Subscribe Here!

Memilih Hukuman Fisik Atau Tanpa Kekerasan Dalam Pendewasaan Prilaku Siswa

By On May 21, 2019




Penulis: Niko Taman, S.Pd

Akhir-akhir ini dunia pendidikan di Bumi Congka Sae kembali menjadi topik perbincangan hangat di berbagai media sosial. Sayangnya hal ini bukan karena torehan prestasi membanggakan tetapi sebuah peristiwa yang cukup mencoreng wajah pendidikan kita. Bagaimana tidak, pasca beŕedarnya berita tentang aksi kekerasan fisik yang dilakukan oleh seorang oknum kepala sekolah terhadap sejumlah siswa di Sekolah Dasar Negeri(SDN) Wae Mamba di Kec. Elar Manggarai Timur beberapa waktu yang lalu serentak dunia pendidikan seolah mengalami degradasi kepercayaan publik sebagai tempat paling ideal dalam proses pemanusiaan manusia menuju kematangan kepribadian secara utuh baik secara spiritual, emosional maupun intelektual.

Di mata masyarakat, sekolah yang semula diharapkan mampu menjadi lingkungan yang ramah dan nyaman secara fisik dan psikis bagi anak didik kini berubah menjadi wajah angker yang semakin jauh dari citra idealnya. Kekerasan yang melibatkan guru sebagai aktor utama pendidikan memperburuk persepsi publik bahwa guru gagal menjadi pengganti kehadiran dan peran orang tua anak didik dalam memenuhi kebutuhan afeksinya.

Menarik untuk dicermati bahwa pola pembentukan perilaku anak didik dengan kekerasan yang diperagakan guru dalam kasus di atas memunculkan beragam tanggapan publik dengan berbagai landasan argumen. Ada yang berpandangan bahwa tindakan pelaku layak mendapat sangsi baik secara hukum positif maupun secara moral karena kekerasan dengan berbagai bentuknya tidak dapat dibenarkan terlepas dari adanya niat luhur yang mendasarinya.

Namun tidak sedikit pula yang mencoba menjustifikasi perbuatan pelaku dengan argumen bahwa itu merupakan bagian dari upaya pendewasaan perilaku yang dilandasi kasih sayang dan niat tulus agar anak didik sadar akan kesalahan dan tidak akan mengulanginya kembali. Penulis tidak bermaksud untuk masuk dalam salah satu pihak yang bersilang pendapat tentang kasus tersebut tetapi ingin menggarisbawahi satu hal penting bahwa dalam konteks tertentu hukuman fisik tetap merupakan salah satu pola pembentukan perilaku yang cukup efektif dalam mengontrol perilaku siswa agar tidak mengulangi sikap atau perbuatan yang secara normatif dianggap menyimpang.

Sekolah merupakan lingkungan sosial tempat berinteraksinya orang dari aneka latar belakang kepribadian. Dalam keanekaragaman ini, guru ditantang untuk mampu menyesuaikan setiap pola pendewasaan sikap dengan karakter kepribadian anak didik. Kemampuan ini dianggap penting mengingat pola pembinaan sikap yang efektif untuk satu orang siswa belum tentu berlaku bagi yang lain. Sebagai contoh, ada anak didik yang perilakunya hanya bisa diubah dengan pola penguatan perilaku secara verbal. Dengan diberi pemahaman tentang kesalahannya, dia akan mau memperbaiki perilakunya. Akan tetapi, perlakuan yang sama tidak efektif bagi siswa lain, sehingga dipandang penting bagi guru untuk sekreatif mungkin menemukan berbagai pola pembinaan sikap yang cocok dengan tuntutan karakter siswa. Pembinaan secara fisik mungkin memberi efek positif bagi perbaikan perilaku siswa tertentu.

Dari sudut pandang teori pendidikan memang tidak dianjurkan penggunaan hukuman fisik dalam proses pendewasaan perilaku siswa namun secara empiris guru kerap kali menemukan situasi dimana hukuman fisik menjadi pilihan efektif dalam mencegah terulangnya perilaku menyimpang siswa.

Apakah penulis mencoba mempengaruhi pembaca untuk mengamini kekerasan yang diperagakan guru dalam kasus di atas? Tentu saja tidak karena kekerasan bertentangan dengan hakikat pendidikan itu sendiri.Yang ingin penulis sampaikan adalah pembentukan perilaku siswa dengan hukuman fisik dapat dilakukan sejauh tidak melanggar hukum dan tidak menimbulkan efek membahayakan baik secara fisik maupun psikis.

Perlu dipahami bahwa hukuman fisik tidak selamanya berbentuk kekerasan yang acapkali menimbulkan dampak fisik dan psikis yang membahayakan bagi korban. Sebaliknya hukuman fisik bisa dikemas dalam berbagai bentuk yang tidak melukai secara fisik dan psikis namun membangkitkan kesadaran dalam diri anak didik akan pentingnya perbaikan perilaku yang menyimpang.

Menghukum anak yang suka melalaikan pekerjaan rumah dengan menyuruhnya membersihkan toilet sekolah adalah satu contoh hukuman fisik yang tidak membahayakan secara fisik namun secara mental menumbuhkan kesadaran akan kesalahannya. Ini tentu berbeda dengan hukuman fisik berbentuk kekerasan seperti memukul, tempeleng, menendang atau memukul dengan menggunakan media tertentu yang pada gilirannya melahirkan multi efek buruk terhadap perkembangan perilaku anak didik.

Memberlakukan hukuman fisik tanpa kekerasan memang bukan urusan gampang di tengah kompleksitas tantangan menghadapi perubahan perilaku anak didik saat ini yang acapkali menguji kematangan emosional guru. Sebagai seorang pendidik, penulis menyadari sulitnya menjalankan tugas mendidik dan sering kali tergoda memilih pola pembinaan yang secara hukum memenuhi unsur--unsur kekerasan namun dalam situasi tertentu cukup efektif mengontrol penyimpangan perilaku siswa.

Penulis yakin ini merupakan situasi ril yang acapkali dihadapi para pendidik dalam tugas profesionalnya sehingga tidak mengherankan jika pendidik selalu mengatakan mereka tidak berniat membenci dibalik setiap hukuman fisik yang mungkin secara hukum tidak dibenarkan. Ini dapat dimaklumi mengingat guru hanyalah manusia biasa yang punya keterbatasan dalam mengendalikan emosinya. Namun mengingat konsekuensi hukum dari hukuman fisik yang memenuhi unsur kekerasan, guru memang tidak harus memaksa diri bertindak di luar batasan hukum dalam menjalankan perannya sebagai pendidik.

Perlu disadari bahwa undan-undang perlindungan anak tidak pernah membenarkan niat dan tujuan baik guru dibalik setiap tindakan pembinaan perilaku siswa yang secara hukum terbukti memenuhi unsur kekerasan. Secara hukum, niat baik tidak pernah membatalkan konsekuensi hukum dari sebuah perbuatan yang terbukti melanggar hukum. Intinya adalah guru dapat memilih hukuman fisik sebagai salah satu cara efektif dalam proses pendewasaan perilaku anak didik sejauh tidak menimbulkan konsekuensi hukum. Oleh karena itu, guru dituntut untuk memahami secara memadai undang-undang perlindungan anak untuk mencegah tindakan yang menyeret guru ke dalam ancaman pidana. 

SALAM BERDEMOKRASI!

PENGUMUMAN HASIL SELEKSI PPPK TAHAP I PROVINSI NTT TAHUN 2019

By On May 20, 2019



Pengumuman Hasil Seleksi PPPK Tahap 1
 Prov.NTT Tahun 2019


KUPANG, WARTALOHA.COM- Dalam pantauan media ini di laman bkd.nttprov.go.id mengumumkan hasil seleksi PPPK tahap 1 Provinsi NTT tahun 2019. Dari 96 peserta yang ikut seleksi, untuk formasi guru yang lulus nilai ambang batas minimal (P/L) berjumlah 60 peserta dan yang tidak memenuhi nilai ambang batas minimal (T/P) berjumlah 35 peserta dan satu peserta yang tidak hadir  (TH).

Untuk Formasi penyuluhan pertanian dari 23 peserta yang ikut seleksi PPPK tahap 1 tahun 2019, semuanya lulus ambang batas minimal (P/L).

Dengan demikian di informasikan untuk peserta dengan keterangan P/L dinyatakan lulus seleksi Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) Tahap I Tahun 2019 lingkup Pemerintah Provinsi NTT dan selanjutnya berhak diproses penetapan Nomor Induk PPPK.

Proses pemberkasan dalam rangka penetapan Nomor Induk PPPK dan informasi lain akan disampaikan kemudian melalui website bkd.nttprov.go.id.

Hasil seleksi PPPK Tahap 1 Lingkup Pemerintah Provinsi NTT Tahun 2019, dapat diunduh link bkd.nttprov.go.id/HASIL SELEKSI PPPK TAHAP I TAHUN2019.pdf

Mbukut Pendidikan kearifan Lokal Manggarai

By On May 17, 2019

Acara Mbukut Anak Rona Loha dengan Woe Pitak Kolang
Tahun 2018


Apa itu Mbukut Budaya Lokal Manggarai?

Mari kita bahas, tulisan ini berdasarkan pengalaman penullis dan sumber-sumber lainnya yang sesuai dengan topik tersebut diatas.

Dalam tradisi Manggarai, Mbukut berarti meminang atau melamar. Penjelasan tentang makna Mbukut dapat digali dari ilustrasi dari kisah tentang upacara Mbukut Molas Rentung. Acara lamaran Molas Rentung tinggal satu minggu lagi. Jehadut, pemuda asal ranggu, kolang yang menjadi pasangan gadis manggarai tengah ini mempersiapkan segala sesuatu diperlukan pada acara Mbukut tersebut 

Pada sore hari itu, Pak dabur tampak sibuk, kesana kemari. Ia membawa sokal untuk mengumpulkan beras dari keluarga rentung. Selain itu juga mengumpulkan kopi, gula, tuak dan tikar.  Setiap keluarga di minta menyetorkan beras masing-masing Cemampang atau 1 1/2 kg, gula tiga malang dan tipung kopi 1 mok (sejenis dari kaleng) dan juga tuak. Tongka atau juru bicara telah di persiapkan. Orang tua molas rentung telah menyiapkan seekor babi untuk menerima tamu dari ranggu. Pada acara ini keluarga bersepakat untuk berbicara berbagai hal seputar pernikahan.

Pembahasaan mulai dari jumlah belis yang di tanggung kepada pihak laki-laki seperti penentuan jumlah kerbau, kuda dan uang. Jika keluarga rentung dan Jehaut sudah sepakat maka akan diadakan acara mbukut (pengikat kesepakatan). Biasanya pihak keluarga rentung menyembelih seekor babi, dan pihak keluarga ranggu menyerahkan seekor kambing. Pada awal pihak keluarga laki-laki melalui tongka dengan di awali kata-kata "Yo...Ite..Behe Latung Pene seru mawo suing, api toe saing, uma toe duat!. yo......iti tara mai dami kamping ite, mai tegi kala. Rantang tombo bon, ratang bajar kanang ho'o tuak gammi!, sembari menyerahkan satu botol tuak atau berupa uang se cukup nya ( ya bapak yang terhormat, kami memang memiliki anak gadis, tapi sudah di pinang orang).

Biasanya sambil memegang sejumlah uang. Tongka pihak laki-laki berbicara lagi: 'yo....ite hoo tuak dami latang rongkas reko hitu (ya...bapak yang terhormat, kami sungguh meminang anak gadisMU, ini tuak pertanda keseriusan kami). Usai dialog diatas biasanya kedua calon pasangan membahas sejumlah belis dan rencana pernikahan.

Acara ini setelah mbukut dilakukan. Pihak keluarga laki-laki (woe) biasanya memberikan cular koes nolak (uang ucapan terimakasih) berupa uang kepada pihak keluarga perempuan (narasi:Hila Bane).

Kesimpulan ketika keluarga laki-laki ingin melamar gadis, pembicara di awali tutur kata yang sopan dengan penuh simbol. Seni bertutur kata  menjadi tema penting dalam setiap upacara di manggarai. Makin indah kita menyampaikan dan makin idah pula di jawab, acara tersebut akan bermutu.

Dalam tradisi acara pernikahan seperti ini, wajib hukumnya membayar uang cular untuk membayar semua yang di nikmati pada acara berlangsung. Ini bukan warung namun adat yang mewariskanya dan orang manggarai menerima ini apa adanya.

Kondisi  ekonomi biasanya menjadikan orang manggarai menghindari acara seperti ini, karena terlalu banyak biaya yang di keluarkan oleh pihak laki-laki, sehingga banyak orang manggarai memilih jalan pintas Roko Wina/Wendo bahasa kolang pacar (Membawa lari gadis tanpa prosedur yang standar), sah menurut adat manggarai.

Demikian ulasan tersebut diatas membahas seperti acara mbukut di manggarai, semoga tulisan ini menjadi referensi anda dalam memahami adat istiadat yang berlaku di manggarai

Sumber: Ensiklopedia Manggarai (cetakan pertama 2018/2019). 

Berpendidikan Tinggi Tidak Cukup Tanpa Etika

By On May 16, 2019


                                        

Penulis: Guru SMA N 1 Fatuleu


BERPENDIDIKAN TINGGI TIDAK CUKUP TANPA ETIKA


Generasi muda adalah tulang  punggung bangsa  yang diharapkan di masa depan. yang akan mampu meneruskan tongkat estafet kepemimpinan bangsa, agar lebih baik. 

Bila dikaitkan dengan moral (bahasa latin moralitas) adalah istilah manusia menyebut ke manusia  atau orang lain dalam tindakan yang mempunyai nilai positif Manusia tidak memiliki moral  disebut amoral dan tidak memiliki nilai positif di mata manusia lainnya. Sehingga moral adalah hal mutlak yang harus dimiliki oleh manusia. Dasar setiap usaha untuk menjadi orang kuat secara Moral adalah kejujuran. Karena tanpa kejujuran kita sebagai manusia tidak dapat maju melangkah dan belum berani menjadi diri kita sendiri, hal yang sama berlaku bagi sikap tenggang rasa dan mawas diri:tanpa kejujuran 2 (Dua)sikap tersebut lebih dari sikap berhati-hati dengan tujuan untuk tidak ketahuan maksud yang sebenarnya.

Menyebut kata etika tak jauh berbeda dengan bagaimana kita mengenal moral dalam kehidupan sehari-hari seperti sepeda motor, moral ialah buku petunjuk bagaimana kita harus memperlakukan sepeda motor, sedangkan etika memberikan pengertian tentang struktur dan teknologi sepeda motor. Menurut Ahmad Amin, Etika merupakan ilmu yang menjelaskan arti baik dan buruk, menerangkan apa yang seharusnya dilakukan manusia, menyatakan tujuan yang harus dituju oleh manusia di dalam perbuatan mereka dan menunjukan jalan untuk melakukan apa yang harus diperbuat.

Etika perlu dibedakan dari ajaran moral,Ajaran moral ialah ajaran-ajaran, wejangan-wejangan, khotbah khotbah, patokan-patokan, kumpulan peraturan dan ketetapan yang diperoleh secara lisan atau tertulis tentang bagaimana manusia harus hidup dan bertindakan  agar menjadi manusia yang baik. Sedangkan Pengertian moral sendiri dalam  Hurlock (Edisi Ke-6,1990) mengatakan bahwa moral adalah perilaku yang sesuai dengan  kode moral kelompok social. 

Moral sendiri berarti tata cara, kebiasaan, dan adat. Perilaku moral dikendalikan konsep-konsep moral atau peraturan perilaku yang telah menjadi kebiasaan bagi anggota suatu budaya. Dalam dunia pendidikan, Banyak keterkaitan antara tingkah laku peserta didik yang sangat tidak memegang teguh etika sehingga  mengakibatkan moral yang tak dapat diteladani.

Tujuan utama etika tersebut adalah untuk menemukan, menentukan, membatasi, dan membenarkan kewajiban, hak, cita-cita moral  dari individu dan masyarakatnya, baik masyarakat pada umumnya, khususnya masyarakat profesi ”(Istighfarotur Rahmaniyah: 2009:62). Sebagai manusia kita harus selalu melakukan segala tindakan  berdasarkan etika yang diajarkan, termasuk didalamnya proses belajar mengajar dalam dunia pendidikan.

Ada kesenjangan yang terjadi, bahwa penanaman untuk menanamkan nilai-nilai yang baik dan benar di sekolah pada proses pendidikan namun di keluarga dan masyarakat sebagai lapangan pendidikan tidak memberikan nilai-nilai etika  yang benar sebagai sebagai dasar yang mendidik .

Hal ini akan terus terjadi dari generasi ke generasi karena  pengaruhnya terus berlangsung dan menghasilkan kerusakan moral bagi generasi termasuk didalam pendidik. Karena itu,untuk menghasilkan krisis moral dalam dunia pendidikan maka secara internal  harus diterapkan model  pendidikan berkarakter yang berbasis pada firman Tuhan.

Suatu proses pendidikan yang  berjalan sesuai etika di masyarakat, ketika suatu pendidikan berbeda dengan system yang berlaku di masyarakat, maka pendidikan tersebut tidak akan bisa berkembang bahkan dijauhi oleh masyarakat dan akhirnya akan kehilangan eksistensinya.

Antara etika dan pendidikan sangatlah erat dikarenakan etika itu mengkaji bagaimana cara pembelajaran yang benar sedangkan pendidikan adalah usaha manusia untuk membina kepribadiannya sesuai dengan nilai nilai di dalam masyarakat dan kebudayaan, di sini jelas disebutkan ketika seseorang ingin memiliki pendidikan maka orang tersebut harus memiliki etika yang baik agar dapat diterima di masyarakat.

Mengapa etika dan moral sangat penting?, karena dalam kehidupan sehari-hari. sekolah dan bermasyarakat dan lain sebagainya harus didukung oleh sikap dan tutur kata yang baik dan tingkah laku (perbuatan) yang baik pula. Karena pada dasarnya seseorang akan melihat cara kita  berbicara dan tingkah laku kita saat berbicara  bukan memandang pendidikan yang kita raih melainkan etika dan sopan santun yang kita miliki. Bagaimana kita dapat berdialog dengan orang lain tanpa etika dan  sopan santun.

Editor: FJ



Sebanyak 8.946 Calon Peserta PPG Tahap 3 sudah Konfirmasi

By On May 15, 2019

foto:Laman sergur.id


WARTALOHA. COM- Pelaksanaan Pendidikan Profesi Guru Dalam Jabatan Tahun 2019 (PPG Daljab 2019) angkatan 3 pada tanggal 9 Mei sudah memulai tahap daring. Dalam pantauan media ini di laman sergur.id , menginformasikan sebanyak 8.946 calon PPG  sudah konfirmasi bersedia mengikuti angkatan 3.

Sedangkan proses konfirmasi peserta sudah tutup untuk tahap 3 sergur.id/calon. Selanjutnya di informasikan bahwa untuk tahap daring masing-masing peserta menghubungi LPTK masing-masing dengan laman sergur.id/lptkppg

Jadwal konfirmasi peserta hingga pelaksanaan PPG angkatan 1 hingga angkatan 5 sebagai berikut::

Jadwal angkatan 1:

  1. Konfirmasi kesediaan 14-16 januari 2019
  2. Penetapan peserta final 18 januari 2019
  3. Pelaksanaan PPG dalam jabatan angkatan 1 yaitu: 
  • Daring 21 Januari - 28 Februari 2019
  • Lapor diri 4- 5 Maret 2019
  • Orientasi 6 Maret 2019
  • Workshop 7 Maret-11 April 2019
  • PPL 15 April - 4 Mei 2019
  • UKMPPG 29 April - 12 Mei 2019
  • Akhir Program PPG 13 Mei 2019

Jadwal angkatan 2:

  1. Konfirmasi kesediaan 1-5 April 2019
  2. Penetapan peserta final 8 April 2019
  3. Pelaksanaan PPG dalam jabatan angkatan 1 yaitu: 
  • Daring 8 April- 27 Juni 2019
  • Lapor diri 1- 2  Juli 2019
  • Orientasi 3 Juli 2019
  • Workshop 4-25 Juli 2019
  • PPL 29 Juli- 16 Agustus 2019
  • UKMPPG 19 Agustus-15 September 2019
  • Akhir Program PPG  2 September 2019

Jadwal angkatan 3
  1. Konfirmasi kesediaan :25 April-3 Mei 2019
  2. Penetapan peserta final: 5 Mei 2019
  3. Pelaksanaan PPG dalam jabatan angkatan 3:
  • Daring peserta 6-25 Juli 2019
  • Lapor diri 29-30 Juli 219
  • Orientasi 31 Juli
  • Workshop 1 - 22 Agustus 2019
  • PPL 26 Agustus - 14 September 2019
  • UKMPPG 16 - 29 September 2019
  • Akhir Program PPG 30 September
Jadwal Dansus yaitu:
  1. Konfirmasi kesediaan : 11 Mei 11 juni 2019
  2. Penetapan peserta final: 20 juni 2019
  3. Pelaksanaan PPG dalam jabatan angkatan 3:
  • Lapor diri 21-22 juni 219
  • Orientasi 24 Juni
  • PGDK 25 juni-2 juli 2019
  • Pendalaman materi 4 juli-22 Juli 2019
  • Workshop 24 juli - 22 Agustus 2019
  • PPL 26 Agustus - 14 September 2019
  • UKMPPG 16 - 29 September 2019
  • Akhir Program PPG 30 September
(Jadwal angkatan 4 dan 5 Langsung mengunjungi laman sergur.id)

Penting diinformasikan pelaksanaan PPG dalam jabatan tahun 2019 akan dilaksanakan dalam beberapa angkatan yaitu: angkatan 1, 2, 3, Dansus, 4 dan angkatan 5 tertera dalam laman sergur.id

Penulis: FJ