Media Berwawasan dan Berbudaya


Tuesday, 27 November 2018

Koepang Pada Masa Portugis dan V.O.C

| Tuesday, 27 November 2018
Kepulauan indonesia yang luas dan tanahnya subur dalam menghasilkan berbagai tanaman kosumsi dan tanaman-tanaman perdagangan khas yang tidak atau jarang ditemukan di belahan bumi lainnya. Kondisi alam demi mengundang, bangsa barat berlomba mencari hasi-hasil bumi di indonesia, dengan cara menguasai jalur perdagangan melalui strategi yang terselubung membentuk daerah-daerah koloni yang dapat memperkuat posisinya.

Kita mengenal, misalnya maluku, menghasilkan rempah-rempah. Wilayah Nusa Tenggara Timur khususnya pulau Timor, Sumba dan solor dikenal penghasil cendana, damar, dan lilin/madu. Sehingga sejak abad ke-12 dan sebelumnya telah berlangsung perdagangan lintas daerah tidak saja dengan pihak kediri di jawa, tetapi saudagar China, Arab, Gujarab/India yang datang ke Timor (koepang) dari pusat perdagangan Asia Tenggara Yang bermarkas di Malaka.

Rupanya dendam Timor menjadi Primadona Bangsa Eropa, karena harum ( wangi) dapat di olah menjadi minyak wangi, asesoris dan peralatan berharga bagi raja-raja dan pembesar Eropa. Cendana sebagai komoditi yang mahal dan laris mengunyah para pedagang portugis mencari sumber daerah penghasil cendana.
Setelah malaka jatuh dan di kuasai oleh Portugis tahun 1511, para saudagar portugis ingin mendatangi langsung daerah penghasil cendana. Salah satu sumber informasi penguasa portugis di peroleh dari pedagang china dan pedang indonesia yang berhasil ditangkap dan dipikat di pusat niaga di Malaka. Melalui sumber informasi tadi, pihak portugis secara aktif mulai mengirim ekspedisi-ekspedisi ke solor, sumba dan timor untuk melakukan transaksi perdagangan, dengan menyertakan para padri dari ordo Dominicus untuk melakukan misinya. Sejarah mencatat bahwa Bangsa-bangsa tertua yang dikenal paling awal tiba di NTT (Pulau Timor) adalah orang-orang Portugis.

Ferdinand Magelhaens, seorang pelaut portugis pada tahun 1518 memimpin sebuah armada mengelilingi dunia, mulai dari spanyol melintasi Selat Amerika Latin, Kemudian mengarungi samudra Pasifik.
Tahun 1521, Ferdinand Magelhaens dan armadanya tiba di kepulauan Philipina. Setibanya disalah satu pulau armadanya berhadapan dengan suku setempat. Terjadi pertempuran berakibat Magelhaens mati terbunuh tanggal 27 september 1521 di pulau Maktan.
Rombongan anak buah Magelhaens yang terkenal dengan nama PIGAFETTA, Bersama armadanya melanjutkan pelayaran menyinggahi kalimatan utara, Halmahera, Alor dan Timor ( Batu Gede, Timor Leste, dan Koepang), Kemudian kembali ke spanyol melalui selat Pukuafu, Samudra Indonesia dan Tanjung Pengharapan ( Kupang dari masa ke masa 1997:4-5).
Kesempatan menyinggahi Timor, Pigaffeta yang dibantu seorang pelaut indonesia sebagai penerjemah, Pigaffeta  banyak mencatat kondisi alam dan penduduknya, serta potensi hasil bumi wilayah yang disinggahi. Catatan-catatan Pigaffeta, sebagai dokumen penting bagi penguasa portugis melancarkan ekspedisi nya secara periodik.
Empat orang misionaris portugis, masing-masing P. Antonio da Crus O.P; P. SIMAO, Chagos dan B. Alexio pada tahun 1561 tiba di solor, ternyata sebelumnya telah ada orang-orang Portugis. Maka didirikan gereja dan rumah yang di pagari. Beberapa tahun kemudian mereka diserang oleh armada dari jawa yang berusaha mengusir portugis. Pada waktu itu sebuah kapal portugis dari Larantuka yang datang sehingga kedudukan portugis bisa diatasi.

Dengan pengalaman itu, maka portugis berusaha membangun benteng yang dipelopori P. Antonio da Crus. Akhirnya pada tahun 1566 Benteng Lahayong di solor mulai dibangun. Benteng Lahayong oleh belanda menamakanya Benteng Fort Hendrikus (Sejarah Daerah NTT, 1984:42-43).
Dibangunnya benteng Lahayong, belanda merasa kuatir kalau portugis lebih jauh menanamkan kekuasaannya di wilayah yang ternyata dikenal sebagai salah satu pusat penghasil peradangan Cendana.
Apolonius scotte, atas nama De Saat Vandei memimpin 3 buah kapal menyerang solor, tanggal 21 april 1613. Penyerangan itu berakibat benteng Lahayong Jatuh dan dikuasai kompeni Belanda. Ketika itu portugis lari ke timor. Atas keberhasilan ini Kompeni Belanda menempatkan pusat gerakannya meliputi  (termasuk) Timor bermarkas di benteng Lahayong yang diberi nama Benteng Hendrikus.

Berselang tiga tahun portugis berupaya memperkuat armada penyerangan sehingga pada tahun 1616 Benteng Lahayong direbut kembali. Kondisi ini mulai mempertajamkan pertentangan politik antara Kompeni dengan portugis.

1. Kontrak Jasinto Dengan Raja Koepang (helong)
Pater Antonio de Sau Jacinto, sebelum bertugas di rote, karena menghadapi tantangan yang berat dia dia berpindah ke kupang. Untuk mengembangkan misinya, pada tahun 1940, berhasil menjalin kerjasama yang baik dengan raja Koepang  (Raja Helong) yang dibaptis dengan nama Don Duarte, sedangakan permaisurinya dibaptis dengan nama Dona maria.

Kerjasama yang baik ini melahirkan kontrak tanggal 29 Desember 1645 dengan Raja Koepang (Helong), isi kontraknya: "Jasinto Boleh mendirikan sebuah gereja dan sebuah Benteng, dan kapal-kapal Bangsa lain tidak diperbolehkan memasuki pelabuhan Koepang" ( Koepang dari masa ke masa, 1997:9)

Siapa sebernarnya, nama asli raja koepang (Raja Helong) sebelum dibaptis. Dalam buku Kupang dari masa ke masa tidak disebutkan. Menurut penulis pada masa itu, terdapat dua periode raja setelah raja Koen Bissi (Koen Am Tun) yakni Raja Manas Bissi, setelah Manas Bissi kekuasaan raja diserahkan kepada Susang Bissi. Kemungkinan yang dibaptis adalah Raja Manas  Bissi (1640) karena Raja Susang Bissi dibaptis tahun 1650 dengan nama Salomo. Dengan Baptisan nama salomo adalah dipastikan Nama Kristen Prosestan yang diberikan oleh Belanda, Sedangkan Baptis Don Duarte dan Dona Maria adalah nama baptisan Khatolik yang diberikan oleh Portugis.

2. Pater Jacinto Ingin Teluk Babak Dijadikan Pelabuhan

Pater Antonio de Sao Jacinto, dengan pengalaman misinya dibeberapa daerah pedalaman mulai berpikir untuk kepentingan portugis, dia mengharapkan teluk Babau lebih cocok dijadikan pelabuhan sehingga tempat ini perlu ditutup bagi orang belanda. Dari sisi lain penguasa portugis juga menyadari bahwa ujung barat pulau Timor perlu ditutup bagi orang belanda dengan cara menduduki Koepang. Untuk itu pihak portugis mengirim Kapten Jenderal Joao Caleca Tenriroa dengan armadanya menduduki Koepang. Setibanya di Koepang bukan februari 1646 Pater Jacinto telah selesai membangun Benteng (ibid:10).

Kompeni Belanda sebelumnya mengadakan pelayaran perdagangan ke Koepang berturut-turut 1632, 1634, 1637. Menurut penilaian Kompeni Belanda, Koepang  cukup strategis dapat dijadikan sebagai pusat pengangkutan kayu cendana yang dihimpun dari pantai-pantai di luar Koepang. Selain itu untuk kebutuhan air minum untuk kapal-kapal dapat diatasi. 

Rupanya berita tentang Benteng yang dibangun Peter Antonio de Sao Jacinto dan kehadiran Armada Portugis menduduki Koepang, sempat terpantau Kompeni Belanda yang terpusat di Batavia. Pihak belanda mengutus mayor William Van der Baek Ke Koepang untuk memantau, disusul kemudian Capai Johan Burger. Dari pengamatan Johan Burger terhadap pendudukan portugis dikatakannya sebagai suatu pelanggaran perjanjian gencatan senjata antara Portugis dan Belanda yang telah diumumkan bulan November 1644. Hal ini mendorong Belanda mengambil sikap merebut Koepang dari kekuasaan Portugis.

3. Persekutuan Usaha Dangang V.O.C

Kehadiran bangsa portugis dan bangsa belanda di indonesia, khususnya di Timor (koepang), solor, dan pulau-pulau lain, pada awalnya adalah para pedangang yang berlomba mencari dan membeli hasil bumi terutama kayu cendana, disamping lilin, damar lola, dan lain-lain. Kemudian berangsur-angsur campur tanggan pemerintahanya untuk memperkuat usaha dangang.

Persaingan anatara kedua bangsa barat, masing-masing menggunakan taktik dan strategi dagang yang harus merangkul raja-raja atau pemimpin adat setempat dengan cara memberikan hadiah, gelar kehormatan, yang dibungkus rapi dengan penyebaran agama. Makin hari terjadi persaingan yang tajam, sehingga mulai menerapkan politik adu domba memecah belah (divide et impera), baik antara komunitas pribumi yang satu dengan yang lain, terutama raja-raja setempat dengan tujuan menanamkan kekuasaan.

4. Membangun Benteng Fort Concordia

Persekutuan dagang kompeni yang didirikan pada tahun 1602 di Batavia bernama Vereniggde Oost Indische Compagnie di singkat V.O.C, berupaya keras menyaingi taktik dangang Portugis. Musuh utama kompeni Belanda dengan pihak portugis sejak penyerbuan benteng lahayong di solor, terulang lagi.

Alasan kompeni belanda, selain tersebut diatas tujuannya, memindahkan pusat kekuasaan belanda dari solor ke Koepang, karena posisi koepang lebih efektif melancarkan saingan dagang dengan portugis dan mudah merangkul raja-raja setempat.

Penyerbuan benteng yang ternyata sebuah rumah tinggal yang dihuni para pedagang dan misionaris portugis, dengan pagar keliling menggunakan kayu-kayu yang di runcing, tidak terjadi pertempuran dengan senjata, karena benteng kosong ditinggalkan penghuninya. Konon para saudagar portugis penghuni benteng terjadi selisih paham dengan misionaris, sehingga semuanya pergi sebelum penyerbuan belanda.

Sebelum pihak portugis mendapat sebidang tanah dari raja koepang (helong) untuk membangun benteng belanda lebih dahulu mendapat persetujuan raja koepang tahun 1613, pada saat Appolonius Scotte datang di koepang.Namun pihak belanda di koepang belum mendapat persetujuan dari petinggi Belanda di Batavia untuk memanfaatkan tanah tersebut.

Ketika situasinya dipicu oleh kehadiran portugis membangun dan menduduki benteng di koepang, pihak belanda bereaksi merebut benteng tersebut.

Atas usaha Captain Johan Burger, bekas benteng Portugis dibangun kembali tahun 1653, dan selesai tahun 1657, yang diberi nama Benteng " Fort Concordia". Kemudian benteng dihuni para pentinggi V.O.C dan sejumlah Opsir Belanda. Pada saat itu raja harus pindah keluar dari lokasi benteng dan bermukim di Otan. Dimaksud kampung otan saat ini dikenal Namosain.

Dengan berfungsinya benteng Fort Concordia sebagai pusat perdagangan dan politik, maka pada tahun 1656, belanda mengirim Arnold de Flamingo K timor dengan pasukanya menghadapi portugis dan memperluas ekspedisinya ke amarasi, akan teteapi gagal menghadapi Amarasi. Kekuatan raja-araja dipersempit dengan pemberian hadiah dan segar penghargaan. Dengan cara demikian raja-raja terpengrangkap dalam jaringan, sehingga terpaksa mengakui belanda sebagai tuan yang patut dihormati dan ditaati kemaunya (sejarah daerah NTT-1984:43).

Tidak lanjutnya V.O.C memanfaatkan kesempatan yang ada membuat perjanjian dagang dan politik dengan raja-raja. Mulai tahun1661 dan tahun 1681 V.O.C mendapat bantuan dari sekutunya yaitu Raja Koepang (Helong), Amaabi dan Sonbai. Sedangkan mulai tahun 1690-1691 V.O.C mengikat perjanjian dengan  beberapa desa di rote, kemudian tanggal 9 oktober 1700 mengikat perjanjian denagn beberapa raja di rote (Yakob. Y. Detaq-1972:17).***
Sumber:Buku Koepang Tempo Doeloe, (153-156).

Repro: Kupang dari masa ke masa


Related Posts

No comments:

Post a Comment