indika Jawaharlal Nehru. Semua delegasi yang hadir saat itu mulai dari negara-negara asia hingga Australia dan Selandia Baru dari pasifik, mengutuk  Agresi Militer II Belanda.

Pemerintah Birma (Kini Myanmar) memberikan dukungan bagi perjuangan Indonesia melawan Belanda dengan mengizinkan pesawat "Indonesia Airways" Dakota RI-001 Seulawah untuk beroperasi di Birma pesawat Seulawah adalah  hadiah dari rakyat aceh kepada Presiden Soekarno.
Selain itu, Birma juga memberikan bantuan peralatan radio yang memungkinkan Indonesia membangun jaringan komunikasi radio antara pusat pemerintahan RI di Jawa-PDRI di Sumatra-perwakilan RI di Rangoon-Perutusan RI untuk PBB di New York.

15. 1949, Juli
Konferensi Inter-Indonesia diselenggarakan diantara "negara-negara federal" di Hindia Belanda seperti Jawa Tengah, Bangka, Belitung, Riau, Kalimatan Barat, Dayak Besar. Konferensi Tersebut negara-negara tersebut mendukung penyerahan tampa syarat kedaulatan mereka kepada Republik Indonesia.

16. 1949, Desember
Persetujuan Meja Bundar ditandatangani di Den Haag, mengakhiri konflik diantara negara indonesia dan Belanda.
Pada hari yang sama, 27 Desember 1949, wakil kerajaan Belanda menyerahkan kekuasaan formal kepada Pemerintah Republik Serikat (Ris) di Jakarta, yang diwakili oleh Sri Sultan Hamengku Buwono IX selaku Penjabat Perdana Menteri RIS.
Presiden RIS Soekarno kemudian membentuk kabinet pertamanya, Perdana Menteri merangkap Menteri Luar Negeri RIS adalah Mohammad Hatta.

Amerika Serikat (As) menjadi Negara pertama yang membuka perwakilan diplomatik di Jakarta setelah penyerahan Kedaulatan Belanda Kepada RIS, hanya tiga hari Konferensi Meja Bundar di Den  Haag. Media Bocoran menjadi Duta Besar Pertama AS untuk Indonesia. Langkah AS itu, kemudian di susul oleh Inggris, Belanda dan China.


MASA AWAL KIPRAH DIPLOMASI INDONSEIA

1. 1950
Dalam kunjungan ke Pakistan Presiden Soekarno bertemu dan menyampaikan penghargaan kepada prajurit Pakistan yang berjuang di pihak Indonesia di masa revolusi melawan Belanda

2. 1950, Agustus
Indonesia kembali dipulihkan sebagai Negara Kesatuan Republik Indonesia

3. 1950, September
Indonesia secara resmi diterima menjadi anggota Ke 60 Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB)

4. 1950, Desember
Perundingan antara Indonesia dan Belanda mengenai masalah Irian Barat. Delegasi RI di Pimpin oleh Mohammad Roem. Dalam Perundingan tersebut, Belanda menolak menyerahkan Irian Barat Kepada Indonesia

5. 1955
PM Republik Rakyat China Chou En-Lai dan Menlu RI Soekarno menandatangani Perjuangan Dua Kewarganegaraan di Jakarta. Dia berada di Indonesia dalam rangka menghadiri Konferensi Asia-Afrika.

6. 1955, April
Konferensi Asia-Afrika (KAA) diselenggarakan di Bandung, tanggal 18-24 April. Sebanyak 29 Negara dari kedua Benua menghadiri Konferensi Tersebut, termasuk 5 Negara penggagas KAA Burma, India, Indonesia, Pakistan, dan Sri lanka. KAA merupakan konferensi pertama yang diadakan oleh Negara-Negara bekas Jajahan di Asia dan Afrika setelah perang Dunia II.

KAA 1955 menandai kebangkitan bangsa-bangsa terjajah, dengan disepakati Dasa Sila Bandung yang menegaskan hubungan antara bangsa berdasarkan asas Kemerdekaan dan Keadilan.

7. 1956
Indonesia untuk pertama kalinya mengirimkan pasukan Kontingen Garuda dalam misi penjaga perdamaian PBB di Gurun Sinai, Timur Tengah

8. 1956, Mei
Presiden Soekarno menandatangani Undang-undang No. 13 Tahun 1956 mengenai pembatalan sepihak Ini Indonesia-belanda, karena sikap tidak bersahabat Belanda dan Penolakannya untuk menyerahkannya kembali Irian Barat Kepada Indonesia. 
Pada tahun yang sama, Prisiden Soekarno berkeliling ke negara-negara AS, china, Ini Soviet, dan Yugoslavia untuk mendapatkan dukungan bagi perjuangan merebut kembali Irian Barat

9. 1958, Januari
Lalu Rossa dilantik menjadi Duta Besar RI untuk Belgia dan Luksemburg. Beliau adalah duta besar perempuan pertama Indonesia

10. 1959
Laila Rossa dilantik menjadi Duta Besar RI untuk Belgia dan Luksemburg. Beliau adalah duta besar perempuan pertama Indonesia

11. 1960, Agustus
Pada tanggal 17 Agustus, Indonesia menyatakan memutuskan hubungan diplomatik dengan belanda dan melakukan persiapan militer untuk membebaskan Irian Barat. Untuk menindaklanjuti hal tersebut berbagia misi untuk mendapatkan bantuan persenjataan dikirim antara lain ke China, Uni Soviet, dan Yugoslavia

12. 1960, September
Presiden Soekarno di hadapan Sidang Majelis Umum PBB ke-15 menyampaikan pidatonya yang berjudul "Membangun Dunia Baru" (To Build the world Anew)
Dalam pidato tersebut,Presiden Soekarno menyerukan" Kekuatan Dunia Baru " ( New Emerging Forces, NEFOS) untuk bangkit menuju tatanan dunia yang lebih adil dan seimbang, melampaui dominasi Negara besar di dunia yang secara ideologis terbagi ke dalam Blok Barat dan Blok Timur.

Untuk mewujudkan hal tersebut, Indonesia bertemu dengan para kepala pemerintahan Ghana, India, Mesir dan Yugoslavia guna mempersiapkan penyelenggaraan Konferensi Tingkat Tinggi Gerakan Non-Blok 1 di Beograd, Yugoslavia pada tahun 1961.

Bersambung....nantikan tulisan  selanjutkan.

Penting diperhatikan bahwa, tulisan ini merupakan salah satu bukti kecintaan kita untuk mengali kembali sejarah perjuangan Negara Republik Indonesia.


Related Posts

No comments:

Post a Comment