WARTALOHA.COM

Media Pendidikan BERWAWASAN Cerdas dan Berbudaya

Selamat datang di wartaloha**Semoga Bermanfaat** Terimakasih Atas Kunjungan Anda** Dengan Membaca Anda Dapat Menguasai Dunia** Senang Berkerjasama dengan Anda**Kontak Redaksi Wartaloha, HP:085239228098, flafianusjeadun188@gmail.com

Wednesday, 17 July 2019

RUMAH SEBAGAI SEBUAH BUKU”   (Seratus Menit Menyelami Pemikiran P. Dr. Philipus Tule, SVD Tentang Literasi)

RUMAH SEBAGAI SEBUAH BUKU” (Seratus Menit Menyelami Pemikiran P. Dr. Philipus Tule, SVD Tentang Literasi)


Oleh : Gusty Rikarno, S.Fil
Jurnalis Media Pendidikan Cakrawala NTT

Hari makin siang. Kota Kupang adalah rumah untuk segala nama dan agama. Berbagai suku dan asal ada di sini. Tentramnya menembus batas perbedaan hingga kemudian kota ini dinamai (dijuluki) kota kasih. Ada rasa hangat dan damai untuk semua yang memilih untuk bernyawa di kota provinsi ini. Saya adalah salah satu dari ribuan yang ada. Untuk sekarang, Kota Kupang bukan hanya berarti rumah tetapi juga rahim. Saya menuju bilik barat rahim kota ini. Menara ilmu, Universitas Katolik Widya Mandira (Unwira) Kupang. Seratus menit berada di sini, menyadarkan saya jika segala yang ada memang berawal dari kata.

Adalah P. Dr. Philipus Tule, SVD, Rektor Unwira Kupang. Disapa Pater (Bapa) semenjak diurapi menjadi imam dan misionaris puluhan tahun silam. Ia selalu bernafas dalam kata “Pada mulanya adalah Firman. Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah. Ia pada mulanya bersama-sam dengan Allah. Segala sesuatu dijadikan oleh Dia dan tanpa Dia tidak ada sesuatupun yang telah jadi dari segala yang telah dijadikan. Dalam Dia ada hidup dan hidup itu adalah terang manusia. Terang itu bercahaya dalam kegelapan dan keegepalan itu tidak mengusasinya. … “. (Bdk. Yoh. 1: 1-5).

Pater Philipus adalah seorang SVD. Sebuah serikat misoner dalam tubuh Gereja katolik yang selalu bertumpu pada Sabda Allah. Kitab Suci dan ekaristi adalah jantung kehidupannya. Berada di dekatnya, kita hampir kehabisan kata dan suara. Ia menatap tajam, cerdas dan teduh. Kata-kata yang terucap dari bibirnya adalah kata-kata logis, praktis dan inspiratif. Nyaman untuk dimengerti. Ada kata yang menggantung dan butuh kemampuan lebih untuk diberi makna. “Rumah itu adalah buku”.
Mari kita lirik kembali dua kalimat awal prolog Injil Yohanes ini. “Pada mulanya adalah Firman. Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah”. Firman itu adalah Sabda dalam kata yang terucap (lisan) dan tertulis (abadi). Dalam lembaran Kitab Suci (Injil), ada suara yang terdengar lantang. Diucapkan dengan penuh wibawa. “Dengarlah hai Israel, Tuhan Allah kita, Tuhan itu Esa”, (Bdk. Mrk 12:29). Yesus, Sang sabda yang menjadi manusia itu melakukan hal ini. “IA (Yesus) membungkuk lalu menulis dengan jarinya di tanah”, (Bdk. Yoh,8:6). Kata-kata itu adalah Sabda (Firman). Dalam kata ada kehidupan, relasi, cinta dan pengorbanan. Hari ini di ruangan Rektorat Unwira berukuran 6 x 7 meter, Pater Philipus berkata-kata dalam lisan dan tulisan.

“Saya sudah menulis puluhan judul buku yang banyak dipakai orang sebagai refrensi ilmiah. Antropologi (budaya), agama, toleransi dan literasi adalah beberapa topik yang selalu digarap. Saya padukan kegiatan seminar (konfrensi) yang berkekuatan bahasa lisan dengan aktifitas menulis  yang tetap (abadi). Saya selalu mengamini dan menghidupi adagium latin ini. Verba Volant, Scripta Manent (yang terucap kan lenyap tak berjejak, yang tertulis mengabadi). Oh ya? Dalam rangka festival literasi di Mbay-Nagekeo tahun ini, saya menulis dan akan me-lounching sebuah buku berjudul : Mengenal Kebudayaan Keo, Dongeng, Ritual dan Organisasi Sosial. Saya berharap kamu hadir. Bersama Pemerintah Kabupaten Nagekeo, kita mengakarkan budaya literasi (baca-tulis) di sana”, ujar Pater Philip penuh semangat.

Mendengar dan mencatat adalah caraku menyimak dan meresapi setiap kata. Mantan Rektor Seminari Tinggi Ledalero ini adalah bapa rumah sekaligus dosenku delapan tahun silam. Ia masih memiliki api semangat yang tetap ada dan bernyala sebagai pemimpin dan peneliti. Ia senang berdiskusi, berinovasi dan menyepi dalam sunyi untuk berdoa. Banggaku kali ini, hanya satu. Ia merelakan waktu hampir seratus menit untuk saya ada dan menimba banyak ilmu darinya khususnya dalam hal menulis.

Perhatikan sebuah rumah. Filosofi, pemikiran, kebijaksanaan, persaudaraan, kerjasama dan saling menghargai terlihat jelas dari tata letak, penempatan tiang (utama/penyangga), tata ruang dan sebagainya. Sebelum bahasa tulis dikenal luas rumah adalah “buku kehidupan”. Sebuah simbol yang lazim dipakai orangtua untuk mengajarkan banyak hal kepada anak-anaknya atau warga masyarakat. Rumah adalah dunia pertama seorang anak manusia untuk merngerti banyak hal. Selain itu, rumah adalah sebuah panggung teater tempat semua penghuni rumah berelasi dan beraksi.

Kehadiran buku yang berjudul, Mengenal Kebudayaan Keo, Dongeng, Ritual dan Organisasi Sosial adalah kata tertulis dari folosofi, pemikiran dan etos hidup orang Nagekeo. Menurut Pater Philip, Keo yang disebut ‘rumah’ (sa’o), masing-masingnya memiliki tingkatan atau kelasnya sesuai nama leluhur yang direpresentasinya. Misalnya  tingkatan pertama adalah rumah asal (sa'o pu'u) dan rumah besar (sa'o mére), yang lasim merepresentasi leluhur utama atau embu. Rumah asal ini juga disebut rumah tempat orang berkumpul (sa'o tiwo liwu). Rumah itu berlokasi di kampung sesuai dengan tingkatan sosial para pemiliknya. Rumah itu pun bisa memiliki satu, dua bahkan tiga dapur (dapu) tergantung dari berapa banyaknya anak lelaki yang dimiliki leluhur dalam rumah itu. Bila ada 3 (tiga) dapur berarti dapur sebelah kanan (dapu réta) menjadi haknya putera tertua dan dapur sebelah kiri (dapu dau) menjadi haknya putera yang termuda. Sedangkan dapur yang di tengah untuk putera yang di tengah, yang berlokasi di tenda wawo di sebelah kanan. Sa'o pu'u dan sa'o mére pada umumnya berfungsi juga sebagai rumah tinggal. Namun, sebuah sa'o mére dalam perkembangan mutakhir, bisa dianggap oleh para anggotanya sebagai sebuah sa'o pu'u juga karena telah terjadi multiplikasi atau penggandaan para penghuninya. (Bdk. Philpus Tule, 2019:100).

Bagaimana jika kemudian, tubuh (pikiran kita) disimbolkan sebagai sebuah rumah? Dalam konteks budaya literasi (baca-tulis) sebuah rumah yang dibangun tanpa ventilasi atau jendela bakal menganggu sirkulasi udara. Diperlukan jendela agar udara pengap di dalam ruangan tergantikan udara segar dari luar. Begitu pun, jika jendela itu dibuka, maka sinar cahaya akan masuk untuk menerangi kegelapan. Rumah tanpa jendela akan pengap demikian halnya dengan aktifitas membaca. Dengan buku (baca: pengetahuan), pikiran kita terbarukan dan membaca adalah cara kita untuk membuka “jendela” pengetahuan. Buku-buku yang kita baca, adalah juga asupan bergizi bagi otak dan jiwa kita. Pointnya dapat. Buku baru berjudul, “Mengenal Kebudayaan Keo, Dongeng, Ritual dan Organisasi Sosial” sengaja ditulis dan diterbitkan untuk meningkatkan pemahaman sekaligus kecintaan generasi muda Nagekeo pada budaya dan aktifitas membaca dan menulis. Hal ini senada yang disampaikan Bupati Nagekeo, dr. Johanes Don Bosco Do. Menurutnya, generasi muda Nagekeo ke depan membutuhkan bahan bacaan sejarah dan budaya tertulis (literasi) yang perlahan-lahan tapi pasti terus menggeser budaya lisan (oral).

Kota Kupang, Nagekeo, NTT dan Indonesia adalah rumah (rahim) bersama. Pancasila adalah “ibu” yang selalu dan merangkul anak-anaknya dari segala suku, agama, asal dan budaya. Pada sudut dinding ruangan berukuran 6x7 meter itu, Pater Philipus berpikir, berbicara dan menulis. Sebagai penjaga menara ilmu bernama Unwira Kupang, ia telah, sedang dan ikut mengambil peduli. Sumber Daya Manusia  (SDM) harus ditingkatkan dalam satu cara. Literasi adalah jalannya. Ia (Pater Philipus) bercerita banyak. Ada beberapa terobosan terbaru. Para wisudawan Unwira kedepannya bakal diberi hadiah buku. Simbol sekaligus bukti bahwa ia (wisudawan) telah kembali dari puncak menara ilmu itu. Kini saatnya ia turun ke dunia kerja. Sebuah fakta (realitas) kehidupan yang harus dijalani sekaligus saat tepat ia mengimplementasikan ilmu yang telah diperolehnya.

Terima kasih Pater, untuk waktu seratus menit ini. Engkau adlaha “bapa rumah” untuk NTT tercinta. Pemimpin (penjaga) menara ilmu yang tidak pernah letih untuk “bertengkar” dengan kenyataanm dalam banyak produk karya tulis. Tetaplah berkarya pada nafas yang sama. “Pada mulanya adalah Firman. Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah”.

Salam Cakrawala, Salam Literasi …

Saturday, 13 July 2019

SMART CITY HARUS MULAI DARI KAMAR MANDI  (Catatan Pinggir Untuk Pemerintah Kota Kupang)

SMART CITY HARUS MULAI DARI KAMAR MANDI (Catatan Pinggir Untuk Pemerintah Kota Kupang)



Oleh : Gusty Rikarno, S.Fil
Jurnalis Media Pendidikan Cakrawala NTT

 Saya selalu ingin ada dan menikmati kesendirian di kamar mandi. Seperti dulu, saat masih kecil. Ingin “bermain-main” dengan air dan menikmati sensasinya. Dingin, hangat dan segar. Di saat begini saya ingat kampung bersama kisah masa kecil yang menggetarkan itu. Air dalam nama kali, kolam, mancur, bendungan dan sebagainya adalah sahabat yang selalu dijumpai. Memotong bambu dan membelahnya membentuk selokan. Membiarkan air itu mengalir. Ada kenyamanan dalam pikiran saat mendengarkan suara alirannya yang teduh dan romantis. Tak ada suara yang terdengar dalam kata melarang. “Jangan buang-buang air. Di sini kita kesulitan air. Mateus, sopir tangki air itu tidak mengangkat telphon. Kalau pagi ini ia tidak antar air, artinya sebentar sore kita tidak minum dan mandi”.  Syukurlah. Di pondok kecilku ada sumur. Kuberi nama “Sumur Andreas”. Bukan sumur Yakob. Tahu kenapa? Akan saya ceritakan nanti. Ketika mesin pemompa air (sanyo) dihidupku, air mengalir dan terus mengalir. Yah … asalkan saja pulsa listrik tetap stabil.

 Di kamar mandi saya berimajinasi banyak. Tentang tubuh saya yang dibentuk oleh air dan bergantung pada air. Delapan puluh persen, tubuh manusia sesungguhnya berisi air.  Tidak heran hanya ada dua kata kunci yang selalu ada dan wajib dikerjakan yakni minum air dan buang air. Sebuah rutinitas abadi yang berakhir saat seseorang enggan bernafas. Untuk saat ini, berlama-lama di kamar mandi adalah caraku bersyukur. Saya selalu memulai tanda salib sebelum mandi atau membasuh muka. Teringat kembali sebuah iklan yang lazim terdengar. “Sumber air sudah dekat”. Rumah semegah apapun kalau kekurangan air maka tidak lebih dari sebuah kapal pesiar yang dalam waktu sepuluh menit indah dan mengangumkan. Tetapi dalam waktu belasan menit kemudian akan terasa jenuh, jijik sekaligus menimbulkan trauma untuk datang bertamu lagi. Telingaku sangat dimanjakan saat mendengar air itu mengalir dari sumbernya.

 Dalam kamar mandi itu, saya menikmati dalam hening. Berpikir dan merasa seadanya. Pernah saya bertanya tentang arti nama nama tempat (wilayah) yang dimulai dari kata yang berarti air. Di ini tempat, kata Oe berarti air. Ada nama yang mulai dari kata ini. Oeba, Oesapa, Oepura, Oetete, Oelamasi dan sebagainya. Atau di kampungku kata Wae berarti air. Semisal, waemeleng, waemedu, waemokel, waerana, waemauk dan sebagainya. Apakah artinya tempat itu kelimpahan air atau sumber mata air? Ini pertanyaan sekaligus gugatan. Jika kemudian disadari nama adalah tanda seharus demikian. Oepura sebagai salah satu kecamatan di Kota Kupang, seharusnya berkelimpahan air atau sumber mata air. Seperti halnya Oeba, Oepoi dan Oesapa. Jika kemudian ada yang mengeluh kekurangan air di tempat (wilayah) ini itu berarti ada yang salah pada orang-orang yang dulunya memberi nama pada tempat ini. Bukan salahnya pemerintah, pegawai PAM atau generasi di zaman ini. Kesalahan itu ada pada orang-orang yang memberi nama atas tempat atau wilayah ini.

 Akh … sabar dulu. Jangan-jangan Oe ini bukan artinya yang sesungguhnya. Bisa saja kata Oe ini berarti simbolis atau semacam sebuah kerinduan bawah sadar. Air itu adalah kita yang berdiam di tempat atau wilayah ini. Belajar dari kebijaksanaan air yang selalu datang memberi rasa yang tidak biasa. Masyarakat dalam wilayah yang dimulai kata oe dan wae seharusnya hadir sebagai pribadi yang membawa kesejukan, kesegaran dan kehidupan bagi orang lain. Atau jika tidak mampu memberi kenyamanan, kesejukan dan kedamaian bagi yang lain seharusnya hidup di tempat yang mulai dari kata yang berarti batu. Seperti kata Fatu/watu seperti fatule’u, Fatuka, Fatukoa, Watu Timbang Raung dan sebagainya. Apakah orang-orang yang hidup di tempat/wilayah fatule’u, Fatukoa, Fatuka atau Watu Timbang Raung adalah mereka tidak mampu memberi kenyamanan dan kesejukan? Tidak benar. Tahu kenapa Watu/Fatu bisa saja berarti mandiri, pendirian yang kuat, kerja keras, iman yang teguh, pantang menyerah dan sebagainya. Pointnya adalah nama itu adalah tanda. Tanda itu berarti yang ada. Tidak ada sesuatu tanpa nama. Jika sesuatu itu tanpa nama itu artinya tidak ada, hilang dan musnah.

 Mari kita kembali pada kamar mandi dan air. Kamar mandi yang ideal seharusnya begini. Hanya berisi air dan perlengkapan mandi seperti sabun, sikat gigi, odol, shampoo dan sebagainya. Agar imajinasimu fokus, cerdas dan tidak liar, jangan jadikan kamar mandi sebagai tempat jemuran apalagi tempat sampah. Dirimu adalah kamar mandi itu sendiri. Orang cerdas, sistematis, bersih dan rapi, pasti datang dari sebuah rumah yang memiliki kamar mandi yang bersih dan tertata baik. Selain itu, ukuran kamar mandi  tidak boleh lebih dari luas dari kamar tidur keluarga. Mengapa? Karena kamar mandi itu untuk mandi. Bukan untuk ngopi atau tidur-tiduran. Namanya kamar mandi. Pasti dan harus ada air. Kamar mandi yang tidak ada air maka itu bukan kamar mandi. Sebut saja, kamar tanda nama. Mari kita lihat cara berpikir dan penampilan dari seorang yang datang dari kamar tanpa nama. Pasti jorok, tidak sistimatis dan sudah pasti kemomos.

Kota Kupang bakal sudah ditunjuk sebagai salah satu kota cerdas dari seratus lebih kota cerdas lainnya di Indonesia. Gerakan menuju 100 Smart City merupakan program bersama Kementerian Komunikasi dan Informatika, Kementerian Dalam Negeri, Kementerian PUPR, Bappenas dan Kantor Staf Kepresidenan. Gerakan tersebut bertujuan membimbing Kabupaten/Kota dalam menyusun Masterplan Smart City agar bisa lebih memaksimalkan pemanfaatan teknologi baik dalam meningkatkan pelayanan masyarakat maupun mengakselerasikan potensi yang ada di masing-masing daerah. Sebuah kota dapat dikatakan Smart City jika di dalamnya lengkap dengan infrastruktur dasar, juga memiliki sistem transportasi yang lebih efisien dan terintergrasi. Tujuan kota pintar juga bagai mana dapat mendatangkan wisatawan sebayak mungkin, menarik investor agar berinvestasi di kota ini, kemudian menarik penghuni baru, bagi mana penghuni baru dari kalangan baik profesional, akademisi, dan usahawan bertempat tinggal di kota kita. Kesemuanya itu tolak kukur nya adalah kota tersebut memiliki daya tarik yang kuat.

  Apresiasi tulus kepada Walikota Kupang bersama Wakilnya yang telah berpikir dan bekerja. Prestasi awal yang patut dibanggakan. Mereka telah menyambut program nasional ini. Artinya, pemerintah Kota Kupang sudah berpikiran maju dan cerdas. Jika kemudian Smart City dikaitkan dengan pengunakan alat teknologi dan informasi maka tidak salah jika kemudian pemerintah kota kupang membuka jaringan internet di beberapa tempat umum untuk semua masyarakat bisa mengunakannya secara gratis. Segala infomasi bisa diakses. Selain itu masyarakat bisa mengirimkan informasi apa saja ke pemerintah dan atau kepada semua masyarakat dunia. Habat kan? Smart City adalah jalan untuk men-dusun-kan dunia. Beragama bidang kehidupan yang menyentuh kepentingan masyarakat luas kiranya ikut “terdongkrak” peningkatan mutu pendidikan, ekonomi, layanan publik dan sebagainya. Masyarakat Kota Kupang bakal ada dalam satu kawasan pintar yang canggih, cepat dan tepat.

Saya masih berada dalam kamar mandi. Seperti dulu saya ingin menghabiskan waktu sendiri bermain air. Di waktu itu, mama selalu berteriak marah jika lebih dari setengah jam saya bermain air. Katanya, itu tidak baik untuk kesehatan dan kemampuan ber-sosialku nanti. Sebagai wanita desa yang minus informasi, mama selalu menakutiku dengan sesuatu yang tidak masuk akal. Katanya kalau terlalu lama bermain air nanti kerbau kejar, perut buncit, telinga lebar dan sebagainya. Mama marah, bukan karena takut kehabisan air tetapi takut saya menciptakan duniaku sendiri. Smart City adalah jalan untukku menciptakan duniaku sendiri. Dengan gawai ditanganku, saya ingin menghabiskan banyak waktu sendiri, mungkin tidak hanya di kamar mandi. Bisa saja saya bakal nyaman di kamar tanpa nama itu.

Pertanyaan tersisa dalam tetes air terakhir, bagaimana orang bisa menjadi diri (masyarakat) pintar dan cerdas jika ia tidak mandi atau menjadi dehidrasi karena kurang minum air. Bayangkan, untuk mandi dan minum saja sulit apalagi  untuk bermain dan membuang-buang air. Sekali lagi, Kota Kupang kekurangan (kesulitan) mendapatkan air. Itu fakta. Sekali lagi, jangan salahkan pemerintah sekarang jika nama tempat yang dimulai dari kata berarti air itu justru kekeringan dan kekurangan air. Perhatikan cara orang berpikir, merasa dan berpenampilan. Bisa dibedakan dengan jelas apakah ia datang dari rumah/kos yang memilki kamar mandi yang berkelimpahan air atau yang kamar mandinya kekurangan bahkan tidak ada air. Sekali lagi. Kamar mandi yang tidak ada air, itu bukan kamar mandi. Namanya, kamar tanpa nama.

Mari jujur. Bagaimana masyarakat dunia maya di Kota Kupang bermedia sosial. Banyak group (facebook dan WA) terlihat “kemomos”. Pikiran kritis selalu berakhir buntu berhadapan dengan orang yang lelah dan lemah berpikir. Diskusi berakhir debat dan menyerang pribadi. Saya tersenyum sendiri dan berusaha bertahan semampunya di group “kemomos” itu sebelum saya meninggalkannya. Saya tidak sedang mengatakan bahwa saya orangnya kritis dan yang lain sebaliknya. Tidak. Saya berpikir tentang bagaimana seharusnya berpikir. Program pemerintah pusat seharusnya dijalankan dalam konteks situasi dan kearifan lokal (daerah).

Untuk konteks Kota Kupang Kota Cerdas itu ada dan mulai dari kamar mandi. Selain membangun jaringan internet gratis, pemerintah Kota Kupang harus menyiapkan anggaran untuk mengalirkan air ke kamar mandi warga masyarakat. Saya sudah mulai dengan “Sumur Andreas”. Semisal begini. Dana kelurahan diperintahkan agar sebagiannya digunakan untuk menggali sumur umum. Warga masyarakat dalam radius tertentu bisa mengunakan air sumur itu. Beri nama untuk sumur itu sebagai tanda. Misalnya sumur Herman, Sumur Jefri, Sumur Frans, Sumur Viktor dan sebagainya. Masyarakat tidak perlu membeli air lagi. Jika sumur itu cukup jauh dan dalam mereka (masyarakat) hanya fokus mencari uang untuk beli pulsa listrik. Pengalaman saya, jauh lebih hemat ketimbang membeli air yang kebersihannya masih bisa diragukan. Kamu tahu, kenapa saya suka menulis. Itu karena saya suka bermain air dan lama-lama di kamar mandi.

Salam Cakrawala, Salam Literasi

Wednesday, 10 July 2019

Ketika Mahasiswa NTT Mengalami "Dehidrasi"  Literasi (Menyulam Kisah Bersama Penjasa Pembuat Skripsi)

Ketika Mahasiswa NTT Mengalami "Dehidrasi" Literasi (Menyulam Kisah Bersama Penjasa Pembuat Skripsi)


Oleh : Gusty Rikarno, S.Fil
Jurnalis Media Pendidikan Cakrawala NTT

Saya selalu begitu. Menghabis waktu senggang berselancar di dunia maya. Memantau realitas dan situasi terkini sekaligus merasakan “sensasi” dari cara orang berpikir dan merasa tentang realitas dan situasi tersebut. Facebook menjadi salah satu pilihan ketika aplikasi buatan Mark Zuckerberg ini digandrungi orang. Pada wajah laman facebook, kita bisa menikmati sekian banyak aroma, mulai dari yang berstandar tinggi hingga pada tingkat murahan. Kita bisa mengetahui kedalaman berpikir dan karakter orang dari cara ia menulis status di dinding facebook-nya. Terkadang kita resah dan bingung sendiri saat menakar kualitas tulisan seorang pejabat atau akademisi yang “sejajar” dengan cara seorang “masyarakat biasa” menulis status.  Saya membaca sambil menikmati. Ada yang hari kemarin dinding facebook-nya berisi sampah dengan kalimat caci maki dan sumpah serapah. Hari ini berisi kata-kata bijak penuh motivasi. Ada yang sangat konsisten. Dinding facebook-nya hanya berisi keresahan, rasa pesimis dan kritikan tanpa arah.

Saya berhenti di satu pemilik akun unik. Jasa Pembuatan Skripsi. Saya tahu ini bukan sebuah nama. Begitulah facebook. Mark Zuckerberg, Cs tidak butuh yang resmi dan asli. Sesungguhnya ia butuh uang. Sama halnya dengan sang pemilik akun ini. Ia butuh uang dari jasa membuat skripsi. “Bingung skripsi? Serahkan saja kepada kami. Jasa pembuatan skripsi terpercaya” begitulah cara ia/mereka (pembuat skripsi) menawarkan jasanya. Tidak lupa ia menyertakan nomor whatsapp (WA).

Saya penasaran. Mencatat nomor WA itu dan segera beralih dari aplikasi facebook ke aplikasi whatsapp.
Saya mengirim pesan. Mengambil peran sebagai seorang calon sarjana yang ingin membutuhkan jasanya. Dalam waktu singkat ia menjawab dan kelihatannya ia sangat bersemangat. Tanpa basa-basi saya langsung menawarkan jasanya sekaligus menanyakan total biaya yang harus saya siapkan. Menurutnya, saya bisa terima jadi. Bahkan ia akan memberikan “training” singkat tentang bagaimana menjawab pertanyaan dosen saat ujian nanti. Total biayanya sebesar Rp. 4.000.000,-. Saya selalu ingin begitu. Mengajak orang “istimewa” untuk ngopi bersama.  Dari dunia maya akhirnya kami bersua di dunia nyata. Saya berpenampilan biasa. Yah…seperti para mahasiswa pada umumnya yang sedang resah dan gelisah. Lugu, loya, gugup dan sedikit gagap.

Sambil meneguk kopi layaknya seorang juragan, ia mulai menjelaskan tentang bagaimana mendapatkan judul. Menurutnya, mendapatkan judul itu tidak sulit. Satu hal yang penting sekaligus sulit adalah bagaimana harus menemukan masalah. Itulah tema yang bakal kita garap. Ia menawarkan beberapa judul skripsi ketika saya menjelaskan bahwa saya adalah calon guru jurusan sosiologi. “Tidak sulit bro. Itu gampang. Tidak usah resah begitu. Saya sudah siapkan beberapa judul yang bisa langsung dipakai. Sudah banyak orang memakai judul ini. Bro cukup ganti tempat dan tahunnya saja. Dosen pasti langsung setuju. Apalagi dosen di kampus anu (ssstt…rahasia).  Kalau hanya untuk judul, bro bisa bayar Rp. 1.000.000,. Itu murah sudah.”, katanya sambil terkekeh.
Benar. Hari itu saya ingin tampil bodoh di hadapannya. Berjuang tampak bingung dan resah. Sesekali menggarukkan kepala dan kamu tahu? Ia semakin “bergairah”. Bercerita banyak hal tentang ketuntungannya dari jasa membuat skripsi. Menurutnya, di kota Kupang ini banyak yang sudah memakai jasanya. Skripsi mereka dipuji oleh dosen pembimbing dan penguji. Mereka lulus. Saat wisuda ada yang datang bersama orangtuanya dan mencium tangannya. Ia seperti dewa penyelamat. Keluarganya menyisipkan juga “uang sirih pinang” yang walaupun mereka tahu, ia (si pembuat skripsi) tidak makan sirih pinang.

Berjuang tampak ragu, saya bertanya bagaimana kalau nantinya ketahuan saya menggunakan jasanya. Ia menatapku sejenak. Seakan sedang berjuang mencari cara menghapus keresahan saya. “Tidak perlu takut. Sebelum maju untuk ujian kamu akan dibekali. Dosen sudah memiliki beberapa pertanyaan wajib yang saya tahu hanya sekadar basa-basi. Tapi, kamu juga harus mendekati dosen. Kalau di kampus anu, saya tahu maunya dosen itu. Hidup ini adalah tentang uang. Idealisme bahkan keyakinanmu bisa dibeli dengan uang. Bro tahu maksud saya to? Saya heran ada yang sharing kalau di kampusnya ada dosen “killer”. Tidak. Ia (dosen) sesungguhnya meminta pengertian dari kamu. Minta dihargai sekaligus minta uang jajanmu”, katanya sambil terbahak.

Ini fakta. Kisah nyata dunia pendidikan kita. Jika setiap tahunnya, semua kampus meng-wisudakan ratusan bahkan ribuan orang sarjana, saya malah ragu untuk ikut berbangga. Ada semacam paradoks. Semisal begini. Setiap tahun,  beberapa kampus di NTT menamatkan sekian banyak sarjana ekonomi. Coba pergi ke pasar. Pedagang di sana adalah “orangtua” bersahaja tanpa ijazah sarjana ekonomi. Dalam setiap harinya, mereka menghasilkan banyak uang dari kepiwaiannya berdagang. Sampai di detik ini saya harus berbisik keras. NTT butuh sarjana bukan ijasah sarjana. Sudah. Bakal saya ulas khusus topik yang satu ini. Mari kita kembali ke meja ngopi dengan si penjual jasa membuat skripsi tadi.

Saya segera pamit ketika dua orang gadis mendatanginya. Sepertinya mereka memiliki maksud yang sama. Ingin memakai jasanya membuat skripsi. Kepada saya si pembuat skripsi berpesan jika nanti datang menemuinya lagi jangan lupa bawa laptop. Beberapa judul skripsi bisa langsung di-copy paste-kan. Emailnya sudah tidak dipakai lagi. Saya kembali ke redaksi. Duduk diam tanpa kata dan suara. Di saat begitu, saya didatangi sekelompok mahasiswa ber-jas kuning emas. Tiba-tiba meminta Kartu Keluargaku. Katanya, mereka bertugas untuk mengecek dan mencatat bagaimana masyarakat berlaku hidup sehat. Tanpa ragu ia menyuruh saya mengisi formulir yang berisi pertanyaan yang menyentak dada seperti berapa penghasilan tiap bulan? Berapa jumlah fentilasi rumah anda? Lalu ke mana air kamar mandi dialirkan. Pertanyaan konyol dan membingungkan. Mungkin seharusnya begini. Kamu memberi salam, memperkenalkan diri dari kampus mana dan tujuan kedatanganmu apa. Mungkin kebodohan itu perlu dirayakan dengan satu cara seperti ini. Diam tanpa kata dan suara.

Wajah dan suara si penjual jasa membuat skripsi itu hadir kembali. Saya mempersilahkan para mahasiswa pengecek dan pencacat data itu duduk. Kepada mereka saya menjelaskan beberapa hal mulai dari soal etika, kecerdasan berkomunikasi hingga bagaimana mengumpulkan data di tengah masyarakat. Kamu bakal temukan masalah yang terjadi di tengah masyarakat, semisal masalah kebersihan dan kesehatan tergantung dari kemauan si narasumber memberi data secara benar dan valid.

Cara kamu berkomunikasi untuk mengyakinkan sang narasumber (pemberi data) sangat menentukan kualitas tulisanmu nanti. Tulisan skripsimu ditentukan dari cara kamu memberi salam  kepada para narasumber. Kalau kemudian tiba-tiba meminta kartu keluarga dan mengisi formulir kamu bakal mendapat kerugian ganda. Pertama, permintaanmu tidak dikabulkan dan yang kedua kamu bakal diusir dan dikatai sebagai mahasiswa bodoh.

Kisah penjual jasa membuat skripsi ini dan sekelompok mahasiswa pengecek dan pencacat data mengisyaratkan beberapa hal.

Pertama, lemahnya budaya baca-tulis di kalangan mahasiswa. Aktifitas menulis selalu mengadaikan adanya kebiasaan membaca. Penulis yang trampil adalah seorang pembaca yang tekun. Menulis skripsi adalah menuliskan pikiran. Pikiran-pikiran cerdas dan kristis adalah miliknya si “kutu buku”.

Kedua,  pentingnya kegiatan ekstra kurikuler jurnalistik dan Karya Ilmiah Remaja. Para kepala sekolah, guru dan komite di tingkat Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan Sekolah Menengah Atas (SMA) seharus memikirkan dan memprogramkan hal ini. Kegiatan ekstrakurikuler lain seperti Dramband, pramuka, kelompok peduli lingkungan hidup dan sebagainya, itu penting. Namun jauh lebih penting adalah bagaimana mempersiapkan para calon mahasiswa ini. Mereka harus didampingi secara khusus dalam hal menulis. Mari jujur, seberapa sering papan mading di sekolah itu diganti dengan tulisan baru. Akh … jangan sampai papan madingnya ditempel kertas pengumuman penggunaan dana BOS atau lembaran promosi dari berbagai kampus untuk penerimaan mahasiswa baru.

Ketiga, mungkin saatnya pemerintah dan DPR bertobat. Bicara mutu pendidikan jangan langsung tertuju pada sebuah kondisi gedung sekolah. Sekali lagi, mutu itu ada di kepala guru dan peserta didik. Oleh karena itu, kegiatan peningkatan mutu guru dan siswa harus diutamakan. Pendampingan penulisan karya ilmiah, misalnya.

Mari jujur. Para guru NTT mayoritas kandas di pangkat/golongan IV/A. Tahu kenapa? Karena ia tidak membaca dan menulis. Kalau guru tidak biasa membaca dan menulis jangan harap anak didik berbuat sebaliknya. Ingat, guru itu digugu dan ditiru.

Pengjasa pembuatan skripsi itu terkekeh. Ia terbahak untuk beberapa hal. Ia sedang menertawakan guru dan anak-anak NTT yang nampak bingung, resah, gagap dan gugup menulis karya ilmiah. Harga dirinya digadai atas nama profesionalisme dan ijasah sarjana. Selain itu, ia terkekeh menertawakan pemerintah, masyarakat dan leluhurnya orang NTT. Pemerintah yang selalu mencari posisi nyaman, anggota legislatif yang hanya berpikir untuk lima tahun, masyarakat yang tidak peduli pendidikan dan generasi yang akan datang serta leluhur yang meninggal tanpa memberi pesan dan teladan.

Akhirnya, mari kita terbahak bersama. Meramaikan dunia maya dan merayakan kebodohan sekaligus membangun niat untuk berubah. Ingat, kita sedang mengalami dehidrasi literasi. Kamu tahu apa itu dehidrasi literasi? Keadaan kita yang bisa baca (melek huruf) tetapi tidak biasa membaca.

Salam Cakrawala, Salam Literasi …

Friday, 5 July 2019

MEMAHAMI NILAI FILOSOFIS BUDAYA TARIAN CACI

MEMAHAMI NILAI FILOSOFIS BUDAYA TARIAN CACI



Penulis: Niko Taman, S.Pd


MEMAHAMI NILAI FILOSOFIS BUDAYA TARIAN CACI

Tulisan ini bertujuan merespon perdebatan panas warganet di media sosial khususnya di grup DEMOKRASI MABAR akhir-akhir ini pasca viralnya sebuah vidio yang menayangkan sepasang penari caci perempuan di sebuah sanggar tarian caci di Kampung Melo Manggarai Barat. Kegiatan ini ditayangkan oleh sebuah stasiun TV swasta. Beragam reaksi publik pun bermunculan mulai dari yang bermakna mengumpat hingga memuji.

Bahkan tidak sedikit yang mengutuk pihak sanggar selaku pihak yang bertanggung jawab atas kegiatan pementasan caci tersebut dengan basis argumentasi budaya bahwa caci secara tradisi tabu dipentaskan oleh kaum hawa. Namun pihak yang mendukung berargumen bahwa caci merupakan ekspresi nilai seni dan oleh karena itu tidak menjadi milik istimewa kaum adam.

Tulisan ini tidak bermaksud untuk membuat dikotomi tentang pihak mana yang benar dalam perdebatan seputar pantaskah kaum hawa menarikan tarian caci tetapi mau mencoba membahas tarian caci menurut perspektif nilai filosofis budaya yang terkandung dalam seni tarian caci itu sendiri. Melalui tulisan ini akan diketahui bahwa aturan teknis pementasan tarian caci berkaitan erat dengan nilai-nilai filosofis yang dimaksud. Dengan kata lain, tarian caci hanya dimainkan/dipentaskan oleh penari laki-laki bukan sekedar tradisi belaka tetapi merupakan refleksi simbolis makna filosofis yang ditanamkan sejak lahirnya seni tarian caci itu sendiri.

Tarian Caci Manggarai
Foto: facebook.com

Sebelum penulis mengulas secara singkat apa saja aspek nilai filosofis dalam seni tarian caci itu sendiri, tentu sangat penting untuk kita memahami aspek etimologis nya. Caci secara etimologis berasal dari Bahasa Manggarai yang terdiri dari dua kata yaitu ca dan ci. Secara leksikal dalam kamus Bahasa Manggarai karangan Jillis AJ Verheijen kata ca diartikan satu, tunggal sedangkan kata ci diartikan mencoba, menguji. Merujuk pada makna leksikal tersebut, caci dapat diartikan menguji satu satu. Yang diuji adalah kemampuan, ketangkasan dan kekuatan pemain dalam memukul dan menangkis pukulan lawan.

Apa saja nilai filosofis yang terkandung dalam seni pementasan tarian caci? Berbicara tentang nilai filosofis adalah berbicara tentang pengetahuan yang membahas hakikat dari segala sesuatu melalui penyelidikan dengan akal budi untuk menemukan jawaban secara kritis, logis, sistematis. Dalam kaitan dengan seni tarian caci, nilai filosofisnya yang diusung berkaitan dengan alasan hakiki mengapa caci itu ada, mengapa caci itu hanya dipentaskaskan oleh kaum pria dan untuk apa caci itu dibuat. Jawaban atas pertanyaan tersebut merupakan satu kesatuan yang menjadi landasan filosofis budaya orang Manggarai tentang seni tarian caci.

Berhubung Caci adalah sebuah seni tari yang kaya akan nilai baik yang bersifat estetik maupun etika, tulisan ini hanya fokus pada aspek nilai filosofis yang menjawab satu pertanyaan mendasar yakni mengapa caci hanya dimainkan oleh penari pria. Fokus tulisan ini diharapkan dapat membantu kita menemukan alasan mengapa tarian caci hanya boleh dimainkan oleh kaum adam.

Setiap jenis kesenian yang dimiliki oleh suatu kelompok etnis tertentu dipakai sebagai media mengekspresikan sejumlah nilai. Demikian pula tarian Caci sebagai salah satu wujud kebudayaan Manggarai dalam bidang kesenian diciptakan sebagai media mengekspresikan sejumlah nilai yang erat kaitannya dengan falsafah budaya masyarakat pemilik kesenian tersebut. Menurut Teobaldus Deki dkk dalam salah satu artikelnya yang berjudul "Caci Orang Manggarai", caci merupakan media ekspresi keperkasaan, keberanian dan ketangkasan kaum pria dalam bentuk seni tari. Nilai ini secara simbolis dinyatakan melalui gaya berbusana yang ditampilkan penari caci dan aturan teknis pementasan serta asesoris busana yang semuanya merepresentasi sifat maskulin penari caci.

Keperkasaan, keberanian dan ketangkasan adalah unsur karakter maskulin yang harus mampu ditunjukan penari caci secara etis dan estetik. Artinya sifat keperkasaan yang ditunjukan dengan penuh keberanian dan ketangkasan dalam menyerang dan menangkis pukulan lawan tetap dilandasi sikap santun, sportif terhadap lawan serta tidak mengurangi aspek estetik sebagai sebuah ekspresi seni tari bagi kaum pria dewasa. Bagi orang Manggarai, karakter maskulin yang diekspresikan lewat tarian caci merupakan bagian dari edukasi nilai moral bagi pendewasaan diri kaum pria dewasa. Karakter tersebut bersifat luhur dan sakral sehingga tidak boleh dinodai dengan mengubah aturan teknis pementasan seni tarian caci. Mengubah aturan tehnis pementasan tarian caci dengan menggantikan tradisi penari pria dengan penari wanita berarti menghilangkan sejumlah nilai luhur yang terkandung dalam seni tarian caci itu sendiri. Perlu dimengerti bahwa tarian caci harus dimainkan oleh kaum pria dewasa bukanlah sebuah tradisi belaka yang dikonstruksi sebagai bentuk dominasi budaya patrilineal dalam kebudayaan Manggarai melainkan sebuah upaya untuk merawat sejumlah nilai filosofis budaya yang ditampilkan melalui seni tari tersebut.Para leluhur yang menciptakan dan mewariskan seni tarian caci dengan sejumlah nilai filosofisnya pasti menginginkan generasi penerusnya tidak sekedar memandang caci sebagai sebuah kesenian tetapi menjadi sebuah media edukasi nilai moral.

Melihat caci sebagai media ekspresi nilai maskulinitas tentu menggugah kita untuk bertanya apakah hal ini menunjukan tendesi ketidakadilan gender atau dominasi budaya patrilineal dalam kebudayaan Manggarai? Sama sekali tidak mengandung ketidakadilan gender karena pilihan penari pria atau wanita dalam setiap seni tari bukan bersifat mana suka tetapi berdasarkan nilai moral atau nilai filosofis budaya yang dikemas melalui pementasan seni tari tersebut. Demikian pula seni tarian caci, dilihat dari nilai filosofis yang berhubungan dengan unsur karakter maskulin yang diekspresikan melalui seni tari tersebut, jelas tidak dibenarkan jika tarian caci dipentaskan oleh penari wanita. Unsur karakter maskulin seperti kejantanan, ketangkasan dan keberanian yang terkandung dalam seni tarian caci hendaknya tidak dilihat sebagai sebuah ketidakadilan gender melainkan sebuah media edukasi moral bagi kaum pria dewasa Manggarai. Caci tidak disamakan dengan olah raga sepak bola, tinju atau sejenisnya yang dapat dilakoni oleh pria dan wanita karena berhubungan dengan nilai filosofis budaya yang mau disampaikan melalui kesenian tersebut.

Caci kini menjadi salah satu daya tarik wisata budaya berkelas dunia. Tidak sedikit wisata manca negara memesan caci dalam paket perjalanan wisatanya. Tidak mengherankan jika saat ini menjamur sanggar tarian caci sebagai lahan bisnis menjanjikan. Ini patut diapresiasi karena menjadi wahana pelestarian kesenian lokal di tengah arus dominasi budaya global. Namun perlu diingat bahwa setiap sanggar budaya bertanggung jawab merawat orisinilitas dan keluhuran nilai yang terkandung dalam seni tari tersebut. Sejumlah nilai filosofis budaya yang tidak dapat diubah sesuai selera kebutuhan penontonnya. Karena hal ini akan mereduksi sakralitas dan martabat nilai budaya yang dikemas dalam seni tari tersebut. Saatnya kita sebagai orang Manggarai membuktikan sikap hormat terhadap keluhuran martabat budaya kita dengan tidak mengkomersialisasi demi mendulang dolar. Budaya adalh jati diri, mereduksi nilai budaya demi kepentingan bisnis adalah tindakan merendahkan harga diri. Karena itu tidaklah mengherankan jika kasus tarian caci yang dimainkan oleh penari perempuan di sebuah sanggar di Kampung Melo Manggarai Barat beberapa waktu lalu yang diduga terjadi atas permintaan wisatawan memantik reaksi keras dari publik terutama orang Manggarai yang memahami filosofi budaya tarian caci. Meskipun hingga kini belum ada klarifikasi resmi pemilik sanggar, penulis sungguh menyadari hal tersebut terjadi di luar konsep resmi pemilik sanggar. Karena saya yang berprofesi tambahan sebagai pemandu wisata pernah membawa wisatawan ke sanggar tersebut. Pemilik sanggar selalu melibatkan tokoh adat yang banyak tahu tentang caci. Akan tetapi karena hal ini sudah terjadi, semoga menjadi pelajaran penting bagi kita bahwa budaya memang bukan teks kitab suci yang tidak boleh diubah seturut tuntutan kebutuhan jaman namun tidak pantas jika diubah sekedar memenuhi desakan hasrat bisnis belaka. SALAM DEMOKRASI

Sunday, 30 June 2019

Pengumuman Hasil Seleksi Jalur UMPN Politeknik Negeri Kupang Tahun 2019

Pengumuman Hasil Seleksi Jalur UMPN Politeknik Negeri Kupang Tahun 2019


PENGUMUMAN HASIL UJIAN MASUK POLITEKNIK NEGERI (UMPN) POLITEKNIK NEGERI KUPANG TAHUN AKADEMIK 2019/2020 

Berdasarkan surat keputusan Direktur Politeknik Negeri Kupang No. 113 Tahun 2019 tentang pengumuman Hasil Ujian masuk Politeknik Negeri (UMPN) Politeknik Negeri Kupang Tahun Akademik (2019/2020) Untuk seluruh kelas reguler dan kelas kerjasama PLN dengan perincian dan persyaratan selengkapnya dapat diunduh pada link berikut:http://pnk.ac.id/download
"Desa mulai menggeliat, pendapatan desa makin maju"

"Desa mulai menggeliat, pendapatan desa makin maju"





"Desa mulai menggeliat, pendapatan desa makin maju"

Segera setelah upaya pengembangan ekonomi rakyat di desa mulai bergulir, setapak demi setapak mulai terlihat adanya desa-desa yang bergerak dengan semangat tinggi dibarengi kerja keras serta persatuan dan kesatuan yang makin mantab diantara pejabat dan rakyat banyak, akibatnya desanya bertambah maju. Tingkat produktifitas masyarakat umum meningkat. Hasil produk untuk setiap jengkal tanah bertambah, kegiatan masyarakat desa bertambah variasinya sehingga pendapatan asili desa bertambah tinggi. Akhirnya hasil dari sawah dan ladang dengan tanaman yang sesungguhnya sama meningkat dan kegiatan lain menghasilkan nilai tambah yang makin menggembirakan.

Ivanovick Agusta, anggota Tim Pakar Kemendes PDTT, yang sehari hari ditugasi memantau perkembangan pendapatan asli desa berkat kerja keras masyarakat itu mencatat bahwa berkat kerja keras dan persatuan yang mengutamakan perbaikan bersama membawa kemajuan pembangunan di desa dan membuahkan hasil awal berbagai inovasi desa yang didukung dana yang berasal dari berbagai sumber tercatat data pada Ditjen PPMD adanya berbagai kemajuan yang membesarkan hati. Data tersebut, biarpun bersifat sementara, merupakan indikasi positif adanya kemajuan yang harus dipantau dengan seksama agar benar-benar meyakinkan, dapat dipelajari penggeraknya dan ditiru desa lainnya.

Angka sementara diketahui terdapat 157 unicon desa, desa maju yang menonjol, yaitu desa yang memiliki Pendapatan Asli Desa (PADes) diatas nilai Rp. 1 milyar pada tahun 2017. Diantaranya terdapat empat desa di Indonesia memiliki PADes diatas  Rp. 5 miliar, yaitu Desa Bukoharjo di Kabupaten Sleman, DI Yogyakarta dengan PADes sebesar Rp.6,8 miliar, Nglinggis di Trenggalek, Jatim dengan PADes sebesar Rp. 5,8 miliar dan Gempolan di Karanganyar, Jateng dengan PADes sebesar Rp. 5,3 millar. Sebagai perbandingan PADes setiap desa rata-rata sekitar Rp. 41 juta saja.

Para Pendamping Desa sedang ditugaskan untuk mendapatkan data yang lebih rinci serta langkah-langkah yang diambil oleh desa yang menonjol tersebut agar menjadi pelajaran berharga, dapat diambil sebagai contoh dan pelajaran bagi desa lain untuk mengikuti proses dan langkah nyata tersebut agar bisa menghasilkan peningkatan Pendapatan Asli Desa yang tinggi dan bisa menjadi petunjuk bagi desa lainnya untuk maju. Semoga.

Tuesday, 25 June 2019

no image

Indonesia Harus Merdeka Sinyal

Indonesia Harus Merdeka Sinyal

Kategori Sorotan Media | Diani Hutabarat
Faceboo

Jakarta - BP3TI atau Balai Penyediaan Pengelolaan Pembiayaan Telekomunikasi dan Informatika telah resmi berganti nama menjadi Badan Aksesibilitas Telekomunikasi dan Informasi atau Bakti sejak Mei 2018. 
Untuk mengetahui pencapaian dan rencana Bakti, Bisnis berkesempatan mewawancai Danny Januar Ismawan Direktur Layanan Telekomunikasi dan Informasi Untuk Masyarakat dan Pemerintah atau LTIMP Bakti. Berikut petikannya. Bagi khalayak umum, Bakti belum begitu dikenal.
Apa dan bagaimana tugas Bakti Itu? 
Bakti baru berganti nama pada 23 Mei 2018. Sebelumnya adalah BP3TI. Kami merupakan badan layanan umum (BLU) atau satuan kerja di bawah Kementerian Komunikasi dan Informatika. BLU ini memiliki fleksibilitas.  
Kalau saya analogikan, kami ini seolah-olah bisa dianggap sebagai BUMN tetapi dengan misi layanan, bukan profit oriented. Tugas utama kami adalah pemerataan Infrastruktur telekomunikasi di seluruh Indonesia, khususnya Kawasan - kawasan yang tidak tersentuh operator komersial.  
Kami sendiri diberi amanah mengelola 1,25% gross revenue dari penyelenggara telekomunikasi. Kalau sekarang kami hitung, kami mengelola average Rp3 triliun per tahun.  
Bagaimana proses transformasi BLU ini hingga menjadi Bakti?  
Pada awalnya, badan ini bernama BTIP, Balai Telekomunikasi dan Informatika Perdesaan. Itu pada 2006 dan kami hanya selevel satuan kerja. Memang awalnya hanya berfokus di desa dan kami menyediakan telekomunikasi dasar, seperti ada warung telepon di seluruh desa.  
Konsepnya dahulu masih tradisional, bagaimana mengadakan. Namun, berbicara sebaran di seluruh Indonesia, pengadaan tidak cukup. Perlu operating maintenance. Mengadakan itu gampang, tetapi menjadikan layanan ini berkelanjutan justru sulit.  
Setelah evaluasi, badan ini menjadi BP3TT dan naik tingkat menjadi BLU. Saat itu, kami sudah melakukan inovasi pengadaan dengan mitra. Melalui Bakti ini, posisi kami itu lebih kepada akselerator dan berkolaborasi dengan mitra atau stakeholder.  
Kenapa para Operator seluler harus menitipkan 1,25% qross revenue ke Bakti?  
Sebetulnya di Undang-undang No. 36/1999 tentang Telekomunikasi sudah menugaskan, waktu itu Telkom dan Indosat, untuk membangun daerah-daerah yang tidak komersial.  
Namun, sejalan dengan waktu, terjadi privatisasi dan IPO. Alhasil, BUMN itu berpikir bagaimana caranya menghasilkan untung. Tidak mungkin ada dua policy. Di satu sisi harus untung, dan di sisi lain membangun daerah yang tidak komersial harus dibangun.  
Akhirnya ada konsensus, dana untuk tugas penyediaan layanan yang tidak komersial dititipkan saja dan dikelola pemerintah. Di situlah mulai ada amanah dan dana itu akhirnya kami yang kelola.  
Apakah kewajiban dana itu berlaku untuk operator semua?  
Semuanya. Ini yang dimaksud dengan penyelenggara telekomunikasi tidak hanya operator seluler, tetapi juga ada ISP internet service provider dan sebagainya. Semua diwajibkan untuk memberikan kontribusi.  
Dana itu dipergunakan untuk apa saja? 
Kami memiliki enam program. Ada BTS (base transceiver station) atau tower seluler, satelit multifungsi, akses internet, Palapa Ring, penyiaran, dan terakhir yang mungkin membedakan Bakti dari BP3T1 adalah ekosistem. 
Memang ada kendala sebelumnya ketika di BP3TT, yakni fokus kami hanya di infrastruktur. Hanya bicara soal infrastruktur, tetapi bagaimana infrastruktur itu termanfaatkan belum kami sentuh. Dengan Bakti, kami sudah masuk ke ekosistem. Bagaimana mengupayakan agar infrastruktur yang kami bangun ini memberikan dampak pada masyarakat.  
Artinya Bakti punya kompetensi perihal pembangunan infrastruktur TI?  
Untuk pembangunan, kami sendiri tidak memiliki kompetensi. Yang kami lakukan adalah membuat skema bisnis, yakni kerugian itu tidak akan ditanggung oleh operator, tetapi ditanggung oleh kami.  
Jadi, bagaimana caranya mereka memberikan layanan dan berfokus pada operasionalnya, sedangkan yang lain-lainnya Bakti yang memikirkan. Jadi, kalau ditanya BTS siapa yang kerjakan? Ya, vendor - vendor yang biasa kerjakan BTS, bukan pemerintah.
Kalau Palapa Rings juga sama. Kami duduk bareng dengan seluruh operator telekomunikasi, seluruh pemerintah kota dan kabupaten di seluruh Indonesia, dan kami tanya, mana yang sudah dikerjakan. Dengan Palapa Ring, seluruh kota yang sebelumnya tidak terjangkau Internet berkecepatan tinggi kami hubungkan.  
Palapa Ring ini merupakan proyek KPBU kerja sama antara pemerintah dan badan usaha atau PPP public private partnership pertama di sektor telekomunikasi.  
Bagaimana investor itu berani berinvestasi di sini?  
Yang membedakan hanya satu, di sini ada penjaminan. Itu digaransi. Kalau misalnya suatu saat, kami tidak tahu, terjadi sesuatu, proyek ini dijamin. Adapun, pembayarannya sendiri kami cicil dan bukan berdasarkan biaya investasi. Itu kami namakan availability payment. Jadi, kalau performance layanan jelek, kami tidak bayar penuh.  
Sebetulnya seperti apa kondisi layanan seluler kita sekarang?  
Memang kalau kita bicara 2G, itu memang 90% dari jumlah desa sudah terlayani. Namun, sekarang tuntutannya, apalagi sekarang sudah era digital, masyarakat tidak cukup hanyabasic services atau hanya telepon dan SMS. Mereka minta 4G dan layanan ini baru sekitar 73%.  
Kalau tidak salah, total desa yang belum terlayani hampir 9.000 wilayah. Yang berpenghuni dan tidak akan dilaksanakan oleh operator itu mencapai 5.000 desa. Jadi, kami punya target sampai 2 tahun ke depan, 5.000 BTS harus dibangun. Pada tahun itu pun kami bisa declare, Indonesia merdeka signal. Itu tagline kami. Mudah-mudahan tercapai pada 2020.  
Ini juga polanya menarik. Kami ikut sertakan keterlibatan pemda. Jadi, pemerintah kabupaten itu kami tuntut untuk bisa meye-diakan lahannya. Pada Desember 2018, kami mengumpulkan 43 kabupaten untuk menandatangani MoU, sebab mereka melihat ini sangat dibutuhkan masyarakat.  
Apakah BTS itu bisa melayani banyak operator?  
Untuk skema yang sekarang, memang operatornya kami tentukan berdasarkan penilaian. Kami sebar dahulu dan mencari siapa yang berminat melakukan operasional di lokasi tertentu. Nah, sebagian besar untuk tahap pertama ditangani Telkomsel. Namun, tahap kedua bisa dilayani operator lain juga.  
Kami memang melakukan beauty contest. Kalau berminat di lokasi yang sama, apa yang kalian tawarkan? Biasanya yang menjadi parameter pembeda itu adalah spesifikasi perangkat.  
Namun, memang satelit yang kami manfaatkan untuk pembangunan akses internet itu masih menggunakan milik asing. Dengan begitu, kami berpikir memang duit negara itu, meskipun dari operator, larinya ke asing juga.  
Kenapa kita tidak launching satelit sendiri. Untuk itu, kalau tidak salah pada 2018 pengadaan untuk proyek itu sedang dilelang. Pada 2023, insyaallah sudah mengorbit dan ini menjadi satelit pemerintah yang menggunakan teknologi terkini dengan spesifikasi yang memang masih sangat baru. 
Berapa nilai investasinya?  
Nilanya tidak ingat persis, tetapi kalau capex sekitar Rp5 triliun-Rp6 triliun. Namun, ini skemanya PPP, sama seperti Palapa Ring, sehingga ada masa konsesi 15 tahun. Biaya operasional maintenance dan lain-lain kalau tidak salah mencapai Rp2 triliun per tahun.  
Kenapa pengembangan satelit mandiri ini baru terpikir sekarang?  
Pertama, dari sisi kemampuan keuangan memang (terkendala). Kami juga baru terpikirkan sekarang karena dahulu skala layanan masih sangat kecil. Target kami pun masih kecil.  
Kedua, pemikiran ini muncul setelah kami ada reorganisasi dan menjadi Bakti. Kami melakukan reorganisasi dengan konsultan internasional. Ditemukan fakta bahwa pendekatan yang dilakukan selama ini bisa lebih efisien kalau kami membeli satelit sendiri.  
Bagaimana maksud dari program pengembangan ekosistem yang merupakan hal baru di Bakti?  
Kami banyak sekali berkolaborasi dengan sektor lain. Ini yang membuka jalan bagi kami untuk dilibatkan di program-program lintas kementerian. Pasalnya, kami menjualnya konektivitas karena kami punya akses sehingga harapannya bisa membuka yang lainnya, misalnya akses finansial dan lain-lain. Itu yang kami tawarkan.  
Kementerian Keuangan melihat ini sebagai peluang bagus. Makanya, kemarin kami mulai off program yang menghadirkan fintechuntuk penyaluran kredit ultra mikro ke masyarakat.  
Selain itu, kami juga support BPKP untuk dana desa, sebab kami melayani internet ke desa - desa. Terakhir itu, kami bekerja sama intens dengan Kementerian Kelautan dan Perikanan sebab kami melihat sektor kelautan itu kayaknya belum tersentuh dengan teknologi.  
Palapa Ring Barat masih sepi peminat, bagaimana strategi untuk meyakinkan operator?  
Memang butuh waktu untuk meyakinkan ke operator seluler. Terus terang kalau kami bicara Palapa Ring Barat itu memang belum laku. Perlu effort lebih untuk meyakinkan, karena salah satu harapan kami dari operator seluler.  
Akan tetapi, mereka temyata sudah melakukan investasi cukup banyak. Mungkin sampai periode tertentu kami tinggal tunggu waktu saja, sudah pasti arahnya akan ke Palapa Ring Barat.  
Berapa capaian layanan akses internet pada 2018? Bagaimana target pada 2019?  
Hingga saat ini (akhir 2018) sudah mencapai 3.600 site. Untuk 2019, sebenarnya sesuai Renstra (Rencana Strategis) seharusnya 800 site per tahun. Akan tetapi, karena banyaknya waiting list, akhirnya pada 2019 targetnya dinaikkan menjadi 1.000 site. Sebagian besar di antaranya nanti sudah termasuk yang memanfaatkan resource list capacity.  
Berapa alokasi anggaran yang dipersiapkan untuk realisasi program kerja 2019?  
Untuk menjalankan semuanya, alokasi anggaran sekitar Rp2,9 triliun. Perbedaan anggarannya jika dibandingkan dengan 2018 tidak terlalu besar hanya sekitar Rp 100 miliar. Sebenarnya kalau bicara target pembangunan 5.000 BTS dalam kurun 2 tahun itu pasti kurang anggarannya. 
Akan tetapi, karena kami BLU, maka kami bisa menyediakan saldo kas. Saldo kas kami selain sekitar Rp3 trilun per tahun itu, kami juga punya dana cadangan Rp9 triliun-Rp 10 triliun.  
Apa saja langkah yang akan dilakukan untuk percepatan penyerapan dana cadangan?  
BTS akan kami akselerasi menjadi 5.000 site. Otomatis dana kas sekitar Rp3 triliun tidak cukup, maka akan kami pakai cadangan.  
Selain itu, untuk Palapa Ring saja kebutuhan dananya sekitar Rp 1,2 triliun-Rp 1,5 triliun per tahun untuk biaya cicilan ke investor. Jadi, sudah pasti dana cadangan akan berkurang. Meskipun demikian, tetap ada hitung-hitungan untuk cashflow-nya.
Sumber berita: Bisnis Indonesia (02/01/2019)