WARTALOHA.COM

Media Berwawasan dan Berbudaya


Wednesday, 11 September 2019

Puisi: " Terimakasih UntukMu Ayah"

Puisi: " Terimakasih UntukMu Ayah"

"Terimakasih Untukmu Ayah"

Oleh: Fian Jeadun

Disaat muda,
badanmu berdiri tegak, seakan-akan kamulah manusia paling super yang pernah ada di dunia ini,
Tegak langkah mu, bagaikan seorang manusia super yang penuh dengan semangat,

Setiap kata yang keluar dari mulut mu, sungguh penuh makna, yang mungkin tidak pernah KU tau apa artinya,
Senyuman dan pelukan hangat seakan-akan hidupmu tidak pernah kekurangan apapun.

Semangat membara meraih rejeki untuk kami anak-anak mu,
Namun waktu semakin berjalan terus....badan mu dulunya tegak, hingga kini sudah tidak lagi sepeti dulu,
Namun semangat mu tidak pernah pudar,
Tegak langkah mu kini semakin melambat..bagaikan perahu yang mungkin harus diperbaiki lagi..
Kami tau.....bertapa besar pengorbanmu untuk anak-anak mu.

Ayah....Aku bangga Padamu...
Ayah jasamu tidak pernah tergantikan dengan apapun..
Kata-katamu yang penuh dengan makna..kini aku tau artinya....
Tegak langkah mu....kini juga aku tau rasanya...
Senyuman hangat mu....kini juga aku tau maksudnya..

Aku Pun Tau....semua yang ayah berikan untuk ku...tidak bisa aku balas dengan apapun....hanya sepenggal Doa dan kata-kata yang bisa ku ucapkan.....Terimakasih Untukmu Ayah......Semoga Panjang Umur dan sehat selalu...❤❤❤


Agustinus Dola
Tokoh Desa Loha.

Saturday, 7 September 2019

 Cara Cepat Latihan Pramuka Untuk Anak Disabilitas (Rungu wicara)

Cara Cepat Latihan Pramuka Untuk Anak Disabilitas (Rungu wicara)

Salam Pramuka Kakak-Kakak Pembina Pramuka dimanapun Anda berada!!

" Satyaku Ku Darmakan Darmaku Ku Baktikan"

Sebelum saya membahas bagaimana cara cepat melatih pramuka anak disabilitas, saya juga ingin menceritakan pengalaman melatih dan membina anggota pramuka khusus anak disabilitas (Tunarungu dan Tunawicara). Singkat cerita, awalnya saya diminta melatih pramuka di Balai Rehabilitas Sosial Penyandang Disabilitas Sensorik Rungu Wicara "Efata" Kupang Tahun 2019, pada saat itu saya sempat berpikir menolak tawaran tersebut, tetapi setelah berpikir, berdiam sejenak, pada akhirnya saya bersedia untuk menerima tawaran itu.

Tanpa berpikir panjang, saya langsung melatih mereka sesuai dengan metode dan teknik kepramukaan dan sesuai dengan pengalaman saya. Apa yang terjadi?, Saat melatih pada minggu pertama hampir-hampir saya kehilangan cara, beruntung pada saat latihan ada yang penerjemah bahasa isyarat yang bisa berkomunikasi dengan anggota pramuka disabilitas tersebut.

Pembina dan Anggota Pramuka "Rungu Wicara" Efata Naibonat Kupang

Dari permasalahan diatas, saya ingin berbagi tips awal dan cara cepat sebelum kakak-kakak pembina melatih dan membina anak disabilitas khusus Tunarungu dan tunawicara yaitu:

1. Percaya diri

Percaya diri sangat menentukan keberhasilan dan langkah awal anda dalam melakukan sesuatu. Percaya pada kemampuan anda di bidang kepramukaan. Tuangkan pengalaman anda dalam melatih, agar tidak kehilangan cara, oleh karena latihan pramuka dengan anak disabilitas berbeda jauh dengan latihan pramuka anak normal. Anak disabilitas membutuh sentuhan dan cara yang unik agar tidak kehilangan gairah mereka dalam berlatih. Saat bersamaan juga anda harus ramah dengan situasi yang dihadapi dalam berlatih. Tunjukan sikap anda kepada mereka, bahwa anda memiliki kemampuan dalam berlatih pramuka, sehingga dampaknya anak-anak disabilitas bergairah dan ramah dengan mereka.

2. Pelajari bahasa isyarat

Pelajari bahasa isyarat, seperti selamat pagi, selamat siang, salam pramuka dan bahasa isyarat (A- Z) dan lainnya. Memahami bahasa isyarat sangat menentukan apakah anda bisa berkomunikasi dengan anak disabilitas. Semua gerakan dan materi latihan pramuka disampaikan lewat bahasa isyarat. Sangat  fatal kalau kakak-kakak pembina tidak memahami bahasa isyarat tersebut. Minimal beberapa bahasa isyarat yang anda kuasai.

Latihan Semaphore Anggota Pramuka Rungu Wicara Efata Naibonat Kupang

Bahasa Isyarat A-z

2. Perbanyakkan game atau sejenis permainan yang menarik dan merangsang sensorik

Latihan pramuka untuk anak-anak disabilitas, perbanyakkan game yang bisa merangsang sensorik dan motorik mereka. Game atau permainan pilih sesuai dengan kondisi anak disabilitas. Misalnya game kucing mengejar tikus, game lompat vampir dan game lainya. Pelajari literatur atau game-game di youtube untuk mempermudah dan kalau tidak sesuai, anda mungkin bisa modifikasi game tersebut sesuai dengan anak disabilitas. Hindari materi-materi pramuka kaku. Saya yakin anda memiliki cara sendiri. Manfaatkan waktu istirahat untuk latihan gerakan pramuka.

4. Materi Latihan Pramuka

Materi latihan pramuka harus dimulai dengan sesederhana mungkin, perlahan tetapi pasti. Anda harus bisa membuat program latihan mingguan, bulanan, dan akhir tahun. Gunakan video dalam latihan untuk mempercepat anggota pramuka memahami materi yang anda berikan. Materi latihan seperti semaphore, PBB Tongkat, Pionering, Kompas, Kode morse. Materi tersebut sangat perlu didiskusikan dengan penerjemah di tempat anda. Supaya anggota pramuka memahami materi yang anda latih.

5.  Alat pramuka

Siapkan alat pramuka, dalam latihan tentunya membutuhkan alat yang bisa digunakan, sehingga mereka bisa memahami secara cepat materi yang dipelajari. Kerjasama dengan pihak terkait untuk mempersiapkannya. Anda juga bisa memodifikasi alat-alat latihan.


Latihan Membuat Tandu 

6. Evaluasi

Evaluasi latihan minimal satu bulan sekali, tujuannya untuk mengetahui sejauh mana penguasaan materi yang telah anda latih. Contoh melakukan ujian syarat kecakapan umum (SKU) dan Syarat kecakapan Khusus. Dalam melakukan evaluasi harus mempertimbangkan hasil pengamatan selama proses latihan. Hasil evaluasi, anak-anak disabilitas yang berprestasi diberikan penghargaan khusus, sehingga memotivasi mereka dalam latihan.

Sistematika latihan pramuka untuk anak-anak disabilitas adalah:

1. Pendahuluan
- Berdoa
- Sapa, contohnya selamat pagi
- Menjelaskan secara singkat atau  gambaran materi latihan
- Absen atau mengecek kehadiran anggota pramuka
- Mengecek kembali materi yang sudah dilatih sebelumnya.

2. Kegiatan Inti
Menyampaikan materi latihan secara sederhana dan dijelaskan secara perlahan

3. Penutup
- Membuat game atau permainan yang menarik, sesuai dengan materi latihan hari tersebut.
- Memberitahukan materi untuk pertemuan berikutnya
- Doa

Demikian tips dan cara melatih pramuka, khususnya untuk anak disabilitas, semoga bermanfaat.

Semua Anak mempunyai kesempatan dan berhak mendapatkan pendidikan yang layak.

Sunday, 25 August 2019

Kepala Dinas Pendidikan NTT, "Guru Harus Berempati Pada Siswa" dan Kurangi Angka Putus Sekolah

Kepala Dinas Pendidikan NTT, "Guru Harus Berempati Pada Siswa" dan Kurangi Angka Putus Sekolah

Kupang, Wartaloha.com- Kepala Dinas Pendidikan NTT membuka Kegiatan In House Training (IHT) 3 Sekolah di kabupaten kupang, selasa 6 Agustus 2019 di SMA Negeri 3 Kupang Timur.
Dalam sambutannya Drs. Benyamin Lola, M.Pd menyampaikan arah kebijakan pengelolaan pendidikan menengah untuk rencana pembangunan jangka menengah (RPJM) Tahun 2018-2020. "Ada dua sasaran yang harus kita capai untuk lima tahun kedepan yaitu berkaitan aksesibilitas pendidikan dan mutu pendidikan di Nusa Tenggara Timur. Untuk kita ketahui angka partisipasi kasar pendidikan tingkat menegah berada pada angka  78 %, artinya 22 % anak usia sekolah yang belum ter tampung di sekolah baik tingkat SMA, SMK maupun tingkat sederajat, sedangkan untuk angkat partisipasi murni berada pada angka 60 an %, artinya masih 30an % anak kita yang belum ter tampung di sekolah hingga sekarang. Tugas sekolah mengawal anak-anak kita supaya menikmati pendidikan dengan baik dan jangan sampai anak putus sekolah.
Lanjut Kadis NTT menyoroti mutu pendidikan yang hingga kini kalau di kita lihat hasil ujian secara nasional melalui UNBK dan ujian nasional berbasis kertas dan pensil, hasilnya re rata kita masih berada pada angka 41 (Nilai)  untuk Tingkat SMA sedangkan untuk tingkat SMK berada pada angka 42, artinya kita masih berada di bawah angka 5,5 yang di tetapkan secara nasional. Hasil ini merupakan deviasi re rata yang sangat jauh, Oleh karena itu Bapak Gubernur menyampaikan kita harus bekerja lebih keras lagi untuk melebihi rerata nasional sehingga keluar dari mutu pendidikan yang selama ini cukup rendah" . tegas Kadis NTT.

Kadis Pendidikan NTT


Kadis  Pendidikan bersama Pengawas dan Kepala Sekolah

Dalam himbauannya kepada guru yang hadir pada kegiatan IHT di SMA Negeri 3 Kupang Timur "saya mengajak kita semua mari kita berempati kepada siswa, kita jangan hanya mengejar target tetapi perhatikan potensi yang di miliki anak kita, bawa mereka dari garis star yang sama hingga semuanya bisa mencapai tujuan.  Untuk kelas X tahun ini, guru-guru harus tuntaskan persoalan belajar mereka sehingga tidak ada anak yang tertinggal".

Peserta yang hadir dan menyaksikan langsung apa yang telah di sampaikan oleh kadis NTT, sangat serius dan menyimak sambutan Drs. Benyamin Lola, M.Pd, Kadis Pendidikan NTT.

Berkaitan dengan kegiatan IHT, Ketua Panitia membacakan tujuan kegiatan yang akan berlangsung empat hari. Dimana tiga harinya kegiatan selanjutnya di sekolah masing-masing dan pemateri terdiri dari pengawas pembina pendidikan NTT. Lanjut Ketua membacakan tujuan kegiatan IHT adalah

a.       Menyusun rencana pembelajaran  rpp. silabus, Program tahun dan promes dan kkm dapat menghasilkan  soal-soal hot
b.      Menyelesaikan dan mengimplementasikan  persiapan pembelajaran peer teaching di kelas

Acara pembukaan IHT berlangsung meriah di selingi penampilan anggota drum band SMA N 3 Kupang Timur. (FJ)

Acara Sambutan Untuk Kadis Pendidikan NTT

Anggota Drum Band SMA N 3 Kupang Timur
Memeriah Acara Pembukaan IHT 3 Sekolah SMA N 1 Kutim, SMA 3 Kutim dan SMA N 1 Fatuleu Tahun 2019

Peserta IHT SMA N 1 Fatuleu Tahun Pelajaran 2019





Sunday, 18 August 2019

Viral " Seorang Paskibraka Jatuh, Saat Upacara Penurunan Bendera Merah Putih" di Kabupaten Alor, NTT

Viral " Seorang Paskibraka Jatuh, Saat Upacara Penurunan Bendera Merah Putih" di Kabupaten Alor, NTT


Alor, wartaloha.com-Pada hari Sabtu tgl 17 Agustus 2019 pukul 15.45 Wita di Lapangan Upacara Desa Alemba Kec Lembur, Kab. Alor telah terjadi Insiden jatuhnya anggota Paskibraka Tkt Kec Lembur a.n Herodes Maukesa karena memanjat tiang bendera.

Kronologis kejadian, Pada saat pelaksanaan acara penurunan Bendera Merah Putih oleh Pasukan Paskibraka Tkt Kec Lembur tali pengait bendera terjepit di ujung tiang atas sehingga anggota Paskibraka yang bertugas sebagai Pengerek Bendera Merah Putih kesulitan untuk menurunkan bendera Merah putih tersebut. Dan seketika Sdr Herodes Maukesa (Salah satu Petugas Pengerek Bendera Merah Putih) memanjat tiang bendera namun ketika hendak mencapai Bendera,  tiang Bendera patah dan yg bersangkutan jatuh dan pingsan. Sampai dengan saat ini  Sdr Herodes Maukesa sudah sadarkan diri dan di rawat di Puskesmas Lembur dan masih dalam pengamatan oleh dr. Julia Vedo Purba.

Biodata Paskibraka yang jadi korban jatuh saat memanjat tiang bendera yaitu
Herodes Maukesa, Kelahiran 12 Desember Tahun 2001, kelas X1 SMA N Alemba, Nama ayah Yafet Maukesa dan ibu Mehelina Aburabung. (Laporan Kontributor wartaloha.com, MH)

Paskibraka "Korban Jatuh akibat Patah Tiang tiang Bendera"
di Puskemas Lembur Kab. Alor NTT
foto: Mecky Hoin Mbala

Paskibraka "Korban Jatuh akibat Patah Tiang Bendera"

Video Paskibraka Jatuh akibat Patah Tiang Bendera di Kab. Alor

Penulis:Mecky Hoinbala (Guru SMA N 1 Nekamese, Kab. Kupang)
Editor: Valentin

Thursday, 8 August 2019

The Voice Indonesia  2019, TRIANETHA Siap Tampil" Terimakasih Dukungan SMA N 1 Fatuleu "

The Voice Indonesia 2019, TRIANETHA Siap Tampil" Terimakasih Dukungan SMA N 1 Fatuleu "

TRIANETHA HENUK 
The Voice Indonesia, Asal Kupang Tahun  2019

Kupang,wartaloha.com- Ratusan siswa, guru serta pegawai siap dukung Trianetha Henuk untuk tampil di the voice indonesia tahun 2019. Bentuk dukungan Keluarga besar SMA Negeri 1 Fatuleu berlangsung di lapangan Upacara SMA Negeri Negeri 1 Fatuleu pada, Jumat 2 Agustus Tahun 2019.

Hampir  seluruh siswa SMA Negeri 1 Fatuleu turun kelapangan olahraga dengan meneriakkan yel-yel sebagai bentuk dukungan untuk Trianetha tampil di the voice indonesia tahun 2019, " Kami keluarga besar SMA Negeri 1 Fatuleu, mengucapkan selamat berkompetisi  untuk Trianetha tetap semangat dan rendah hati, selalu mengandalkan Tuhan dan Pantang menyerah".


Guru dan Siswa SMA Negeri 1 Fatuleu
 Dukung Trianetha The Voice Indonesia 2019

Dukungan khusus juga dari anggota pramuka SMA Negeri 1 Fatuleu untuk Trianetha
Neta dengan meneriakan yel-yel yang sama. Netha Henuk merupakan salah anggota aktif Gugus Depan SMA Negeri 1 Fatuleu. Tidak segan-segan Fian Jeadun menyampaikan bentuk dukungan untuk Netha" Netha bagian dari kami, jadi pramuka SMA N 1 Fatuleu  menjadi terdepan mendukungan netha agar diberi kemudahan untuk perjuangan selanjutnya", tegas pembina pramuka smansafat.

Siswi kelas 11 di SMA Negeri 1 Fatuleu itu tinggal di Desa Tuatuka Kupang Timur bersama Ibu dan 3 orang saudara lainya. Saat diwawancarai, Neta yang neta menyebut dirinya mulai belajar menyanyi dari umur masih 4 tahun. Pada saat itu dia memulai menyanyi karena termotivasi dengan kakaknya yang juga punya hobi menyanyi. Menurutnya, "Saya termotivasi dengan kakak saya yang juga hobi menyanyi, Kenapa kakak saya bisa menyanyi ko saya tidak bisa saya yakin saya juga bisa" dengan keyakinan itu Neta mulai masuk bergabung di salah satu sanggar nyanyi di Kupang Timur.

Diperkirakan tanggal 27 agustus mendatang netha akan berangkat ke Jakarta untuk audisi the voice tahap selanjutnya. Neta menyampaikan mohon dukungan dari masyarakat Nusa Tenggara Timur agar dirinya bisa menjadi juara the voice indonesia tahun 2019. (VR)

Friday, 2 August 2019

Kondisi Gereja Tertua di Lengko Ajang, Hingga Kini Belum Ada Perbaikan

Kondisi Gereja Tertua di Lengko Ajang, Hingga Kini Belum Ada Perbaikan

Wartaloha.com-Kondisi  gereja tertua di lengko ajang, hingga kini belum ada perbaikan. Gereja Santa Theresia Lengko Ajang merupakan salah satu gereja tertua di Manggarai Raya, Nusa Tenggara Timur. Dibangun oleh seorang misionaris asal Jerman Wilhelmus Jansen pada 1927, gereja ini hampir mencapai usia yang ke seratus tahun. Kini, kondisi gereja bersejarah Santa Theresia Lengko Ajang sangat memprihatinkan. Usia bangunan yang sudah renta tak bisa menutupi kerusakan di setiap sudut bangunan gereja berdesain menyerupai bangunan gereja Eropa ini.

Gereja Santa Theresia Lengko Ajang

Oleh karena itu pihak gereja mengganti atap ijuk tersebut dengan sink secara permanen. Bangunan Gereja Lengko Ajang berbentuk neo gothic traditional, karena bentuk bangunannya bundar dan beratap runcing menyerupai bangunan gereja di Eropa.

Konstruksi kayu penopang atap pada atap candi utama menyerupai bentuk konstruksi pada rumah adat Manggarai (Mbaru Gendang) yang berbentuk sarang laba-laba atau disebut lodok lingko (model pembagian lahan secara tradisional Manggarai). Gereja Lengko Ajang memiliki lima buah candi dan masing-masing terdapat salib di atasnya.


Panjang bangunan gereja 25 m dan lebar 16m, sedangkan tinggi bangunan gereja pada candi utama di bagian tengah 18m. Selain mengunjungi Gereja, pengunjung bisa menyaksikan aktivitas masyarakat di sekitar Gereja seperti menenun secara tradisional dan mengerjakan kebun. www.nttprov.go.id

Sebenarnya sudah beberapa media lokal maupun nasional memberitakan kondisi gereja tertua tersebut. Kamis, 2/08/2019, Salah satu tokoh/masyarakat yang berasal dari Kec. Sambi rampas-Lengko Ajang, Emil Karmin menginformasikan kondisi Gereja Santa Theresia yang memprihatinkan tersebut di Akun Facebook miliknya. Banyak tanggapan yang muncul terkait dengan kondisi gereja tertua di lengko ajang. 

Wartaloha.com menghubungi Emil Karmin lewat akun facebook miliknya, terkait dengan kondisi gereja tersebut, Emil menyampaikan Gereja lengko ajang ada di kec. sambi rampas. Kondisi saat ini hanya menunggu waktu saja untuk jadi puing. Kalau tidak segera diselamatkan pasti anak cucu hanya dengar cerita kalau di lengko ajang pernah ada gereja indah peninggalan  belanda.
Sampai saat ini belum ada perhatian dari pemda. Harapan saya semoga pemda dan keuskupan punya kepedulian terhadap aset bersejarah ini, tegasnya. (VR)

Tuesday, 30 July 2019

31 Anggota Pramuka Gudep 0407-0408 SMA Negeri 1 Fatuleu di Lantik Menjadi Penegak Bantara.

31 Anggota Pramuka Gudep 0407-0408 SMA Negeri 1 Fatuleu di Lantik Menjadi Penegak Bantara.

Oelamasi, Wartaloha.com- 31 Anggota Pramuka SMA Negeri 1 Fatuleu dilantik menjadi Penegak Bantara pada Jumat, 27/07/2019. Upacara pelantikan berlangsung di lapangan SMA Negeri 1 Fatuleu dipimpin oleh Kak Mabigus/ Kepala SMA Negeri 1 Fatuleu sebagai pembina upacara. Kegiatan berlangsung pada pagi hari, serta berjalan dengan penuh hikmat dan tertip. Turut hadir juga dalam upacara tersebut pembina pramuka dan seluruh guru serta pegawai SMA Negeri 1 Fatuleu.

Dalam sambutan yang disampaikan oleh Drs. Ambrosius Pan menyatakan, " Kegiatan pelantikan anggota pramuka penegak bantara merupakan salah satu bagian kegiatan implementasi kurikulum 2013 serta kegiatan tersebut juga bagian program sekolah dimana pramuka sebagai kegiatan Favorit yang harus di ikuti oleh seluruh siswa yang ada di SMA Negeri 1 Fatuleu baik kelas X11, X1 dan kelas X, jadi kegiatan pramuka wajib kita ikuti, tegasnya.

Hal senada juga disampaikan Pembina Gudep SMA Negeri 1 Fatuleu, Fian Jeadun, S.Pd, menegaskan bahwa, '' Kegiatan pelantikan penegak bantara merupakan bagian dari program kerja Ambalan masa bakti 2018/2019 dan kita laksanakan setiap awal tahun pelajaran, saya berharap penegak bantara yang baru dilantik menjadi siswa yang berkarakter dan berjiwa Pancasila serta mengamalkan Trisatya dan Dasa Darma Pramuka dalam kehidupan sehari-hari."

31 peserta yang di lantik telah memenuhi syarat kecakapan umum sesuai petunjuk penyelenggaraan gugus depan gerakan pramuka No 137 tahun 1987 dan Keputusan Kwartir Nasional gerakan pramuka No 214 tahun 2007 tentang petunjuk penyelenggaraan Dewan kerja ambalan pramuka penegak dan pramuka pandega.

Kepala Sekolah Melantik Perwakilan Penegak Bantara.

Adapun nama-nama anggota pramuka yang telah dilantik sesuai dengan surat keputusan Kak Mabigus/ Kepala Sekolah SMA Negeri 1 Fatuleu Nomor 05/SK/VII , Tentang pelantikan bantara Tahun 2019, yakni:

NO
PUTRI


PUTRA
1
Rilla Anastasya Solo
1
Aditya Taufik
2
Mediatri Outang
2
Daniel Natu Seda
3
Katarina Liem
3
Yohanes Martins
4
Sri Rejeki
4
Rio Correia
5
Anisha Djutadjo
5
Trio Lawa
6
Grace Giri
6
Jorgen Fernando Paa
7
Darni Sanam
7
Hendra Kilasaduk
8
Delfiliana pandie
8
Laurensius Mafeo
9
Esterina Nomleni
9
Yusril Mbura
10
Delfiana Pandu
10
Sandro Reke
11
Sherina Rohi
11
Wahyu Seubelan
12
Yurike Meda


13
Angel Sabuna


14
Clara Nitti


15
Grace Dunga


16
Catrin Manu


17
Apselfia Heri


18
Delavira Kittu


19
Risel Boyfala


20
Agnes Boyani





Foto Bersama Penegak Bantara dan Mabigus SMA N 1 Fatuleu
di Halaman Kantor SMANSAFAT


Saturday, 20 July 2019

JANGAN MUNAFIK  (Mencerna Narasi Jerry Manafe Tentang HIV/AIDS)

JANGAN MUNAFIK (Mencerna Narasi Jerry Manafe Tentang HIV/AIDS)


Penulis: Gusty Rikarno, S.Fil
Jurnalis Media Cakrawala NTT

Suatu saat jika harus memilih apakah tinggal di kotanya orang kudus atau kotanya orang sehat, saya tidak ragu untuk memilih tinggal di kotanya orang sehat. Mau tahu kenapa? Jawabannya sederhana saja. Saya manusia, penuh dosa dan kekhilafan. Saya butuh lingkungan hidup yang baik dan sehat. Saya butuh bonus waktu untuk bertobat dan kembali ke jalan yang benar. Kuyakini saja, di dalam diri orang yang sehat, ada unsur kekudusan. Ia mampu menjaga kesehatanya dengan baik dan tentunya ia tetap produktif untuk berpikir dan bekerja. Di sisi yang lain, orang kudus (apalagi merasa kudus) dalam dirinya sendiri sudah pasti tidak sehat. Bagaimana mungkin ia mau disebut orang kudus (merasa kudus) sementara ia masih berpredikat manusia. Ia tidak sehat. Minimal dari cara ia bersikap, merasa dan berpikir.

Dalam suatu kesempatan tepatnya tanggal 25 Mei 2019, saya mendapat undangan via group WA dari bagian humas Pemerintah Kabupaten Kupang untuk datang dan meliput kegiatan Trainning of Trainers (TOT) untuk Warga Peduli ADS dalam lingkup wilayah Kabupaten Kupang. Kegiatan rupanya dinilai sangat penting dan mendesak. Hal ini terlihat bagaimana Wakil Bupati Kupang, Jerry Manafe berbicara keras dalam nada kesal ketika melihat banyak Kepala Desa, Lurah dan Camat tampak tidak peka dan tidak mau ikut peduli terhadap persoalan yang dialami masyarakat dalam wilayahnya. Grafik data kasus penularan HIV/AIDS cenderung meningkat. Data per-April 2019, terdapat 276 kasus HIV/AIS dengan rincian 145 teridentifikasi menderita HIV, 45 orang lainnya menderita AIDS dan 25 orang dinyatakan sudah meninggal dunia. Penularan HIV/AIDS dan dampak iktannya ternyata jauh lebih lebih ganas dan mengerikan dari Narkoba. Narkoba butuh waktu dan biaya yang tinggi untuk mendapatkannya. Sementara untuk berhubungan seks (ilegal), sangat mudah. Tahu kenapa? Karena mudah dan murah. Mudah mendapatkan jasa PSK (terselubung) dan biaya jasanya murah.

“Saya kok heran ya. Ada camat, lurah dan kepala desa yang “mati rasa” dengan persoalan ini. Saya cemas, mereka menjadi tidak peka karena mungkin saja mereka adalah bagian dari penderita HIV/AIDS. Dana Desa, harus digunakan juga untuk mengatasi persoalan penting semacam ini. Bayangkan, dari tiga belas kecamatan yang ada, masih banyak peserta yang tidak hadir. Padahal kita sudah berupaya, dalam kondisi anggaran yang terbatas kita selenggarakan kegiatan ini karena kegiatan ini sangat penting dan mendesak”, tegas Jerry.

Sebagai informasi tambahan, di kota Kupang pernah ada lokalisasi untuk para Pekerja Seks Komersial (PSK). Mereka (PSK) dilokalisasi dalam satu maksud. Identitas dan  kesehatannnya mudah dikontrol.  Secara berkala (saat itu), pihak kesehatan dan kelompok masyarakat/LSM peduli HIV/AIDS, secara berkala mengontrol kesehatan mereka. Ada kalanya mereka mengikuti seminar untuk mendapatkan kata-kata awasan sekaligus ajakan agar mereka meninggalkan lokasi Karang Dempel (KD) dan menekuni pekerjaan yang lain. Tapi itu cerita sekian banyak waktu yang lalu. Kini lokasi prostitusi itu “dibersihkan” terhitung dari tanggal 1 Januari 2019 yang lalu. Ada semacam pemulihan wajah kota ini dari bawah bopeng penuh dosa menuju wajah lugu penuh kekudusan. Efek postifnya, justru ada pada titik ini. Kota Kupang bukan hanya kota kasih tetapi juga kotanya kudus. Kotanya orang-orang kudus. Dampak negatif dari penutupan KD luput dari perhitungan dan kalkulasi banyak orang termasuk  gereja sebagai sebuah intitusi keagamaan mayoritas.

Kamu tahu? Persoalan baru perlahan mulai muncul. Tidak perlu munafik. Jujur saja. Banyak tempat pitrat dan karoeke berubah fungsi sebagai tempat protistusi terselubung. Belum lagi, ada mantan penghuni KD yang memutuskan kembali ke kampung sebagai warga biasa tetapi tetap membawa cara hidup yang lama. Ia (mantan PSK), bisa saja melacur dekat rumah adat, tak jauh dari rumah ibadah atau di kebun saat memilih kemiri. Bisa saja. Tidak heran jika grafik data penularan kasus HIV/AIDS terus meningkat. HIV/AIDS akhirnya tidak hanya soal kesehatan tetapi telah menyentuh persoalan ekonomi, budaya, agama dan sebagainya. Diyakini saja, seorang dewasa akan disebut “tolol” kalau bertanya, mengapa harus ada PSK?

Jerry Manafe hadir menawarkan solusi. Bukan mengalihkan isu dan mulai melempar tanggungjawab dengan cara mencari “kambing hitam”. Jerry tidak sedang berwacana agar KD diaktifkan kembali. Ia juga tidak mau bertanya apakah eks warga (penghuni) KD, semuanya telah diberi modal diberi modal dan didampingi untuk berusaha secara berkelanjutan? Lokasi “KD” ada dalam wilayah administrasi kota Kupang. Walau demikian efeknya menyentuh aspek hidup manusia yang paling rahasia dan berharga. Ia menjalar menembus ruang waktu dan menjarah jiwa semua wilayah. Warga Kabupaten Kupang sebagai radius terdekat, pasti menerima dampak yang lebih besar. Mengajak masyarakat sekaligus meneguhkan keputusan sebagai kecil warga untuk ikut peduli dan setia pada “panggilan” untuk menyelamatkan sekian banyak orang dari penularan HIV/AIDS adalah tugasnya dan tanggungjawabnya sebagai pemerintah.

“Saya yakin, kasus pemerkosaan, perselingkuhan, hamil di luar nikah dan penularan kasus HIV/AIDS untuk beberapa waktu ke depan akan dan terus meningkat. Jika itu  terjadi ke mana masyarakat dan daerah ini dibawa. Saya bersyukur ada sekelompok masyarakat yang hadir dan mau peduli. Ke depan, kita akan terus berupaya agar semakin banyak komunitas yang sama terbentuk di setiap desa. Kita harus bergerak lebih cepat. Oleh karena itu, pentingnya membangun sinergisitas lintas sektor untuk menekan laju pertumbuhan kasus ini dengan target Three zero yaitu tidak adanya infeksi baru, tidak adanya kematian dan tidak adanya stigma bagi pederita HIV/AIDS. Anggaran kita memang terbatas. Pendapat Asli Daerah (PAD) Kabupaten Kupang sangat kecil, tetapi kita harus berusaha semaksimal mungkin. Apapun caranya. Saya siap bertemu orang pusat untuk membicarakan persoalan ini”, demikian Jerry Manafe.

Katakan saja, tidak perlu munafik. Mau hidup di negeri (kota) orang kudus (merasa kudus) atau  di negeri (kota) di tempat berdiamnya orang-orang sehat. Hidup ini adalah tentang bagaimana kita memilih dan memutuskan. Dosa itu adalah soal pilihan bukan soal kesempatan. Jika dosa itu adalah kesempatan maka kita meragukan peran logika dan hati nurani. Boleh dengan sebuah contoh. KD masih ada dan anggap saja jalan menuju ke sana adalah perjalanan menuju neraka. Semua orang tahu tentang itu. Tinggal ia memilih, apakah mau ke neraka atau ke surga. Persoalannya, kalau jalan ke neraka tidak jelas, maka orang yang memang mau ke neraka bingung. Maka ia akan mempersulit orang yang sedang memilih jalan ke surga. Minimal ia meminta bantuan untuk bersama mencari jalan ke neraka dan akhirnya ke duanya tersesat. Begitulah seterusnya. Logika ini mungkin tidak tepat. Pointnya, jika KD ditutup maka harus ada sekian banyak strategi dan solusi untuk masyarakat bisa mempunyai lapangan kerja. Hadirkan sekian banyak investor dan buka sekian banyak pabrik di daerah ini. Maaf, tugas yang begini tanggungjawab pemerintah.

Saya teringat, dua kata “gaib” seorang Viktor Bungtilu Laikodat , Gubernur NTT saat ini. Pemerintah mempunyai dua tugas utama dan pertama yakni sebagai regulator dan fasilitator. Ia menetapkan aturan yang mengikat, jelas dan transparan. Selain itu, ia (pemerintah) adalah fasilitator, pihak berwenang yang mampu berimajinasi dan sigap menentukan sikap ke mana daerah ini di bawa. Logikanya jelas. Jika KD ditutup maka solusi diberi. Pemerintah harus lebih pro-aktif untuk membuka akses bagi masyarakat untuk berwirausaha khususnya untuk kaum minorotas di bumi patriarkat ini yakni manusia bernama perempuan.

Yah ... di benak saya, kira-kira begitu jika serius mencerna narasi seorang Jerry Manafe. Seperti seorang sniper, ia tahu ke mana arah tuju peluru dilesatkan, ia sudah memperhitungkan jarak sasaran, arah angin bertiup dan sudah pasti ia seorang yang sangat profesional dalam hal menembak. Kota Kupang dan Kabupaten Kupang adalah kakak-beradik yang selalu mengadaikan dalam banyaka hal termasuk masalah sosial, ekonomi dan budaya. Jerry seorang yang sangat taat asas. Ia berbicara apa yang menjadi kapasitasnya. Ia tidak akan menyerempet ke tema (pihak) lain kalau bukan menjadi kapasitas dan wewenangnya.  Hmmm ... begitu kira-kira. Dalam konteks mengatasi penularan HIV/AIDS agar tidak semakin kronis maka target kerja Three Zero harus dijalankan. Itu saja.

Salam cakrawala, salam Literasi

Wednesday, 17 July 2019

RUMAH SEBAGAI SEBUAH BUKU”   (Seratus Menit Menyelami Pemikiran P. Dr. Philipus Tule, SVD Tentang Literasi)

RUMAH SEBAGAI SEBUAH BUKU” (Seratus Menit Menyelami Pemikiran P. Dr. Philipus Tule, SVD Tentang Literasi)


Oleh : Gusty Rikarno, S.Fil
Jurnalis Media Pendidikan Cakrawala NTT

Hari makin siang. Kota Kupang adalah rumah untuk segala nama dan agama. Berbagai suku dan asal ada di sini. Tentramnya menembus batas perbedaan hingga kemudian kota ini dinamai (dijuluki) kota kasih. Ada rasa hangat dan damai untuk semua yang memilih untuk bernyawa di kota provinsi ini. Saya adalah salah satu dari ribuan yang ada. Untuk sekarang, Kota Kupang bukan hanya berarti rumah tetapi juga rahim. Saya menuju bilik barat rahim kota ini. Menara ilmu, Universitas Katolik Widya Mandira (Unwira) Kupang. Seratus menit berada di sini, menyadarkan saya jika segala yang ada memang berawal dari kata.

Adalah P. Dr. Philipus Tule, SVD, Rektor Unwira Kupang. Disapa Pater (Bapa) semenjak diurapi menjadi imam dan misionaris puluhan tahun silam. Ia selalu bernafas dalam kata “Pada mulanya adalah Firman. Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah. Ia pada mulanya bersama-sam dengan Allah. Segala sesuatu dijadikan oleh Dia dan tanpa Dia tidak ada sesuatupun yang telah jadi dari segala yang telah dijadikan. Dalam Dia ada hidup dan hidup itu adalah terang manusia. Terang itu bercahaya dalam kegelapan dan keegepalan itu tidak mengusasinya. … “. (Bdk. Yoh. 1: 1-5).

Pater Philipus adalah seorang SVD. Sebuah serikat misoner dalam tubuh Gereja katolik yang selalu bertumpu pada Sabda Allah. Kitab Suci dan ekaristi adalah jantung kehidupannya. Berada di dekatnya, kita hampir kehabisan kata dan suara. Ia menatap tajam, cerdas dan teduh. Kata-kata yang terucap dari bibirnya adalah kata-kata logis, praktis dan inspiratif. Nyaman untuk dimengerti. Ada kata yang menggantung dan butuh kemampuan lebih untuk diberi makna. “Rumah itu adalah buku”.
Mari kita lirik kembali dua kalimat awal prolog Injil Yohanes ini. “Pada mulanya adalah Firman. Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah”. Firman itu adalah Sabda dalam kata yang terucap (lisan) dan tertulis (abadi). Dalam lembaran Kitab Suci (Injil), ada suara yang terdengar lantang. Diucapkan dengan penuh wibawa. “Dengarlah hai Israel, Tuhan Allah kita, Tuhan itu Esa”, (Bdk. Mrk 12:29). Yesus, Sang sabda yang menjadi manusia itu melakukan hal ini. “IA (Yesus) membungkuk lalu menulis dengan jarinya di tanah”, (Bdk. Yoh,8:6). Kata-kata itu adalah Sabda (Firman). Dalam kata ada kehidupan, relasi, cinta dan pengorbanan. Hari ini di ruangan Rektorat Unwira berukuran 6 x 7 meter, Pater Philipus berkata-kata dalam lisan dan tulisan.

“Saya sudah menulis puluhan judul buku yang banyak dipakai orang sebagai refrensi ilmiah. Antropologi (budaya), agama, toleransi dan literasi adalah beberapa topik yang selalu digarap. Saya padukan kegiatan seminar (konfrensi) yang berkekuatan bahasa lisan dengan aktifitas menulis  yang tetap (abadi). Saya selalu mengamini dan menghidupi adagium latin ini. Verba Volant, Scripta Manent (yang terucap kan lenyap tak berjejak, yang tertulis mengabadi). Oh ya? Dalam rangka festival literasi di Mbay-Nagekeo tahun ini, saya menulis dan akan me-lounching sebuah buku berjudul : Mengenal Kebudayaan Keo, Dongeng, Ritual dan Organisasi Sosial. Saya berharap kamu hadir. Bersama Pemerintah Kabupaten Nagekeo, kita mengakarkan budaya literasi (baca-tulis) di sana”, ujar Pater Philip penuh semangat.

Mendengar dan mencatat adalah caraku menyimak dan meresapi setiap kata. Mantan Rektor Seminari Tinggi Ledalero ini adalah bapa rumah sekaligus dosenku delapan tahun silam. Ia masih memiliki api semangat yang tetap ada dan bernyala sebagai pemimpin dan peneliti. Ia senang berdiskusi, berinovasi dan menyepi dalam sunyi untuk berdoa. Banggaku kali ini, hanya satu. Ia merelakan waktu hampir seratus menit untuk saya ada dan menimba banyak ilmu darinya khususnya dalam hal menulis.

Perhatikan sebuah rumah. Filosofi, pemikiran, kebijaksanaan, persaudaraan, kerjasama dan saling menghargai terlihat jelas dari tata letak, penempatan tiang (utama/penyangga), tata ruang dan sebagainya. Sebelum bahasa tulis dikenal luas rumah adalah “buku kehidupan”. Sebuah simbol yang lazim dipakai orangtua untuk mengajarkan banyak hal kepada anak-anaknya atau warga masyarakat. Rumah adalah dunia pertama seorang anak manusia untuk merngerti banyak hal. Selain itu, rumah adalah sebuah panggung teater tempat semua penghuni rumah berelasi dan beraksi.

Kehadiran buku yang berjudul, Mengenal Kebudayaan Keo, Dongeng, Ritual dan Organisasi Sosial adalah kata tertulis dari folosofi, pemikiran dan etos hidup orang Nagekeo. Menurut Pater Philip, Keo yang disebut ‘rumah’ (sa’o), masing-masingnya memiliki tingkatan atau kelasnya sesuai nama leluhur yang direpresentasinya. Misalnya  tingkatan pertama adalah rumah asal (sa'o pu'u) dan rumah besar (sa'o mére), yang lasim merepresentasi leluhur utama atau embu. Rumah asal ini juga disebut rumah tempat orang berkumpul (sa'o tiwo liwu). Rumah itu berlokasi di kampung sesuai dengan tingkatan sosial para pemiliknya. Rumah itu pun bisa memiliki satu, dua bahkan tiga dapur (dapu) tergantung dari berapa banyaknya anak lelaki yang dimiliki leluhur dalam rumah itu. Bila ada 3 (tiga) dapur berarti dapur sebelah kanan (dapu réta) menjadi haknya putera tertua dan dapur sebelah kiri (dapu dau) menjadi haknya putera yang termuda. Sedangkan dapur yang di tengah untuk putera yang di tengah, yang berlokasi di tenda wawo di sebelah kanan. Sa'o pu'u dan sa'o mére pada umumnya berfungsi juga sebagai rumah tinggal. Namun, sebuah sa'o mére dalam perkembangan mutakhir, bisa dianggap oleh para anggotanya sebagai sebuah sa'o pu'u juga karena telah terjadi multiplikasi atau penggandaan para penghuninya. (Bdk. Philpus Tule, 2019:100).

Bagaimana jika kemudian, tubuh (pikiran kita) disimbolkan sebagai sebuah rumah? Dalam konteks budaya literasi (baca-tulis) sebuah rumah yang dibangun tanpa ventilasi atau jendela bakal menganggu sirkulasi udara. Diperlukan jendela agar udara pengap di dalam ruangan tergantikan udara segar dari luar. Begitu pun, jika jendela itu dibuka, maka sinar cahaya akan masuk untuk menerangi kegelapan. Rumah tanpa jendela akan pengap demikian halnya dengan aktifitas membaca. Dengan buku (baca: pengetahuan), pikiran kita terbarukan dan membaca adalah cara kita untuk membuka “jendela” pengetahuan. Buku-buku yang kita baca, adalah juga asupan bergizi bagi otak dan jiwa kita. Pointnya dapat. Buku baru berjudul, “Mengenal Kebudayaan Keo, Dongeng, Ritual dan Organisasi Sosial” sengaja ditulis dan diterbitkan untuk meningkatkan pemahaman sekaligus kecintaan generasi muda Nagekeo pada budaya dan aktifitas membaca dan menulis. Hal ini senada yang disampaikan Bupati Nagekeo, dr. Johanes Don Bosco Do. Menurutnya, generasi muda Nagekeo ke depan membutuhkan bahan bacaan sejarah dan budaya tertulis (literasi) yang perlahan-lahan tapi pasti terus menggeser budaya lisan (oral).

Kota Kupang, Nagekeo, NTT dan Indonesia adalah rumah (rahim) bersama. Pancasila adalah “ibu” yang selalu dan merangkul anak-anaknya dari segala suku, agama, asal dan budaya. Pada sudut dinding ruangan berukuran 6x7 meter itu, Pater Philipus berpikir, berbicara dan menulis. Sebagai penjaga menara ilmu bernama Unwira Kupang, ia telah, sedang dan ikut mengambil peduli. Sumber Daya Manusia  (SDM) harus ditingkatkan dalam satu cara. Literasi adalah jalannya. Ia (Pater Philipus) bercerita banyak. Ada beberapa terobosan terbaru. Para wisudawan Unwira kedepannya bakal diberi hadiah buku. Simbol sekaligus bukti bahwa ia (wisudawan) telah kembali dari puncak menara ilmu itu. Kini saatnya ia turun ke dunia kerja. Sebuah fakta (realitas) kehidupan yang harus dijalani sekaligus saat tepat ia mengimplementasikan ilmu yang telah diperolehnya.

Terima kasih Pater, untuk waktu seratus menit ini. Engkau adlaha “bapa rumah” untuk NTT tercinta. Pemimpin (penjaga) menara ilmu yang tidak pernah letih untuk “bertengkar” dengan kenyataanm dalam banyak produk karya tulis. Tetaplah berkarya pada nafas yang sama. “Pada mulanya adalah Firman. Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah”.

Salam Cakrawala, Salam Literasi …

Saturday, 13 July 2019

SMART CITY HARUS MULAI DARI KAMAR MANDI  (Catatan Pinggir Untuk Pemerintah Kota Kupang)

SMART CITY HARUS MULAI DARI KAMAR MANDI (Catatan Pinggir Untuk Pemerintah Kota Kupang)



Oleh : Gusty Rikarno, S.Fil
Jurnalis Media Pendidikan Cakrawala NTT

 Saya selalu ingin ada dan menikmati kesendirian di kamar mandi. Seperti dulu, saat masih kecil. Ingin “bermain-main” dengan air dan menikmati sensasinya. Dingin, hangat dan segar. Di saat begini saya ingat kampung bersama kisah masa kecil yang menggetarkan itu. Air dalam nama kali, kolam, mancur, bendungan dan sebagainya adalah sahabat yang selalu dijumpai. Memotong bambu dan membelahnya membentuk selokan. Membiarkan air itu mengalir. Ada kenyamanan dalam pikiran saat mendengarkan suara alirannya yang teduh dan romantis. Tak ada suara yang terdengar dalam kata melarang. “Jangan buang-buang air. Di sini kita kesulitan air. Mateus, sopir tangki air itu tidak mengangkat telphon. Kalau pagi ini ia tidak antar air, artinya sebentar sore kita tidak minum dan mandi”.  Syukurlah. Di pondok kecilku ada sumur. Kuberi nama “Sumur Andreas”. Bukan sumur Yakob. Tahu kenapa? Akan saya ceritakan nanti. Ketika mesin pemompa air (sanyo) dihidupku, air mengalir dan terus mengalir. Yah … asalkan saja pulsa listrik tetap stabil.

 Di kamar mandi saya berimajinasi banyak. Tentang tubuh saya yang dibentuk oleh air dan bergantung pada air. Delapan puluh persen, tubuh manusia sesungguhnya berisi air.  Tidak heran hanya ada dua kata kunci yang selalu ada dan wajib dikerjakan yakni minum air dan buang air. Sebuah rutinitas abadi yang berakhir saat seseorang enggan bernafas. Untuk saat ini, berlama-lama di kamar mandi adalah caraku bersyukur. Saya selalu memulai tanda salib sebelum mandi atau membasuh muka. Teringat kembali sebuah iklan yang lazim terdengar. “Sumber air sudah dekat”. Rumah semegah apapun kalau kekurangan air maka tidak lebih dari sebuah kapal pesiar yang dalam waktu sepuluh menit indah dan mengangumkan. Tetapi dalam waktu belasan menit kemudian akan terasa jenuh, jijik sekaligus menimbulkan trauma untuk datang bertamu lagi. Telingaku sangat dimanjakan saat mendengar air itu mengalir dari sumbernya.

 Dalam kamar mandi itu, saya menikmati dalam hening. Berpikir dan merasa seadanya. Pernah saya bertanya tentang arti nama nama tempat (wilayah) yang dimulai dari kata yang berarti air. Di ini tempat, kata Oe berarti air. Ada nama yang mulai dari kata ini. Oeba, Oesapa, Oepura, Oetete, Oelamasi dan sebagainya. Atau di kampungku kata Wae berarti air. Semisal, waemeleng, waemedu, waemokel, waerana, waemauk dan sebagainya. Apakah artinya tempat itu kelimpahan air atau sumber mata air? Ini pertanyaan sekaligus gugatan. Jika kemudian disadari nama adalah tanda seharus demikian. Oepura sebagai salah satu kecamatan di Kota Kupang, seharusnya berkelimpahan air atau sumber mata air. Seperti halnya Oeba, Oepoi dan Oesapa. Jika kemudian ada yang mengeluh kekurangan air di tempat (wilayah) ini itu berarti ada yang salah pada orang-orang yang dulunya memberi nama pada tempat ini. Bukan salahnya pemerintah, pegawai PAM atau generasi di zaman ini. Kesalahan itu ada pada orang-orang yang memberi nama atas tempat atau wilayah ini.

 Akh … sabar dulu. Jangan-jangan Oe ini bukan artinya yang sesungguhnya. Bisa saja kata Oe ini berarti simbolis atau semacam sebuah kerinduan bawah sadar. Air itu adalah kita yang berdiam di tempat atau wilayah ini. Belajar dari kebijaksanaan air yang selalu datang memberi rasa yang tidak biasa. Masyarakat dalam wilayah yang dimulai kata oe dan wae seharusnya hadir sebagai pribadi yang membawa kesejukan, kesegaran dan kehidupan bagi orang lain. Atau jika tidak mampu memberi kenyamanan, kesejukan dan kedamaian bagi yang lain seharusnya hidup di tempat yang mulai dari kata yang berarti batu. Seperti kata Fatu/watu seperti fatule’u, Fatuka, Fatukoa, Watu Timbang Raung dan sebagainya. Apakah orang-orang yang hidup di tempat/wilayah fatule’u, Fatukoa, Fatuka atau Watu Timbang Raung adalah mereka tidak mampu memberi kenyamanan dan kesejukan? Tidak benar. Tahu kenapa Watu/Fatu bisa saja berarti mandiri, pendirian yang kuat, kerja keras, iman yang teguh, pantang menyerah dan sebagainya. Pointnya adalah nama itu adalah tanda. Tanda itu berarti yang ada. Tidak ada sesuatu tanpa nama. Jika sesuatu itu tanpa nama itu artinya tidak ada, hilang dan musnah.

 Mari kita kembali pada kamar mandi dan air. Kamar mandi yang ideal seharusnya begini. Hanya berisi air dan perlengkapan mandi seperti sabun, sikat gigi, odol, shampoo dan sebagainya. Agar imajinasimu fokus, cerdas dan tidak liar, jangan jadikan kamar mandi sebagai tempat jemuran apalagi tempat sampah. Dirimu adalah kamar mandi itu sendiri. Orang cerdas, sistematis, bersih dan rapi, pasti datang dari sebuah rumah yang memiliki kamar mandi yang bersih dan tertata baik. Selain itu, ukuran kamar mandi  tidak boleh lebih dari luas dari kamar tidur keluarga. Mengapa? Karena kamar mandi itu untuk mandi. Bukan untuk ngopi atau tidur-tiduran. Namanya kamar mandi. Pasti dan harus ada air. Kamar mandi yang tidak ada air maka itu bukan kamar mandi. Sebut saja, kamar tanda nama. Mari kita lihat cara berpikir dan penampilan dari seorang yang datang dari kamar tanpa nama. Pasti jorok, tidak sistimatis dan sudah pasti kemomos.

Kota Kupang bakal sudah ditunjuk sebagai salah satu kota cerdas dari seratus lebih kota cerdas lainnya di Indonesia. Gerakan menuju 100 Smart City merupakan program bersama Kementerian Komunikasi dan Informatika, Kementerian Dalam Negeri, Kementerian PUPR, Bappenas dan Kantor Staf Kepresidenan. Gerakan tersebut bertujuan membimbing Kabupaten/Kota dalam menyusun Masterplan Smart City agar bisa lebih memaksimalkan pemanfaatan teknologi baik dalam meningkatkan pelayanan masyarakat maupun mengakselerasikan potensi yang ada di masing-masing daerah. Sebuah kota dapat dikatakan Smart City jika di dalamnya lengkap dengan infrastruktur dasar, juga memiliki sistem transportasi yang lebih efisien dan terintergrasi. Tujuan kota pintar juga bagai mana dapat mendatangkan wisatawan sebayak mungkin, menarik investor agar berinvestasi di kota ini, kemudian menarik penghuni baru, bagi mana penghuni baru dari kalangan baik profesional, akademisi, dan usahawan bertempat tinggal di kota kita. Kesemuanya itu tolak kukur nya adalah kota tersebut memiliki daya tarik yang kuat.

  Apresiasi tulus kepada Walikota Kupang bersama Wakilnya yang telah berpikir dan bekerja. Prestasi awal yang patut dibanggakan. Mereka telah menyambut program nasional ini. Artinya, pemerintah Kota Kupang sudah berpikiran maju dan cerdas. Jika kemudian Smart City dikaitkan dengan pengunakan alat teknologi dan informasi maka tidak salah jika kemudian pemerintah kota kupang membuka jaringan internet di beberapa tempat umum untuk semua masyarakat bisa mengunakannya secara gratis. Segala infomasi bisa diakses. Selain itu masyarakat bisa mengirimkan informasi apa saja ke pemerintah dan atau kepada semua masyarakat dunia. Habat kan? Smart City adalah jalan untuk men-dusun-kan dunia. Beragama bidang kehidupan yang menyentuh kepentingan masyarakat luas kiranya ikut “terdongkrak” peningkatan mutu pendidikan, ekonomi, layanan publik dan sebagainya. Masyarakat Kota Kupang bakal ada dalam satu kawasan pintar yang canggih, cepat dan tepat.

Saya masih berada dalam kamar mandi. Seperti dulu saya ingin menghabiskan waktu sendiri bermain air. Di waktu itu, mama selalu berteriak marah jika lebih dari setengah jam saya bermain air. Katanya, itu tidak baik untuk kesehatan dan kemampuan ber-sosialku nanti. Sebagai wanita desa yang minus informasi, mama selalu menakutiku dengan sesuatu yang tidak masuk akal. Katanya kalau terlalu lama bermain air nanti kerbau kejar, perut buncit, telinga lebar dan sebagainya. Mama marah, bukan karena takut kehabisan air tetapi takut saya menciptakan duniaku sendiri. Smart City adalah jalan untukku menciptakan duniaku sendiri. Dengan gawai ditanganku, saya ingin menghabiskan banyak waktu sendiri, mungkin tidak hanya di kamar mandi. Bisa saja saya bakal nyaman di kamar tanpa nama itu.

Pertanyaan tersisa dalam tetes air terakhir, bagaimana orang bisa menjadi diri (masyarakat) pintar dan cerdas jika ia tidak mandi atau menjadi dehidrasi karena kurang minum air. Bayangkan, untuk mandi dan minum saja sulit apalagi  untuk bermain dan membuang-buang air. Sekali lagi, Kota Kupang kekurangan (kesulitan) mendapatkan air. Itu fakta. Sekali lagi, jangan salahkan pemerintah sekarang jika nama tempat yang dimulai dari kata berarti air itu justru kekeringan dan kekurangan air. Perhatikan cara orang berpikir, merasa dan berpenampilan. Bisa dibedakan dengan jelas apakah ia datang dari rumah/kos yang memilki kamar mandi yang berkelimpahan air atau yang kamar mandinya kekurangan bahkan tidak ada air. Sekali lagi. Kamar mandi yang tidak ada air, itu bukan kamar mandi. Namanya, kamar tanpa nama.

Mari jujur. Bagaimana masyarakat dunia maya di Kota Kupang bermedia sosial. Banyak group (facebook dan WA) terlihat “kemomos”. Pikiran kritis selalu berakhir buntu berhadapan dengan orang yang lelah dan lemah berpikir. Diskusi berakhir debat dan menyerang pribadi. Saya tersenyum sendiri dan berusaha bertahan semampunya di group “kemomos” itu sebelum saya meninggalkannya. Saya tidak sedang mengatakan bahwa saya orangnya kritis dan yang lain sebaliknya. Tidak. Saya berpikir tentang bagaimana seharusnya berpikir. Program pemerintah pusat seharusnya dijalankan dalam konteks situasi dan kearifan lokal (daerah).

Untuk konteks Kota Kupang Kota Cerdas itu ada dan mulai dari kamar mandi. Selain membangun jaringan internet gratis, pemerintah Kota Kupang harus menyiapkan anggaran untuk mengalirkan air ke kamar mandi warga masyarakat. Saya sudah mulai dengan “Sumur Andreas”. Semisal begini. Dana kelurahan diperintahkan agar sebagiannya digunakan untuk menggali sumur umum. Warga masyarakat dalam radius tertentu bisa mengunakan air sumur itu. Beri nama untuk sumur itu sebagai tanda. Misalnya sumur Herman, Sumur Jefri, Sumur Frans, Sumur Viktor dan sebagainya. Masyarakat tidak perlu membeli air lagi. Jika sumur itu cukup jauh dan dalam mereka (masyarakat) hanya fokus mencari uang untuk beli pulsa listrik. Pengalaman saya, jauh lebih hemat ketimbang membeli air yang kebersihannya masih bisa diragukan. Kamu tahu, kenapa saya suka menulis. Itu karena saya suka bermain air dan lama-lama di kamar mandi.

Salam Cakrawala, Salam Literasi