Friday, 28 December 2018

Mengucapkan Selamat Hari Raya Keagamaan " Merupakan Ikthiar Mengamalkan Kasih Dalam Rumah Kebehinekaaan

IKTHIAR MENGAMALKAN KASIH DALAM RUMAH KEBEHINEKAAN 
OLEH: Niko Taman, S.Pd

Bangsa Indonesia yang terdiri dari beranekaragaman suku, ras, agama dan kepercayaan sesungguhnya adalah gambaran keagungan rancangan Sang Pencipta. Di indonesia Allah mau mengartikan kepada umat manusia bagaimana kasih yang merupakan universal dapat dilahirkan dalam keberagaman, sebab manusia secara kodrati di ciptakan dalam aneka dimensi perbedaan baik secara personal maupun secara sosial.
Kemajemukan bangsa indonesia adalah sebuah tempat yang pas bagi setiap insan yang mengaku diri beriman dan beragama untuk mengamalkan kasih melampaui segala sekat sosial. Di indonesia orang beragama di tantang untuk berikhtiar mencari arti kasih sejati yang diwujudkan dalam tindakan kasih kepada semua orang tampa pandang bulu. Bagi yang telah menemukan keindahan mutiara kasih itu sendiri, dia akan menimba terang dan kekuatan untuk membagikan kepada sesama bahkan musuh sekalipun.

Kebehinekaaan akan menjaga keharmonisan sosial, jika dipandang sebagai halangan untuk membatasi ungkapan kasih bagi sesama. Kasih serentak akan kehilangan kesejatian jika di ungkapkan hanya kepada mereka yang secara sosial merupakan satu anggota kelompok, golongan yang sama baik dari segi suku, ras, agama, kepercayaan maupun kultur, karena kasih sesungguhnya adalah terang yang melampaui aneka ruang sosial. Bukankah dalam Kebehinekaaan komitmen amal kasih orang beriman dapat teruji?.

Merujuk pada fakta historis, Kebehinekaaan sesungguhnya bukanlah buah konsep baru para founding father, tetapi sebuah fakta secara yang secara empiris telah ada di bumi nusantara jauh sebelum para pendiri bangsa merumuskan dasar negara dan moto Kebehinekaaan Tunggal Ika sebagai payung untuk menaungi Kebehinekaaan di bumi pertiwi. Karena secara empiris Kebehinekaaan telah lahir dan ada bersama bangsa indonesia sebelum negara terbentuk, atau dapat di katakan bahwa Kebehinekaaan adalah sebuah takdir yang merupakan rancangan terbaik Allah bahwa indonesia sebuah bangsa besar dengan karunia istimewa dimana umat beragama ditantang untuk selalu berikhtiar mewujudkan kasih melampaui sekat-sekat perbedaan sosial.

Meskipun realita Kebehinekaaan lahir dari dalam lahir bunda pertiwi, tetapi dalam perjalanannya selalu dihadapkan dengan berbagai tantangan misalnya nadanya hasrat egois dari kelompok tertentu untuk bersikap intoleransi terhadap fakta Kebehinekaaan terutama yang berkaitan dengan agama dan kepercayaan. Tidak jarang ditemukan sikap intoleransi yang berlandaskan sejumlah argumen dari kelompok mayoritas yang merugikan kelompok minoritas. Misalnya minta ijin pembangunan rumah ibadah dari kaum minoritas kepada mayoritas dengan alasan tertentu, acapkali menodai panorama kebehenikaan dalam menjalankan kebebasan beragam di indonesia. Pada hal saling bertoleransi terhadap kebebasan beragama dan kepercayaan merupakan bagian dari tantangan dalam ikhtiar mengenalkan kasih
Masih banyak contoh sikap intoleransi yang dapat di deretan disini, namun tulisan ini tidak bermaksud mempublikasikan data tentang jenis-jenis perilaku intoleransi di negara ini, tetapi sekedar menyampaikan sebuah tesis bahwa fakta Kebehinekaaan agama dan kepercayaan di indonesia merupakan sebuah tantangan yang secara teologis dapat dimaknai sebagai anugrah bagi bangsa ini untuk berikhtiar memperjuangkan perwujudan nilai kasih dalam keberagaman.

Kasih akan mendapatkan maknanya dalam sikap toleransi ketika hal itu secara konsisten kita tunjukan pda mereka yang berbeda agama dan kepercayaan dengan kita. Kesejatian kasih akan mereduksi jika terang kasih melalui sikap toleransi hanya dapat kita terapkan sesama umat beragama atau satu aliran keyakinan dengan kita. Jika demikian kita sebenarnya tidak berbeda dengan karakter penjahat yang hanya mampu mengasihi dirinya sendiri serta sesama yang sepaham dengannya bahkan sebaliknya menjadi musuh bagi kelompok yang tidak sepaham dan tidak layak dikasihani.

Kasih adalah fondasi setiap sistem ajaran beragama, sebuah agama yang menyuarakan pesan moral tampa berlandaskan kasih adalah sebuah kemunafikan yang bertopang pada agama. Kasih yang dapat kita wujudkan dalam berbagai bentuk dan cara sikap toleransi terhadap perbedaan agama dan kepercayaan. Hal tersebut hendaknya menjadi komitmen religius diri mereka sendiri menyakini sebagai orang beriman.

Saling bersikap toleransi sebagai ikthiar amal kasih dalam kebehinekaan dapat kita terjemahkan dalam berbagai tindakan sederhana. Misalnya mengucapkan selamat kepada umat beragama lain yang sedang merayakan hari raya tertentu. Ucapan sederhana ini, tetapi sangat membantu keharmonisan sosial anatara umat beragama. Ucapan selamat yang penuh ketulusan adalah ungkapan kasih yang dapat kita tunjukan kepada sesama anak bangsa yang sama-sama bernaung di bawah payung kebehineka Tunggak Ika.

Penulis tidak bermkasud untuki mempersoalkan ajaran agama tertentu, yang melarang mengucapkan salam kepada umat beragama lain yang sedang merayakan hari besar Keagamaan, akan tetapi ingin menegaskan tesis tesis tulisan bahwa memberikan ucapan selamat merupakan bagian dari ikthiar/usaha mengamalkan kasih dalam bingkai kemerdekaan. Bukankah semua orang beragama dipanggil untuk membagi kasih bagi sesama lewat ucapan dan tindakannya?

Menyadari keberadaan kita sebagai bangsa yang majemuk, sudah menjadi tanggung jawab  bersama semua umat beragama di indonesia untuk terus berikthiar merawat bangunan kebehinekaan melalui sikap toleransi. Toleransi terhadap keanekaragaman agama dan kepercayaan adalah bentuk ungkapan kasih kita secara total terhadap sesama sebab dalam toleransi kita di tantang untuk tidak hanya menghormati  dan mengasihi untuk saudara seiman tetapi juga dengan umat beragama dan kepercayaan lainnya. Dalam pengertian inilah toleransi dapat menjadi tempat semua orang beragama menemukan kasih yang melampaui berbagai sekad sosial. SALAM DEMOKRASI

Penulis 






EmoticonEmoticon